Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 32


__ADS_3

" Mas... " Panggil ku lirih


" Ya... " Jawab Mas Hardi tanpa menoleh


" Cukur itu bulu di muka mu " Pinta ku.


" Memang kenapa.. ? " Tanya nya datar .


" mengganggu pemandangan , nambah terlihat kusam " Jawab ku jujur .


" ehmm.. kusam juga gak papa biar gak ada yang suka jadi kan Mamah gak perlu cemburu " Jawab nya penuh peecaya diri


" Siapa juga yang cemburu sama kamu..., pokok nya cukur , jelek tahu keliatan tua " Pinta ku lagi memaksa .


" jelek - jelek juga bisa dapet isteri cantik, tua - tua juga sudah ada yang punya ini " Jawab nya lagi masih sok sibuk memijat ku.


" Iigghhhh... tinggal di cukur susah amat sih Mas . ganggu pemandangan banget kelihatan kusam jelek tua lagi " Ketus ku kesal.


Mas Hardi mengalih kan pandangan nya , beranjak mendekat ke arah ku , meraih wajah ku dengan kedua tangan nya, lalu dengan bulu - bulu di jambang dan jenggot nya yang tumbuh tak beraturan di gelitik pipi ku hingga turun ke leher , membuat ku harus menahan geli dan sedikit pedas.


" Maaasssss..., sudahhh..hahahaha..geliii.. iiihhh... maaasss....hihihihiiii " Rintih ku menahan geli , Mas Hardi meraih tubuh ku di dekap nya erat, kami terkekeh bersamaan saat Mas Hardi hendak mencium bibir ku , pintu kamar terbuka dari luar .


Tiga anak - anak ku masuk bersamaan, si kecil Daffa menghambur ke arah kami,


" Iiissss Papah pacalan telus,. Adek juga mau pacalan cama Mamah " Rengek nya manja naik ke pangkuan ku lalu menciumi wajah ku.


Zahwa , Zarra,. Susi , Hana dan Eksan tertawa bersamaan melihat tingkah si kecil. Mas Hardi ikut menggoda nya dengan menurun kan tubuh si kecil menjauh dari ku, lalu Daffa kembali berusaha naik ke pangkuan ku.


Zahwa dan Zarra mendekat mencium tangan ku dan tangan Mas Hardi bergantian.


" Kaka sudah makan.. ? " Tanya ku lembut pada mereka .


" Sudah Mah , di rumah Eyang , tadi Uti masak ayam betutu terus kita makan bersama, Titi sama Om Eksan juga ikut makan " Jelas Zarra.


" Tuh Mah , anak - anak sudah pada makan, tinggal Mamah yang belum, makan yah.. ! "


Perintah Mas Hardi, ku anggukan kepala pelan, Mas Hardi beranjak mengambil kotak nasi dan kembali duduk di samping ku siap menyuapi ku.


" Pah.., biar aku makan sendiri , malu sama mereka " Pinta ku .

__ADS_1


" Anak - anak kalau Papah suapin Mamah boleh gak.?! " Suara Mas Hardi di buat jenaka.


Zahwa dan Zarra mengangkat jempol mereka.


" Tuh Mah , anak - anak setuju ko " Menatap ku dengan memain kan mata nya .


" Kamu juga belum makan kan Mas " Ku bulat kan mata menatap nya .


" Udah yang penting Mamah makan dulu " Ucap nya sembari memasukan satu sendok nasi ke mulut . Aku beri kode agar Maa Hardi juga ikut makan bareng , Mas Hardi mau menurut Dia pun ikut makan nasi kotak satu untuk berdua .


**********************


Sore hari keluarga Mas Hardi berkunjung ke rumah sakit , Oma, Opa , Eyang Agung nenek Mas Hardi dari pihak Bunda,Tante - tante nya dan kerabat yang lain. Kamar ku penuh dengan aneka makanan dan biah - buahan bawaan mereka .


" Maaf sayang Tante baru sempat nengok , Om nya sibuk terus gak bisa ninggalin pekerjaan nya " Ucap Tante Alea mencium pipi ku lembut .


" Gak papa Tante do'a nya aja sudah cukup " Jawab ku dengan seulas senyum .


Eyanh Agung mendekati ku memeluk, membelai pipi, rambut dan wajah ku bergantian, mengucap kan sesuatu dengan bahasa Bali yang tak ku mengerti dengan sorot amarah di tunjukkan ke Mas Hardi yang hanya menundukan kepala melipat kedua tangan di depan paha, mendengar kan ucapan Eyang Agung nya .


" Cepat sembuh Nak..., Eyang mau ajak jalan - jalan keliling Bali " Ucap Eyang Agung lembut mencium wajah ku berulang - ulang .


Mas Hardi berlutut di depan kaki kedua nenek nya yang duduk mengapit tubuh ku .


