Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 124


__ADS_3

Hardi naik ke atas tempat tidur setelah sebelum nya melepas celana dan kaos hingga hanya mengenakan celana boxer, membaringkan tubuh di samping Emil dengan posisi miring menghadap isteri nya, Emil membenam kan wajah nya di dalam dada bidang suami nya lalu mulai kegiatan yang tertunda, menciumi aroma tubuh Hardi dengan memainkan junior nya dengan tangan kanan yang bebas dari jarum infus.


"Mah ! masukin ya dikit aja, bentaran juga gak papa asal muntah aja, Papah janji bakal pelan gak sampai nyakitin Dedek dalam perut"


Rayu Hardi lembut mendayu.


"Itung-itung nengokin Dede nya Mah, kasih vitamin biar cepat tumbuh nya, nua'in gitu loh" Bujuk Hardi dengan alasan ambigu.


"Tapi Dede nya gak mau Pah !, mau nya cuma mainan burung Papah nya aja tanpa di masukin" Balas Emil dengan alasan nyleneh nya juga, aneh gitu nyidam pengin nya mainan punya suami.


"Ko sejahat itu sih Mah !, mainin dada ku, remas-remas junior tapi gak mau dimssukin, lah terus ini keju mau dibuang di luar begitu aja ?!, berasa gak punya isteri" Dengus Hardi frustasi menahan gejolak yang kian membuncah.


Emil melepas tangan nya dari dalam boxer Hardi dan menjauhkan wajah nya dari dada nya dengan raut kesal.


"Ya sudah sana kalau gak mau aku pegang, pergi sana temuin bu hakim mu yang seksi, atau aku aja yang pulang ke rumah Ibu, biar aku minta adik ku pulang sekarang" Sungut Emil kesal, membalikan badan, memungkuri suami nya.


"Loh Mah, ko jadi ngambek gitu sih ?, jangan kaya anak kecil deh, ngapain juga aku temui Dia, bukan siapa-siapa nya aku juga" Bujuk Hardi sembari memeluk Emil dari belakang.


Emil meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Hardi dengan memajam kan mata.


"Bukan siapa-siapa nya tapi chatingan mesra, telefonan seembunyi pake tertawa bahagia"


Sungut Emil dengan nada sedikit tinggi.


"Mah, sudah sih jangan mulai lagi, kamu kenapa sih jadi sensi gini ?, bikin mod ku hilang deh" Hardi melepas pelukan nya.


Beranjak turun mengenakan kaos dan celana nya, mengambil rokok eletrik yang disimpan nya di dalam laci nakas dan berjalan keluar kamar turun menuju taman yang berada tepat di bawah balkon kamar nya.


Hardi duduk di bangku taman di dekat lampu bundar yang temaram, menghisap vape aroma kopi nya dalam, mata nya menerawang ke atas langit yang bertabur bintang, pikiran nya melayang dengan semua yang dialami nya hari ini.


Hardi tak habis fikir dengan perubahan perilaku Emil, tak seperti yang dikenal nya dulu. Dia senang Emil berubah manja tapi Dia tak mengerti mengapa Emil malah menjadi sensitif seperti itu.


Sesekali Hardi menatap ke arah balkon kamar nya, berusaha mencari bayang Emil dari kaca jendela dan pintu yang tertutup korden putih transparan.


empat puluh menit berlalu Hardi melihat siluet tubuh seseorang di atas sana, secepat kilat Hardi melangkah kan kaki masuk ke dalam rumah menaiki tangga berjalan menuju ke kamar nya, Hardi membuka pintu pelan.


Begitu pintu terbuka hati nya terkesiap mendengar isakan Emil dalam mata terpejam, Hardi menutup pintu pelan, berjalan mendekat ke arah Emil, melepas celana dan kaos nya kembali dan naik ke atas pembaringan merebahkan diri di samping isteri nya.


"Mah maafin Papah, udah dong jangan nangis terus, kasihan Dedek dalam perut nanti ikutan sedih" Bujuk nya lembut, memeluk Emil dari belakang sembari menciumi punggung nya lembut.


"Ngapain kamu ke sini lagi, sudah sana ke rumah Bu hakim cantik mu aja" Sungut Emil kesal dengan suara serak.


"Mah, sudah jangan sebut Dia lagi, di hati ku cuma ada kamu seorang , swear !!, belah aja dada Papah biar Mamah tahu" Gombal Hardi mencoba meyakin kan isteri nya.


"Gombal basi" Balas Emil ketus.

__ADS_1


"Basi tapi bikin bahagia iya kan ?!, akui aja deh nih bukti nya debaran jantung Mamah nambah kenceng" Balas Hardi sembari menempelkan tangan kanan nya di atas dada Emil.


Hardi membalikan badan Emil hingga menghadap ke arah nya, mencium penuh perasaan kening Emil, mengangkat dagu nya mengusap airmata dan mencium lembut bibir Emil yang terpejam.


"Mah ni aku pasrahkan tubuh ku untuk kau jamah, main kan sepuas hati mu punya ku sampai keluar keju di luar juga gak masalah selama kamu bahagia" Ucap Hardi lembut di telinga isteri nya.


Emil masih terdiam memejam kan mata, Hardi meraih tangan Emil di letakan di dalam boxer nya dan meraih wajah nya untuk dibenam kan ke dalam dada nya. Emil mulai membaui aroma tubuh suami nya yang serupa candu bagi nya. Hardi hanya mampu mendesah pelan setiap sentuhan Emil.


