
"Rin.." Panggil Sherena. Saat ini kedua nya sedang berada di ruangan ganti pakaian, karena acara nya sudah selesai dan sekarang mereka harus berganti pakaian sebelum pulang. Kebetulan, Arina berbarengan dengan Sherena. Sedangkan Meysa, dia sudah pulang duluan bersama Andy karena orang tua Andy ngotot ingin bertemu dengan Meysa.
"Iya, Sher.." Jawab Arina dengan senyum kecil nya. Sungguh demi apapun, senyuman itu sedikit menyakitkan bagi Sherena, apalagi saat dia melihat sorot mata Arina. Membuat nya tidak tega.
"Yakin, gak mau cerita sama aku?" Tanya Sherena sambil menepuk pundak Arina.
"Waktu nya gak tepat sekarang, aku gak mungkin berbagi masalah di hari bahagia temen aku." Jawab Arina, lagi-lagi dia tersenyum. Senyuman yang membuat Sherena yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh sahabat nya ini.
"Baiklah, kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita. Gue sama April emang udah nikah, Meysa juga akan menyusul sebentar lagi. Jadi Lo jangan ngerasa canggung sama kita hanya karena kita udah punya suami. Kita bakalan selalu ada buat Lo, Rin."
"Tentu, makasih banget buat kalian karena selalu ada buat gue. Maaf, untuk sekarang gue belom siap cerita, Sher."
"Gapapa, gue yakin Lo pasti punya alasan. Apapun itu, gue bakalan selalu ada buat Lo." Jawab Sherena membuat Arina menganggukan kepala nya secara perlahan lalu menghambur memeluk Sherena. Perempuan itu menerima pelukan sahabat nya, membalas pelukan nya tak kalah erat sambil mengusap-usap punggung sang sahabat yang tengah mengalami banyak masalah.
"Gue yakin, Lo pasti bakalan kuat."
"Iya, dong. Gue pasti kuat karena gue punya sahabat kayak Lo sama yang lain." Jawab Arina sambil tersenyum manis. Sherena juga ikut tersenyum, akhirnya kedua nya pun berganti pakaian bersama-sama dengan saling membantu sama lain. Kalau sudah bestie an, gak bakalan ada kata malu sih ya, ganti baju barengan gini sudah biasa dan merupakan hal yang wajar bagi gadis yang berteman dekat rasa sodara seperti ke empat gadis itu.
Di luar, Andy tidak jadi pergi karena ternyata Meysa malah mabuk. Mungkin karena kelelahan setelah beraktivitas seharian dan turut andil dalam kesibukan di pernikahan sahabat nya. Jadi, dia hanya mengantarkan gadis itu ke rumah nya lalu dia kembali ke tempat ini.
Kedua pria dewasa itu kompak menatap Marvin yang terlihat sangat kusut, wajah nya terlihat seperti kelelahan, belum lagi luka lebam yang terlihat jelas di wajah nya, tepat nya di pipi bagian kanan. Terlihat jelas kalau itu bukan sebuah bekas biasa, itu adalah bekas tamparan dan pukulan, bahkan disana terlihat jelas ada cap lima jari yang tercetak jelas.
"Vin, Lo okay?"
"Yes, i'm okay." Jawab Marvin sambil memaksakan senyum nya pada Darren, membuat pria itu mengernyitkan kening nya. Dia merasa ada yang tak beres dengan Marvin, gaya bicara nya yang biasa nya tengil kini tidak ada lagi. Pemuda itu hanya bicara secukup nya saja, tapi yang paling membuat penasaran adalah luka di pipi kanan nya. Siapa yang memukul Marvin? Tak mungkin kedua orang tua nya, bukan?
"Jangan berbohong di depan ku, Vin. Aku tahu bagaimana sifat kau, jadi kau takkan bisa membohongi ku semudah itu!" Tegas Darren membuat Marvin mendongakan wajah nya.
"Hmm, ya. Seperti yang sudah kau tahu, aku memang tidak baik-baik saja." Jawab Marvin lirih, bahkan sangat lirih.
"Cerita padaku, kau kenapa?"
"Apa kau mau mendengar cerita yang mungkin memuak kan ini, Om?"
"Ckkk, aku masih terlalu muda untuk di panggil Om, Vin." Darren berdecak kesal karena seperti biasa, Marvin selalu memanggil nya dengan panggilan Om. Padahal, dia belum setia itu dan lagi dia tidak menyukai panggilan itu sama sekali.
