
Kehamilan yang ketiga ini membuat ku sedikit stres , tekanan dari Mas Hardi yang terus melontar kan harapan akan lahir pangeran kecil kami, pun Zarra yang seringkali rewel karena aku sapih sebelum waktu nya menambah beban sendiri dalam hati ku.
Sementara bawaan si bayi yang membuat ku selalu mual dengan bau parfum suami ku membuat kami sering ribut setiap kali aku menghindari nya, seperti malam di akhir pekan saat ini .
" Mah ..! , jangan jauhan begitu kenapa sih ?, aku suami mu , muhrim kamu ngapain tidur di
jarak pake guling sampe dua tumpuk gitu "
Rengek manja nya. mengambil bantal menghampiri ku.
" Jauhan sana aku gak kuat bau badan mu "
Usir ku kesal .
" Bau ku wangi juga Mah .." Bela nya .
" Iya ..tapi anakku gak suka bau wangi kamu Mas .. ! " Balas ku ketus.
" Ini aku sudah ganti parfum lagi Mah, ini sudah yang ke dua puluh tiga aku ganti jenis dan merk " Dengus nya kesal .
Mas Hardi beranjak ke kamar mandi lalu terdengar suara shower, beberapa saat kemudian Dia keluar hanya mengenakan CD saja, kebiasaan nya sedari awal ku kenal dulu .
" Ni bau parfum nya sudah ku hilang kan "
Mas Hardi berbaring di samping memeluk erat dari belakang .
" Gimana Mah, anakku gak menolak lagi kan ?" Bisik nya sembari lidah nya memain kan telinga ku .
" Heemmm " Jawab ku datar.
" pangeran ku ini aneh banget ko gak suka Papah nya pake parfum sih ! " Ucap nya sembari tangan nya mengelus perut ku yang mulai membuncit di kehamilan yang menginjak lima bulan .
" Biar papah nya gak genit sama wanita lain ya Dek " Jawab ku ketus.
" Papah gak pernah genit sama wanita lain, genit nya cuma sama Mamah sweerrr " Rayu nya dengan wajah dibenam kan di leher belakang ku menyusup dalam rambut panjang ku .
__ADS_1
" Gooommmbbbaaalll... Sinta...santi... tuh siapa .?! " Balas ku kesal.
" Sudah Mah , jangan sebut nama mereka lagi, jangan mulai Mah ! " Dengus nya kesal .
Malam itu aku menerima hukuman atas kemarahan nya pada ku dengan melampias kan hasrat nya berulang - ulang tanpa kenal lelah bahkan pagi hari selepas subuh usai aku membersih kan diri dan solat Dia terbangun dan langsung melakukan serangan fajar lagi hingga aku benar - benar merasa kelelahan dan kami kembali tertidur .
Siang itu aku terbangun saat ada bau parfum menyengat hingga membuat ku mual dan langsung berlari ke wastafel kamar mandi masih dengan mata terpincing .
" Mah..., maaf Papah lupa ..," Mas Hardi datang menghampiri ku memijat tekuk ku .
" hoeeekkk...hoeeeekkk,.... sana Mas jauhan aku gak tahan bau parfum mu..!! " Keras ku.
Mas Hardi keluar kamar mandi. aku terduduk lemah di atas closet WC duduk .
" Mah.., Mah..., udahan muntah nya..?!." Suara Mas Hardi cemas saat kamar mandi kembali sunyi, membuka pintu dan melihat wajah ku yang pucat pasi.
" Mah ke rumah sakit aja ya..! " Pinta Mas Hardi cemas .
" Gak usah Mas, aku gak papa nanti juga baik sendiri, maka nya pake parfum di luar rumah aja, lagian ini hari minggu kamu mau kemana sih sudah rapi gitu " Suara ku lemah.
" Aku mau ajakin Mamah , anak - anak sama baby sister ke waterboom mumpung masih jam tujuh belum terlalu siang " Mas Hardi masuk tanpa mengenakan baju baju nya .
" Kan baju ku bau parfum nanti kamu muntah lagi kalau aku deketin " Jawab nya lembut.
Mas Hardi masuk mengangkat tubuh ku membaring kan di tempat tidur. Pintu kamar terketuk Zahwa masuk manghambur ke kami.
" Pah jadi berenang nya enggak ? " Tanya nya polos sudah mengenakan baju rapi .
" Emmm cantik nya mama sudah bau wangi.. mau kemana sih " Tanya ku sambil mamang ku mencium rambut hitam lurus nya .
" Kaka mau berenang Mah , kan Papah udah janji kalau adek bisa jalan mau ajakin berenang ..ya Pah " Zahwa menatap wajah papah nya tersenyum .
" Iya ...sayang, sabar ya nunggu Mamah baik an " Mas Hardi meraih Zahwa berganti menggendong nya .
