Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 102 - Di Sidang


__ADS_3

"Sayang, kamu akan pergi ke sekolah hari ini? Biar aku anter." Tanya Andy sambil menyisir rambut nya, dia bersiap untuk pergi mengantarkan sang kekasih ke kampus. Dia sendiri harus menghadiri rapat bersama Darren nanti siang, setelah nya dia akan kembali menjemput sang pujaan hati.


"Iya, ada beberapa hal yang harus aku lakukan di sekolah." Jawab Meysa. Dia sedang mengenakan jaket Hoodie berwarna hijau mint di tubuh mungil nya. Selain membantu nya menghangatkan tubuh karena akhir-akhir ini udara nya terasa lebih dingin dari biasa nya, Hoodie itu juga membantu nya untuk menutupi banyak sekali kissmaark di leher dan juga dada nya. 


"Baiklah, aku juga ada meeting bersama Tuan Darren nanti agak siang sih. Setelah selesai, aku akan menjemput mu ke sekolah."


"Iya, sayang." Jawab Meysa. Dia berdecak kesal sambil melihat Andy yang berjalan normal seperti biasa nya, saat ini dia sedang membereskan tempat tidur di kamar. Lalu membuka jendela agar ada angin sejuk yang masuk ke kamar. 


"Ckkk, bagaimana bisa dia berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Kenapa aku malah kesulitan berjalan? Curang, ini benar-benar tidak adil." Gumam Meysa sambil mendelik. 


"Kamu kenapa, sayang? Keliatan nya bete banget. Apa mau makan sesuatu?"


"Iya, aku mau makan kamu. Rawrr.." 


"Dih, takut. Pacar aku ternyata kaniibal.." Ucap Andy yang malah melayani ke konyolan sang kekasih. Ya, memang pada dasar nya kedua nya sama-sama memiliki selera humor yang tinggi, jadinya nyambung gitu gak perlu di sambungin lagi. Nyambung tanpa perantara.


"Sebel.."


"Why, baby?"


"Dih, sok Inggris Lu." 


"Hahaha, jadi sebenarnya gadis cantik ku ini kenapa hmm?"


"Aku kesel, kok kamu curang sih?" Tanya Meysa membuat kening Andy mengernyit keheranan, maksud nya curang dimana nya? Perasaan dia tidak melakukan apa-apa, kecuali menghajar Meysa di kamar mandi. 


"Curang apa nya?"


"Kamu curang, kamu kok bisa sih jalan kayak gak ada beban gitulah? Sedangkan aku, jalan aja susah." 


"Ohh, itu ya yang bikin sayang ku ini kesal ya?" Tanya Andy lagi sambil meraih wajah Meysa agar mau menatap ke arah nya.


"Iya.."

__ADS_1


"Mana aku tahu, kan punya ku tongkat jadi gak bakalan sakit soalnya tugas nya cuma ngulek, beda sama kamu yang kayak cobek. Di ulek-ulek gtu kan, pasti sakit lah."


"Idih, pake segala mengibaratkan tongkat sama cobek. Emang kamu mau nyambel?"


"Mana ada sih, tapi aku sangat menyukai cobek punya kamu, Ayy." Goda Andy membuat Meysa refleks menggeplak manja pria tampan itu. 


"Diamlah, aku lapar. Bagaimana kalau kita sarapan terlebih dulu sebelum memulai aktivitas?" Tanya Meysa. 


"Baiklah, kamu mau sarapan apa? Biar aku buatkan." Ucap Andy, membuat Meysa sedikit menyunggingkan senyuman manis nya.


"Kalau roti bakar bagaiman?"


"Oke, sayangku." Jawab Andy, dia pun membantu Meysa untuk berjalan karena dia terlalu pelan kalau berjalan sendirian. Itu pun dia merasa gemas sendiri, akhirnya Meysa turun ke bawah dengan berada di gendongan Andy. 


"Kamu duduk aja, biar aku yang buatin sarapan buat kamu, sayang." Ucap Andy, Meysa pun mengangguk. Dia hanya duduk di kursi sambil melihat Andy tengah memanggang roti dengan menggunakan mentega hingga permukaan roti nya kering. Dia juga mengoleskan selai coklat kesukaan Meysa dan gadis itu pun memakan nya dengan lahap. 


"Enak?"


"Enak banget, padahal cuma roti bakar tapi kok bisa seenak ini ya." 


"Ini bukan tentang roti nya, tapi tentang orang yang membuat nya, terimakasih." Ucap Meysa membuat Andy tersenyum kecil. 


