
"Jadi, gimana rasa nya, Sher? Enak kan?" Tanya April membuat Sherena terkekeh lalu menganggukan kepala nya.
"Rasa nya, aahhh mantap. Bikin ketagihan banget." Jawab Sherena membuat teman-teman nya yang masih polos dalam hal itu melongo.
"Seenak itu ya, Sher?"
"Hmm, pokoknya gak bisa di jelaskan pakai kata-kata." Jawab Sherena sambil tertawa.
"Tapi kata si April sakit tuh." Celetuk Meysa.
"Kalo Lo masih perawaan ya sakit lah, orang lubang nya masih kecil banget. Nah kalo kedua kali nya, paling cuma ngilu dikit. Setelah itu nikmat banget, mau nyobain? Ajakin sana Om Andy." Ucap Sherena dengan senyum menggoda nya.
"Kayak nya gak tertarik apa yaak? Cuma di grepee-***** doang gue, gak pernah tuh dia ke bawah sana." Celetuk Meysa membuat Arina membulatkan mata nya, begitu juga dengan Sherena dan April.
"Lo udah di grepee-***** sama tuh Om-om?"
"Udah, cuma bagian dada doang." Jawab Meysa acuh sambil memakan bakso nya dengan tenang dan lahap.
"Wahh, Om Andy agresif juga ya. Gak nyangka gue."
"Ya, dia normal kali. Wajar sama cewek main gituan." Ucap Sherena membuat Meysa menganggukan kepala nya.
"Di grepee juga enak kan, Mey?"
"Enak sih, sambil ciuman gitu." Jawab Meysa, membuat teman-teman nya tertawa. Meysa terlalu jujur, itu lah yang membuat teman-teman nya sering kali menggoda gadis itu.
"Si Meysa udah gak polos lagi woy.." Ucap Arina sambil tertawa.
"Lu sama Marvin gimana? Jangan-jangan udah di tahap grepee-***** juga sama kayak gue." Tanya Meysa membuat Arin cengengesan.
"Hmm, ayang gue suka di mainin itu nya."
"Maksud Lo? Burung nya gitu?" Tanya April dengan wajah terkejut nya. Ternyata Arin sudah lebih parah jika di bandingkan dengan Meysa.
"Haha, iya itu." Jawab Meysa.
"Gilaa, di mainin pake tangan?"
"Iya lah, mau nya dia pake mulut tapi gue gak berani." Jawab Arina.
"Wah, gila sih. Lo parah banget dari pada gue sama Andy, Rin." Ucap Meysa, dia benar-benar tidak menyangka kalau sahabat nya itu juga lebih parah dari nya. Apalagi Sherena dan April, mereka bahkan sudah melakukan making love.
"Ya dia yang minta, dari pada dia marah mendingan gue nurut. Soalnya kalian pasti tahu kan, Marvin kalo marah serem banget." Jelas Arina.
"Hmm, laki gue juga. Pernah tuh gue di diemin beberapa hari cuma karena gue gak mau di ajakin ciuman." Sherena ingat benar saat Darren mendiamkan dirinya saat itu. Alasan nya sepele, karena Sherena menolak saat pria itu menyosor bibir nya. Padahal dia punya alasan yang jelas, karena dia belum mandi dan gosok gigi. Dia khawatir Darren akan jijik, tapi ternyata malah sebaliknya. Darren ngambek dan mogok bicara hingga beberapa hari.
"Kenapa kok Lo nolak?"
"Dia nya nyosor gue pas baru aja bangun tidur, ya jelas lah gue nolak. Belom gosok gigi, cuci muka masa langsung silaturahmi bibir sih? Kan malu gitu, gue takut nya dia illfeel, tapi malah sebaliknya. Lima hari dia diem, bayangin aja tuh." Jelas Sherena membuat ketiga teman nya tertawa. Ada-ada saja kelakuan pacar nya Sherena.
"Dia nafsuaan banget njir.." Cetus April sambil tertawa.
"Gak tau tuh, dia bawaan nya kalo deket-deket sama gue, pasti gue nya di terkam. Katanya gue goda dia, padahal gak ada tuh."
