
Malam Mas Hardi tidur dengan posisi mendekap ku erat tanpa terjadi apa pun seperti janji nya. aku terbangun saat matahari menampakan wajah elok nan sempurna , membagi bias sinar nya melalui celah korden jendela yang sedikit tersingkap.
Aku berusaha menggeliat kan badan tuk meregang kan otot yang terasa kaku berjam - jam tidur dalam posisi miring .
" Sayang jangan banyak gerak .., jangan bikin aku putus asa " Bisik nya lembut di telinga. Sesaat kemudian kurasakan benda keras menempel di tubuh bagian belakang ku.
Aku berusaha untuk bangun, Tangan dan kaki Mas Hardi mengunci tubuh ku erat.
" Sayang please.. jangan turun dulu.., izin kan aku menikmati aroma tubuh mu sesaat lagi " Desah nya lembut, dengan wajah di benam kan ke keher jenjang ku.
Ku pejam kan mata ku berharap Dia menepati janji tak kan menodai ku. Benda keras milik nya menggeliat menggelitik pinggang belakang ku memberi sensasi aneh dalam tubuh , ku gigit bibir menahan gejolak yang meronta dalam dada ku.
Mas Hardi melepas pelukan nya , duduk di sebelah ku di atas ranjang, meraih tubuh ku di hadap kan pada wajah nya. mencium lembut bibir ku penuh perasaan .
" Maaf sayang junior tak bisa ku taklukan Dia meronta terus biar ku selesai kan di dulu " Desah nya tersenyum lembut , mencium kening lembut , lalu beranjak turun menuju kamar mandi.
Aku mendesah menetralisir desiran aneh menyesakan dada , ku lihat wajah ku di cermin merah merona semerah tomaf.
*Uffff ada apa dengan Mil.., kendali kan dirimu , jangan seperti wanita j***** * Bisik ku merutuki diri.
Turun dari tempat tidur , kulangkah kan kaki keluar dari kamar menuju balkon. Menikmati pemandangan taman dengan kolam ikan koi di bagian belakang rumah Mas Hardi. Ku nikmati hangat nya sinar mentari pagi yang menyentuh kulit kuning langsat ku turunan dari Ibu . Ku renggang kan badan ku dengan gerakan senam sederhana. Seorang lelaki yang sedang memberi makan ikan koi menatap ku dari tempat nya berdiri, entah sejak kapan Dia berada di sana dengan pandangan lekat ke atas, aku baru menyadari keberadaan nya saat tak sengaja mata ku menatap ke bawah. Cukup lama Mas Hardi dalam kamar mandi entah apa yang dilakukan nya di dalam sana.
Dia tersenyum menganggukan kepala, ku balas dengan melakun kan hal yang sama seperti nya.
" Heeeiii... , siapa izin kan kamu mencuri pandang calon isteri ku.., pergi sana.., awas kalau sampai aku memergoki kamu seperti ini lagi, ku pecat kau " Suara bariton di belakang membuat gerak reflek ku memutar tubuh.
Mas Hardi berdiri kokoh di belakang ku mengenakan Tshirt hitam ketat dan celana pendek , memperlihat kan otot bisep nya.
Di raih nya tangan ku di ajak masuk ke dalam.
" Mandi dulu sayang terus kita turun sarapan Bunda sudah menunggu kita di bawah " Seulas senyum lembut menghias wajah segar nya.
" Itu baju ganti mu, Bunda yang pilih kan " Mata nya menunjukan ke atas meja di depan sofa sebuah dres bermotif bunga berwarna tulang susu teronggo di sana lengkap dengan baju dalam.
Aku mengambil nya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ku bersih kan tubuh ku dengan air segar yang mengalir dari shower di atas kepala ku . Kunikmati ritual membersih kan diri sembari bersenandung , tanpa ku sadari Mas Hardi beridiri di depan pintu kamar mandi tersenyum menikmati alunan lagu ku.
__ADS_1
Usai mengenakan baju ku langkah kan kaki keluar saat ku buka pintu Mas Hardi berdiri tegap menanti ku dengan senyum tak lepas menghias wajah nya .
" Ada apa ya.... Mas ,..? " Tanya ku bodoh.
" Gak papa.., suka denger kamu nyanyi di dalam tadi " Ledek nya, menepuk lembut pipi ku yang kembali merona .
Aku beranjak ke kaca besar di samping bufet televisi, sudah ada mike up lengkap di sana plus hair draiyer . Ku alih kan pandangan ke arah Mas Hardi yang duduk di sofa menatap ku dari pantulan cermin.
" Ink punya siapa .., Mas ? " Tanya ku .
