Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 69


__ADS_3

Selepas solat Ashar aku turun ke bawah menemui anak - anak dan keluarga ku lain nya yang sedang berkumpul di teras depan rumah sembari menikmati bubur kacang hijau buatan Ibu .


" Mamah ayuk ke taman " Ajak Daffa menarik baju ku .


" Ini sudah sore Dek, besok aja ke taman nya "


Balas ku malas.


" Gak mau..!, Adek mau cekalang " Rengek nya. dan Zarra pun ikutan merengek minta mencoba sepatu roda yang baru di belikan Akung nya di Mall . Aku turuti permintaan anak - anak , kami berjalan ke taman .


Daffa membawa mainan helikopter remot yang di bawakan Erza , di beli oleh nya di luar negeri dengan di gendong Eksan , Zarra memakai sepatu roda berpegangan lengan ku dan Zahwa yang sudah mahir mengenakan sepatu roda berjalan di depan .


Taman tak terlalu ramai sore itu, namun karena suara helikopter remot milik Daffa yang menyerupai heli asli dengan ukuran lumayan besar membuat warga di sekitar ikut berkerumun di lapangan melihat heli milik Daffa terbang berputar - putar mengelilingi area taman , bahkan banyak pengendara yang membawa anak dan melintas di sekitar taman ikut berhenti melihat nya .


" Ibu.., beli heli seperti itu ..! " Rengek seorang anak ke Ibu nya .


" Iya besok kalau Ayah mu dapat rezeki nomplok " Jawab ibu nya ketus .


" Mainan nya anak gedongan emang beda ya "


Ucap seorang warga .


" Berapa ya harga heli remot sebesar itu.., pasti mahal " Tanya yang lain .


" Mahal buat kita .., buat keluarga Pak Hardi sih biasa aja , lah wong Pak Hardi nya kontraktor sukses, Bu Emil nya pimpinan cabang Bank swasta ternama belum Eyang nya yang pensiunan wakil gubernur "


Suara Pak Rt ku dengar diantara warga yang berkerumun .


" Tapi ko tinggal nya di kompleks perumnas kecil ya " Tanya warga lain .


" Pantesan mobil nya juga banyak sampai ada yang di taruh di halaman aula Rt "


" Bu Emil di sini menempati rumah dinas , hanya sementara , Pak Hardi juga karena ada proyek jalan lingkar selatan itu , kalau rumah Beliau di kota nya sudah serupa istana "


Cerita Pak Rt lagi, dan aku merasa terusik dengan gunjingan warga .


" Om .. sudah mau maghrib udahan yuk main nya , Adek heli nya daratin dulu ya sudah sore, main nya lagi besok oke ! " Bujuk ku ke si kecil yang di balas dengan anggukan kepala .


Erza mendarat kan heli nya dan meringkas nya lagi agar mudah di bawa , kerumunan pun membubarkan diri dengan sendiri nya .


" Za.. Za ! , kamu tuh ya sudah tahu ini kota kecil malah keluarin mainan mahal macam begitu.., heboh kan jadi nya " Ucap ku sesampai di dalam rumah .


" Biarin aja Mbak, gak usah terlalu di dengar celoteh orang , makan ati nanti, wajar lah mereka menilai begitu " Balas Erza datar .


" Memang berapa sih tu maianan, lagian ya Za kamu tuh sudah berumur juga , teman yang lain sudah pada punya anak, gak mikir cari pasangan malah masih suka beli mainan kaya anak kecil aja .,ck..ck..ck " Ku geleng kan kepala tak mengerti dengan hobi adik ku .


" Harga nya lumayan sih Mbak bisa buat beli satu unit motor vario baru , jodoh mah sudah di atur Mbak sama yang di atas nanti juga ketemu sendiri ngapain harus di kejar "


Balas nya masih tanpa ekspresi sembari meringkas heli dan memasukan nya kembali ke dalam kardus .


" Aku beli ini buat Adek ko , untuk kenang - kenangan besok kalau Adek sudah dewasa "


Ujar Erza lagi .


