Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 128


__ADS_3

Author pov


Hari ini kejutan datang dari kunjungan keluarga Adiguna Kusuma yang datang untuk memenuhi keinginan sang putera Adtya Lugas Kusuma melamar Hanna Widyaningrum Prasojo, puteri kembar keluarga prasojo, kaka dari Hanie.


Keluarga Ibu nya Emil telah pamit pulang pagi pun dengan Agus dan Nurmila calon isteri nya yang menjabat bendahara di perusahaan milik Daffa, sejam sebelum kedatangan keluarga Adiguna kusuma.


Setelah berbasa-basi sebentar Tuan Adiguna lantas menyampaikan maksud kedatangan nya beserta isteri dan ketiga anak nya.


"Maksud kedatangan kami kemari yang pertama-tama untuk silaturahmi dengan segenap ketulusan kami mengucapkan selamat hari raya mohon maaf lahir bathin atas salah dan khilaf yang mungkin tidak di sengaja kami lakukan dan yang berikut nya sesuai dengan permintaan putera kami yang ternyata di luar pengetahuan kami selaku orangtua ternyata memiliki niat mulia ingin mempersunting puteri kangmas prasojo yaitu ananda Hanna untuk menjadi pendamping seumur hidup Adit, sebagai orangtua saya memohon ketulusan kangmas prasojo sekira nya mengizin kan putera kami untuk menjalan kan fitrah sebagai makhluk ciptaan Tuhan untuk mencari pasangan hidup untuk meneruskan keturunan dalam trah keluarga kusuma" Jelas Tuan Adiguna panjang lebar, khidmad, santun dan merendah, setelah usai mengutarakan maksud kedatangan nya.Tuan Adiguna menarik nafas dan menghembus pelan.


Sejenak hening menyergap, Adit dan Hanna yang duduk berseberangan saling menatap, Adit tersenyum manis dan di balas Hanna dengan senyuman juga lantas mereka kembali saling menunduk.


Pak.Handoko berdehem kecil, lantas menatap puteri nya yang duduk terjeda dua orang dari nya.


"Keputusan Ayah serahkan sepenuh nya kepada Nak !, diterima atau tidak nya pinangan putera keluarga Kusuma, kamu yang punya hak menjawab karena kalian yang akan menjalankan biduk rumahtangga jadi tidak relevan jika kami selaku orangtua memaksakan kehendak atas diri kalian, silah kan Hanna kamu balas tujuan baik mereka dengan kesopanan dalam keluarga kita" Ucap Pak Handoko lembut ke arah puteri nya.


Hanna menarik nafas halus lalu menghembus kan pelan seperti mencari atsmofir untuk menenangkan perasaan nya.


"Hanna manut sama Ayah dan Bunda saja apa yang terbaik untuk masa depan Hanna kelak, jika Ayah merestui permintaan ka Adit Hanna. dengan senang hati akan menerima pinangan ka Adit" Balas Hanna lembut berhati - hati.


Seisi ruangan tersenyum lega dengan keputusan bijak Hanna, pancaran kebahagiaan terpancar di raut Adit, senyum tersungging di wajah tampan berjambang tipis milik nya.


Setelah menemukan kesepakatan tanggal bulan dan hari untuk acara pertunangan keluarga Kusuma pun pamit pulang. Suasana puri terasa lebih sepi saat ini, Pak Handoko meminta Kapten Andreas memperketat penjagaan terutama penjagaan pada Daffa yang selama ini jadi target penculikan.


Emil yang merasa jenuh beberapa hari belakangan terus berada di kamar meminta kepada suami nya untuk membawa ke taman di dekat kolam renang.


"Papah mau berenang sekalian Mah, lemasin otot yang kurang gerak beberapa hari ini"


Ucap Hardi bahagia saat isteri nya mengajak ke kolam renang.


"Kaka juga ikut" Pinta Zahwa sembari mengajak adik-adik nya berenang.


"Bi ambilin baju renang nya anak-anak" Perintah Bunda pada Bik Ratmi, Dia lantas bergegas ke ruangan Zahwa, Zarra dan Daffa untuk menyiap kan baju renang mereka.