"Ohh, gombal ternyata."


"Idih, siapa yang gombal? Enggak tuh, aku ngomong apa adanya." Jawab Meysa sambil terkekeh pelan. 


Setelah selesai dengan sarapan, akhirnya Andy pun bisa mengantarkan Meysa ke sekolah. Di gerbang, pria itu bisa melihat kalau geng sang kekasih sudah menunggu kedatangan Meysa.


"Aku turun duluan ya, kamu hati-hati di jalan plus semangat kerja nya buat nikahin aku." 


"Oke, sayangku." Jawab Andy, dia pun membiarkan Meysa keluar dari mobil dan bergabung dengan teman-teman nya. 


"Lah, tumben Lo pake Hoodie?" Tanya Arina, dia tahu kalau Meysa jarang menggunakan Hoodie kemana pun dia pergi, apalagi ke sekolah. 

__ADS_1


"Lagi pengen aja, gue takut emak gue marah kalo Hoodie yang dia beli gak pernah gue pake." Jawab Meysa berkilah, padahal ada alasan tertentu, kenapa dia memakai Hoodie ke sekolah hari ini.


"Yaudah, ayo masuk. Gue kangen jajan siomay ayam di kantin." Ajak April, di otak nya saat ini hanya di penuhi oleh makanan. Mereka memang sudah bebas, mau ke sekolah atau tidak sudah di bebaskan karena sudah ujian akhir. Tapi, dari pada bosan di rumah ya mending pergi ke sekolah biar gak bosen-bosen amat. 


"Cieee, Sheren sepatu nya baru ya?" Tanya Meysa, dia malah baru ngeuh kalau Sherena menggunakan sepatu baru.


"Hehe, iya. Laki Lo yang di suruh beliin, soalnya kemaren gue tuh kan ke mall ya sama Darren. Kalian tahu gak? Ini sepatu udah gue pegang gini, eehh ada cewek yang main serobot aja ngambil sepatu yang gue pengen terus dia bilang dia duluan yang ngambil itu sepatu. Coba bayangin aja, gimana kesel nya gue kemarin." 


"Stress emang tuh cewek, gak ada sopan santun nya banget." Ucap April, dia malahan ikut kesal dengan apa yang di alami sahabat nya kemarin. Kalau saja itu terjadi padanya, sudah pasti April akan mengajak nya by one, alias berkelahi.


"Bener, stress emang. Mana wajah nya songong banget, pengen gue tampol wajah nya, tapi gue gak mau bikin laki gue malu." 


"Hahaha, kebayang sih gimana malu nya Om Darren kalo liat Lo bertengkar gitu, cuma karena rebutan sepatu." Celetuk Meysa sambil tertawa kecil.


"Puas amat Lo ketawain gue, Mey."


"Sorry deh, tapi lucu aja gitu bayangin ekspresi Lo pas tuh cewek tiba-tiba aja ngambil sepatu yang Lo pengen, plus itu sepatu udah ada di tangan Lo."


"Lucu banget emang, dahlah ayo." Ajak Sherena, dia pun menggandeng tangan Meysa dan menarik nya ke kantin. 


"Pelan-pelan, Sher. Kaki gue sakit nih."


"Kaki Lo sakit? Sakit apa?" Tanya Sherena, padahal yang sakit bukan kaki nya tapi sebuah area di selangkangaan nya. Itu benar-benar masih terasa sakit dan perih juga, seperti nya area itu lecet-lecet karena ulah Andy. 


Bagaimana gak lecet coba, semalam Andy menggagahi nya sebanyak tiga kali, di tambah ronde tambahan tadi pagi di kamar mandi. Pantas saja kalau lecet ya kan, pria yang melakukan itu adalah pria dewasa yang udah lama berpuasa. 


"Malah bengong, jawab dong. Di tanya juga, bukan nya jawab malah bengong."


"Pantesan aja, dari tadi gue perhatiin cara jalan nya Meysa tuh beda, kayak ngangkaang gitu. Lo baik-baik aja kan?" Tanya April. 


"Liat cara jalan Lo sekarang, gue jadi keingetan pas gue kehilangan keperawaanan gue hari itu deh." Celetuk Sherena yang membuat Meysa tersedak ludah nya sendiri. Dia lupa kalau disini ada Sherena, bisa-bisa ketahuan sudah kalah dia dan Andy habis melakukan hal itu malam tadi.


"Jadi, apa Lo udah gituan sama Om Andy?"

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻



__ADS_2