"Ya, gitu tuh kalo udah bucin abis. Lo nafas aja udah bikin dia bergairaah." Ucap Arina.
__ADS_1
"Hmm, bener tuh kata si Arin."
"Bisa jadi sih, soalnya dia kan udah lama ngeduda gitu. Jadi sekali nya ketemu lubang baru, ya gas aja terus sampe lupa ngerem." Jawab Sheren.
"Untuk pertama kali nya, berapa ronde?"
"Cuma dua kali doang, tapi ya karena anu nya gede jadi nya gue gak bisa jalan sama sekali."
"Wah, udah-udah otak gue traveling nya udah kejauhan. Gak kuat gue gak kuat." Ucap Meysa sambil menggelengkan kepala nya, sontak saja membuat ketiga teman nya tertawa.
"Belum tau aja dia, kalo udah pasti bakalan ketagihan tuh."
"Iya, gue aja ketagihan banget." Ucap Sherena.
"Udah, bakso pada dingin itu ayo makan." Ajak Arina, akhirnya mereka pun kembali melanjutkan acara makan siang nya dengan lahap.
Hingga sore hari nya, mereka pun memutuskan untuk pulang. Sherena pun berjalan bersama teman-teman nya dengan senyum manis dan sesekali melemparkan candaan yang membuat ke empat gadis itu tergelak.
Di gerbang, Sherena terdiam saat melihat kalau Darren sudah ada disana. Dia tersenyum manis ke arah gadis nya dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana bahan nya.
"OMG, laki nya Sheren ganteng nya gak ngotak." Celetuk April heboh, membuat kedua teman Sheren yang lain segera menutup mulut April. Ya, beginilah kalau April ketemu cogan, pasti heboh sendiri.
"Kok udah disini, sayang?" Tanya Sherena sambil mendekat.
"Sengaja jemput kamu, kita jalan-jalan yuk sekalian rayain kelulusan kamu. Katanya kamu dapat nilai bagus ya?"
"Hehe, iya. Jadi apa bisa aku tagih janji aku sekarang, sayang?" Tanya Sherena. Dia masih ingat benar kalau Darren berjanji akan memberikan nya hadiah kalau nilai ujian nya bagus.
"Tentu, ayo sayang." Ajak Darren.
"See you, hati-hati di jalan nya. Jangan belok dulu ke hotel." Bisik April membuat wajah Sherena memerah. Bisa-bisa nya April mengatakan hal itu sekarang, padahal ada Darren disana.
"Ayo, sayang." Darren membukakan pintu mobil nya dan gadis itu pun langsung duduk dengan tenang di dalam nya.
"Siap?" Tanya Darren setelah dia duduk di samping Sherena.
"Sudah, let's go.."
Darren terkekeh lalu segera mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Pria tampan itu terlihat sangat fokus mengemudi, meski sesekali dia akan melihat sherena dengan senyum manis nya.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?"
"Selamat atas kelulusan mu, kapan acara perpisahan nya?"
"Seminggu lagi, sayang."
"Baguslah kalau begitu, seminggu setelah kelulusan mu, kita akan menikah. Jadi aku akan mulai menyiapkan pernikahan kita dari sekarang, bagaimana menurut mu?" Tanya Darren.
"Aku setuju-setuju saja, sayang. Tapi setelah menikah, bisakah aku kuliah bersama teman-teman ku?"
"Tentu, kamu bisa kuliah setelah menikah."
"Kamu serius?" Tanya Sherena sambil menatap ke arah Darren.
__ADS_1
"Iya, sangat serius. Aku hanya melarang mu bekerja, karena aku yang akan bekerja untuk mu. Kamu boleh kuliah, sayang."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut daftar ke universitas yang sama dengan ketiga teman ku, sayang."
"Hmmm, iya sayang." Jawab Darren sambil tersenyum.
"Tapi, misalkan kamu hamil sebaiknya kamu ambil kuliah privat saja di rumah ya. Aku gak mau kamu kecapean nanti nya."
"Aku nurut aja apa kata kamu, sayang." Jawab Sherena, lagi-lagi jawaban yang membuat Darren tersenyum kecil.
