Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 48


__ADS_3

" Garwo iku sigaring nyowo ojo dumeh duwe kuoso iso nyikso sapenak tyas , mestine nek garwo mu loro meluk kroso loro ora malah nambahi sengsorone jiwo ( pasangan hidup itu separuh dari nyawa, jangan merasa punya kuasa bisa menyiksa seenak hati , mesti nya jika isteri mu sakit kamu ikut merasa sakit tidak malah menambah kesakitan jiwa nya ) "


Suara itu menggema dalam ruangan bersama sebersit bayang samar melayang keluar melalui jendela kaca yang sengaja di buka oleh lelaki bersorban .


Aku terbangun, mata ku terasa sedikit panas, kepala ku masih terasa pusing dan berat, aku mencoba duduk kembali di bantu Ka Aisha .


" Ada apa ini..?, Ka Ais..? kapan datang ..?! " Tanya sembari mengembang kan tangan untuk meminta pelukan dari nya, Ka Aisha menghampiri dan memeluk ku erat masih dengan genangan air di kelopak mata nya.


" Senang sekali melihat Ka Ais di sini , aku kangen sekali . " Ucap tulus dari lubuk hati .


Aku melepas pelukan dari Ka Aisyah beralih ke Ustadzah aku mencium tangan nya , memeluk dan menangis dalam pelukan nya.


" Bu ustadzah mohon do' a kan saya agar pulih seperti semula " mohon ku tulus .


" In Syaa Allah Mbak Emil saya dan yang lain selalu mendo'a kan untuk kesembuhan dan kebaikan Mbak Emil " Ustadazah tersenyum lembut menyejukan hati .


Aku beralih menatap Ibu, memohon kepada Beliau untuk memeluk, Ibu mencium kening ku sebelum nya lalu memeluk erat dan berkali - kali mencium ujung rambut ku .


" Maafin Emil Bu.. belum bisa menjadi anak yang berbakti , semejak menikah Emil jarang sekali menemui Ibu " Suara ku parau menahan sesak betapa aku terlalu sering melupakan Beliau semenjak menikah .


" Ibu memahami apa alasan Emil jarang pulang , bagi Ibu kamu tetap puteri terbaik yang kami miliki.., yang sabar ya Nok " Setetes kristal bening membasah di rambut ku, degup suara jantung Ibu dan suara yang terdengar menahan pilu masih bisa ku rasa kan meski Ibu berusaha menyembunyi kan .


Setelah nya aku bergantian memeluk adik - adik ku, Bunda dan Ayah yang menampakan rasa bersalah nya atas perlakuan Mas Hardi terhadap ku di luar pengetahuan Beliau berdua .


" Dimana anak - anak Bun.. " Tanya ku sembari melihat setiap sudut ruangan .


" Bunda meminta mereka pulang ke rumah di temani susi , Hana dan Hani, mereka harus belajar karena besok dad ulangan tengah semester " Jelas Bunda dengan suara lembut.


pandangan ku beralih ke lelaki bersorban yang tak ku kenal duduk di sofa di temani Akmal, mereka sedang berbincang.


" Siapa Dia Za ..?! " Tanya ku lirih dengan isyarat mata melihat ke arah mereka .

__ADS_1


" Itu Ajengan Ahmad Suryana Mbak, kyai yang punya keahlian ruqiyah dan berkomunikasi dengan Mahkluk gaib, Beliau pernah berguru bareng Mas Nano di pesantren kebetulan sedang berkunjung ke rumah Keluarga Ka Aisha " Terang Erza .


Deg..!! tetiba saja rasa rindu menyeruak , keinginan tuk mengunjungi Mas Nano di tempat peristirahatan terakhri nya begitu


kuat menyesakan dada ku .


" Za .., aku ingin berkunjung ke tempat Mas Nano, bisakah mengantar ku ke sana..?,


semenjak menikah aku seperti melupakan dan tak pernah mengunjungi nya " Ucap ku lirih namun masib terdengar oleh yang berada di dekat ku .


" Orang nya sudah mati masih saja di ingat ! "


Sungut Mas Hardi kesal . Pandangan ku beralih menatap nya tajam, ku lihat sorot kecemburuan tergambar jelas di wajah nya .


Sekilas bayang kekerasan yang di lakukan nya terhadap ku melintas mengganggu fikiran menghadir kan rasa benci dalam hati, aku mengacuh kan kecemburuan nya .