" Kaka tunggu di luar dulu ya, Papah bantuin Mamah buat siap - siap " Mas Hardi memberi kode Atun yang berdiri di pintu untuk masuk dan membawa Zarra keluar kamar .
__ADS_1
***************
Tiga bulan kemudian aku melahir kan bayi cowok impian suami ku, delapan puluh persen gen lebih ke aku , Mas Hardi menyambut gembira pangeran kecil yang di nantikan., Dia memberikan fasilitas berlebih kepada putra nya dari syukuran kelahiran yang di buat sangat mewah di hadiri insan pers, menghadir kan seluruh keluarga, kolega dan mitra bisnis , mengumum kan kelahiran putra nya yang di beri nama Sultan Daffa Arrahman Prasojo, sampai mendatang kan babysister khusus untuk putera nya .
Nyata nya kebahagiaan tak sepenuh nya jadi milik ku, Mas Hardi sangat memanja kan Daffa hingga segala untuk nya harus lah perfect tak boleh ada cela , tidak bisa terima jika ada sedikit lecet saja di tubuh nya hal ini terkadang memicu keributan diantara kami.
Hari itu Daffa merengek minta main sepeda roda tiga nya di taman sebelah utara sekitar kompleks perumahan bareng sang kaka di dampingi babysister dan eko pekerja Mas Hardi yang hari itu aku minta datang ke rumah untuk mempebaiki kran kamar mandi yang bocor .
Untung tak dapat di raih malang tak dapat di tolak , musibah mana ada yang tahu kapan datang nya, saat Daffa asyik bersepeda seorang remaja yang menaiki skuter tak dapat mengendalikan kecepatan dan menabrak Daffa dari arah samping hingga terpental, masih beruntung karena jatuh diantara semak pohon bunga yang tertata rapi di tengah taman.
Susi yang berada setengah meter di belakang Daffa tak berhasil meraih nya hanya mampu menjerit dan berlari ke tengah taman meraih anak asuhan nya yang menangis mengerang kesakitan, sementara remaja yang menabrak Daffa malah lari ketakutan.
Daffa di bawa pulang dengan luka lecet - lecet di beberpa bagian tubuh nya, aku yang masih berada di kantor sore itu tidak mengetahui kejadian persis nya bagaimsns dan Mas Hardi yang baru tiba dari luar kota begitu melihat keadaan Daffa langsung naik darah, dengan menyimpan amarah dan kepanikan bercampur kalut di bawa nya Daffa ke sebuah klinik anak .
" Hallo.., Mah kamu dimana..? !! " Suara Mas Hardi dari sambungan telefon .
" Iya Mas, aku masih di kantor , ada urusan yang belum selesai bentar lagi aku pulang "
Jawab ku yang tak mengetahui telah terjadi sesuatu dengan putera ku .
" Ini jam berapa kamu masih sibuk dengan kerjaan sampai lalai tugas sebagai Ibu, pulang sekarang datang ke klinik Dokter anak Parjono aku beri kamu waktu sepuluh menit " Geram nya dengan nads tinggi dan langsung mematikan sambungan telefon tanpa memberi waktu untuk ku bicara .
Dengan rasa panik dan tanda tanya aku masukan berkas yang baru sebagian ku periksa ke dalam laci , aku kunci lalu keluar menuju parkiran dimana motor ku berada , menstater motor ku dan berlalu menerobos jalanan yang lumayan padat di sore hari .
Sebelum sepuluh menit aku sudah berada di ruang pemeriksaan klinik anak Dokter Paejono dimana suami dan Susi Babysiater Daffa sedang menenang kan putera ku yang terus menangis kesakitan .
" Mamah...mamah...mamah... !! " Daffa meronta dari gendongan susi di depan ada perawat yang sedang mengobati luka nya.
Aku menghambur meraih putera ku dari gendongan Susi memeluk cemas melihat luka nya di beberapa bagian tubuh nya .
" Adek kenapa Mbak Susi..? " Tanya ku cemas , ku elus punggung nya untuk mereda kan tangisan nya .
" Maaf Ibu saya lalai menjaga Adek yang minta bermain sepeda sama kaka Zahwa dan Zarra, Adek tertabrak skuter di jalan dalam taman " Jawab Susi dengan suara bergetar ketakutan sembari menunduk kan kepala.
Alhamdulillah putera ku tidak sampai harus di rawat inap , dari pemeriksaan dokter dan hasil rongent tidak ada luka yang serius.
__ADS_1
Sesampai di rumah Mas Hardi menumpah kan kemarahan atas apa yang menimpa putera nya sebagai kesalahan ku penuh.
Yang lebih menyakit kan Dia menuduh ku selalu terlambat pulang setiap Dia berada di luar kota karena aku selingkuh dengan kepala cabang tempat ku bekerja dan nasabah yang mayoritas pengusaha muda .