" Ampuni saya Oma, Eyang Agung.., saya tak kan berani melukai isteri ku lagi, tolong jangan ambil , jangan pisah kan kami " Pinta Mas Hardi tulus dengan suara bergetar. Setitik kristal bening jatuh membasahi pipi .


" Bangun lelaki tak boleh keluarin airmata , bukan begini kau akui kesalahan, bukan air mata yang bisa mengobati luka hati isteri mu, cium kaki nya , minta maaf setulus nya, ikrar kan janji kau tak kan membuat nya begini lagi sekarang di hadapan keluarga besar mu "


Perintah Opa tegas.


Mas Hardi menuruti perintah Opa nya,.Dia bangun, berlutut memegang kedua telapak kaki ku yang tergantunh di atas tempat tidur, mencium nya lembut .


" Mah.. maafin.., Papah khilaf.., sampai lupa diri... Ampuni Papah Mah.., Papah tidak akan pernah menyakiti lagi " Mas Hardi memeluk kaki ku. Menciumi nya dengan derai air mata.


Ku raih kepala Mas Hardi, kuminta Dia untuk berdiri, lalu kami berpelukan larut dalam tangis .


" Maafin aku juga Mas, belum bisa menjadi isteri yang baik " Suara ku tercekat.


Mas Hardi menggeleng kan kepala, meraih muka ku di hadap kan ke wajah nya.

__ADS_1


" Aku yang salah Mah, aku terlalu mencintai mu, aku terlalu takut kehilangan hingga aku terlalu posesif " Bisik nya lembut di telinga .


" Cinta itu tidak memaksa kan satu kehendak atas kehendak yang lain Nak, cinta.itu harus saling mengerti dan mengisi satu sama lain "


Nasehat Eyang Agung sembari menepuk - nepuk pundak Mas Hardi .


" Nggeh Eyang " Jawab Mas Hardi lembut , dengan posisi merengkuh tubuh ku dalam dekapan nya


" Nak minta lah izin cuti atau kalau mau resign saja dari kantor , Oma yakin Hardi mampu memenuhi kebutuhan kalian, fokus mengurus anak - anak saja, mungkin dengan bisa memperbaiki hubungan kalian " Nasehat Eyang Agung.


Aku terdiam bukan aku tak mau menuruti nasehat Eyang Agung, aku hanya belum bisa melepas pekerjaan ku. Sedari kecil aku sudah terbiasa aktif, aku tak bisa kalau hanya berdiam diri di rumah, hanya bersantai di rumah, sementara pekerjaan rumah sudah ada Yu inah dan Mang Dino yang mengurus, anak - anak pun ada susi yang membantu mengurus keperluan mereka terutama si kecil. Mau memecat mereka aku tak punya hati . Mereka sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri .


" Gak papa Eyang, Isteri ku sudah terbiasa aktif, kasihan kalau suruh diam di rumah , bukan masalah finansial yang kami hadapi.., biar Dek Emil menjalani aktifitas seperti biasa kalau sudah sembuh, selama ini bisa ko bagi waktu untuk anak dan pekerjaan " Bela Mas Hardi mencoba mengerti perasaan ku dari sikap diam ku .


" Aku yang akan berusaha merubah diri, aku yang akan mencoba mengurangi sikap posesif dan cemburu yang berlebihan ku "


Desah Mas Hardi menatap manik mata ku lekat, lalu mencium kening ku.


" Har.., kalau Nak Emil sudah boleh pulang dari sini, bawa ke rumah Oma aja dulu ya, tetirah di sana sebulanan, biar di urut di tempat Oma, di sakal putung, banyak yang sembuh , sababiyah terapi tradisional "


Pinta Oma sembari menatap cucu nya.


" Memang urut nya tiap hari Oma..?! "


Tanya Mas Hardi


" Yo ndak seminggu du tiga kali tergantung keadaan nya , kalau sudah mau sembuh paling sebulan sekali " Jelas Oma m


" Ya ndak harus tinggal di Oma selam itu lah, nanti aku antar ke rumah Oma tiap mau terapi aja, kalau nginap semalam aja, gak tahan aku Oma tidur tanpa isteri " Jelas Mas Hardi tanpa malu - malu, menghadir kan senyum dan taea dari keluarga lain .


' Wualah semono ne tresna mu to lee.. heem"


Eyang mengurut dada nya .


" Lah Iya Oma , kemarin waktu gak di bolehin nemuin Mbak Emil tidur nya di kantor .., Pak Taufan sama Mas Andy bilang tiap hari uring - uringan, di kantor gak kerja malah mandangin foto sama video Mbak Emil yang aku kirim, terus kata nya nanti nagis sendiri.. cengeng.."


Hani menjulur kan lidah menggoda ku.


Mas Hardi tersipu malu , melotot ke arah Hani dengan sorot kesal, di bongkar rahasia nya di depan keluarga besar nya, Ibu ku dan Eksan .

__ADS_1


__ADS_2