Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 80


__ADS_3

Pagi pukul sembilan kami memenuhi panggilan kepolisian untuk memberi keterangan atas penyekapan Mas Hardi .


Kami pergi di dampingi oleh Ayah, Erza dan Eksan yang juga menjadi saksi . Sesampai di polrest pengacara Ayah sudah menunggu , menyambut kehadiran kami , ada Mas Agus juga dan Dua TNI yang menjadi Babinsa tempat penyekapan yang ikut menyergap saat pembebasan Mas Hardi .


Di sudut lain orangtua Sukma yang seorang pengusaha tambang aspal dan batubara sudah lebih dulu datang dengan rombongan pengacara nya , sedang Zaky hanya di temani Aleh Maryam dengan seorang saudara nya . Aku miris melihat keadaan ini, bagaimana jika nanti pihak Sukma melempar batu sembunyi tangan, bagaimana jika semua kesalahan di timpakan kepada Ka Zaky .


Mas Hardi menatapa ku , seperti mengerti akan kecemasan ku atas diri saudara ku .


" Tenang Mah ! , percaya sama Papah " Bisik nya lembut di telinga , meremas tangan ku .


Sebelum pemeriksaan berlangsung kedua orangtua Sukma menghampiri Ayah .


" Apa kabar Pak Handoko lama tidak jumpa "


Sapa Pak Hartawan seorang pengusaha suplier aspal dan batubara Ayah Sukma ( ada di Bab 23 ) .


" Alhamdulillah baik.., Pak Hartawan apa kabar juga, semakin sukses ya " Balas Ayah .


" Pak Handoko bisa aja , tumben Ibu Arlinda tidak ikut , biasa nya kemana pun Pak Han pergi Bu Ar selalu mengikuti " Tanya nya .


" Heemm , isteri saya sekarang lebih senang main sama cucu - cucu kami , mereka sedang lucu - lucu nya " Jawab Ayah dengan sorot bahagia , kemudian Ayah menceritakan betapa masa pensiun nya lebih bermakna dengan kedekatan nya bersama cucu nya .


Ku lihat sorot kecewa di wajah Pak hartawan lalu sayup - sayup ku dengar tentang rencana masa lalu antara Sukma dan Mas Hardi yang telah di rancang nya namun gagal .


" Pak Han saya mohon pengertian keluarga Prasojo dengan perasaan puteri saya terhadap putera Anda " Mohon nya .


" Sukma menyukai Mas Hardi sedari masih sekolah menengah, Dia melihat Mas Hardi pertamakali saat Bu Arlinda mengajak nya dalam acara ulang tahun perusahaan saya "


Pak Hartawan mulai bercerita .


" Dia pernah meminta saya selaku bapak nya untuk menjodoh kan nya dengan Mas Hardi , saat itu saya meminta Sukma bersabar untuk menunggu sampai putera Anda menunjukan kemampuan nya, ternyata saya terlambat, saat saya bertemu Bu Arlin dalam pertemuan bisnis dan saya ungkap kan keinginan puteri saya untuk di jodoh kan dengan putera nya , ternyata Pak Han sudah lebih dulu menjodoh kan putera nya dengan puteri sahabat Anda "


Jelas Pak Hartawan dengan wajah sendu .


" Bukan saya yang menjodoh kan mereka , saya hanya mengenal kan puteri sahabat ku kepada nya dan Hardi jatuh cinta pada pandangan pertama dengan nya, seperti puteri Anda yang terobsesi dengan nya , putera saya pun terobsesi dengan wanita yang sekarang mendampingi nya " Balas Ayah menjelas kan dengan senyum simpul .


" Tak adakah celah atau kesempatan untuk Sukma menemukan kebahagiaan nya Pak ! "


Tanya Pak Hartawan menatap sendu ke arah Mas Hardi yang memeluk ku erat.


" Maksud Anda..?! " Tanya Ayah dengan wajah tak mengerti .


" Izin kan puteri ku menjadi isteri kedua putera Anda , aku hanya punya satu anak Pak, seluruh harta ku , perusahaan , saham dan aset yang kumiliki adalah milik nya penuh, jika Sukma di beri kesempatan menjadi isteri putera Anda , lima puluh persen kekayaan saya akan saya berikan untuk putera Anda "


Jelas Pak Hartawan dengan suara menekan.