Beberapa menit kemudian ketika milik nya tak lagi mampu menahan buncahan lahar didalam nya Hardi berujar lembut.


"Mah aku ke kamar mandi dulu bentaran muntahin lahar dulu, sudah di pucuk nih"


Desah manja.


"Muntahin di dalam aja Pah, jangan di kamar mandi pamali nanti diterima setan" Bisik Emil


malu-malu.


" Beneran boleh dimasukin punya Papah ?"


Selidik Hardi tersenyum bahagia. Emil menganggukan kepala pelan.


"Tapi pelan ya Pah, takut Dede nya keguncang" Balas Emil bersemu merah.


"Pastilah sayang dan lagi ini sudah di pucuk ko paling bentar juga keluar" Desah Hardi menahan tekanan dalam hati nya.


"Sakit Mah ?" Tanya Hardi cemas usai mereka puas bersama, mengelus perut isteri nya yang mulai terlihat mengeras. Emil menggelengkan kepala pelan.


"Pah bantuin pegang infus, aku mau ke kamar mandi" Pinta Emil lembut.


Hardi mengambil botol infus meminta Emil memegang nya lalu mengangkat tubuh Emil membawa nya ke dalam kamar, membantu Emil membersihkan tubuh nya terutama milik Emil yang penuh keju dari Hardi. Usai membersihkan diri Hardi menggendong Emil kembali merebahkan ke atas tempat tidur.


"Pah ,boleh pegang lagi gak ?" Tanya Emil polos dalam wajah memerah.


"Hemm.., boleh kan milik Mamah, mau diapain juga terserah, di potong juga boleh asal Mamah yang ngelakuin" Balas Hardi dengan seringai nakal.


"Ko di potong, nanti aku mainan nya gimana, terus kalau Dede minta di tengokin sama Papah nya pake apa coba" Balas Emil dengan wajah polos nya.


Hardi tersenyum gemas melihat tingkah isteri nya yang kini berubah serupa gadis polos.


"Kan Papah cuma bilang misal sayang bukan nyuruh Mamah buat motong, lagian juga Papah takut sih sebenar nya kalau di potong nanti gak bisa muasin Mamah lagi" Hardi mencubit Pipi Emil yang kini terlihat sedikit berisi dengan gemas nya.


"dih gede rasa banget" Balas Emil malu membenamkan wajah nya ke dada Hardi. Disambut dengan ciuman gemas Hardi di ujung rambut Emil, mengacak rambut nya gemas.


Malam itu mereka tertidur dalam posisi tangan Emil masuk ke dalam boxer Hardi.

__ADS_1


Dinihari menjelang pagi seorang perawat mengetuk pintu untuk memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Emil dan mengganti infus ditemani oleh Bunda.


Bunda membuka pintu kamar Hardi pelan setelah mengetuk berulangkali tak ada balasan, begitu masuk Bunda menggeleng kepala sembari berdecak melihat tingkah anak dan menantu nya saat tidur. Sementara sang perawat memilih menunggu di depan pintu.


"Har.. Har kelakuan mu kui loh leh mesum ko ora ilang - ilang, mbok yo nek turu di selimuti ojo di ketokna ngono" Ucap Bunda mengguncang tubuh putera nya pelan.


Hardi memicing kan mata, menyeringai malu mendapati Bunda nya berdiri di sisi isteri nya.


"Bun ko main nyelonong aja sih" Ucap Hardi malu, melepas kan tangan Emil dari dalam boxer nya pelan, menyelimuti tubuh isteri nya yang terbuka di bagian atas dan beranjak turun mengambil kaos.


Wajah bertambah merah saat dilihat nya seseorang berseragam rumah sakit berdiri tegak di depan pintu.


"nyelonong gundul mu, wong di ketuk pintu nya berulangkali gak ada jawaban ko" Balas Bunda kesal. Hardi nyengir kuda saat Bunda nya menjewer telinga nya pelan.


Bunda mempersilahkan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Emil yang masih terlelap tidur kelelahan usai semalam menemani Hardi senam.


"Har.. Har ! Piye anak mu ora okeh ngene, gawean mu lembur wae( Har gimana anak mu gak banyak begini kerja mu lembur terus)"


Seloroh Bunda menjentik kening putera nya.


"Lembur opo to Bun ?( Lembur apa sih Bun ?)"


Balas Hardi menggaruk rambut nya yang tak gatal.


"Lembur Har ! nglempengke burung, gak enek wektu bedo..ckckckck( Lembur meluruskan burung, gak ada jeda nya)" Bunda menyeringai dalam raut tak mengerti.


"Habis nya nikmat Bun, lagian gak niat bikin anak mau nya bikin enak kalau jadi nya anak kan bonus nama nya" Balas Hardi dalam gaya tengil nya.


"Hemm..., pinter nya kamu aja ngeles" Sungut Bunda.


Emil terbangun saat merasa tangan nya ada yang meraba lembut, memicing kan mata, lalu tersenyum ramah ke arah perawat yang memasang kan alat pengukur tensi di tangan nya. Wajah perawat sendiri terlihat malu mendengar ocehan Ibu dan anak keluarga Prasojo.


"Gak nyangka banget keluarga terhormat seperti Prasojo bisa bicara vulgar juga" Gumam sang perawat dalam hati.


*


*


*****Bersambung


----------------------------------------


Sampai di sini dulu aja ya readers tuk episode yang ini.


Maafin tingkah konyol keluarga Prasojo yang emang sudah ngeres dari sono nya

__ADS_1


Dintunggu Like dan Vote nya jangan lupa🙏


__ADS_2