
"Mas.." Panggil Sherena sambil cemberut, membuat Darren yang baru saja pulang dari kantor. Pria tampan itu menggelengkan kepala nya saat melihat wajah kusut istri nya.
"Ya, Babe. Kenapa, sayang?" Tanya Darren, dia berjalan mendekat ke arah sang istri yang duduk di sofa dengan kedua tangan yang bersedekap di dada itu, lengkap dengan ekspresi kesal nya.
"Kangen.." Rengek perempuan itu sambil merentangkan tangan nya, Darren tersenyum kecil lalu memeluk istri nya dengan erat. Dia mengusap-usap puncak kepala Sherena dengan lembut, dia juga mengecup nya beberapa kali.
"Kamu kangen hmm?"
"Iya, baby kangen sama Daddy." Jawab Sherena, membuat Darren melerai pelukan nya lalu membingkai wajah cantik sang istri dan mengecup pipi kanan nya dengan mesra.
"Baby nya atau Mommy nya nih yang kangen?" Tanya Darren dengan senyum menggoda nya.
"Dua-duanya, hehe." Jawab Sherena yang membuat Darren terkekeh pelan.
"Mendingan kalian ke kamar deh, dari pada bucin-bucinan disini. Bikin gerah tau gak?" Celetuk Arya, membuat pasangan suami istri itu menoleh secara bersamaan.
"Hehe, iya.." Darren dan Sherena kompak cengengesan sambil menutup wajah mereka karena malu, ketahuan bermesraan di tempat yang tidak seharusnya. Inilah salah satu hal yang membuat Darren ingin dirinya dan Sherena pulang ke rumah nya sendiri, karena dia tidak bisa bermesraan dengan bebas.
"Ayo, ke kamar yuk? Katanya kamu kangen Daddy." Ajak Darren sambil menarik turunkan alis nya.
"Gendong.." Pinta Sherena sambil tersenyum manis, Darren pun langsung menggendong istrinya ala bridal style. Dia suka menggendong istrinya seperti ini, dia juga tidak keberatan sama sekali kalau Sherena sudah dalam mode manja seperti ini. Meskipun belakangan ini, tubuh nya agak sedikit lebih berisi, tapi tidak apa-apa ini pasti karena kehamilan nya yang membuat selera makan bumil itu bertambah berkali lipat.
"Sayang.." panggil Sherena sambil terkekeh, dia pun memeluk Darren dengan erat. Darren tersenyum lalu mencium bibir istrinya dengan mesra.
"Mau bermain sekarang?"
"Tentu, mari kita bermain, sayang. Aku siap." Jawab Sherena sambil tersenyum genit, Darren pun menurunkan sang istri di atas ranjang lalu mengungkung nya. Dia mulai mencium bibir Sherena, melumaat dan memaguut nya dengan penuh perasaan. Sherena mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami.
"Aaahhh, pelan-pelan.." Ringis Sherena sambil menahan tangan besar sang suami yang sedang memainkan buah kenyal miliknya. Sudah lama Darren tidak memainkan nya, tapi sekarang dia kembali tergoda dengan buah kenyal kesukaan nya itu.
"Kenapa? Sakit ya, apa aku meremaas nya terlalu keras?"
"Tidak, tapi buah milik ku sekarang sering terasa ngilu." Jawab Sherena.
"Hmmm, baiklah aku akan memainkan nya dengan perlahan." Pria itu pun kembali melancarkan aksi nya, dia kembali bermain-main di atas tubuh istri nya. Darren membuka seluruh pakaian sang istri, begitu juga dengan pakaian nya lalu dia melempar nya ke sembarang arah.
Pria itu kembali mengungkung tubuh Sherena dan mencium bibir nya, sesekali tangan nya menggesek kacang kecil yang terjepit di antara irisan daging tanpa tulang itu.
"Aaahhhh.." Sherena mendesaah kecil, membuat Darren semakin bernafsuu. Pria itu kembali melancarkan aksi nya, dia menekan senjata miliknya secara perlahan masuk ke dalam milik sang istri. Dia tidak pernah merasa lelah untuk hal ini, padahal dia baru saja pulang bekerja tapi saat istri nya meminta jatah nya, dia pun langsung mengiyakan dan disinilah mereka sekarang, bergumuul di atas ranjang dengan saling menyatukan tubuh masing-masing. Desaahan kedua nya terdengar sangat merdu, untung saja Darren sudah memasang alat peredam suara agar tak seorang pun yang bisa mendengar suara seksii yang di keluarkan oleh Sherena, istri nya.
