Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 125


__ADS_3

Usai memeriksa suhu tubuh Emil, tensi darah dan mengganti botol infus perawat pamit pergi untuk melaporkam keadaan pasien pada Dokter.


"Nak kamu ingin sarapan apa ?, harus yang lunak ya, Dokter belum mengizinkan komsumsi makanan keras" Tanya Bunda menatap Emil lembut.


"Macaroni scotel aja Bun, kasih mozarela"


Pinta Emil pelan.


"Tunggu bentar ya Bunda buat kan dulu"


Bunda melangkah keluar dari kamar putera nya.


"Pah aku mau bersuci terus solat subuh"


Pinta Emil ke Hardi, menyibak selimut nya berusaha duduk di tepi ranjang, belum lagi badan terangkat Emil merasakan pusing, lemas dan mual luar biasa.


Hardi segera menopang tubuh isteri nya yang hampir jatuh tersungkur, meraih kantung plastik di dekat nakas, membiarkan Emil memuntah kan isi di dalam perut nya ke dalam kantung plastik sembari Dia memijat tengkuk isteri nya.


"Masih terlalu pagi Mah, baru pukul lima lebih sepuluh menit, mandi nya nanti aja" Perintah Hardi yang tak tega melihat kondisi isteri nya.


"Takut gak keburu solat subuh Pah" Jelas Emil cemas.


"Tapi kan tubuh Mamah masih lemah, masak mau di paksa gitu?, terus misal pinsan di kamar mandi gimana ?, istirahat lagi aja Mah, bentaran, nanti kalau sudah enakan baru bersuci terus solat" Pinta Hardi memohon pengertian isteri nya.


Emil akhirnya menuruti keinginan suami nya, Dia pasra saja saat Hardi membaringkan tubuh nya ke atas tempat tidur, Hardi duduk di samping isterinya, memijat kening nya lembut sesekali mencium ujung kepala nya, memberi kan rasa nyaman pada Emil agar bisa rileks dan berharap Emil terlelap kembali.


----------------------------------


Di luar puri prasojo Dinihari saat udara dingin peralihan dari musim hujan menuju kemarau seseorang nampak mengendap diantara pagar tembok nan menjulang, mencoba menembus ke dalam dengan keahlian nya.


Entah apa yang menuntun nya, feling sangat tepat saat Dia menemukan balkon dimana dalam ruangan di balkon terbaring wanita yang menjadikan kenekadan nya menembus benteng pertahanan Prasojo.


Cinta benar kah mampu membutakan seseorang hingga menghiraukan bahaya yang setiap saat mengintai nya, melupakan nyawa nya yang hanya seorang ?.


Dengan cekatan Dia memasang kamera pengintai kecil di sudut kaca jendela bagian atas di sebelah kanan dan kiri, sesaat Dia menatap pujaan hati nya yang tertidur lelap dalam dekapan lelaki yang menjadi musuh nya, dan saat dilihat nya tangan wanita nya masuk ke dalam boxer sang lelaki, hatinya berdebar tak menentu, bercampur baur dalam suka dan luka menjadi satu.


"Andai saja yang ada di atas pembaringan itu adalah aku Tuhan" Lirih nya perih dalam hati.


Dia tersadar dari lamunan nya saat mendengar suara pintu terketuk, segera beringsut mencari posisi yang aman di balik kusen jendela, beberapa saat kemudian terdengar pintu terbuka dan percakapan seorang wanita dengan lelaki yang tidur dengan pujaan hati nya.


Hati nya mencelos mendengar celotehan ibu dan putera nya dalam kamar, betapa Dia sangat merindukan keakraban seperti mereka yang tak pernah didapat nya lagi semenjak sang Bunda pergi untuk selama nya hingga menyisakan dendam membara dalam hati.


Dia tak ingin lebih lama membiarkan hati nya kian menderita melihat kebahagiaan di dalam sana, secepat kilat meloncat tanps suara bagai tertiup angin pergi menjauh melewati tembok pembatas puri.


Dalam sebuah ruangan seratus meteran dari dinding tinggi pembatas puri yang di sewa nya pada warga sekitar, Dia melepas masker dan atribut yang dikenakan untuk menutupi penyamaran nya.


Duduk di sofa tunggal dekat jendela, di buka nya layar monitor laptop, sesaat tenggelam di dalam nya, entah apa yang di kerjakan nya, terkadang seulas senyum tersungging manis di bibir nya namun seringkali juga mendesah serupa ada beban ribuan ton memberati nya.


"Aku tak kan memaksakan diri tuk memiliki mu, beri aku waktu untuk menyelamatkan mu dari orang-orang yang menginginkan nyawa mu, ini lah bukti besar nya rasa yang terpendam dalam lubuk jiwa ku terdalam" Ucap nya lirih sembari menyeruput kopi arabica ysng di seduh nya sendiri.


Pukul tujuh tepat Emil terbangun, mengerjap kan mata, memandang ke sekitar ruangan, sepi, Dia berusaha mengangkat tubuh menyandarkan kepala di Headboard tempat tidur nya memposisi kan diri nya duduk menyelonjor kan kaki, tubuh masih terasa lemas, menarik nafas pelan lalu menghembuskan kembali perlahan dilakukan nya berulang kali, di lain ruang seseorang tersenyum menatap nya tajam.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Hardi masuk mendekat.