Mas Hardi berdiri dari duduk nya, menarik ku untuk ikut menemani , berjalan dengan satu kaki di seret menghampiri Pak Hartawan .

__ADS_1


" Pak Hartawan yang terhormat tidak cukup kah puteri Anda membuat wanita yang sangat saya cintai ini menderita , hidup dalam kecemasan karena kelakuan puteri Anda dan sekarang dengan tanpa malu Anda akan membeli saya dengan harta Anda..?!!, "


Geram Mas Hardi menahan amarah, aku mengelus punggung nya mencoba mereda kan kemarahan suami ku .


" Dengar meski saya jatuh miskin pun tak akan pernah saya menjual diri , camkan itu ! "


Suara Mas Hardi menggelegar memenuhi ruangan memaksa yang ada di ruang tunggu polrest menatap ke arah kami, dengan berbagai macam persepsi di otak mereka.


Tak terkecuali Agus yang menatap kami dengan wajah penuh tanya .


Mas Hardi memeluk ku beranjak menjauh dari Pak Hartawan yang tertunduk malu menjadi bahan sorotan orang - orang di sekitar ruang tunggu .


" Maaf Pak Har..! , saya sekarang mengerti kenapa puteri Anda berani melakukan kesalahan besar seperti ini , saya rasa karena Anda selaku Ayah nya tak pandai menunjukan kebenaran, salah kaprah bener ora lumrah, menghalal kan segala cara untuk mencapai tujuan " Ucap Ayah dengan nada kesal beranjak berdiri berlalu begitu saja dari hadapan Pak Hartawan yang menggeretakan gigi menahan malu atas kekasaran Mas Hardi dan ucapan Ayah .


Agus mengajak kami untuk menenangkan fikiran di ruang nya untuk menghindar dari sorotan kemarahan Pak Haratawan , kami dipersilahkan duduk di sofa, menunggu panggilan untuk di periksa, saat ini Sukma dan Zaky sedang di periksa dalam ruang pemeriksaan dengan tempat dan pemeriksa berbeda .


Agus memilih keluar ruangan menemani Ayah di luar dan membiar kan kami berdua saja di dalam ruangan nya .


" Mah seandai nya Papah jatuh miskin masih mau kah Mamah mendampingi Papah ? "


Mas Hardi menatap ke dalam manik mata ku mencari kejujuran dari sana .


" Aku menerima Mas bukan karena harta, pangkat jabatan atau kedudukan Mu dan nama besar orangtua Mas..! , awal nya aku menerima mu sebagai bakti kepada Ayah ku, karena nya aku tetap bertahan dengan kekerasan yang kamu lakukan karena tak ingin Ayah kecewa di alam nya saat ini "


Ucap ku mengungkap kejujuran .


Mas Hardi masih diam menatap ku sendu .


Mas Hardi menghapus airmata ku dengan telapak tangan nya lalu mencium kening ku penuh perasaan beralih mencium mata, pipi, hidung , dagu lalu menyesap bibir ku lembut .


" Berani kah Mamah hidup dalam kekurangan dengan Papah ?! " Selidik Mas Hardi lagi .


" In Syaa Allah , selama Mas berjanji tidak akan membagi cinta dengan wanita lain , aku akan tetap setia di sisi Mas selama nya sampai maut memisah kan " Balas ku tulus .


" Terimakasih Mah.., I Love You my honey ! "


" I Love You too " Balas ku bersemu merah dengan rayuan suami ku.


* Tuhan kenapa jantung ku berdebar serupa akan meledak seperti ini cuma karena mendengar rayuan suami sendiri * Bathin ku.


Mas Hardi meraih wajah ku di tatap nya penuh cinta lalu mendaratkan bibir nya di atas bibir ku , mengulum dengan lembut menyesap ke dalam hingga aku tersengal susah bernafas .


" Ehheeemmm.., udahan belum main romeo dan juliet nya " Suara Agus membuyarkan kosentrasi kami, aku tertunduk malu ketahuan berciuman di ruangan nya .


