Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 46


__ADS_3

Dalam waktu kurang dari satu jam Bunda sampai di kamar membawa ketiga buah hati ku , kedua putriku menghampiri kami mencium kedua tangan Papah Mamah nya bergantian dan berdiri di samping Papah nya.


Pangeran kecil keluarga Prasojo meronta turun dari gendongan pengasuh berlari ke Papah nya meminta untuk di naikan ke atas tempat tidur ku.


" Mamah .. lama banget cih tidul di cini, Adek mau bobok cama Mamah., pulang yuk Mah..!" Rengek nya manja .


" Kaka juga kangen Dek tapi kan Mamah perlu perawatan,.kalau di rumah yang ngerawat siapa ?! " Balas Zahwa memberi pengertian .


" Kan ada Ka Cuci , Yu Inah cama Papah..., Adek juga mau lawat Mamah di lumah., Ya Mah.." Balas nya dengan wajah polos . Masih asyik rebahan di samping ku yang tidur telentang dengan pandangan lurus menatap langit kamar .


" Mah..., dengerin keluhan anak - anak mereka merindu kan kehangatan Ibu nya, cepat sembuh Mah, kita mulai lembaran baru dalam keluarga kita " Bisiik Mas Hardi pelan di telinga ku , memberi. kode pada Zahwa dan Zarra untuk memijat kaki dan tangan ku .


Bunda mendekat ikut bergabung, mencium kening dan memijat nya lembt.


" Bunda bawa salad aama puding coklat alpukat sayang , di makan yah.., Bunda suapin " Tangan Bunda meraih puding dan salad menyodor kan ke depan wajah ku .


" Yang mau di makan yang mana dulu, salad atau puding nya ?! " Tanya nya. lembut. Tak ku hirau kan suara Ibu mertua ku, tatapan ku masih lurus ke atas kosong .


" Emil..., Nak.., sayang...,Emil kenapa..?! " Tanya bunda cemas ,menepuk pipi ku lembut, menggerakan telapak tangan kanan nya ke hadapan wajah ku, berharap aku mengerjap kan mata, namun aku masih terbui dalam tatapan hampa . Bunda terlihat cemas menatap ku, mencium pipi dan kening ku berusaha menyadar kan ku .


Aku mendengar apa yang mereka ucap kan , tubuh ku merasakan sentuhan mereka namun hati dan fikiran ku di kuasai oleh rasa hampa dan membekukan otak ku hingga tak mampu memberi perintah pada syaraf dan sel - sel dalam tubuh ku untuk sekedar membuka mulut ku yang terkunci maupun menggerakan tubuh tuk bereaksi atas sentuhan mereka.


Zahwa dan Zarra terisak di samping ku, si kecil Daffa memeluk erat tubuh ku, Bunda sesekali menepuk pipi lembut .


Ibu yang sempat pulang ke rumah kembali datang bersama keempat adik ku, mendekat ke arah ku mencium ujung rambut penuh perasaan, setetes kristal bening milik Ibu menetes di rambut hitam lurus panjang ku.


" Ya Allah Nok..., Emil.., sadar Nok..., ucap kan istigfar..., sebut nama Allah Nok.." Bisik lirih Ibu masih mencium pipi berharap aku tersadar dari belenggu kehampaan.

__ADS_1


" Astagfirullahal'adziim..." Bisik Emran di telinga kanan ku berulang - ulang .


Akmal keluar ruangan, beberapa menit kemudian masuk bersama ustadazah, Ka Aisya dan seorang lelaki yang mengenakan gamis lengkap dengan sorban dan sarung tangan.


Beliau membaca Ta'awudz, Bismillah lalu beberapa surat penggalan ayat ayat suci Al - Qur'an , sembari memegang ujung kepala ku, Ustadzah meremas tangan kiri ku lembut, Ka Aisyah memijat jempol kaki ku .


Aku merasakan seluruh tubuh ku terasa panas membara bagai terpanggang di atas bara api , tubuh ku menggeliat , telinga terasa pekak .


" Wahai Mahkluk Allah yang bersemayam dalam tubuh saudari Emila , sebut kan siapa nama mu, apa.tujuan menguasai raga nya !! "


Hardik lelaki bersorban abu - abu.


Ku tatap wajah lelaki yang menghardik kesal.


" Apa urusan mu usil dengan kesenangan ku, hahaha...hahahaaa...hahahaaaa " Dengus ku kesal dengan suara parau nan manja .