" Hemm yang ada nanti malab rusak Za , sayang kan beli mahal - mahal, mending sih motor rusak juga masih bisa ke jual "


Balas ku merasa sayang beli mainan mahal .


" Maka nya main nya di dampingi orang dewasa Mbak " Balas nya lagi .


********************

__ADS_1


Malam itu selepas solat Isya Erza mengajak ku jalan - jalan ke kota .


" Gak biasa nya Bucin belum pulang Mbak ?! "


Tanya Erza pelan takut di dengar orangtua Mas Hardi .


" Mas Hardi ada pekerjaan di lapangan jadi pulang nya telat " Balas ku datar .


" Mumpung gak ada Bucin, makan di luar yuk Mbak, sudah lama kan kita gak makan di luar bareng " Pinta nya memaksa .


" Ajak anak - anak sekalian Za ?! " Tanya ku .


" Gak usah Mbak , kita bertiga aja " Balas nya.


" Terus Ibu gimana gak di ajak..?! " Balas ku.


" Ibu biar gabung besan dulu jagain cucu nya, nanti aku yang bilang sama Ibu " Balas Eksan.


" Tapi kasihan Ibu Za.." Aku merasa tak enak hati kalau Ibu di tinggal.


" Kalau ajak Ibu malah kita yang gak kasihan sama Beliau , angin malam gak baik buat Ibu "


Ujar Eksan lagi .


Dan akhir nya malam itu dengan izin Ibu dan mertua ku kami jalan - jalan keliling kota yang terasa sedikit senyap, bahkan pedagang makanan pun hanya beberapa saja yang buka, setelah keliling lumayan jauh akhir nya ketemu juga cafe yang sesuai selera kami .


Malam itu kami habis kan waktu dengan nongkrong dan beecanda bertiga di cafe .


Melepas kan penat setelah berkutat dengan pekerjaan dan kemanjaan suami sedikit memberi nuansa baru dalam hari ku .


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah menunjukan pukul 22.15 Wib, kami memutus kan untuk kembali ke rumah. sampai di rumah ku lihat mobil Mas Hardi belum terparkir, arti nya Dia belum pulang, aku bernafas lega .


" Belum , apa ndak hubungin , bilang sedang dimana ..?! " Tanya Bunda menatap ku.


" Gak ada kabar Bun " Balas ku datar .


" Adek sama kaka sudah tidur Bun ? " Tanya ku lagi, Bunda membalas dengan anggukan.


Aku masuk ke dalam menengok anak - anak, kemudian naik masuk ke atas mengganti baju dengan daster , aku rebah kan tubuh ku di atas tempat tidur, sampai hampir jam sebelas malam Mas Hardi belum juga datang, karena merasa bete, aku turun dan beranjak keluar ke rumah dinas ku bergabung dengan keluarga ku, tiduran di ruang tengah di depan televisi .


Lelah dan kantuk membuat ku terlelap di bed ruang tengah bersama Eksan dan Erza . Jam satu dinihari Mas Hardi baru pulang ke rumah dan saat masuk ke kamar nya tak di dapati nya aku di sana , sementara ponsel ku yang tak kubawa tertinggal di kamar nya sedang sedari masih di jalan Dia menelfon ku tak di angkat , membuat menggila.


" Mah... !, Mamah...! , Emiiil... ! , dimana kamu " Suara Mas Hardi menggelegar heboh membangun kan Bik Ratmi , Bunda dan Ayah yang masih terjaga di ruang keluarga .


" Ono opo to lee.., malam - malam begini teriak - teriak , malu sama tetangga ini perumnas dinding nya tidak kedap suara "


Tanya Bunda setengah menahan kantuk .


" Emil mana Bun..!! " Tanya nya marah .


" Loh bukan nya Emil sudah masuk dalam kamar dari tadi to ?! " Balas Bunda .


" Kalau ada dalam kamar, aku gak akan teriak nyariin Bun.." Kesal nya menahan emosi.


" Barangkali di rumah nya sendiri Har, kangen pengin kumpul sama Ibu nya mungkin "


Balas Ayah santai .