" Kalian ini bener - bener iihhh , gak kenal waktu dan tempat bermesraan di mana aja , gak kasihan benget sama si jomblo terus di cemari sama kemesraan kalian "


Gerutu Agus dengan tatapan sendu ke arah ku , lalu beralih menatap Mas Hardi .

__ADS_1


" Maka nya cepetan cari isteri biar gak iri *


Balas Mas Hardi menasehati .


" Eemmm.. siapa juga yang iri , gak deh cuma pengen ngerasain aja hahahaha " Balas nya .


Mas Hardi menggeleng kan kepala pelan .


" Mas Hardi sama Mbak Emil sudah waktu Anda untuk memberi keterangan di depan penyidik , mari saya antar ke ruang penyidik "


Kami berdiri dari tempat duduk beranjak keluar dari ruangan Agus berjalan mengikuti Agus yang berjalan di depan kami menuju ruang penyidik, di depan ruang tunggu penyidik Ayah dengan dua orang pengacara keluarga satu lelaki dan satu wanita ikut masuk ke dalam mendampingi kami .


Selama hampir satu jam aku di mintai keterangan tentang bagaimana aku bisa menemukan suami ku , aku ceritakan kronologi dari awal aku kehilangan suami, mimpi aneh yang benar - benar kualami dan terjadi dalam kehidupan nyata setelah nya .


hingga proses pengintaian malam itu . Sesekali penyidik mengajukan pertanyaan .


Mas Hardi di periksa dalam ruangan yang berbeda , dan keluar ruang penyidik lima belas menit lebih lama dari ku .


Setelah Mas Hardi keluar berganti Erza dan Eksan masuk dalam ruang penyidik untuk memberi keterangan sebagai saksi yang


ikut mengintai hingga penyergapan di bangunan tua dalam hutan .


" Mbak Emil barangkali sudah lelah pulang dulu saja , aku nanti pulang sama Eksan "


Saran Erza melihat pias di wajah ku .


" Bener kamu gak Papa kami tinggal Za ?! "


Tanyaku gak enak hati kita berangkat bareng walau pake mobil sendiri - sendiri dan sekarang kami mendahului pulang .


" Gak Papa aku mau nemenin Aleh Maryam menemui Ka Zaky " Jelas nya lagi.


" Za ! Sampai kan Aleh Maryam, aku sudah menyedia kan pengacara untuk Ka Zaky, Dia dalam perjalanan, nama nya Pak Badowi, nanti kamu antar Pak Badowi menemui sepupu mu itu " Jelas Mas Hardi membuat ku tak terkejut, Mas Hardi ternyata benar - benar mau membantu saudara Ayah.


" Terimakasih Nak Hardi, Aleh tidak akan melupakan kebaikan Nak Hardi " Ucap Aleh Maryam berkaca - kaca .


" Berterimakasih sama Emil , Dia yang meminta nya " Balas Mas Hardi dengan senyum tulus, Aleh memeluk ku , mengucap kan kata terimakasih berkali - kali , Erza memberi kode meminta penjelasan kebenaran atas ucapan Mas Hardi, dan aku hanya mengedikan bahu merasa tak meminta Mas Hardi sampai harus menyewa lawyer untuk kaka sepupu ku


Setelah berpamitan kami keluar dari dalam gedung polres, mobil Ayah telah siap di depan pintu , di pintu masuk kami bertemu Pak Badowi lawyer yang di bayar Mas Hardi untuk membantu Ka Zaky , kami menunjukan foto Erza yang ada di ponsel agar Pak Badowi bisa langsung mengenali Erza .


Mobil keluar menembus jalanan kota, Andy yang memegang kemudi dengan Ayah duduk di samping nya dan aku dengan Mas Hardi duduk di belakang menggenggam tangan ku erat seakan takut terpisah kan .


-----------------------------------


Hai readers terimakasih untuk keaetiaan meluangkan waktu membaca karyaku hingga kini.


jangan lupa tinggal kan kesan dengan like komen dan vote untuk penyemangat Uthor

__ADS_1


terimaksih tuk kemurahan hati nya


Love you all😘😍


__ADS_2