"Abang, aku akan memanggil kalian berdua Abang kalau begitu."
"Itu terdengar sedikit lebih baik, meskipun aku tak mau punya adik seperti dirimu sebenarnya." Celetuk Andy sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Jadi, kau kenapa dan apa yang terjadi padamu, Vin?"
"Kejadian nya sekitar sepuluh hari yang lalu, hari itu aku pulang dari rumah kontrakan Arina siang hari."
"Sepuluh hari? Apa saat kita bertemu di sekolah?" Tanya Andy lagi, sedangkan Darren hanya diam saja, mungkin menyimak pembicaraan Marvin yang malah terpotong oleh Andy.
"Iya, betul. Hari itu aku mengambil rapor kelulusan dan juga ijazah dari sekolah. Aku menginap di kontrakan nya Arina, biasalah ya anak muda. Keesokan hari nya, aku pulang siang apa sore gitu. Terus ternyata di rumah tuh ada seseorang yang paling aku benci, lengkap sama orang tua penjilat nya."
"Lalu?"
"Aku tak tahu apa yang dia katakan sampai-sampai orang tua ku marah-marah, bukan marah lagi tapi murka. Tapi ternyata, setelah aku dengarkan lagi, tiba-tiba saja dia mengaku kalau sedang mengandung anak ku."
"H-aahh? Apa maksud mu? Kau tak mungkin berhubungan badan dengan perempuan lain selain dengan Arina, bukan?" Tanya Darren. Akhirnya dia mengeluarkan suara nya.
"Tidak, aku berani bersumpah, Bang. Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan wanita mana pun kecuali Arina, bahkan dengan mantan pacarku dulu, paling jauh kami hanya berciuman, itu saja. Setahuku, hanya bertukar air liur itu tidak membuat hamil kan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, tapi kalau air liur yang bawah mungkin iya." Jawab Andy dengan wajah datar nya.
"Tidak, Arina adalah yang pertama. Kami sama-sama melakukan nya untuk pertama kali, aku bahkan masih ingat dengan rasa nya."
"Ckkk, lanjutkan cerita mu. Jangan bercerita tentang pengalaman mu menjebol gawang Arina!" Tegas Darren membuat Marvin tersenyum kecil, namun seketika dia meringis karena dia juga memiliki luka di sudut bibir nya akibat pukulan yang di layangkan sang ayah padanya.
"Jujur saja, aku terkejut hari itu. Akhirnya sore itu aku kembali pergi dari rumah dan sebagai pelampiasan, aku pergi ke rumah Arina lagi. Arina pasti terkejut kan? Jelas. Tapi apalagi aku? Aku tidak melakukan apapun dengan nya, tapi tiba-tiba saja dia datang dan mengaku sedang mengandung anak ku? Kocak, tapi bikin kacau, Bang."
"Malam hari nya, kedua orang tua ku datang ke rumah Arina dan menyeret ku pulang. Arina terlihat terkejut, jujur aku sangat sakit saat melihat dia menangis. Dia terus memanggil nama ku dan bertanya ada apa yang terjadi, tapi dengan jahat nya ibu ku malah menampar Arina hingga membuat wajah nya terhuyung ke samping dan itulah luka yang kalian lihat sekarang."
"Lalu?"
"Aku pulang dan menanyakan ada apa, tapi ayah malah melayangkan pukulan nya disini, dia juga menampar ku. Semua fasilitas ku di ambil, bahkan ponsel ku juga di sita. Hari ini aku datang kesini saja, kabur dari rumah. Makanya aku hanya memakai pakaian seadanya seperti ini."
"Jadi, siapa wanita itu?"
"Nama nya Mecca, dia memang mantan kekasih ku. Tapi itu sudah lama, kami putus saat aku masuk sekolah menengah atas dan dia juga pergi ke luar negeri. Jadi, itu terasa sedikit aneh bukan? Disini, bukan aku yang memutuskan hubungan dengan nya, tapi dia."
"Mecca? Tunggu, nama nya tidak asing bagiku." Jawab Darren sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu. Nama Mecca terdengar seperti familiar bagi Darren, tapi dia masih lupa dimana dia mendengar nama wanita itu.
"Apa kau bisa menolong ku, Bang? Aku tidak bisa melepaskan Arina, aku punya tanggung jawab yang harus aku tunaikan pada Arina. Aku sudah mengambil kesucian nya, mana mungkin aku bisa menikah dengan wanita lain. Sedangkan disini, aku tidak bersalah sama sekali." Lirih Marvin membuat Darren tersenyum kecil.
