Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 56 - Darren Manja


__ADS_3

Darren tersenyum saat dia terbangun, dia melihat kalau Sherena masih ada di dalam pelukan nya, gadis cantik itu terlihat sangat nyaman berada di dalam dekapan hangat sang pria. Dia mengecup kening Sherena dengan mesra, lalu mengusap-usap nya dengan lembut. 


"Dia tidur nyenyak sekali." Gumam Darren, dia pun melihat ke arah luar, hujan deras masih melanda. Terkadang ada petir yang menyambar, membuat tangan Sherena memeluk erat pinggang nya. Melihat reaksi Sheren saat mendengar bunyi petir, Darren langsung tahu kalau gadis nya ini pasti takut dengan suara petir. 


"Tidak apa-apa, sayang. Ada aku disini." Bisik Darren tepat di telinga Sherena. Gadis itu pun kembali tertidur dengan nyenyak di dalam dekapan hangat sang pria.


Hari sudah hampir petang, tapi gadis itu masih belum bangun juga dari tidur nyenyak nya. Darren juga tidak tega untuk membangunkan tidur sang gadis, akhirnya dengan berat hati, dia pun membangunkan sang gadis secara perlahan. 


"Sayang, bangun.." ucap Darren lirih, tapi gadis itu tidak kunjung bangun juga. 


"Sayang.."


"Enghh, apa yang?" Tanya Sherena, dengan suara serak khas bangun tidur nya, tapi mata nya masih tertutup. 


"Sudah sore, yang."


"Hmmm, tapi aku masih ngantuk ini." Jawab nya lagi, terdengar seperti sedang merengek. 


"Apa kamu gak lapar, sayang? Aku sih, laper yang." Ucap Darren yang membuat Sheren segera membuka kedua mata nya, meskipun dia masih merasa sangat mengantuk, dia pun memaksakan diri untuk membuka mata nya. 


"Maaf ya, aku lupa kalau kita belum makan siang." 


"Gapapa, sayang ku." Jawab Darren sambil mengusap manja kepala Sheren lalu mengecup nya dengan lembut. 


Sherena pun menduselkan wajah nya di dada bidang Darren yang wangi dan hangat, membuat nya merasakan kenyamanan disana. Gadis itu menghirup dalam-dalam aroma yang menyegarkan bagi nya, gadis itu juga menyusupkan tangan nya ke dalam kaos yang di kenakan oleh Darren untuk mengusap-usap perut kotak-kotak Darren. 


"Sayang, geli.."


"Sebentar aja, yang." Pinta Sherena sambil mendongak menatap wajah tampan Darren.


"Tapi, apa kamu gak sadar kalau gerakan kamu bikin si junior bangun, sayang? Kamu mau bantu aku menidurkan nya? Baiklah kalau begitu, lakukan saja." Ucap Darren yang membuat Sherena segera menarik tangan nya dari perut Darren, tapi sialnya tangan pria itu lebih cepat dari Sherena. Dia mencekal tangan gadis itu, lalu meletakan nya di junior nya, menggerakan nya ke atas dan ke bawah dengan perlahan. 


Tentu saja itu membuat Sherena meronta, dia tak mau menyentuh benda itu. Tapi tenaga nya kalah jauh dengan tenaga Darren yang notabene nya seorang pria dengan hobi olahraga saat ini. 


"Sayang, rasa nya aneh."


"Aneh bagimu, tapi enak bagi ku, sayang." Jawab Darren, mata nya merem melek menikmati usapan lembut dari jemari lentik sang gadis. 


"Sudah ya, aku mau masak dulu buat makan siang kita yang sudah sangat terlambat ini." Ucap Sherena, padahal dia ingin menghindari Darren yang saat ini mesuum nya sedang mode on. 


"Kamu mau masak atau mau menghindar, sayang?" Tanya Darren dengan senyum nakal nya. Pria itu mendekatkan wajah nya dan mengecup bibir Sherena singkat.


"Sayang, kamu kalau sedang mode mesuum gini nakutin tau gak?"


"Nakutin dimana nya, hmm?" Tanya Darren sambil membelai wajah Sherena, tapi kalau tangan gadis itu menjauh dari celana nya, dia langsung mencekal nya dan kembali meletakan tangan gadis itu di atas milik nya yang hanya terhalang celana chinos yang dia kenakan. 