"Aaahh, lebih cepat Daddy.." pinta Sherena. Darren pun menurut dan mempercepat gerakan maju mundur nya, hingga akhirnya Sherena mendapatkan pelepasan nya. Tubuh nya melengkung ke atas saat dia berhasil meraih klimaaks pertama nya.
"Aku suka mendengar mu memanggil ku dengan panggilan Daddy, Bee." Jawab Darren sambil tersenyum kecil, Sherena kembali melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami. Pria itu juga kembali melanjutkan gerakan nya, dan setelah satu jam kemudian, dia juga mendapatkan pelepasan nya yang pertama di sore hari ini.
"Aaarghhh.." Pria itu mengerang tertahan, dia menekan senjata nya sedalam mungkin. Setelah itu, dia berguling ke samping dan menarik Sherena ke dalam pelukan nya.
"Mas.."
"Kenapa, sayang?" Tanya Darren sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut. Dia mengecup kening nya beberapa kali.
"Besok aku mau nganterin makan siang buat kamu ke kantor, boleh?" Tanya Sherena.
"Boleh, sayang. Boleh banget, kemarin aja Meysa nganterin makan siang buat Andy." Jelas Darren.
"Benarkah? Wahh, pantas saja dia heboh banget di grup kemarin."
"Jadi kamu sudah tahu?"
"Ya tahu dong, Mas. Jadi besok giliran aku yang nganterin makanan buat kamu, oke?" Tanya Sherena.
"Oke, istriku sayang." Jawab Darren sambil menduselkan wajah nya di dada kenyal sang istri. Dia suka berlama-lama disana, kenyal dan hangat.
"Mau di masakin apa?"
"Terserah kamu saja, aku menyukai apapun yang kamu masak." Jawab Darren sambil tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya, sayang. Kamu mau masak apapun, pasti aku makan sampai habis."
"Hmmm, baiklah. Aku akan memasak sesuai dengan apa yang aku bisa." Jawab Sherena sambil tersenyum, gantian kini wanita itu yang mengusap-usap kepala Darren yang mendusel di dada nya.
"Makanan nya agak pedas dikit, yang. Pasti enak deh." Ucap Darren.
"Siap, sayang." Jawab Sherena, jadi besok dia akan memasak menu yang sedikit pedas untuk makan siang suami nya esok hari.
"Mandi bareng yuk?" Ajak Sherena. Darren menganggukan kepala nya, sekarang dia lebih suka mengambil langkah seperti ini. Dia suka bermain sekarang, bahkan setiap hari pasti dia meminta hal itu. Semalam bahkan sampai beberapa kali karena dia meminta ronde tambahan.
__ADS_1
Darren pun menggendong Sherena ala bridal style ke kamar mandi, padahal tadi dia sudah mandi. Tapi karena dia kembali berkeringat setelah bermain kuda-kudaan bersama sang suami, jadilah dia harus mandi lagi sekarang.
Keesokan pagi nya, Sherena tidak lagi rewel seperti biasa nya, mungkin karena dia sudah kenyang di jejeli pisang tanduk semalam. Dia keluar dari kamar dengan wajah semringah nya, dia bangun agak siang hari ini karena malas. Entahlah, bawaan nya malas bangun pagi, mungkin karena bawaan bayi kali ya. Tapi, Darren tidak mempermasalahkan hal itu, begitu pula dengan kedua orang tua Sherena.
Mereka paham betul, kalau mood ibu hamil itu sering kali berubah-ubah tanpa bisa di tebak.
"Sudah bangun, sayang?" Sapa Arumi sambil tersenyum saat melihat putri nya menuruni tangga dengan hati-hati.
"Iya, Ma. Mas Darren sudah berangkat?"
"Sudah, setelah sarapan dia langsung berangkat kerja tadi." Jelas Arumi membuat Sherena mengangguk-anggukan kepala nya pertanda kalau dia mengerti.
"Papa?"
"Papa juga sudah berangkat tadi, barengan sama suami kamu. Soalnya mobil Papa mu mogok lagi, biasa lah mobil tua." Jawab Arumi sambil terkekeh.
"Kenapa gak di ganti aja sih, Ma?"
"Udah berapa puluh kali Mama menyarankan itu sama papa kamu, tapi dia kekeuh gak mau ganti mobil nya karena mobil itu banyak kenangan nya katanya." Jelas Arumi lagi.