Dia suka dengan sikap Marvin yang terdengar seperti pria dewasa yang gentel, dia pemuda yang bertanggung jawab dan juga berani mengakui kesalahan nya. Jadi, tidak ada salahnya kalau dia membantu pemuda itu, bukan? Lagi pula, dia juga tahu kalau respon istrinya juga tidak akan jauh seperti ini. Jadi, sebaiknya dia akan membantu nya saja.
"Baiklah, kau ingin meminta bantuan ku, bukan?"
"Tentu saja, aku minta tolong padamu. Sungguh, aku merasa putus asa saat ini. Aku sangat mencintai Arina, aku tidak ingin melepaskan nya." Lirih Marvin dengan suara nya nyaris tidak terdengar.
"Baiklah, setelah ini kau harus bekerja bersama ku. Aku dengar, kau tak ingin bekerja di perusahaan ayah mu, bukan? Kau bisa bekerja bersama ku, di perusahaan ku." Jawab Darren sambil tersenyum kecil.
"Andy, selidiki wanita bernama Mecca itu dan juga orang tua nya. Apakah orang tua pebisnis atau bukan, kalau mereka pebisnis jangan pernah terima kerja sama dengan nya!"
"Terimakasih banyak.."
"Aku tidak keberatan menganggap mu sebagai sodara ku, Marvin." Ucap Darren membuat Marvin tersenyum. Kedua mata nya terlihat berkaca-kaca dan akhirnya menetes begitu saja, dia menangis karena terharu. Darren benar-benar datang membantu nya, tanpa banyak bicara tapi saat mengetahui permasalahan yang tengah melanda nya, dia langsung sigap menolong tanpa basa-basi.
'Sekarang, aku paham kenapa Sherena lebih memilih Darren. Ternyata dia memang pria yang sangat baik.' Batin Marvin sambil menatap wajah Darren.
"Hey, jangan menangis. Laki-laki gentel tidak menangis, Vin."
"Maaf, aku hanya terharu dengan kebaikan mu, Bang."
"Sesama manusia, kita memang harus saling membantu, bukan? Lagi pula, kekasih mu adalah sahabat istriku. Jadi aku rasa, respon istriku saat mendengar masalah mu ini, tidak jauh berbeda dengan ku sekarang."
"Terimakasih banyak, Bang. Aku akan selalu mengingat nya, terimakasih."
"Jangan terlalu sering berterimakasih, aku sedikit merasa besar kepala karena sudah berjasa dalam hubungan mu." Jawab Darren sambil terkekeh. Marvin mengusap air mata nya, lalu mengangguk dan ikut terkekeh saat mendengar ucapan Darren yang sedikit menghibur hati nya sekarang.
"Untuk saat ini, kau tinggal bersama ku bawa Arina juga. Aku yakin, begitu mereka menyadari kau pergi dari rumah, mereka pasti akan langsung mencari mu ke rumah kontrakan Arina."
"Tapi.."
"Rumah ku luas, jangan khawatir aku tidak akan mendengar suara-suara erotis mu."
"Hah, kok gitu Bang?"
__ADS_1
"Udah berapa lama kalian gak ketemu? Yakin gak mau temu kangen hmm?" Tanya Darren sambil memainkan alis nya naik turun, lengkap dengan senyum menggoda nya membuat Marvin tersenyum kecil. Ya, jujur saja dia sangat merindukan kekasih nya, tapi kalau semisal mau berhubungan di rumah orang itu akan malu gak sih rasanya? Udah nginep, di tampung di rumah orang, malah berbuat gak senonoh.
"Gak usah segan, Vin. Anggap saja aku Abang mu, tidak masalah. Memiliki adik seusia istriku tidak terlalu buruk juga." Ucap Darren yang lagi-lagi membuat pemuda itu tersenyum malu. Selain malu dia juga merasa tidak enak pada Darren, kalau sudah mengenal Darren, pasti siapapun akan mengetahui kalau Darren adalah pria yang baik hanya saja sering tersamarkan oleh wajah nya yang terlihat jutek dan datar. Saking datar nya, dulu Sherena memanggil Darren si muka tembok.
"Yaudah, okay. Gue bakalan main sepuluh ronde malam ini." Jawab Marvin sambil tertawa.
"Dih, gue gak masalah sih tapi nasib si Arin gimana? Aku yakin dia takkan bisa berjalan esok hari."
