
Ku langkah kan kaki duduk di tengah antara Ibu dan Eksn, ku sandar kan kepala di bahu Ibu, Daffa mendekat ke arah ku lalu meminta duduk di pangkuan ku, Ibu meraih tangan ku dan meremas nya lembut .
" Bu Ayah kemana ko mobil nya tidak ada, Erza juga gak kelihatan " Tanya ku datar .
Ibu menarik nafas lalu menghembus pelan.
" Erza di ajak pergi Pak Handoko ke lokasi proyek jalan lingkar yang dikerjakan suami mu Nok " Balas Ibu pelan hampir tak ku dengar .
Tiiinnnggg !!
Sebuah notifikasi Whats Up masuk kiriman video dari seorang mantri lapangan , aku buka video dalam grup, sebuah kejadian tanah longsor di barengi dengan banjir bandang di lokasi proyek Mas Hardi, air bah persis seperti yang hadir dalam mimpi ku sore tadi.
Aku tercekat , hati ku berdebar tak menentu, wajah ku pias seketika tubuh ku menjadi lemas. Aku buka daftar kontak di ponsel ku, menelfon Erza yang sedang berada di sana.
Lama panggilan ku terabaikan, aku merubah menelfon mantri yang mengirim video ke dalam Whats Up grup kantor .
" Assallamuallaikum selamat malam Bu Emil ada yang bisa saya bantu ? " Suara Pak Wahyu dari sebrang sambungan telefon.
" Waallaikumsalam maaf Pak Wahyu boleh tahu dapat kiriman video darimana siapa yang merekam " Tanya ku dengan suara bergetar .
" Itu saya ambil dari kamera ponsel sendiri Bu kebetulan saya ada di lokasi saat kejadian dan saya berada di atas tempat yang aman " Jelas Pak Wahyu .
" Kapan kejadian nya ..?, Posisi Pak Wahyu ada di mana ?! " Aku mulai merasa lemas .
" Tadi sore Bu sekitar jam tiga'an, saya masih di lokasi membantu warga dan aparat mengevakuasi korban , maaf ssya belum bisa ke kantor untuk laporan " Jawab Pak Wahyu merasa cemas .
" Sinyal internet di sana bisa konek tidak Pak "
Ku gigit bibir bawah ku .
" Bisa Bu ! " Jawab nya
" Saya mau vidcall , tolong di buka " Pinta ku dengan harap - harap cemas .
Ku buka aplikasi whats up dan menggulirkan pic video untuk menghubungi Pak Wahyu .
Panggilan video tersambung, ku lihat di belakang Pak Wahyu kondisi kacau, lalu lalang orang membawa tandu dan hiruk pikuk terekam di layar ponsel .
" Selamat malam Bu, ada yang bisa saya bantu..?! " Tanya Pak Wahyu .
" Suami saya Pak Hardi ada di lokasi saat kejadian dan sampai sekarang saya tidak
bisa menghubungi nya , tolong Pak Wahyu cari kan suami ku " Pinta ku dengan suara tercekat dan airmata yang menganak sungai.
" Maaf Bu..., saya tidak tahu Pak Hardi ada di sini, ini memang ada beberapa pekerja kontruksi pembangunan jalan lingkar yang menjadi korban dan sedang di evakuasi "
__ADS_1
Balas Pak Wahyu dengan suara tersekat .
" Tolong Pak temukan suami ku " Pinta ku dengan suara bergetar .
" Tolong jangan matikan sambungan vidcall saya, nanti saya ganti beaya quota nya ! "
Pinta ku lagi dengan nada menekan .
" Baik Bu ! " Balas Pak Wahyu sembari berjalan mencari informasi keberadaan suami ku dari tim Sar dan warga sekitar .
" Maaf Pak ada yang menlihat Pak Hardi , bos pengembang jalan lingkar ini ?! "
Tanya Pak Wahyu kepada kerumunan orang yang sedang mengevakuasi korban.