"Good girl, Babe."
"Hmmm, jadi mau ngasih aku hadiah apa? Aku udah menepati janji aku lho buat nilai terbaik."
"Terserah kamu saja, kamu mau nya apa? Nanti aku belikan."
"Ada sepatu yang baru launching di toko, mau ya?"
"Boleh, sayang ku." Jawab Darren.
"Tapi harga nya.."
"Tidak perlu khawatir, calon suami mu ini seorang pengusaha, jadi tak mungkin jika dia tidak memiliki uang hanya untuk sekedar membelikan pacar nya sepatu baru." Jawab Darren panjang lebar, membuat Sherena tertawa.
"Hahaha, iya iya. Baiklah, terimakasih calon suami."
"Sama-sama, cantik ku. Jadi sekarang kita ke mall ya beli sepatu?" Sherena menganggukan kepala nya dengan antusias, dia akan membeli sepatu baru. Rasa nya senang sekali, meskipun sudah hampir dua hari ini kedua orang tua nya tidak memberikan kabar pada nya. Mereka juga tidak membalas pesan, atau menghubungi nya dari telepon.
Tapi Sherena paham, mungkin saja kedua nya sedang sibuk mengurus nenek nya yang tengah sakit, jadi mereka tidak sempat memberikan nya kabar atau membalas pesan nya, tidak apa-apa. Selama mereka baik-baik saja, Sherena tidak akan mempermasalahkan hal itu.
Setiba nya di mall, Sherena pun menggandeng tangan sang kekasih ke sebuah toko sepatu yang dia incar.
"Ayang, itu sepatu nya.." Ucap Sherena sambil menunjuk sepatu yang dia inginkan, sepatu kets berwarna putih dengan aksen garis-garis berwarna biru. Terlihat cantik dan elegant, sama seperti harga nya.
"Ambil aja, sayang." Jawab Darren, gadis itu pun mengambil sepatu nya. Tapi saat dia sedang melihat-lihat sepatu itu, seseorang tiba-tiba saja datang dan merebut sepatu yang sedang di pegang oleh Sherena.
"Saya ambil yang ini, mbak." Ucap nya, membuat Sherena membulatkan kedua mata nya.
"Maaf, tapi saya yang lebih dulu mengambil sepatu itu!"
"Lalu, apa saya peduli? Tidak sama sekali, saya menginginkan sepatu ini dan ini adalah milik saya!" Tegas nya, membuat Sherena berang. Dia benar-benar marah karena wanita itu seenak nya saja main rebut, padahal sudah jelas kalau dia yang lebih dulu mengambil sepatu itu dan akan mencoba nya dulu, tapi dia malah merebut nya dan mengatakan akan membeli nya dengan nada angkuh.
"Ada apa, sayang?" Tanya Darren membuat wanita itu terlihat sedikit terkejut saat melihat siapa pria yang memanggil Sherena dengan panggilan sayang.
"Ini lho, yang. Aku kan mau beli sepatu itu, tapi dia malah ngerebut sepatu nya. Padahal aku kan yang lebih dulu ngambil sepatu nya, giliran aku tegur dia malah ngegas seolah dia gak salah." Celoteh Sherena, jujur saja dia merasa sangat kesal sekarang ini.
"Ya ini kan sepatu limited, siapa cepat dia dapat. Aku yang dapat duluan, jadi sepatu ini milik ku!"
"Apa anda tidak di ajarkan sopan santun, Nona? Mengambil barang yang bukan hak mu seperti ini, bukankah ini sangat tidak sopan?" Tanya Darren dengan wajah datar nya.
"Enak saja, aku anak terpelajar dan orang tua ku adalah orang terhormat."
"Ada ya anak orang terhormat tapi kelakuan nya seperti berandalan? Malu-maluin." Ucap Darren membuat wanita itu mengepalkan kedua tangan nya di sisi tubuh nya, dia tidak terima saat Darren mengatakan hal itu, padahal sudah jelas-jelas kalau dia adalah pihak yang salah disini. Tapi kenapa seolah dia yang menjadi korban? Dasar playing victim!
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