
"Darren, bisakah kita kembali lagi seperti dulu?" Tanya Rita, disaat Darren baru saja berbalik hendak pergi setelah melihat kebungkaman Rita. Dia pikir, wanita itu sudah kehabisan topik pembicaraan. Maka dari itu, dia akan masuk ke dalam mobil karena dia juga merasa tak enak pada Sherena yang sudah cukup lama menunggu di dalam mobil.
Mendengar pertanyaan Rita, sontak saja membuat Darren berbalik lagi. Dia menatap wanita yang sialnya dulu pernah dia cintai itu. Pertanyaan konyol, membuat Darren ingin sekali tertawa. Tapi, saat ini dia hanya menatap wanita itu dengan tatapan tajam dan wajah datar nya.
"Darren, jujur saja aku menyesal telah meninggalkan mu dulu.."
"Tapi, sayang nya aku tidak peduli, Rita. Mau kau menyesal seperti apapun, hati ku sudah tertutup untuk mu." Jawab Darren sambil tersenyum miring. Ya benar, dia sudah benar-benar melupakan wanita itu.
"Kenapa? Apa karena gadis kecil itu? Kau bisa meninggalkan nya dan kita bisa kembali seperti dulu, Darren."
"Segampang itu mulut mu mengatakan hal seperti itu? Setelah susah payah aku melupakan rasa sakit yang kau berikan, lalu kenapa sekarang aku harus kembali padamu? Tidak akan pernah, sampai kapanpun." Jawab Darren tegas membuat Rita mengepalkan kedua tangan nya.
Jujur saja, dia merasa iri saat melihat kesuksesan yang di dapatkan oleh sang mantan suami. Dia ingin menikmati nya juga, maka dari itu dia kembali mengejar mantan suami nya itu. Sayang nya dia melihat kalau Darren sudah memiliki gadis lain di sisi nya. Tapi, bukan masalah bagi Rita. Dia akan merebut Darren agar bisa kembali padanya dan dia yang akan mendapatkan harta Darren.
"Ayolah, dia hanya gadis kecil saja, Darren. Kau takkan puas jika hanya bermain dengan gadis seperti nya."
"Ckkk, tau apa kau? Gadis ku adalah gadis baik-baik yang bisa menjaga kehormatan nya. Tidak seperti seseorang yang sudah tidak perawaan saat aku nikahi." Sindir Darren. Dia ingat benar kalau saat dia menikahi Rita, dia sudah tidak perawaan lagi. Bahkan miliknya sudah longgar, artinya sudah banyak milik pria yang telah masuk ke dalam nya.
Tapi karena Darren mencintai wanita itu, dia pun diam dan tidak mengatakan apapun, meskipun hati nya gondok. Lelaki mana sih yang tidak kecewa? Wanita yang dia jaga selama ini, ternyata sudah tidak virgiin lagi saat dia menikahi nya alias dapat bekasan.
"Kau menyindir ku?"
"Tidak, tapi kalau kau merasa ya bagus." Jawab Darren sambil mengendikan bahu nya dengan acuh.
Tiba-tiba saja, Sherena menurunkan kaca mobil milik Darren lalu melongokkan kepala nya.
"Sayang, masih lama gak?" Tanya Sherena, membuat Darren langsung berjalan mendekat ke arah sang kekasih.
"Sudah kok, mau pulang sekarang?"
"Iya nih, Mama sama Papah udah nelponin." Jawab Sheren sambil menunjukkan panggilan dari sang mama yang meminta nya untuk segera pulang.
"Iya, sayang. Tanyain sama Papah, mau nitip apa?"
"Udah, katanya mau martabak manis rasa coklat keju yang waktu itu." Jawab Sheren, Darren terkekeh lalu mengacak rambut sang gadis dengan mesra. Tentu saja, hal itu membuat Rita marah. Dia tidak terima saat Darren memperlakukan gadis lain dengan begitu romantis nya. Dia ingin, dirinya lah yang ada di posisi Sherena.
"Yaudah, ayo kita pulang.." Sheren mengangguk dengan cepat, dia pun kembali menaikkan kaca mobil nya dengan cepat.
Darren juga segera berlari memutari mobil dan masuk lalu duduk di balik kemudi, dia pun menghidupkan mesin mobil nya dan melajukan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, meninggalkan Rita yang masih mematung di tempat nya. Ingin sekali dia marah, tapi Darren terlanjur pergi saat ini.