" Sekali waktu biarin to Har , Emil nglepas kangen sama Ibu nya , toh besok kalian ketemu lagi " Saran Ibu menengahi .


" Gak boleh !!, aku gak bisa tidur tanpa Emil saat ini " Rengek nya .

__ADS_1


" Kamu tu sedang apa sih Har, kaya anak kecil gitu , lama - lama Emil jengah di tinggal lagi kamu " Ancam Bunda .


" Ko Bunda nyumpahin gitu sih ! " Gerutu nya.


" Yah temenin , ambil Emil di rumah nya "


Pinta Mas Hardi setengah memaksa .


Bunda dan Ayah menggeleng kan kepala tak mengerti dengan kemanjaan putera nya .


Ayah beranjak keluar rumah , membuka gerbang rumah dinas ku, mengetuk pintu rumah pelan , Erza membuka kan pintu dan begitu pintu terbuka Mas Hardi beranjak masuk, melihat ku yang tertidur di ruang keluarga di depan televisi Mas Hardi mengangkat tubuh ku , di bawa nya ke dalam kamar nya dengan tatapan takjub Erza dan gelengan kepala Ayah .


Mas Hardi membaringkan tubuh ku pelan di atas tempat tidur nya, dan mengganti daster ku dengan piyama sutera pemberian nya .


Pagi hari aku terbangum dalam mode bingung sendiri . Bagaimana bisa aku berada di kamar Mas Hardi dan sudah berganti memakai piyama sutera sementara aku merasa semalam memakai daster ?! . Saat aku sedang terbengong Mas Hardi terbangun dan meraih tubuh ku memasukan nya lagi ke dalam dekapan hangat nya .


" Jangan turun dulu Mah, temanin Papah sebentar lagi.. masih kangen " Bisik nya di telinga ku menghembuskan nafas panas nya.


" Semalam Papah pulang jam berapa ..? "


Tanya ku pelan , kumainkan jemari ku di atas dada bidang nya .


" Jam satu Mah.., kenapa Hp di tinggal di kamar , Papah telefon puluhan kali gak di angkat , malah tidur di sebrang lagi ! "


Sungut nya kesal .


" Maaf.., Mamah ketiduran, tadi nya sudah di kamar terus bete gak ada Papah, jadi keluar ngobrol sama Erza dan Eksan , tahu - tahu bangun sudah ada di sini " Balas ku pelan .


" Besok lagi kalau Papah belum pulang , Mamah tungguin di kamar , jangan kemana - mana apalagi tidur bareng laki - laki lain "


Mas Hardi mendengus kesal .


" lelaki lain yang mana Pah ?! , Erza ? Eksan ?, mereka kan adik ku Pah, kami terbiass tidur bareng dari kecil bukan hanya bertiga bisa berlima bahkan kadang bertujuh bareng Ayah , Ibu juga " Jawab ku tak mengerti .


" Dulu ya dulu Mah beda , mereka masih anak kecil sekarang kan sudah jadi lelaki dewasa , pokok nya Papah gak suka titik ! "


Nada suara nya semakin tinggi tanpa melepas pelukan nya.


* Ya Rabb..., suami ku ko begitu amat sih masa sama adik kandung ku juga dicemburuin ?! * Gumam ku dalam hati .


" Pah lepasin Mamah mau subuhan " Pinta ku dengan sangat hati - hati .


" Solat di rumah aja, Papah masih kangen "


Perintah nya tanpa mau di bantah .


" Hemmm.. assyiiaapp bos " Balas ku kesal.


Ku lihat Mas Hardi tersenyum dengan mata masih terpejam, ku lepas pelukan nya dan beranjak turun, membersihkan diri, berwudhu lalu menjalan kan ibadah di dalam kamar .


-----------------------------------------


Terimakasih untuk readers yang masih setia dengan karya ku hingga kini , semoga menghibur..


Tolong jangan lupa tinggal kan kesan like dan vote nya untuk penyemangat author


Jadikan novel juga ya untuk dapat up date setiap hari


Terimakasih juga untuk redaktur


Love you all,😘😍

__ADS_1


__ADS_2