Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 129


__ADS_3

Hai reader jumpa lagi dalam karya ku


Maaf kalau akhir-akhir ini jarang up


Mohon untuk memberi like setelah membaca dan terimakasih yang berkenan memberi vote.


love you all.


-----------------------------------------++++++


Emilia Pov


Pukul delapan malam selepas solat isya berjama'ah Mas Hardi meminta ku untuk tidur lebih awal, tidak seperti biasa nya Mas Hardi meminta anak-anak untuk tidur bersama dalam satu tempat tidur, mengunci rapat semua jendela dan pintu balkon, memasang alarm di beberapa titik dalam kamar dan memperketat penjagaan di luar kamar dan di bawah area kamar kami yang terletak di lantai atas.


Tengah malam saat aku terbangun karena rasa mual yang menyerang tubuh ku dan keinginan untuk membuang air kecil, aku terbangun tanpa ku dapati Mas Hardi di dalam kamar, yang ku temui justeru Bik Ratmi yang tertidur di sofa dan Bunda yang mendekap erat Daffa di ujung kiri tempat tidur.


"Den ayu ajeng teng pundi (Nona mau kemana)" Sapa Bik Ratmi saat terjaga dan melihat ku berusaha turun dari tempat tidur, aku terjengkit dengan suara Bik Ratmi meski pelan cukup membuat ku kaget karena ku lihat tadi mata nya masih terpejam rapat.


"Ke kamar mandi Bik, perut ku mual dan aku ingin buang air kecil" Balas ku pelan takut membangun kan anak-anak.


Bi Ratmi beranjak mendekat ke arah ku membantu ku untuk berjalan masuk ke dalam kamar mandi, usai aku tumpahkan isi dalam perut ku dan selesai dengan buang air kecil aku keluar kamar mandi dengan di bantu Bik Ratmi memapah tubuh ku.


"Mas Hardi kemana Bik" Tanya ku penasaran.


"Anu Den enten pedamelan kalih Ndoro Agung ( Itu Non ada kerjaan dengan Tuan besar)" Balas Bik Ratmi berhati-hati.


"Kerja apa'an Bik larut malam seperti ini" Balas ku penuh tanya dalam hati.


"Ngapunten Den Ayu dalem mboten pirso, wau Den Bagus namung matur mekaten (Maaf Nona saya tidak tahu, tadi Tuan hanya berpesan seperti itu)" Balas nya lagi pelan.


"Masih mual Nak ?!" Tanya Bunda cemas, begitu aku sampai di dekat tempat tidur.


Ku gelengkan kepala pelan.


"Gak terlalu sih Bun, cuma sekarang perut ku jadi laper lagi" Balas ku sembari menengok jam di dinding. pukul dua lebih tigabelas menit dinihari.


Cekrek ! cekrek !


Pintu terbuka dari luar, Mas Hardi masuk dengan baju setengah basah,.wajah kuyu dan kulihat ada perban di lengan kiri nya bagian atas, aku menatap cemas, Mas Hardi tersenyum berjalan ke arah ku dan mencium kening ku lama.


"Kamu darimana Mas ?, dan ini lengan mu kenapa ?, tubuh mu bau anyir darah, apa yang telah kamu lakukan di luar sana Mas ?!"


Ku telusuri sekujur tubuh suami ku dan kulihat ada beberapa luka goresan dan lebam di beberapa bagian tubuh nya.


"Aku gak Papah sayang, hanya olahraga fisik sebentar saja ko, dan lagi laki-laki punya luka seperti ini hal yang biasa, gak usah cemas"


Ucap nya dengan seulas senyum.


"Gak papa gimana !, tubuh mu penuh luka begini juga dan lagi olahraga ko tengah malam, olahraga apa coba yang sampai bikin tubuh remuk begini" Balas ku masih dengan nada cemas.


"Sudah sayang, di bilang Papah gak kenapa-napa juga, Mamah jangan banyakan mikir, jangan banyakan cemas gitu kasihan adek kita dalam rahim Mamah" Hibur nya, mengelus perut ku lembut.