"Sudah bangun Mah ?, kenapa gak panggil Papah ?, di sini kan ada alat yang bisa Mamah gunakan untuk memanggil penghuni lain dalam rumah ini, Mamah tinggal pencet tombol ijo ini aja" Jelas Hardi lembut, menunjukan benda bulat panjang berwarna putih tersambung kabel di atas headboard.


"Pah mau ke belakang" Balas Emil lemah.


Hardi segera mengangkat tubuh isteri nya, membawa ke dalam kamar mandi, usai melaksanakan hajat alam, Hardi membawa isteri nya keluar balkon, mendudukan di atas kursi malas nan nyaman.


"Berjemur dulu ya Mah, biar dapat vitamin dari alam" Perintah Hardi lembut, memposisikan isteri nya agar tersiram sinar mentari dengan sempurna.


"Pah !, aku ingin minum kopi cream late"


Pinta Emil pelan. Hardi menganggukan kepala tersenyum ramah, lalu mengambil ponsel dan menelfon seseorang yang berada di dapur.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mereka terbuka, Bunda dan Ayah masuk bersamaan dengan seorang pelayan masuk, membawa nampan berisi coffe late dan macaroni scotel.


Tiing !


Sebuah notifikasi pesan masuk dalam akun whats up milik Hardi dari nomer yang tak dikenal nya.


Jangan kau biarkan Emil meminum kopi nya jika kau tak ingin isteri mu kembali sekarat, lebih baik kau pastikan menyeduh sendiri.


Hardi mengerutkan kening..., saat dilihat nya Emil meraih cangkir kopi secepat kilat disambar nya hingga sebagian isi tumpah mengotori pinggiran kursi yang di duduki Emil, dan pemandangan menakjubkan terjadi, kulit sintetis di pegangan kursi, mendecis dan.terbakar.


Semua yang ada di balkon di buat tercengang dengan pemandangan itu.


"Shiit !! Ada yang ingin bermain dengan kita rupa nya" Ucap Pak Handoko lirih


Pelayan di sebelah Bunda pucat pasi, tubuh nya bergetar menahan takut.


"Maaf kan saya Tuan besar saya sungguh tidak tahu dengan isi dalam minuman yang ada di dalam.cangkir, saya hanya di perintah untuk membawa kan saja" Jelas pelayan itu terbata-bata dengan tubuh bergetar.


Pak Handoko mengangguk tersenyum ke arah nya, menenang kan si pelayan.


"Tidak usah khawatir, kebenaran pasti akan terungkap, bawa kembali makanan ke dapur, cangkir biar di sini saja" Perintah Tuan Handoko tegas.


"Baik Pak" Balas pelayan berjalan keluar menuju dapur.


"Bun, Emil sarapan apa, kalau semua makanan untuk nya selalu ada yang berusaha membubuhi racun." Tanya Hardi cemas.


"Bentar Bunda ke dapur biar Bunda memasak dan menyeduh kopi sendiri untuk Emil"


Balas Bunda berjalan keluar diikuti oleh pak Handoko.


Tiing !


Sebuah notifikasi masuk kembali.


Hati-hati ada penyusup di dalam istana Ayah mu, mereka mengincar isteri dan anak-anak mu untuk di musnah kan.


"Shiit..!, siapa orang ini sebenar nya" Geram Hardi kesal.

__ADS_1


Siapa kamu, apa yang kau mau sebenar nya !, jangan coba bermain api dengan kami.


Balas Hardi ke nomer yang tak tertera nama.


Ting !


Notifikasi balasan masuk.


Aku orang yang akan menjadi pelindung bagi Emila, siapa aku ? kamu tak perlu tahu.


Bagaimana kamu tahu kopi itu beracun ?!, jangan bilang kamu yang memasukan racun ke dalam kopi.


Balas Hardi ke pengirim pesan kaleng.


Ting !


Notifikasi balasan masuk


Aku tidak segila itu ! dan sudah ku katakan aku akan melindungi Emila, mana mungkin aku yang meracuni orang yang ingin ku lindungi.


Hardi memencet ikon telefon mencoba menghubungi nomer pengirim pesan kaleng.


Panggilan dialahkan, tak mau mengangkat sambungan telefon dari Hardi.


Pintu kamar terbuka, Hardi mengakhiri panggilan suara, membawa Emil masuk ke dalam kamar menempat kan Emil di atas pembaringan dalam posisi duduk.


"ini Nak ! Bunda bawakan macaroni schotel sama coffe late racikan adik mu Erza"


Bunda menyodor kan nampan pada Emil.


Trauma dengan kejadian yang baru saja dialami, Hardi memasukan sendok perak ke dalam minuman dan makanan, lalu mencoba nya sendiri, setelah di rasa aman Hardi menyuapi Emil dengan makanan yang Bunda bawa.


Sementara dalam sebuah ruang berbeda seseorang dengan setia mengamati layar monitor, sampai suatu ketika Dia melihat orang yang dikenal nya, dalam jajaran pelayan dapur puri prasojo.


"Bagaimana cara nya aku memberitahu mereka musuh yang menyelinap di dalam kediaman Prasojo" Bathin nya resah.


*


*


*


*


***** Bersambung


mohon beri like dan vote nya


sedikit kecewa rangking vote anjlog merosot jauh banget


semoga bisa kembalinlagi ya🙏😄

__ADS_1


__ADS_2