"Ya, nakutin aja sih."


"Hahaha, sayang. Kamu ini tuh malah bikin gemes, tau gak?" Tanya Darren, Sherena refleks menggeleng. Membuat pria itu terkekeh, karena lagi-lagi tingkah sang gadis sangat menggemaskan bagi nya. 


"Kenapa? Kok malah ketawa, ada yang lucu?" Tanya Sherena, dia heran karena saat bersama nya pria ini sering sekali tertawa tanpa sebab yang jelas dan itu membuat nya kebingungan, tak mungkin kalau Darren memiliki riwayat penyakit kejiwaan bukan? Masa iya ganteng-ganteng gini gila, kan gak mungkin. 


"Gak ada hal yang lebih lucu dari pada kamu, sayang."


"H-aahh??" Tanya Sherena dengan wajah terkejut nya. Begini saja membuat Darren tersenyum, dia pun memeluk Sherena dengan erat. Benar, untung saja dia menuruti perintah asisten nya untuk belajar menerima kenyataan dan mulai membuka hati untuk perempuan lain. Kalau kehidupan masih stuck di satu tempat, niscaya sampai kapan pun tidak akan mendapatkan kebahagiaan. 


Inilah yang dia dapatkan setelah berhasil melupakan kenangan buruk dengan mantan istri nya. Dia sudah cukup bahagia bersama Sherena sekarang, gadis cantik yang tinggal di seberang rumah nya kini menjadi gadis kesayangan nya, meskipun awalnya dia merasa sedikit jengkel dengan gadis kecil yang selalu saja mengejar nya. 


Tapi sekarang, semuanya berbalik. Dia malah bucin abis dengan gadis kecil itu. Bukankah cinta memang tidak bisa di tebak? Jangan ingat-ingat tentang perbedaan usia mereka, selama kedua nya bahagia tidak ada kata lain selain mendukung. Benar bukan? Lagi pula, Sherena memang lebih menyukai pria yang lebih dewasa dari nya, agar bisa membimbing dirinya. 


"Malah bengong, kamu sadar gak sih kalau kamu itu gemesin, hmmm?" Tanya Darren, Sherena menggelengkan kepala nya. Dia mana tahu kalau dirinya menggemaskan? Dia tidak ingin terlalu percaya diri dengan mengatakan sendiri kalau dirinya menggemaskan, tapi ya kalau pujian itu keluar sendiri dari mulut sang gadis, Sherena dengan senang hati menerima. 


"Kamu tuh gemesin banget, apalagi ini pipi nya gembung kayak bakpau." Ucap Darren sambil mengunyel-unyel kedua pipi Sherena hingga memerah, membuat gadis itu meringis karena sakit.


"Sakit.." 

__ADS_1


"Maafkan aku, sayang. Ya habis nya kamu tuh gemesin."


"Dihh, nyebelin." Celetuk Sherena sambil mendelik ke arah sang pria. 


"Nyebelin-nyebelin gini, kamu pernah ngejar-ngejar aku, sayang."


"Isshhh, sudahlah. Aku mau masak dulu, mau di masakin apa?" Tanya Sherena sambil bangkit dari rebahan nya. Dia menarik tangan nya dari area sensitif milik Darren. 


"Capcai, bisa gak?" Tanya Darren.


"Sebentar, aku nyari dulu resep nya di internet." Jawab Sherena, dia pun mengambil ponsel nya dari atas meja dan mencari resep membuat capcai seafood. Darren tersenyum, gadis nya ini sangat penurut. Dia ingin memasak makanan yang di inginkan oleh orang yang dia cintai, saking ingin memasakan nya dia sampai mencari resep nya di internet. 


"Ketemu, yang?"


"Ketemu dong." Jawab Sherena sambil tersenyum, dia pun pergi ke dapur untuk memasak. Sedangkan Darren, dia menikmati pemandangan yang sangat menyejukkan hati nya itu. 


Jujur saja, dia merasa kalau Sherena seperti istri nya. Mereka memang terlihat seperti pasangan suami istri, kedua nya baru saja bangun dari tidur nyenyak berduaan dengan saling memeluk satu sama lain. Lalu setelah bangun, Sherena langsung gercep memasak makanan untuk makan siang. 


"Calon istri idaman.." Gumam Darren sambil tersenyum simpul, dia pun beranjak dari tiduran nya, lalu berjalan pelan ke dapur. 