Beberapa saat kemudian Bik Ratmi datang ke.pinggir kolam renang mambawa baju renang dan membantu mereka mengganti pakaian renang.


Hardi dan anak-anak nya turun ke dalam kolam renang, Daffa yang belum pandai berenang memakai pelampung di dada nya di bantu akung nya belajar berenang.


Emil tiduran di kursi malas di pinggiran kolam memperhatikan candaan suami dan anak-anak nya. Beberapa saat kemudian Hardi keluar dari kolam renang berjalan mendekat ke arah isteri nya.


Emil menatap Hardi dengan wajah memerah dan raut berbinar, entah mengapa jantung nya berdetak lebih tak beraturan saat melihat dada bidang Hardi yang basah terlihat bersinar tertimpa sinar matahari sore.

__ADS_1


"Mah ikutan turun yuk, itung-itung terapi untuk melemaskan otot kaki Mamah" Ajak Hardi begitu berada di dekat isteri nya. Emil menganggukan kepala menyetujui permintan suami nya.


Hardi meraih bahu Emil memapah menuju ke dalam kolam renang.


"Kamu kenapa Mah, ko tubuh kamu bergetar ?" Hardi menatap wajah isteri nya yang bersemu merah.


"Dede dalam perut kangen sama Papah nya" Bisik Emil lirih di telinga Hardi, malu-malu.


Hardi tersenyum, mencubit gemas pipi isteri nya lalu mencium ujung kepala nya.


"Papah juga sebenar nya kangen Mah, tapi sabar ya nanti malam Papah bakal puasin Mamah lagi, apa Mamah pengin lakuin di sini ?, biar Papah suruh mereka semua kosongin area kolam renang" Goda Hardi membuat Emil cemberut mengerucut kan mulut nya kesal.


"Papah ih.., nakal.., suka banget godain Mamah" Emil menepuk dada bidang suami nya pelan.


Hardi terkekeh melihat tingkah manja isteri nya yang membuat nya bahagia, tanpa peduli dengan pandangan anak-anak dan penghuni lain yang berada di sekitar kolam renang.


Pelan-pelan Hardi membawa masuk Emil ke dalam kolam, menuntun nya untuk berjalan di pinggiran kolam renang, mendekat ke arah anak-anak mereka , lalu bercanda bersama dengan mereka.


Tanpa mereka sadari sepasang mata elang menatap lekat ke arah mereka, mencibir kesal melihat kebahagiaan yang di pertontonkan oleh orang yang di benci nya.


"Singa Prasojo hari ini kalian bisa tertawa gembira di atas penderitaan ku dan kekasih ku, tunggu esok kau akan merintih pilu di hadapan ku, akan ku pastikan kau merasa kan pedih nya hidup tanpa harapan saat kau kehilangan orang-orang terkasih mu" Gumam nya lirih dengan seringai licik.


Pak Sastro berlari kecil mendekat ke arah Tuan Handoko, berbicara bersbisik pelan dengan Tuan nya.


"Baik !, katakan pada nya suruh tunggu aku sepuluh menit lagi" Jawab Pak Handoko lantas berjalan keluar dari area kolam renang.


"Har !, jangan kelamaan di dalam kolam, ini sudah hampir petang" Perintah nya.


"Siap Yah, bentar lagi kita keluar kolam" Balas Hardi dengan tetap fokus membantu Emil berjalan di dasar kolam.


Tiba-tiba seorang bodyguard masuk lantas berjalan menuju ke semak dekat tembok pembatas taman dangan area luar, membawa besi pengait dan karung beras.


"Jo, apa yang akan kau lakukan !" Tanya Hardi dalam raut penasaran.


"Ada yang menebar hama di sekitar taman Tuan, saya di perintah untuk membersih kan"


Jelas nya datar.


"Tuan muda sebaik nya anak-anak di bawa keluar dari area ini sekarang juga" Pinta nya berhati-hati.