" Belum ada kabar keberadaan Pak Hardi, barusan Pak Handoko, Ayah nya juga mencari, kami baru menemukan seorang asisten nya yang terluka cukup parah, kabar nya saat kejadian Beliau bersama Asisten dan perangkat adat berada di lokasi peristiwa "
Jelas seseorang mengenakan seragam Basarnas . Aku mendengarkan, melihat dan menyimak setiap langkah dan usaha Pak Wahyu untuk mencari suami ku .
Beberapa saat kemudian ku lihat sosok Erza diantara lalu lalang orang, berdiri mengamati seseorang .
" Pak Wahyu tolong dekati pria yang memakai jaket camping navi dengan celana jeans biru di depan sana, Dia adik ku " Pinta ku memohon. Pak Wahyu berjalan mendekat ke arah lelaki yang ku tunjuk, menepuk bahu nya pelan , Erza membalikan badan menatap Pak Wahyu.
" Erza... !! " Teriak ku, Pak Wahyu memberikan ponsel , Erza meraih ponsel, membuka masker dan menatap ku dari layar ponsel.
" Dimana Mas Hardi.. ! " jerit ku tertahan .
" Aku mau ke sana Za ! " Suara ku tercekat .
" Jangan Mbak di sini kondisi nya kacau , tidak kondusif , cuaca nya juga tidak bersahabat, Mbak Emil menunggu saja di rumah, secepat nya akan aku kabari jika Mas Hardi sudah di temukan " Mohon Erza dengan raut cemas dan sendu menatap ku.
Ibu memeluk ku dari belakang , membelai rambut ku lembut.
" Sabar Nok... jangan panik " Suara Ibu pelan.
" Bagaimana aku tidak panik Bu, suami ku belum di temukan padahal Taufan, ketua adat dan pekerja kontruksi lain yang ada bersama Mas Hardi saja sudah di temukan semua ! "
Jawab ku putus asa , ku matikan sambungan vidcal dengan Pak Wahyu naik ke atas menuju kamar untuk mengganti pakaian dan mengambil kunci mobil . Ibu dan Bunda mengikuti ku dari belakang .
Aku masuk kamar mengganti bawahan ku dengan celana jeans yang lebih praktis untuk melangkah, menambah sweter di atas kaos Mas Hardi yang ku kenakan, mengambil masker, jaket tebal dan tas selempang kecil, ku isi dengan minyak kayu putih dan minyak angin aroma terapi , tak lupa carger ponsel , powerbank dan dompet tertata di dalam tas.
Aku beranjak turun ke bawah , ku lihat Bunda sedang berbincang dengan Pak Rt dan Agus di teras rumah Mas Hardi . Ibu mengikuti ku masih membujuk ku untuk melupakan niat datang ke lokasi Mas Hardi tertimpa musibah.
" Nok jangan pergi sekarang , ini sudah malam dan cuaca nya juga tidak baik, Erza bilang di sepanjang jalan menuju lokasi
mssih hujan deras dn berkabut " Bujuk Ibu dengan tatapan sendu, airmata mengalir membasahi pipi Ibu yang mulai menampakan garis - garis tua nya .
__ADS_1
" Ibu .., Emil mohon.. !, restui Emil sekali ini saja.., Emil harus ke sana , Mas Hardi membutuhkan Emil.. ! " Mohon ku dengan airmata tak henti membasahi wajah .
" Pergi nya besok saja Nak Emil, subuh nanti biar Bunda minta Andi menemani " Balas Bunda menatap ku sendu. Ku geleng kan kepala pelan membantah nasihat kedua Ibu ku, wanita - wanita yang selalu ada untuk ku .
" Emil mau ke sana sekarang ! Toh di sana ada Erza dan Ayah juga ! " Balas ku , kekeh dengan keinginan ku yang begitu kuat . Ku lihat raut putus asa dari kedua Ibu ku .
" Maaf Bu Handoko kalau di izinkan biar saya temani Bu Emil meuju lokasi " Suara Agus tulus menawar kan diri.