Tak berapa lama Bik Ratmi yang tadi sempat pamit keluar bersama Bunda saat Mas Hardi baru datang, kembali masuk setelah mengetuk pintu dan dipersikahkan masuk oleh kami, Bik Ratmi membawa nampan makanan dan segelas susu bumil.

__ADS_1


"Ngapunten Den Ayu niki bakmie jawa damelan Bunda kalih susu bumil kagem Den Ayu ( Maaf Nona ini bakmie jawa buatan Bunda dan susu bumil untuk Nona)" Ucap Bi Ratmi meletakan nampan makanan di atas nakas, lalu pamit beranjak keluar kamar.


Mas Hardi mengambil piring keramik berisi bakmi jawa dengan seidkit kuah di atas nampan, lalu menyuapi ku pelan.


"Biar aku makan sendiri Mas, tangan mu masih terluka pasti sakit" Pinta ku tak sampai hati melihat perban melingkar di lengan nya.


"Luka ringan Mah jangan digedein gitu, gak sakit ko kalau cuma gerak ringan begini"


Balas nya sembari tersenyum untuk meyakinkan ku.


"Lengan mu terluka kena apa sih Pah ?!"


Tanya ku lagi masih dengan rasa penasaran.


"Kecelakaan.kecil Mah tadi di lokasi proyek bareng Ayah" Balas nya santai.


"Proyek yang dimana Pah, ko datangi proyek malam hari" Selidik ku.


"Proyek pusat, ada masalah sedikit, habisin susu nya Mah" Perintah nya pelan.


Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang diaembunyikan oleh suami ku dan juga keluarga nya dari ku.


Mas Hardi menjilat bibir ku tiba-tiba, membuat ku berjengkit dan bersemu merah merasakan desiran aneh dalam aliran darah ku.


"Manis lebih manis dari meminum dalam gelas" Goda nya dengan senyum usil nya.


"Kamu ngapain sih Mas.. jorok !" Balas ku.


Balas nya masih dalam nada menggoda, menatap ku lekat. Mas Hardi meraih dagu ku menatap di kedalaman mata ku serupa mencari sesuatu di dalam manik mata ku.


Mas Hardi memeluk ku erat, mengacak rambut ku pelan sejurus kemudian melepas kan nya, kembali menatap manik mata ku.


"Jangan pernah mencoba tuk mengkhianati ku Mah, ku mohon jangan pernah berubah mencintai ku dan jangan pernah berusaha pergi meninggalkan aku" Bisik nya lembut di daun telinga sebelah kanan ku, menghembus kan uap panas yang menggelitik kewanitaan ku hingga aku terpejam menahan desiran rasa membuncah dalam dada ku.


"Kamu kenapa bicara seperti itu Mas ?, ko kamu jadi melow begitu sih ?, kapan coba aku mengkhianati mu, aku juga gak pernah berubah selama kamu tidak berbuat kelewat batas menyakiti ku" Balas ku datar.


Mas Hardi kembali memeluk ku erat.


"Sungguh aku begitu takut kehilangan kamu, rasa nya takkan mampu jika aku kamu tinggal kan, lebih baik aku kehilangan perusahaan ku daripada harus kehilangan kamu" Bisik nya.


Mas Hardi mencium ujung rambut ku, kening, kedua pipi ku, hidung lalu menyesap bibir ku lembut dan kami menikmati sampai ku dengar suara pergerakan di samping ku.


Spontan kami menengok ke arah tempat tidur, Daffa terbangun, mengucek mata nya dengan punggung tangan nya, lalu menatap kami.


"Mah Abang mau pipis" Rengek nya manja.


Mas Hardi meraih tubuh Daffa digendong nya masuk ke dalam kamar mandi, beberapa saat kemudian kembali keluar dari kamar mandi.


"Abang mau tidur peluk Mamah sama Adek"


Rengek nya kemudian berbaring di sebelah ku, menguap lalu memeluk ku erat, Mas Hardi merebahkan diri di belakang punggung ku yang memeluk Daffa, mendekap ku erat dari belakang, membenam kan wajah di ceruk leher ku, sesaat kemudian kudengar dengkuran nya lembut.