"Hmm, ya sudahlah. Sherena mau masak, Ma. Hari ini Sheren mau ke kantor nya pak suami, mau nganter makan siang sekalian makan siang bersama disana."
"Mau masak apa? Biar Mama bantuin." Tawar Arumi. Sherena pun mengatakan kalau dia akan memasak cumi lada hitam, sambal bawang dan juga membuat bakwan jagung. Waktu itu dia pernah membuat bakwan jagung dan Darren sangat menyukai nya.
"Oke, Mama bikin bakwan aja deh. Kamu yang bikin cumi sama sambel nya, oke?"
"Siap, Mama." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Kedua wanita berstatus ibu dan anak itu pun mulai memasak karena tidak ada banyak waktu yang tersisa sebelum makan siang.
Setelah makanan nya siap, Sherena pun bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan sang suami untuk memberikan makan siang sekalian makan malam bersama.
"Sheren pergi dulu ya, Ma."
"Iya, hati-hati bawa motor nya."
"Oke, Ma." Jawab Sherena. Dia pun mengambil kunci dan membawa motor nya menjauhi rumah nya dengan kecepatan sedang. Dia mengetahui alamat kantor sang suami dari orang nya langsung. Perempuan cantik itu melajukan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan rata-rata.
Hanya sekitar setengah jam kemudian, Sherena sampai di perusahaan sang suami. Dia memarkir kendaraan roda dua nya di parkiran perusahaan, perempuan itu membuka helm dan dia mengambil kotak bekal nya dan masuk ke dalam perusahaan.
"Selamat siang, Nona.."
"Siang, kak."
"Iya, hehe. Ada?" Tanya Sherena pada resepsionis.
"Ada, Nona. Mau saya antar ke ruangan nya?" Tawar resepsionis itu sambil tersenyum ramah. Dia tahu kalau perempuan cantik dan manis itu adalah istri dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
"Boleh, hehe."
"Mari, Nona." Ucap resepsionis perempuan itu, dia pun berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Sherena yang berjalan dengan anggun.
"Sudah lama bekerja disini, Kak?"
"Lumayan, Nyonya. Sekitar tiga tahun." Jawab nya sambil tersenyum kecil.
"Hmm, lama juga ya."
"Iya, Nyonya. Hehe."
"Mau tanya, suami aku seperti pas mode kerja tuh gimana ya?"
"Tegas sekali, Nona. Tuan Darren juga selalu berwajah datar, jarang sekali beliau menunjukkan senyum nya." Jelas nya membuat Sherena terkekeh.
"Benarkah? Berbeda dengan saat berada di rumah ya.."
"Hanya orang tertentu yang bisa melihat senyuman Tuan Darren, Nyonya. Mahal sekali." Jawab perempuan itu sambil terkekeh pelan.
"Baiklah, nanti aku bilangin biar dia gak datar-datar amat."
"Haha, baiklah Nyonya. Mari, ikuti saya." Sherena pun mengikuti resepsionis itu ke sebuah ruangan dan mengetuk pintu nya.
"Masuk.."
"Silahkan masuk, Nyonya. Saya permisi dulu."
"Terimakasih ya.."
"Sama-sama, Nyonya. Sudah tugas saya." Jawab nya lalu pergi menjauh dari pintu ruangan CEO itu kembali ke tempat nya bekerja.
__ADS_1
"Mas.." Sherena membuka pintu nya, dia masuk dan seketika Darren tersenyum lebar saat melihat kedatangan sang istri.
"Sayang, kamu beneran datang?"
"Tentu saja, aku pasti menepati janji aku sama kamu, Mas." Jawab Sherena sambil tersenyum. Dia meletakan kotak bekal nya di atas meja kaca dan tak lama kemudian, Darren menyusul nya dan duduk di samping sang istri.
"Kepala aku pusing banget deh, yang."
"Kenapa?"
"Pusing, kerjaan banyak banget." Jawab Darren.
"Sini, aku pijitin bentar." Darren pun langsung merebahkan kepala nya di pangkuan sang istri, Sherena pun langsung memijat kening dan kepala Darren dengan perlahan. Sesekali dia mengecupi puncak kepala sang suami.
Tok.. tok.. tok..
Pintu di ketuk lirih dari luar, Darren yang masih menikmati pijitan sang istri malah mendusel di perut sang istri yang mulai sedikit membuncit saat ini.
"Mas, itu siapa? Barangkali penting." Ucap Sherena.