" Nak Agus bener mau menemani menantu saya ke sana ?!, ini sudah malam ! " Tanya Bunda menatap Agus lembut .
" In Syaa Allah Bu, kalau di beri kepercayaan untuk menemani dan menjaga Bu Emil saya akan menjalan kan amanat dengan sebaik yang saya mampu lakukan " Balas Agus .
" Ya kalau ada lelaki dewasa yang mengantar Nak Emil, apalagi aparat seperti Nak Agus saya jadi merasa sedikit lega " Balas Bunda.
Aku menyetujui syarat Bunda dan Ibu yang memboleh kan ku ke sana asal di temani oleh Agus dan Eksan , lalu aku teringat pesan Mas Hardi sebelum pergi yang melarang ku untuk pergi dengan lelaki lain tanpa kecuali bahkan dengan Erza adik ku saja Mas Hardi cemburu, apalagi dengan Agus yang Mas Hardi anggap lalat untuk ku .
Dalam kebimbangan ku akan tawaran Agus, Pak Rt pun menawar kan diri untuk menemani ku setelah mendapat izin dari isteri nya .Akhir nya aku menerima tawaran dari Pak Rt dan Agus , dengan menggunakan mobil ku kami pergi melaju membelah jalanan kota di malam nan dingin berhias rintik gerimis menuju selatan kota .
* Maaf kan aku Mas, tidak mengindah kan perintah mu untuk tidak berkendara dengan lelaki lain * Bisik ku dalam hati sembari memejam kan mata .
Mobil ku di supiri oleh Agus dengan Pak Rt di samping nya sedang aku duduk di belakang dengan Eksan . Bunda memberi bekal kue, buah dan minuman jahe untuk penghangat tubuh .
Di sepanjang jalan kami sering berpapasan dengan ambulans yang membawa korban bencana dengan berbagai lebel rumah sakit, pusat kesehatan, PMI dan lembaga yayasan sosial .
sekitar empat puluh lima menit perjalanan kami sampai di jalan menuju lokasi , aparat menutup akses masuk ke lokasi seratus meter sebelum nya , mobil kami di hadang petugas , beruntung nya karena Agus ikut bersama ku dan ternyata punya kedudukan tinggi di kepolisian resort , Agus dikenali oleh aparat kepolisian yang menjaga portal.
" Hormat komandan, selamat malam, ada yang bisa di bantu ! " Tanya seorang polisi yang menjaga portal .
" Selamat malam, saya ada urusan di lokasi bencana ! tolong beri akses jalan ! " Perintah Agus tegas sembari membalas hormat polisi muda di depan kami .
" Siap laksanakan !! " Balas polisi muda lalu membuka portal yang menghalangi jalan memberi akses masuk kepada kami .
Sesampai di lokasi Ayah dan Erza sudah menunggu dengan wajah cemas, Erza berlarian kecil menghampiri ku , membuka pintu mobil , mengulurkan tangan membantu aku turun dari mobil .
Erza memeluk tubuh ku erat memberi kekuatan agar aku mampu melihat kondisi di lokasi bencana . Suasana sangat kacau, material lumpur , kayu, patahan pohon dan material lain masih menumpuk setinggi hampir satu meter dari lokasi jalan yang sedang di bangun jalan lingkar menuju kota lain , untuk memperpendek jarak tempuh antar kota kabupaten..
Ku edar kan pandangan ku liar diantara lalu lalang orang, dan setiap ada tandu melintas aku memeriksa isi nya , berharap cemas jika Mas Hardi yang mereka tandu, dalam hati aku terus berharap.dan berdo' a agar suami ku di temukan masih dalam keadaan hidup seperti apa pun kondisi nya nanti, aku akan siap menerima Mas Hardi dengan kebesaran jiwa .
-------------------------------
Terimakasih untuk reader yang masih setia membaca karya ku ini , semoga terhibur
Tolong jangan lupa tinggal kan jejak berupa Loke komen dan vote
jadiakan juga bacaan favorit untuk penyemangat Uthor
__ADS_1
Thanks love u all 😘😍