
Menjelang sore Ayah datang sepulang kantor masih dengan seragam PSH nya, kemudian di susul Bunda bersama Hana . Suhu tubuh ku kembali memanas setelah seharian ini mata ku menolak untuk di pejam kan. Segala bayang menyakit kan terus menghantui rasa ku , membelenggu jiwa memapar kan luka pedih tak terkira .
Seorang perawat masuk memberi ku paracetamol cair 500cc dalam botol yang
di alir kan lewat selang infus, meminta agar aku hanya di tunggui satu orang saja agar bisa tertidur.
Mas Hardi masuk masih dengan baju kerja lengkap dengan jas, terlihat panik melihat wajah ku yang merah merona karena suhu tubuh ku yang naik 40.5°c. Di genggam nya tangan ku dengan wajah cemas.
Suster memberi ku obat depresan agar fikiran ku lebih tenang dan rileks . Kantuk menyerang sangat hebat hingga aku terlelap dalam buaian mimpi masih dengan tangan yang di genggam erat oleh suami ku.
Flasback on #
Dalam tidur aku kembali mengingat masa masa suami ku memaksa untuk hamil lagi padahal Zarra sendiri belum genap setahun, dan aku masih meraskakan sakit nya melahir kan , Dia ingin aku terus hamil sebelum mendapat anak lelaki, hampir setiap hari Dia meminta jatah tak kenal lelah , melakukan kapan pun dan di mana pun yang diinginkan nya aku harus siap .
Seminggu setelah ulang tahun Zarra aku merasakan mual yang sangat hebat saat sedang mengikuti jamuan makan malam bersama keluarga besar Mas Hardi.
" Kamu kenapa sayang.., wajah mu pucat sekali.." Tanya Bunda cemas .
" Entah lah Bun , tiba - tiba Emil mual dengan bau parfum bercampur baur di dalam ruang makan tadi " Jawab ku lirih kehabisan tenaga setelah makanan yang baru sedikit ku santap tadi kembali keluar menyisakan rasa sakit dan pahit di tenggorokan .
Bunda memapah ku membawa masuk ke kamar lama Mas Hardi, membaring kan ku di atas tempat ranjang king zise bernuansa maco khas seorang cowok . Ku tatap foto besar dalam bingkai klasik lelaki yang kini menjadi pendamping hidup ku, foto lama saat Dia masih remaja , entah mengapa hati ku berdesir menatap foto nya yang terlihat sangat tampan setidak nya di mata ku.
" Daripada mandangin foto gitu mending mandangin orang nya langsung Mah, lebih nyata dan bisa di sentuh " Goda Mas Hardi yang tanpa ku sadari telah memasuki kamar nya tanpa suara.
" Ge'er banget kamu Mas, siapa juga yang mandangin foto kamu, orang aku sedang ngelamun juga " Kilah ku sembari membuang muka menahan malu ketahuan oleh pemilik foto meski Dia suami ku sendiri .
" Heeemm .. pandai nya berkilah.., kamu menggairah kan sekali malam ini .. " Bisik nya lembut di telinga ku dengan jemari nya memain kan rambut ku.
" Apa sih ..agh... kamu .. Mas udah geli.. nanti di lihat yang lain..! " Ku jauh kan wajah Mas Hardi yang mulai merambah tubuh ku.
" Sekali waktu kita main di kamar ku Mah.., Dari kita nikah kan gak pernah kita nginap di sini , malam ini kita nginap di kamar ini ya..? "
Mas Hardi menatap ku dengan seulaa senyum genit nya .
__ADS_1
" Selain aku sudah berapa banyak cewek yang kamu bawa tidur di ranjang ini Mas ..! "
Selidik ku , rasa sakit menyelinap dalam relung jiwa ku, mengingat wanita yang pernah di bawa nya ke rumah ku.
" Aku tidak pernah membawa wanita mana pun masuk ke dalam kamar ku, kalau kau tak percaya tanya kan saja sama semua penghuni di dalam rumah ini !! " Jelas nya tegas menahan emosi .
" Heeem paling juga kalau ku tanya mereka akan tutup mulut " Jawab ku kesal .
" Kamu kenapa sih Mah..?, bawaan nya curiga melulu, aku bukan lelaki gampangan kayak yang ada dalam fikiran mu " Desah nya kesal.
