
"Aku sangat rindu.." Lirih April, membuat Tomi tersenyum kecil dan kembali mengusap-usap punggung sang gadis dengan lembut.
"Kamu tahu, sayang? Proyek ku sudah selesai disana, dan mulai minggu depan aku bekerja di kota ini. Setidaknya, kita bisa bertemu setiap hari meskipun aku bekerja." Jelas Tomi membuat April melerai pelukan nya, dia menatap wajah tampan sang kekasih dengan wajah berbinar. Dia berharap kalau ini bukanlah prank, dia sudah sangat lama menunggu hal ini.
"Beneran, sayang?"
"Iya, baby ku." Jawab Tomi, membuat April bersorak kegirangan. Sangat terlihat jelas kalau dia bahagia karena Tomi bekerja disini. Setidaknya mereka tidak akan melakukan hubungan jarak jauh lagi selama beberapa bulan sampai proyek nya selesai.
"Aaaah, aku sangat senang mendengar nya." Jawab April.
"Kalian mau terus pelukan disitu? Ya, mama sih tahu dan ngerti kalau kalian masih kangen-kangenan, tapi masa gak pegel berdiri terus? Apalagi pacar kamu baru aja sampai disini lho."
"Benarkah?" Tanya April sambil mendongakan kepala nya.
"Iya, aku baru datang dari bandara, langsung kesini, hehe. Kangen soal nya, sama baby kesayangan aku." Jawab Tomi sambil tersenyum, membuat April mencebikan bibir nya.
"Issshh, siapa yang bayi? Aku udah gede ya."
"Ya, tapi kan kamu nya gemesin kayak bayi."
"Nyebelin, gak jadi kangen deh kalo gitu!" Ucap April ketus, membuat Tomi terkekeh.
"Tuh kan bikin gemes, mau aku gigit atau aku cium?" Tanya Tomi sambil memainkan alis nya naik turun dengan genit, membuat wajah April memerah karena malu. Akhirnya, dia pun menggandeng tangan sang kekasih. Kedua nya pun duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tua April.
"Jadi bagaimana tentang niat baik kamu itu, Nak Tomi?"
"Tabungan saya sudah cukup, jadi saya memutuskan untuk menikahi April setelah dia lulus kuliah nanti. Mungkin satu bulan setelah kelulusan nya." Jelas Tomi, membuat kedua mata April membeliak.
"Menikah?"
"Iya, sayang. Tadi kami sedang membicarakan hal ini saat kamu datang." Jawab papa nya April sambil tersenyum kecil.
"Kalian kan udah menjalin hubungan itu cukup lama, jadi mama rasa gak ada salah nya untuk memasuki jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan." Jawab Mama nya, membuat April speechless sekaligus terkejut bukan main. Mimpi apa dia semalam? Sampai harus di lamar secara mendadak seperti ini.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana pendapat mu, sayang?" Tanya Tomi, dia juga harus meminta persetujuan sang kekasih bukan?
"Aku setuju-setuju aja kok, kalau kamu mau nikahin aku, ya kenapa enggak gitu." Jawab April dengan yakin, tidak ada keraguan sedikit pun dari tatapan mata nya.
"Aahh syukurlah kalau begitu, senang mendengar nya." Ucap Tomi, dia gemas dengan sang gadis lalu mencubit pelan kedua pipi kemerahan sang gadis.
"Baiklah, kalian mengobrol saja dulu. Mama sama Papa mau ke dapur."
Kedua nya pun mengangguk cepat, orang tua April pun meninggalkan kedua sejoli itu di ruang tamu. Sebagai orang tua, mereka memang harus mengawasi putri mereka dan kekasih nya. Tapi tetap saja, mereka berdua butuh privasi. Bisa jadi mereka akan mengobrol tapi malu karena keberadaan mereka, untuk itulah mereka memberikan waktu pada kedua nya.
"Sayang, kenapa kamu gak bilang mau pulang?"
"Sengaja biar jadi kejutan." Jawab Tomi sambil terkekeh pelan.
"Selamat, kamu berhasil buat aku terkejut melihat keberadaan kamu, sayang." Jawab April dengan manja.