"Hahaha.." kedua pria itu pun tertawa bersama. Tak lama kemudian, kedua perempuan itu keluar dari ruang ganti bersama. Kedua nya langsung beranjak dari duduk mereka dan menyambut pujaan hati masing-masing.
"Sayang, hari ini kita ikut ke rumah Bang Darren ya?"
"Lho kenapa memang nya?"
"Gapapa kok."
"Jadi, Arin mau nginep di rumah kita, Mas?" Tanya Sherena. Darren menganggukan kepala nya pelan.
"Asik, aku ada temen nya dong." Ucap Sherena dengan antusias. Seringkali dia merasa bosan saat berada di sendirian, tidak sendirian sih ada kedua orang tua nya, tapi tetap saja dia merasa bosan berada di rumah tanpa mengerjakan apapun karena kedua orang tua dan juga suami nya melarang keras dirinya, bahkan untuk sekedar beberes rumah.
Ke empat nya pun keluar dari gedung itu, tapi siapa sangka ternyata di luar sudah ada kedua orang tua Marvin yang menatap putra nya dengan tajam.
"Pantas saja kau berani lari dari rumah, ternyata kau kesini hah?" Bentak Rama, ayah dari Marvin.
"Papi.." Lirih Marvin, dengan cepat dia menyembunyikan tubuh Arina di belakang tubuh nya. Mereka boleh menyakiti fisik nya, tapi tidak boleh menyakiti Arina karena dia tidak bersalah apapun.
"Sudah papi bilang, putuskan hubungan mu dengan Arina dan bertanggung jawablah atas bayi yang ada di kandungan Mecca, Marvin."
"Benar, jangan menjadi pengecut, Vin. Jadilah pria yang bertanggung jawab, kau tak bisa menyakiti dua perempuan tak bersalah sekaligus." Ucap Sintia, ibu nya Marvin.
"Sudah berapa ratus kali aku bilang, aku tidak pernah melakukan apapun dengan wanita itu. Kami sudah lama lost contact sejak dia pergi ke luar negeri, Pi. Tolong percaya sama Marvin, kali ini saja."
"Percaya apa lagi hmm? Sudah cukup papi menahan malu karena ulah mu itu, Vin. Cukup, sekarang pulang dan akhiri hubungan mu dengan Arin!"
"Tidak, apapun alasan nya Marvin gak bakalan putus sama Arin. Marvin cinta sama Arina, Pi."
"Pulang sekarang, Marvin! Jangan jadi anak pembangkang atau nama mu Mami coret dari kartu keluarga hah?" Ucap Sintia membuat kedua bola mata Marvin membuat tapi sedetik kemudian dia tersenyum.
"Baiklah, aku tidak keberatan. Aku laki-laki, aku masih bisa bekerja untuk hidup."
"Benarkah? Kau takkan bisa apa-apa tanpa campur tangan Papi, Marvin!"
"Kata siapa? Aku bisa bekerja di tempat lain, Pi. Aku tidak mau mempertanggung jawabkan sesuatu hal yang sama sekali tidak aku lakukan." Jawab Marvin lagi membuat Rama naik pitam. Dia berjalan mendekat dan berniat untuk melayangkan sebuah pukulan ke wajah putra nya.
Namun, niat itu terhalang karena ada sebuah tangan kekar yang menahan tangan yang sudah terkepal erat itu dengan cepat. Darren menatap pria paruh baya itu dengan tajam, dia tidak suka melihat cara nya mendidik putra nya.
"Cukup, anda tidak melihat luka di wajah anak mu masih belum sembuh lalu kau akan menambah nya lagi? Apakah tidak ada sedikit saja kepercayaan mu pada putra mu sendiri?"
"Siapa kau? Kau tidak berhak ikut campur urusan ku dan anak ku!"
"Tentu aku berhak, karena Marvin adalah teman ku dan terlebih kau melakukan kekerasan pada anak mu tepat di depan ku. Tidak kah anda merasa sikap anda ini sudah sangat di luar batas kewajaran? Saya paham, anda ingin mendidik putra anda tapi tidak begini cara nya."
"Apa anda tidak mendengar kalau Marvin mengatakan kalau dia tidak bersalah? Bagaimana bisa, anda lebih percaya pada orang asing di bandingkan putra anda sendiri?" Tanya Darren yang membuat Rama maupun Sintia langsung terdiam seketika.
Bruk..
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