" Masa...?!! " Ku gantung kan ucapan ku.
" Lagian juga masa lalu ku kan belum ada kamu, kalau aku bawa masuk cewek ke kamar kan bukan masalah mu " Jawab nya asal, membuat aku kian kesal .
" Heeemm... " Dengus ku menahan rasa sakit.
* Tadi bilang nya belum pernah bawa cewek ke dalam kamar, eehhh sekarang ngomong kalau dulu pernah bawa masuk cewek bukan masalah ku " Gumam ku kesal .
Aku turun dari tempat tidur nya beranjak menuju pintu, belum lagi sampai Mas Hardi mencekal memeluk ku dari belakang.
" Mau tidur di kamar tamu aja bareng anak - anak sama Atun " Jawab ku kesal .
" Terus kamu mau tinggalin aku kedinginan sendirian di kamar gitu ..?! " Mas Hardi membalikan badan ku dan sebelum aku menjawab pertanyaan Dia sudah menutup bibir ku dengan ciuman maut nya . Tangan nya kian nakal meremas setiap inci lekukan tubuh ku .
Di menit yang ke sekian sebelum junior nya menembus milik ku, rasa mual kembali menyerang sedemikian menyesakan, ku dorong tubuh nya lalu aku turun menuju kamar mandi, aku tumpah kan apa yang terasa mengganjal di ulu hati, tapi karena perut ku belum lagi terisi usai muntah tadi yang keluar kali ini hanya sebatas air dan angin hingga menyisakan rasa pahit di mulut.
" Kamu kenapa Mah.., masuk angin..?, Papah kerokin ya.. " Tanya Mas Hardi dengan tangan masih memijat tekuk ku.
Ku bersih kan mulut dengan tisue yang di sodor kan Mas Hardi.
" Gak tahu Mas dari sore bawaan mual melulu gak bisa ngerasain bau apalagi bau parfum "
Jawab ku dengan tubuh mulai lemas .
__ADS_1
" Ko aneh sih Mah.., jangan jangan ?!, Mamah ingat terakhir haid kapan..? " Selidik Mas Hardi menatap ku lekat.
Deg..deg..deg., baru kuingat bulan ini aku sudah terlambat satu minggu lebih belum kedatangan tamu .
" Seperti nya aku memang sudah terlambat Mas , harus nya tanggal lima , ini sudah tanggal tiga belas ya ...!" Jawab ku gelisah .
" Mamah di sini aja ya !, Papah beli tespack dulu ke apotik dekat sini " Mas Hardi tersenyum di kecup nya kening ku dan berlalu keluar kamar nya .
Beberapa menit kemudian Mas Hardi sudah kembali, mengeluar kan bungkusan dari kantong celana nya.
" Ini Mah di coba sekarang " Di sodor kan nya bungkusan itu kehadapan ku .
" Loh Mas ko beli nya banyak banget, satu aja cukup kan ?! " Tanya ku heran karena Dia membeli sampai lima tespack.
" Gak papa Mah , itung itung buat simpanan "
Jawab nya datar.
Aku beranjak ke kamar mandi di ikuti oleh Mas Hardi.
" Ko kamu ikut masuk sih Mas.. sana keluar aku malu " Usir ku.
" Malu kenapa..?, kita nikah sudah berapa tahun sih , luar dalam mu juga sudah tahu semua " Jawab nya tanpa beranjak berdiri di samping ku yang sedang memakai tespack.
Aku meletakan tespack di atas wastafel dengan harap - harap cemas, beberapa detik kemudian dua garis merah terlihat dalam stick kecil di hadapan kami, aku membulat kan mata tak percaya sementara Mas Hardi menyungging kan senyum sumringah .
" Terimakasih sayang , aku berharap kali ini pangeran tampan ku yang akan hadir " Bisik nya di telinga ku, memeluk erat dari belakang, tangan nya meraba perut ku berulang ulang.
Benjolan keras memanjang terasa hangat menempel pinggang ku.
Terimakasih untuk yang sudah berkunjung dan membaca nya.
Jangan lupa Like komen dan vote 🙏😍
__ADS_1
** Hai reader yang pengin kenal author lebih dekat yuks masuk GC ku..
ku tunggu kwhadiran nya Ya😘😍😍