------------------------------------------

__ADS_1


Aku terbangun lagi saat suara iqomah di masjid berkumandang karena rasa mual yang kembali menyerang. Dengan berjingkat aku berusaha turun dari tempat tidur dengan lebih dulu melepas kan pelukan tangan Mas Hardi dari perut ku, sementara Daffa sudah merubah posisi memeluk Zarra yang tertidur di sebelah nya.


"Mamah mau ke kamar mandi ?" Tanya Zahwa pelan saat melihat ku berjalan merambat pelan dengan tumpuan dinding kamar, ku anggukan kepala menjawab nya. Zahwa beranjak turun dari tempat tidur berjalan mendekati ku.


"Zahwa temani ya Mah " Pinta nya lalu meraih tangan ku dan membantu membuka pintu kamar mandi.


Diatas wastefel aku tumpah kan seluruh isi dalam perut ku, Zahwa dengan telaten memijat tengkuk ku Dia naik di atas kursi untuk mensejajar kan tinggi nya dengan tinggi badan ku.


Usai membantu ku Dia berjalan ke arah closet untuk buang air kecil.


"Mamah keluar nya nanti bareng kaka ya " Pinta nya lembut.


"Mamah mau bersuci dulu Ka, sudah waktu nya solat subuh, ayu kaka solat bareng Mamah" ajak ku. Zahwa mengangguk pelan lalu mengikuti ku mengambil air wudhu.


Usai solat bersama Zahwa izin keluar bersama Zarra dan Daffa yang ikut terbangun, aku sempat mengawasi mereka dari pintu kamar turun ke bawah dengan di kawal bodyguard yang selalu siaga di depan pintu.


Usai aku lihat mereka berkumpul dengan Bunda aku kembali ke dalam kamar berjalan mendekat ke arah tempat tidur, kulihat Mas Hardi mengigau, menggumam tak jelas.


"Jangan mimpi kamu bisa merebut wanita ku !!, akan aku pastikan tubuh mu hancur sebelum menyentuh nya !!" Teriak Mas Hardi dengan peluh membanjiri tubuh nya meski AC dalam rumah dalam kondisi dingin.


Tubuh Mas Hardi menggelinjang, tangan nya begerak serupa ingin memukul dan kaki nya bergerak ke sembarang arah.


Ku guncang tubuh nya pelan berusaha membangun kan dari mimpi buruk nya.


"Mas..., Mas Hardi.., bangun ini sudah pagi"


Ucap ku pelan di telinga nya.


Mas Hardi memincing kan mata lantas mengerjap beberapa kali dan bangun dari tidur nya duduk di tepian tempat tidur.


"Kamu mimpi buruk Mas ?" Tanya ku mengusap peluh di kening nya dengan tisue yang kuambil di atas nakas.


Mas Hardi menatap ku lekat lantas meraih pinggang ku dan memeluk nya erat.


"Jangan pergi dari ku Mah !, jangan tinggal kan aku dan anak-anak kita" Pinta nya tulus.


Kuurai badan ku dari dekapan nya, ku raih wajah Mas Hardi yang terbenam di atas perut ku, menatap ke dalam manik mata nya, ku lihat ada binar cemas terpancar dari sorot mata nya.


Aku tersenyum lembut sembari menggeleng lemah, kucoba memberi kedamaian untuk mengurai kecemasan dalam hati nya.


"Aku telah memilih kamu untuk sandaran hidup ku Mas, selama kau tidak mencampak kan aku, selama nya aku akan berada di sisi mu bahkan jika mungkin kau akan berpaling dari ku, akan aku perjuangkan agar kau kembali menatap ku" Ucap ku pelan tulus dari dalam hati memberi nya keyakinan.


"Terimakasih Mah !" Ucap Mas Hardi, mata nya berkaca-kaca lalu berdiri dan meraih wajah ku, menyatukan bibir kami, menyesap lembut penuh perasaan.


*


*


*


*


****Bersambung

__ADS_1


__ADS_2