Dan tanpa menunggu perintah Hardi, Bi Ratmi, Pak Sastro dan seorang bodyguard turun ke dalam kolam menarik Zahwa, Zarra dan Daffa keluar kolam renang, Hardi mengangakat tubuh Emil, membopong nya naik ke atas kolam.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian pemandangan mengerikan terjadi di dalam kolam, puluhan ekor ular berbisa keluar dari dasar kolam.


Pak Sastro memerintah kan mang jono tukang kebun puri untuk mengering kan kolam, dan menangkap ular-ular yang berkeliaran di sekitar area kolam renang dengan dua orang pawang ular. menyusuri area taman dengan pengait beraliran listrik untuk menangkap ular.


Emil bergidig ngeri, memeluk ketiga anak nya, wajah Emil pucat pasi, tak terbayangkan seandai nya mereka lengah sedikit saja lalu terpatuk ular berbisa, bisa di pastikan Dia akan kehilangan ketiga anak nya, bahkan mungkin suami dan nyawa nya sendiri pun melayang.


Rasa mual menyerang hebat dalam tubuh Emil tanpa mampu dikendalikan seluruh isi dalam perut Emil keluar semua di lantai pinggiran kolam, Hardi memerintah Bik Ratmi dan dua orang pelayan perempuan membawa ketiga anak nya ke dalam di bantu Bunda membantu memandikan mereka.


"Masih mual Mah ?, masuk ke dalam saja ya, berendam air hangat di buth up" Ajak nya pada Emila yang hanya di balas dengan anggukan kepala.


Hardi mengangkat tubuh isteri nya, membawa ke lantai atas ke dalam kamar nya, Emil melingkar kan tangan nya manja di leher Hardi, membenamkan wajah di dada bidang suami nya, menghirup aroma maskulin tubuh suami nya .


Sesampai di kamar mandi Hardi mengisi buth up dengan air hangat dan menambah dengan aroma terapi, merebah kan Emil ke dalam buth up, Hardi pun ikut berendam di sebelah nya, tangan Emil mulai nakal memainkan burung milik Hardi, menggenggam dan meremas nya lembut hingga membangkit kan gairah Hardi.


"Mah..., hemm..., kamu nambah nakal iighh"


Desah Hardi dengan memejam kan mata menikmati permainan tangan isteri nya.


seperkian detik kemudian saat gairah nya tak mampu lagi di tahan, Hardi meraih tubuh isteri nya di letakan di atas pangkuan nya lalu memompa milik nya hingga mereka mencapai puncak bersama.


Usai merasa puas Hardi menggandeng Emil menuju shower untuk membersihkan diri.


"Pah Dede nya belum puas di tengokin" Rengek Emil manja sembari menciumi dada bidang Hardi dan meremas burung nya.


"Main di atas tempat tidur aja Mah !" Pinta Hardi sembari mendesah nikmat.


"Mamah pengin nya di dalam kamar mandi, sekali-kali cari sensasi baru" Balas nya lembut. Hardi menggelengkan kepala tak memahami dengan hasrat isteri nya yang tetiba meninggi dengan sensasi aneh yang selalu diinginkan nya.


Hampir satu jam mereka berada dalam kamar mandi memuas kan diri, setelah Emil merasa puas mereka membersihkan diri berbarengan dengan kumandang adzan magrib.


"Pah kita solat berjama'ah yuk, ajak anak-anak juga" Pinta Emil, Hardi menganggukan kepala tersenyum lembut.


"Mamah tunggu ya, Papah panggil anak-anak dulu" Balas Hardi lalu mengambil alat komunikasi di dinding dekat tempat tidur nya, meminta Bunda untuk memberitahu ketiga anak nya untuk solat maghrib berjama'ah di dalam kamar nya.


Tak sampai lima menit mereka pun masuk dengan membawa perangkat alat solat, Emil mengajar kan Daffa untuk mengumandang kan adzan dan iqomah, lalu mereka solat berjama'ah dengan Hardi sebagai imam.


----------------------------------------------------------


**Assallamuallaikum reader apa kabar semua


maaf nih baru bisa up date

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan like ya dan vote juga


terimakasih tuk semua nya**.


__ADS_2