"Aaaahhh sial.." Rutuk Rita, dia pun mengepalkan kedua tangan nya. Dia marah, sangat marah karena Darren sama sekali tidak menganggap keberadaan nya, dia juga tidak berpamitan saat akan pergi. Dia langsung pergi begitu saja, tanpa sepatah kata pun sebagai perpisahan.
Memang nya dia siapa? Sampai-sampai Darren harus berpamitan padanya saat akan pergi? Dia hanya mantan, ya hanya mantan. Tidak lebih, itu pun kalau Darren mengakui nya sebagai mantan istri. Tapi seperti nya, Darren tidak ingin mengakui nya, terlihat jelas dari bagaimana pria itu menatap dan bicara pada wanita itu, terkesan kasar dan datar. Ya mungkin karena efek dia pernah di sakiti oleh wanita itu.
Sedangkan di dalam mobil, terjadi keheningan. Tak ada yang membuka suara, Sherena juga memilih bungkam. Setelah beberapa menit kedua nya berada di dalam ruangan yang sama, tidak ada yang mau memulai pembicaraan sama sekali. Hingga akhirnya, Darren tidak tahan. Dia tidak suka dengan suasana canggung ini.
"Tumben diem aja, yang? Biasa nya kamu bicara terus." Ucap Darren membuat Sherena terkekeh.
"Lagi lihat-lihat liptint yang kamu beliin tadi, yang. Bagus-bagus ini, harga nya juga lumayan mahal."
"Ya, selama aku ada uang nya, aku pasti beliin apapun kebutuhan kamu, sayang." Jawab Darren sambil tersenyum. Dia senang karena bisa membahagiakan Sherena meskipun dengan cara yang bisa di bilang sangat sederhana. Di belikan lipbalm, atau liptint saja, Sherena sudah kesenangan seperti ini.
"Makasih, sayang. Semoga rezeki kamu terganti dengan yang lebih banyak ya, perusahaan kamu juga di lancarkan terus."
"Iya, sayang. Aku juga harus mulai nabung buat nikahin kamu, iya kan?" Tanya Darren dengan serius. Ya, seperti nya hubungan ini akan sangat serius. Mengingat kalau Darren juga sudah dekat dengan kedua orang tua Sherena dan mereka memberikan respon yang baik.
"Iya dong, aku tinggal beberapa bulan lagi lulus sekolah."
"Gak mau kuliah dulu, sayang?"
"Kuliah kan bisa kalau pun udah nikah, yang. Jadi, aku mau nikah aja dulu setelah itu baru kuliah. Soalnya kalau di tunda-tunda, aku takut kamu di ambil wanita lain. Seperti wanita yang barusan misalnya." Celetuk Sherena yang membuat Darren terkejut, tapi beberapa detik kemudian dia tergelak mendengar ucapan sang gadis.
__ADS_1
"Kamu gak mau tahu dia siapa, sayang?"
"Ya pengen sih, tadi kan kamu janji mau jelasin tentang wanita itu sama aku, yang." Jawab Sherena, membuat Darren mengangguk. Dia memang berjanji akan hal itu, tapi dia malah melupakan nya. Untung saja, Sherena mengingatkan nya barusan.
"Kalau kamu tahu siapa wanita itu, janji ya gak bakalan marah?"
"Iya, enggak kok. Memang nya kenapa aku harus marah?" Tanya balik Sherena membuat Darren melirik sekilas ke arah sang gadis, dia mengacak pelan rambut Sherena dengan mesra.
"Sebenarnya, dia mantan istri aku, sayang."
"H-aahh, berarti dia yang sudah menyia-nyiakan kamu dong, sayang?" Tanya Sherena, Darren menganggukan kepala nya dengan perlahan. Meskipun dia tak ingin mendengar semua nya atau pun menceritakan nya, tapi dia tahu benar kalau Sherena juga harus mengetahui semua tentang masa lalu nya.
"Iya, sayang.."
"Terus, sekarang dia datang lagi mau ngapain? Jangan bilang mau ngajak balikan?"
"Kelihatan banget ya, sayang? Sampai ketebak gini."
"Ya aku nebak aja sih. Jadi, bener?" Tanya Sherena, Darren terkekeh lagi-lagi dia menganggukan kepala nya.