"Suruh dia masuk saja, kalau Sarah jangan hiraukan dia kalau bisa usir saja. Aku lelah, ingin beristirahat dengan anak ku." Jawab Darren, dia memejamkan kedua mata nya dengan bibir yang sesekali mengecupi perut Sherena. Ya, kepala pria itu masuk ke dalam pakaian yang di kenakan oleh istri nya.
"Masuk.." Ucap Sherena sedikit berteriak. Seseorang pun masuk dengan kedua mata yang membeliak ketika dia melihat Sherena dan Darren yang sedang bermanja di pangkuan istri nya.
"Ada apa, Tante?" Tanya Sherena menyindir, karena dia melihat penampilan Sarah yang terlihat seperti tante-tante girang. Make up tebal dengan lipstik berwarna merah terang.
"Aku kesini bukan untuk bertemu dengan mu, aku kesini untuk bertemu dengan Darren."
"Kau tidak melihat kalau suami ku sedang tidur?" Tanya Sherena membuat Sarah mengepalkan kedua tangan nya menahan amarah dan rasa cemburu saat melihat pria yang dia incar itu tengah bermanja-manja dengan wanita lain.
"Ckk, nanti saja aku kemari kalau dia sudah bangun."
"Tidak perlu, kau mau apa silahkan bicara!" Tegas Darren, tanpa menoleh sedikit pun. Dia sebenarnya tidak tidur, dia hanya ingin tahu sejauh apa wanita itu akan mengusik ketenangan nya dan sang istri.
"Aku ingin.."
"Di pecat? Baiklah, dengan senang hati." Celetuk Darren. Dia bangkit dari tidur nya, dia menatap tajam ke arah wanita yang berdiri di depan nya dengan pakaian ketat yang membalut tubuh nya.
"Pakaian mu, astaga.."
"Aku saja sebagai perempuan merasa malu melihat cara dia berpakaian." Ucap Sherena sambil tersenyum kecil.
"Diam, aku tidak bicara dengan mu!"
"Berani sekali kau membentak istri ku, siapa kau berani melakukan hal itu? Kau mau aku merobek mulut sialan mu itu hah?"
"T-tidak, tapi dia sangat menggangu." Jawab Sarah dengan tidak tahu malu nya.
"Aku? Mengganggu ya? Baiklah, aku keluar dulu." Jawab Sherena. Dia bersiap beranjak dari duduk nya, tapi Darren mencekal tangan nya.
"Jangan, sayang.."
"Selesaikan masalah mu dengan SEKRETARIS mu itu terlebih dulu, Mas. Aku tidak ingin terseret dalam masalah kalian, jadi aku akan pergi. Jika sudah selesai, hubungi saja aku. Maaf, Mas. Aku makan duluan, aku lapar begitu juga bayi kita." Jawab Sherena. Dia pun pergi ke luar ruangan Darren dengan membawa kotak bekal yang tadi nya ingin dia berikan untuk suami nya, tapi ternyata ada hal tak terduga jadi sebaiknya dia saja yang mengalah.
Dia malas kalau harus ikut-ikutan dalam masalah Darren dan Sarah, padahal disini dia tidak bersalah apapun karena Darren juga tidak mencintai wanita itu, hanya saja dulu dia pernah memakai jasa nya karena dia kekurangan kehangatan. Tapi sekarang, dia benar-benar mencintai Sherena, istrinya.
"Apa-apaan wanita itu? Gak tahu malu banget deh." Gumam Sherena, dia masuk ke lift dan berniat untuk pergi ke lantai bawah.
Di ruangan itu, Darren terus saja menatap tajam ke arah Sarah yang terlihat tersenyum kecil menatap ke arah nya.
"Ren.."
"Sudah aku katakan padamu, jangan mengusik ku, Sarah! Apa kau tidak paham?" Tanya Darren dengan suara datar nya.
"Aku mohon padamu.."
"Meskipun kau memohon sambil menangis darah sekali pun, aku tidak akan pernah mau dengan mu. Aku mencintai Sherena dan aku hanya mencintai nya, bukan kau!"
"Dengar, sekarang Sherena sedang mengandung anak ku."
"Ren, tapi.."
"Kau di pecat, pergi dari hadapan ku sekarang. Aku akan membunuh mu dan membuat anak mu menderita jika sampai kau menunjukkan wajah mu di depan ku lagi." Tegas Darren membuat Sarah terdiam.
"Ini bukan sekedar ancaman, jika sampai kau berbuat nekat apalagi menyakiti istri dan calon anak ku, lihat saja. Aku pastikan kepala anak mu kau temukan di dalam tong sampah esok hari."
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