" Keluar lah kau dari raga nya, kembalikan jiwa nya.., kau tak berhak mengusai tubuh anak manusia , di sana bukan tempat mu " Si lelaki bersorban menghembus kan nafas ke telinga ku dengan sebait Ayat kursi menggema memekakan , membuat telinga ku serasa tersengat liran listrik jutaan watt .


Sang lelaki bersorban tak mengindah kan jeritan ku, Beliau semakin keras melafadz kan penggalan surat - surat ruqiyah dari ayat suci.


Sesaat jiwa ku serasa berada dalam dimensi lain, aku terkurung di sana dengan kabut putih memenuhi di sekitar ku . Ada bayang Mas Nano tersenyum sendu menatap ku tanpa suara , aku berusaha menggapai namun tangan ku tak sampai, aku berusaha berlari namun kaki ku terpaku tanpa gerak .


" Keluar lah kau makhluk laknat atau aku bacakan ayat untuk memusnah kan mu selama nya " Ancam sang lelaki bersorban masih dengan wajah tak bersahabat .


" Jangan...ku mohon..!!, berbaik hati lah kepada ku.., aku nyaman bersama nya, aku tak akan mengganggu nya , tak akan melukai nya, aku hanya ingin tinggal bersama nya.., Hiks..hikss..hikss " Tangis ku memilukan yang mendengar, ustadzah meminta semua yang ada dalam ruangan untuk membaca istigfar dan subhanallah agar tak terpengaruh oleh tangisan ku .


" Sebut kan siapa nama mu.., dari mana asal mu.." Hardik sang lelaki bersorban dengan melafadz surat Al - Jin .

__ADS_1


Aku kembali mengerang kesakitan tubuh ku serasa di rajam ribuan belati .


" Nama ku Nyi Ayu Sarinah.., aku tinggal di gumuk dekat pantai laut L, aku belum lama berada di tubuh nya, ku mohon jangan musnah kan.. ," Rengek ku manja .


" Apa tujuan mu menguasai jiwa nya !! " Suara Sang lelaki bersorban masih bernada tinggi .


" Aku hanya ingin melindungi jiwa nya yang lemah dari kekerasan laki - laki kejam itu !! "


Ku arah kan pandangan ku menatap tajam Mas Hardi penuh kebencian .


Mas Hardi terkesiap , ku lihat Dia bergidig menatap mata ku yang memerah di kuasai amarah membara , Dia mundur selangkah dari tempar tidur .Ustadzah memberi kode agar Dia tak menjauh dari ku .


" Dia lelaki jahat yang memperlakukan isteri nya tanpa perasaan serupa binatang dan jiwa yang lemah tanpa daya ini.., aku tak sampai hati melihat nya terluka tanpa perlawanan.. hiks...hiks...hikss.. malang nya nasib mu..., ooohh malang ... nya.. , hidup di permain kan dunia... tak adil...kejaaammmm " Suara keras ku membahana ke seluruh ruangan .


Di sudut lain aku yang terkurung diantara kabut seputih awan bersih merasakan hantaman keras merontokan persendian tulang belulang ku hingga aku mengerang.


" Aaaaaa.., ampun...., ampun...., lepas kan aku... lepas kan aku...hik...hik..hik..hikk.."


Tangis ku kembali pecah .


" Lepas kan jiwa nya dari belenggu mu, bartaubat lah kau kepada Tuhan yang mencipta kan mu, jangan lagi ikut campur urusan manusia.., biar kan pemilik raga ini memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah Azza Wajalla bukan kepada Makhluk ciptaan - Nya !! " Suara sang lelaki sedikit merendah .


" Aku ingin melindungi nya.., aku menyukai wajah elok nya yang serupa wajah ku saat muda dulu " Ku kedip kan mata genit ku ke arah sang lelaki bersorban, Dia abai kan kemanjaan ku.


Sekilas kulihat Mas Hardi menggeram kesal mengepal kan telapak tangan kesal melihat tingkah genit ku kepada nya.


"Sabar Mas Dia bukan Mbak Emil.., Dia sejenis jin yang membelenggu jiwa nya,

__ADS_1


Mbak Emil tidak segenit itu " Bisik Emran di telinga Mas Hardi yang lalu menghembus kan nafas sembari membaca Al - Fatikhah sesuai perintah Ustadzah .


Ku lihat Ibu berusaha tegar menahan airmata yang hendak menetes mengganti dengan terus mendengung kan dzikir memuji kebesaran Allah Subhanallahu Wata' alla.


__ADS_2