"Dihh, gak ada malu nya. Udah mah dulu ninggalin pas kamu masih susah, sekarang dia datang lagi pas kamu udah sukses begini, wanita apa kayak gitu?"
"Wanita matre, sayang. Giliran aku bangkrut, dia tuh bakalan pergi lagi." Jawab Darren sambil terkekeh.
"Isshh, awas aja kalau kamu sampai tergoda lagi sama wanita itu, lihat saja aku bakalan bikin burung kamu gak bisa bangun!" Ucap Ayyara sambil menatap Darren dengan delikan nya, yang cukup membuat pria itu terlihat salah tingkah. Dia cukup takut saat melihat sang gadis menatap nya seperti itu.
"Isshh, ancaman nya nakutin banget deh."
"Makanya, gak usah macem-macem kamu, yang."
"Iya iya gak bakalan kok, lagian aku udah punya kamu." Jawab Darren yang membuat Sheren tersenyum manis. Dia pun menggelayut manja di lengan sang pria.
"Nah, gitu dong. Awas aja kalau kamu tergoda sama wanita modelan begitu."
"Sekarang aja bilang nya enggak, gak tahu kalau semisal dia telanjaang bulat di depan kamu. Pasti berdiri itu si junior." Ketus Sherena.
"Dih, enggak lah. Udah pernah nyobain dulu, bosen jadinya."
"Yaudah, aku pegang janji kamu. Awas aja kalau sampai tergoda lagi sama mantan kamu, atau sama sekretaris genit kamu di kantor. Aku pukulin pake wajan punya Mama pokoknya."
"Hahaha, iya ampun sayang." Darren mengacak rambut Sherena hingga membuat gadis itu cemberut karena rambut nya yang tadinya rapih, kini acak-acakan karena ulah tangan nakal sang pria.
Di perempatan, tak lupa Darren berhenti sejenak untuk membeli martabak manis pesanan calon papa mertua nya. Dia juga membeli kue pukis untuk cemilan selama di dalam mobil, lagipun Sherena menyukai kue ini karena menurut nya tidak terlalu manis.
"Sudah, sayang?" Tanya Sherena saat melihat Darren masuk kembali ke dalam mobil. Darren mengangguk, karena antrian nya memang tidak terlalu panjang.
"Ini kue pukis coklat kesukaan kamu, sayang."
"Yeee, makasih sayang." Jawab Sherena, dia pun membuka kotak berisi kue pukis itu dan memakan nya, tak lupa dia mengecup singkat pipi kanan dan kiri sang pria, juga bibir nya sebagai bentuk ucapan terimakasih karena pria itu sudah peka. Tanpa di minta pun, dia berinisiatif untuk membelikan nya. Terlalu peka bukan?
"Nyenengin kamu itu sederhana ternyata, cuma di beliin liptint, terus kue pukis, apalagi ya.." Darren terlihat berpikir, hingga membuat Sherena terkekeh.
"Telur gulung, bakso, mie ayam atau salad buah. Itu aja udah bikin aku seneng, sayang." Jawab Sherena.
"Nah itu, aku ingat bentuk nya tapi lupa nama nya. Ternyata telur gulung." Jawab Darren sambil terkekeh. Sejak memiliki hubungan dengan Sherena, Darren lebih sering tertawa karena tingkah laku Sherena yang sering kali nyeleneh, membuat nya terhibur. Itulah salah satu alasan kenapa bersama Sherena membuat dirinya bahagia.
"Ini, mau gak?" Tawar Sherena.
"Mau, tapi suapin ya? Aku susah makan nya, kan sambil nyetir."
"Oke." Jawab Sherena tanpa beban, dia pun memakan kue pukis nya sambil menyuapi Darren.
__ADS_1
"Yang, aku kayak kenal deh sama mantan istri kamu itu. Kayak pernah lihat gitu, tapi lupa dimana dan kapan nya."
"Di sekolah mungkin." Celetuk Darren membuat Sherena mengingat nya. Benar, dia pernah melihat wanita berpenampilan hebring itu di sekolah. Saat kejadian Agnes dan Meysa saat itu.
"Aaa iya, di sekolah yang.."
"Wajar aja, dia ibu nya Agnes." Jawab Darren membuat Sherena menganga. Jadi, mantan istri Darren adalah salah satu wali murid di sekolah nya? Astaga, dunia ini terlalu sempit sepertinya. Tidak mau bertemu, tapi malah di pertemukan oleh takdir.