"Hmm, maafkan aku ya? Mungkin kamu kurang kasih sayang dari aku, tapi percayalah aku bekerja seperti ini demi masa depan kita berdua."
"Iya, aku percaya sama kamu kok. Terimakasih karena sudah memperjuangkan aku, sayang." Jawab April, dia menyandarkan kepala nya di pundak Tomi. Pria itu mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut.
"Kunci dari sebuah hubungan itu adalah kepercayaan kan? Aku hanya perlu percaya sama kamu, kamu juga begitu kan?" Tanya April, Tomi menganggukan kepala nya.
"Selamat, karena kita berdua berhasil melewati semua ini bersama. Untuk ke depan nya, mari kita saling menguatkan dan mengingatkan jika salah satu dari kita melakukan kesalahan." Celoteh April panjang lebar, membuat Tomi langsung meraih April ke dalam pelukan nya.
"Aku mencintai mu, sayang."
"Bahkan aku lebih mencintai mu, sayang." Balas April sambil melingkarkan tangan nya di pinggang sang kekasih. Gadis itu mendongak, lalu menarik tengkuk Tomi hingga bibir mereka bersentuhan.
"Aku kangen, boleh ya?"
"Boleh, sayang." Jawab Tomi, dia pun kembali mencium bibir April dengan lembut. April terlihat sangat menikmati ciuman sang kekasih, terlihat dari cara nya membalas lumaatan yang di lakukan oleh Tomi dengan kedua mata yang terpejam. Tangan Tomi tetap mengusap-usap punggung April, inilah yang membuat April merasa nyaman dengan Tomi.
Meskipun jarang sekali untuk bisa bertemu dan Quality Time berdua, tapi sekali nya bertemu ya pasti begini. Bucin abis, Tomi selalu memperlakukan nya dengan baik, bak ratu. Dia memang memberikan semua yang terbaik versi dirinya pada Meysa.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang. Rasa bibir mu masih sama seperti dulu, sama sekali tidak ada yang berubah. Manis." Bisik Tomi, membuat wajah April memerah. Dia memang agak sedikit agresif, tapi tidak apa-apa itu sebuah kewajaran bukan? Karena cinta tanpa nafssu itu bohong.
"Hmm, aku merindukan yang ini juga, hehe." Ucap April sambil mengusap pelan sesuatu yang ada di balik celana Tomi.
"Besok saja ya? Aku lelah hari ini, lagi pun di rumah mu ada Mama sama Papa."
"Malam ini nginep disini aja ya?" Tanya April. Sudah biasa bagi Tomi, setiap pulang ke kota kelahiran nya ini, dia pasti akan menghabiskan beberapa hari di rumah sang kekasih, menginap dan bermanja mumpung ketemu.
"Iya, sayangku."
"Movie date? Kebetulan ada film yang belum aku tonton, yang."
"Of course, anything for you." Jawab Tomi, membuat April kembali memeluk sang kekasih dan menyandarkan kepala nya di dada bidang sang kekasih dengan manja.
Sedangkan di tempat lain, Sherena sedang bermesraan juga bersama dengan sang kekasih, Darren. Pria itu tengah msngusap-usap kepala Sherena yang sedang terbaring di pangkuan nya.
"Mama sama Papa kamu, kapan pulang nya?"
"Gak tahu, yang. Memang nya kenapa? Kamu gak suka aku tinggal disini?" Tanya Sherena membuat Darren terkekeh pelan. Bukan itu maksud nya, dia hanya bertanya saja tapi Sherena malah salah paham dengan pertanyaan nya.
"Bukan begitu, sayang ku. Kamu ini selalu aja cepat menyimpulkan sesuatu tanpa dengar penjelasan dulu isshh."
"Hehe, ya terus kenapa nanya gitu?"
"Wajar gak sih? Cuma nanya doang ini." Jawab Darren, Sherena pun tertawa lalu menyembunyikan wajah nya di perut rata sang kekasih dan menduselkan wajah nya disana.
Merasa belum puas, Sherena mengangkat pakaian sang pria dan mengecupi perut sixpack itu dengan gemas, tanpa dia tahu kalau itu sangat berbahaya.
"Sayang, kamu harus di hukum."
"H-aahhh?"
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