"Sayang, aku bantuin?" Tanya Darren, Sherena berbalik lalu tersenyum kecil. 


"Potongin sayuran nya ya, aku mau nyuci cumi sama kerang nya." 


"Oke, sayang." Jawab Darren, dia pun mengambil sayuran nya seperti buncis dan bunga kol, lalu ada juga kacang polong yang harus di potong ujung nya, seperti yang sudah di contohkan oleh Sherena. Darren pun memotong nya dengan hati-hati, tapi baru saja dia memotong satu buncis, tangan nya malah terluka.


"Awwhss.." Darren mengipas-ngipas tangan nya yang terkena pisau, gadis itu langsung mendekat begitu dia mendengar Darren meringis.


"Sayang, isshh nanti darah nya nyiprat kemana-mana." Ucap Sherena.


"Hehe, maafin ya, sayang."


"Dimana obat merah?"


"Sayang.."


"Sudah, ini cara paling ampuh untuk menghentikan darah nya." Jawab Sherena sambil tersenyum. Benar saja, darah nya berhenti mengalir. Pria itu pun kembali meringis saat Sherena meneteskan obat merah di tangan Darren, lalu membalut luka nya dengan plester. 


"Sayang, terimakasih.."


"Sama-sama, sudah kamu gak usah bantuin. Terima beres aja ya?"


"Iya, sayang. Maaf ya gak bisa bantuin kamu, malah ngerepotin." Ucap Darren saat melihat sherena mengelap lantai yang terkena percikan darah tadi.


"Gapapa kok, siapa yang bilang kamu ngerepotin aku? Enggak tuh." Jawab Sherena sambil tersenyum. Setelah selesai, dia pun mencuci lap nya dan menggantung nya di gantungan khusus lap tangan. 


Setelah itu, dia pun kembali duduk di kursi dan memotong-motong sayuran nya. Meskipun dia juga baru belajar, tapi ya dia cukup ahli di bandingkan dengan Darren. Setidaknya, dia bisa memotong sayuran nya tanpa teriris. 


"Sayang.."


"Iya, kenapa?"


"Kamu lagi simulasi jadi istri yang baik ya?" Tanya Darren sambil tersenyum, dia menumpukan dagu nya dan menatap Sherena dengan senyuman manis nya. 


"Hehe, iya. Kan setelah lulus, kamu janji mau nikahin aku. Iya kan?"


"Haha, iya sayang." Jawab Darren, seperti nya dia memang sudah sangat serius untuk meminang Sherena menjadi istrinya. 


"Aku bisa kuliah setelah menikah nanti, kalau gak keburu hamil. Kalo hamil ya, gak usahlah. Soalnya aku bakalan sibuk ngurusin kamu sama anak kita nanti." Ucap Sherena membuat Darren Lagi-lagi tersenyum kecil. 


Sherena begitu dewasa di bandingkan dengan usia nya yang masih sangat muda, bahkan dia belum lulus sekolah tapi dia bisa berpikir bijak, memikirkan masa depan nya dengan baik. Darren bangga karena memiliki Sherena di samping nya, dia sangat bersyukur karena membiarkan gadis itu mendekati nya dan akhirnya dia paham, kalau cinta itu tidak mengenal jarak usia. Yang di perlukan hanyalah perasaan cinta yang sama dan kebahagiaan yang sama-sama mereka dapatkan saat bersama. 


Singkatnya, Sherena pun mulai memasak capcai pesanan Darren. Setelah matang, pria itu pun langsung makan dengan lahap. Bahkan lagi-lagi, dia sampai nambah dua kali saking lahap nya. Apapun yang di masak Sherena, pasti nya selalu enak bagi Darren karena di dalam nya terdapat bumbu rahasia, yakni taburan bubuk-bubuk cinta. Hingga membuat cita rasa makanan yang di masak oleh Sherena jauh lebih nikmat. 


"Makan yang banyak, sayang."

__ADS_1


"Iya, sayangku. Masakan kamu selalu enak, makasih ya."


"Sama-sama, sayang. Kamu suka?" Tanya Sherena, dia juga ikut makan. Tapi, satu piring saja belum habis, tapi Darren sudah menambah dan ini adalah piring kedua nya. 


"Suka banget, ini kok bisa enak banget ya?"