" Punya kamu sayang, itu Hani yang belikan kemarin " Mas.Hardi beranjak dari duduk nya, memasukan ujung kabel hair draiyer ke stop kontak listrik di rol kabel bufet televisi lantas membantu ku mengering kan rambut.
" Biar aku lakuin sendiri aja Mas " Sergah ku dengan wajah merona .
" Eemmm.., kamu pake mike up aja sayang.., rambut mu biar Mas yang keringin ' Pinta nya.
" Aku gak biasa pake mike up.., rasanya gimana gak nyaman " Jawab ku polos .
" Paling gak pake pelembab sayang. prakiraan cuaca hari ini panas, nanti wajah mu kering "
Aku ambil tube pelembab, mengeluar kan isinya sedikit telapak tangan lalu ku oles kan merata di wajah.
Pintu kamar di ketuk dari luar. Mas Hardi beranjak membuka pintu, wajah Hani mumcul di depan pintu , menyerobot masuk tanpa izin.
" Hai Ka.., sini aku bantu ajarin pake mike up.." Pinta nya dengan seulas senyum .
" Maaf dek aku gak biasa pake mike up " Jawab ku polos membalas senyum nya.
Hani meminta ku duduk di kursi di depan ceemin, dengan mengabai kan ucapan ku ,
Dia mulai mengajari ku ritual mempercantik diri dengan peralatan mike di atas bufet samping kaca besar, dengan sorot pandang Mas Hardi yang menatap lekat melalui pantulan kaca di depan ku, duduk di sofa dengan senyum yang tak lepas.
" Nah.. gini kan terlihat lebih fresh ka.., natural dan anggun " Hani membalikan tubuh ku menghadap ke arah Mas Hardi.
" Gimana Mas.., lebih cantik dan fresh kan..?" Ucap Hani menatap kakak nya.
__ADS_1
Mas Hardi mengangkat ke dua jari jempol tangan nya dengan senyum lebar.
" Yuk ka turun sudah di tungguin dari tadi." Hani menarik tangan ku, reflek Mas Hardi menepis tangan adik nya, meraih tangan ku lalu memasukan jemari nya ke sela - sela jemari ku , menggenggam erat, melangkah keluar dari kamar untuk turun ke bawah ke meja makan .
" Ciiieee..., yang lagi di mabuk asmara macam kereta nempel teruuussss " Goda Hani .
Mas Hardi memukul pundak adik nya lembut.
" Anak kecil, tahu apa kamu.," Hardik nya lirih dengan wajah pura - pura marah.
Hani tertawa keras hingga mengalih kan perhatian orangtua Mas Hardi dan Hana yang duduk santai di meja makan dekat dapur .
" Haiii... Nak Emil.., gabung sini sarapan, tadi Bunda beli nasi uduk di sebrang rumah " Ibu Mas Hardi tersenyum ramah menyambut kami.
Ayah Mas Hardi tersenyum bahagia menatap tangan Mas Hardi yang menggenggam erat jemari ku.
" Wah... Ka Emil cantik alami..pake banget.." Puji Hana., aku tersipu malu - malu, menunduk kan kepala ke arah mereka dengan seulas senyum.
" Dek Hana sama Dek Hani juga cantik ko " Puji ku polos .
Ibu Mas Hardi meraih tubuh ku mencium kening ku lembut, aku mencium tangan kedua orangtua Mas Hardi , lalu duduk di samping Bunda berhadapan dengan Hana diapit Mas Hardi. Seperti biasa nya tanpa malu Mas Hardi menyuapi ku di hadapan mereka .
Beruntung ini akhir pekan di mana karyawan Mas Hardi libur jadi suasana rumah tak seramai biasa nya. Usai sarapan oramgtua Mas Mas Hardi meminta ku bersiap - siap, mereka akan mengantar kan ku pulang.
Aku pulang diantar oleh keluarga Mas Hardi dengan dua mobil, aku dan Mas Hardi hanya berdua saja dengan mobil milik nya. Ibu Mas Hardi terlebih dulu mengajak kami ke Mall.
Mereka membelikan ku pakean, sepatu dan tas branded yang tak terjangkau kantong ku.
Belanja oleh - oleh untuk keluarga ku juga.
Setelah puas shoping mobil kembali melaju ke rumah ku.
Sepanjang perjalanan tangan Mas Hardi menggenggam ku erat dengan tangan satu lagi memegang kemudi . Lima belas menit sampai lah kami di depan rumah ku .
Ayah dan Ibu duduk di teras menanti kami.
__ADS_1
Akmal , Erza dan Emran baru pulang joging bersama dan Eksan mengendarai sepeda di belakang kakak nya .