" Kaka sembuh dulu nanti begitu keluar dari sini aku ajak langsung ke sana " Janji Erza dengan seulas senyum manis, ku balas dengan anggukan kepala dan senyum penuh harapan .


Bunda dan Ayah pamit pulang juga, aku kembali di tinggal kan berdua dengan lelaki yang saat ini begitu ku benci . Aku sempat berbisik ke Erza untuk tidak meninggal kan ku hanya berdua dengan suami ku dan Dia meyakin kan ku Erza tak pernah benar - benar membiar kan aku hanya berdua dengan Mas Hardi, tanpa ada yang tahu Dia selalu berada di dekat ruang rawat inap ku, lega rasa nya mendengar ucapan nya .


Tok tok tok..


Pintu kamar di ketuk dari luar, Mas Hardi beranjak membuka nya ,seorang kurir food menyerah kan plastik kresek putih, Mas Hardi mengambil nya lalu menutup kembali pintu kamar .


" Makan dulu Mah terus minum obat nya, Papah suapin ' Pinta nya lembut .


" Aku sudah kenyang " Jawab ku masih dengan suara enggan.


" Tapi kamu harus minum obat Mah dan perut tidak boleh kosong " Bujuk nya dengan sabar.


" Aku mau makan sendiri jangan perlakukan aku seperti anak kecil " Balas ku ketus .

__ADS_1


Mas Hardi pasrah mengambil bungkusan nasi uduk dengan pecel bebek goreng, di taruh di atas meja beroda khusus pasien lalu mengasurkan ke tempat tidur ku. Mas Hardi meraih tangan ku membersih kan dengan tisue basah dan menyemprot kan hand sanitizer ke telapak tangan ku, baru mengizin kan aku makan .


" Sedang marak virus mematikan Mah, tangan harus steril sebelum makan " Jelas nya .


Setelah nya Dia menuju wastafel kamar mandi membersih kan tangan sendiri lalu ikut makan dengan duduk di sofa, sesekali Dia melirik ke arah ku yang terlihat makan dengan enggan . Mas Hardi selesai makan lebih dulu dari ku lalu menghampiri ku meraih bebek goreng milik ku, melepas kan daging dari tulang nya memudah ku untuk makan .


" Handphone ku mana Mas .." Tanya ku lirih .


" Pecah sudah tidak bisa di pake lagi, besok aku belikan Aple keluaran terbaru " Mas Hardi menatap ku dengan rasa bersalah .


" Gak usah nanti aku beli sendiri sesuai selera ku saja " Jawab ku kesal .


" Mamah kasih tahu aja pengin merek , seri dan warna apa nanti Papah belikan sesuai keinginan Mamah " Pinta nya lagi .


Aku teringat pagi itu Mas Hardi merebut Hand phone secara paksa lalu melempar nya ke dinding sudut ruangan hinga remuk , setetes buliran hangat mengalir di pipi ku, Mas Hardi mengarah kan tangan ingin menghapus nya , dengan cepat ku tepis uluran tangan nya .


" Aku minta cerai dari kamu Mas " suara ku tercekat menahan sesak yang terasa menohoh relung hati ku . Mas Hardi melebar kan mata nya menatap ku sendu .


" Mah tolong jangan terlalu mudah mengucap kan kata itu, tidak baik ,itu perbuatan yang di benci sama Allah " Suara nya lembut merajuk.


" Aku serius kali ini , besok aku akan minta tolong Akmal mengurus semua nya kalau kamu tak mau melakukan nya " Jelas ku datar.


" Jadi ini mau kamu..?, mau menghancur kan hidup ku dan anak - anak kita..?, Baik kalau itu yang membuat kamu bahagia ,.biar kamu bisa bebas membagi hati mu ke lelaki mana pun, aku kabul kan permintaan mu.., Bahagia lah kamu di atas kehancuran ku dan anak - anak kita " Hardik nya keras meraih jas dan tas kerja nya dan berlalu meninggal kan aku sendiri di dalam ruangan.


Air mata ku tumpah selepas Mas Hardi pergi , ada rasa nyeri menghujam memilu kan seluruh persendian tulang belulang ku.


-------------+


Terimakasih tuk yang masih mengikuti karya ku hingga sejauh ini😘😘


Jangan lupa tinggal kan jejak like di tunggu vote dan tips nya juga ya tuk semangat author

__ADS_1


love you all 😍😍😍


__ADS_2