"Gak tahu, tapi mungkin karena aku bikin nya dengan ekstra cinta, jadinya enak kali ya." Jawab Sherena sambil terkekeh pelan. Begitu juga dengan Darren, dia tergelak saat mendengar jawaban sang gadis. Tapi benar, rasa masakan Sherena memang enak, beda lagi kalau orang lain yang memasak nya. Ya karena Sherena memiliki bumbu rahasia di setiap masakan nya. 


"Iya, kamu punya bumbu rahasia."


"Yaudah, habisin makan nya, sayang." Jawab Sherena, Darren pun mengangguk dan kembali makan dengan lahap. 


Setelah selesai, Sherena pun membereskan meja dan kembali mencuci piring nya, setelah itu dia pun berpamitan untuk pulang. Tapi, Darren malah cemberut. Dia tidak suka saat mendengar ucapan Sherena.


"Sayang, aku sudah selesai beres-beres. Sekarang, aku pulang dulu ya?"


"Gak boleh." Bujuk Darren sambil menggerakan lengan nya ke kanan dan ke kiri. Gadis itu pun malah terkekeh melihat Darren yang sedang mode manja saat ini. 


"Kok gak boleh sih? Kenapa?" Tanya Sherena. 


"Aku sendirian dong."


"Ya iya, kan biasa nya juga kamu sendirian." Jawab Sherena. 


"Sekarang, aku mau nya sama kamu, yang." Pria itu terlihat merengek, membuat Sherena tak tahan, dia ingin tertawa melihat wajah melas sang pria. 


"Kita kan belum menikah, sayang. Jadi gak boleh satu rumah dulu."


"Yaudah, kita nikah besok aja gimana?" Tanya Darren, membuat Sherena refleks menggeplak manja lengan besar sang pria.


"Aaasshh, sakit.." pria itu meringis, karena pukulan Sherena ternyata cukup menyakitkan juga. 


"Rasain tuh.."


"Kamu kenapa sih? Di ajakin nikah malah mukul, emang aku salah ya?" Tanya Darren.


"Salah dong, ngajakin nikah kayak orang ngajak main aja. Semua nya gak semudah itu kali, yang."


"Ya, terus? Aku mau serumah sama kamu, emang kamu gak mau?" Tanya Darren, membuat Sherena menepuk pelan kening nya. Kok Darren nya jadi begini ya? Kemana Darren yang awalnya dingin dan jutek itu? Sekarang dia malah mendapatkan Darren yang manja dan tukang merengek kalau keinginan nya tidak terpenuhi. 


"Ya mau, tapi gak sekarang juga, sayang. Aku masih sekolah, sabar dulu napa? Tinggal dua bulan lagi, tunggu aku lulus sekolah dulu ya?" 


"Tapi kan dua bulan itu lama, yang."


"Ya, sabar dong. Buah dari kesabaran itu manis lho." Ucap Sherena sambil mengusap lembut wajah Darren. 


"Yaudah deh, aku ngalah lagi nih?"


"Haha, ya itu resiko kamu pacaran sama anak sekolahan." 


"Hmmm, ya kamu nya yang mulai. Jadi nya aku keterusan sampe bucin gini, gak mau jauh dari kamu, yang." Ucap Darren lirih, sambil mengerucutkan bibir nya. 


Sherena gemas sendiri melihat tingkah Darren yang memang sangat menggemaskan, tidak ada lagi Darren yang jutek sekarang, yang ada hanya Darren yang seperti ini. Sheren mencapit bibir Darren yang mengerucut itu.


"Kamu nya aja terlalu bucin sama aku, yang. Jadinya ya gini." 


"Iya-iya, nyesel aku udah jutekin kamu, yang. Kalau tahu akhirnya bakalan sebucin ini sama kamu." Jawab Darren membuat sherena tertawa. 


Akhirnya, setelah dengan sejuta bujuk rayu, Sherena pun bisa pulang juga. Gadis itu tinggal menyeberang saja, berjalan sedikit dan sampai lah di rumah. Sherena membuka pintu dan saat itu juga dia mendapatkan tatapan menggoda dari kedua orang tua nya.


"Cieee, yang habis main di rumah ayang sampai hampir lupa jalan pulang." Celetuk Arumi dengan senyum menggoda nya, membuat wajah Sherena merona seketika.


.....


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2