"What?"
"Kaget ya? Sama, aku juga kaget awalnya." Jawab Darren, dia mengerti dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Sherena. Dia juga awalnya sama seperti gadis itu, tapi setelah dia mengetahui nya ya dia biasa-biasa saja. Hanya saja, satu yang bisa dia mengerti. Kalau buah jatuh, ya pasti masih berada di sekitaran pohon nya alias tidak jauh. Seperti itulah Agnes dengan Rita.
Orang tua nya kurang memberikan nya pendidikan yang baik, jadinya anak nya tumbuh dengan kesombongan, ke angkuhan dan egois, alias tidak mau mengerti akan perasaan orang lain. Darren merasa puas saat salah satu teman Sherena berani menampar gadis itu, rasa nya puas sekali. Memang sesekali, gadis seperti itu harus di berikan pelajaran agar tidak merasa tinggi dan bertindak semena-mena dengan orang yang dia anggap berada di bawah nya.
"Hmmm, jadi kalian sering ketemu dong?"
"Enggak, baru dua kali. Satu kali di sekolah saat kejadian Agnes dan Meysa, kedua kali nya ya hari ini." Jawab Darren. Sherena menganggukan kepala nya. Dia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut, karena dia yakin Darren mengatakan yang sebenarnya.
Singkatnya, setelah beberapa saat berlalu. Kini Darren dan Sherena sudah sampai di rumah, seperti biasa Darren akan mampir sebentar untuk mengobrol dengan Arya seputar dunia bisnis. Lagian, dia merasa tidak enak kalau sudah mengantarkan Sherena pulang tanpa mampir terlebih dulu, baginya itu adalah hal yang tidak sopan.
"Darren, masuklah.." Arya menyambut Darren dengan baik dan ramah seperti biasa.
"Iya, Om." Jawab Darren, sedangkan Sherena sudah membawa barang-barang miliknya ke kamar. Pria itu meletakan barang belanjaan di meja.
"Darren, beliin pesanan Tante?"
"Udah, Tan. Apel merah kan?" Tanya Arumi, Darren menganggukan kepala nya.
"Ini di dalam tas, sekalian ada stroberi punya Sheren juga, Tan." Jawab Darren.
"Makasih ya."
"Sama-sama, Tan." Jawab pria itu sambil tersenyum. Arya membuka bungkusan kresek hitam yang berisi martabak manis pesanan nya. Entahlah, belakangan ini dia menyukai makanan yang manis seperti ini. Beruntung nya, dia tidak memiliki masalah dengan kadar gula, jadi dia bisa makan makanan yang manis dengan bebas. Tapi tetap harus di kontrol juga, jangan terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak gula.
"Enak ya, Om?"
"Hmmm, enak sekali."
"Dia mah kayak lebah, suka manis. Sampe sering sakit gigi karena terlalu sering makan makanan manis." Sewot Arumi dari belakang sambil membawakan secangkir teh hangat untuk Darren. Karena untuk suami nya, dia sudah membuatkan kopi tadi.
"Terimakasih, Tante."
"Sama-sama.." jawab Arumi dengan senyum manis.
Tak lama, Sherena keluar dari kamar dengan memakai piyama tidur. Kali ini lebih tertutup, celana panjang dengan lengan pendek.
"Masih disini?" Tanya Sheren sambil duduk di samping Darren.
"Sayang, gak boleh gitu.." Ucap Arumi yang membuat Sherena cengengesan.
"Masih mau ngobrol-ngobrol aja kok, bentar lagi pulang. Soalnya besok ada meeting penting pagi-pagi." Jelas Darren sambil menatap Sherena. Gadis itu menganggukan kepala nya secara perlahan.
"Kalian sudah makan malam?"
"Sudah kok, Pah. Tadi kita makan ramen di restoran Jepang, iya kan?"
"Iya, Om." Jawab Darren, Arya menatap kedua anak manusia itu secara bergantian. Kalau di lihat-lihat, mereka memang sangat serasi. Apalagi saat melihat Sherena yang duduk di samping Darren. Arya tersenyum kecil, ada-ada saja dirinya ini. Padahal putrinya masih bersekolah tapi sudah menyebutkan kalau mereka adalah pasangan serasi.
'Duh, gini amat di liatin sama Pamer.' Batin Darren
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