Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 59 - Membujuk Sheren


__ADS_3

"Sayang, nanti sore aku ke rumah kamu ya? Kangen." Ucap Sherena di telepon. 


'Aku lembur di kantor malam ini, sayang. Ada kemungkinan gak pulang.' Jawab Darren membuat wajah Sherena berubah masam. Dia baru saja pulang sekolah, saat ini dia sedang berbaring di ranjang nya untuk beristirahat, dia benar-benar lelah saat ini dan bertemu Darren adalah semangat untuk Sherena.


Tapi, sayang sekali pria itu malah harus lembur hari ini. Jadi, dia tidak bisa bertemu dengan Darren hari ini. Hanya tadi pagi berarti? Mana puas ketemu cuman pas pagi nya doang.


"Yaaahh, aku kangen dong. Padahal, aku lagi capek banget ini." Keluh Sherena.


'Kamu ngertiin aku dong, yang. Kerjaan aku di kantor juga banyak, kalau udah selesai aku bakalan pulang kok.' 


"Bukan nya aku gak ngertiin kamu, tapi ini kan hari sabtu. Harusnya kita tuh malam mingguan kayak pasangan-pasangan lain gitu, aku juga kan pengen di ajakin malam mingguan."


'Kerjaan aku lebih penting, kamu jangan rewel ya?' Ucap Darren, membuat Sherena mengerucutkan bibir nya karena kesal di bilang rewel. 


"Rewel apa sih? Aku cuma pengen ketemu sama kamu, itu doang!" 


'Tapi aku lagi kerja, sayang. Plis, ngertiin aku dong. Jangan kayak anak kecil gini, kamu udah gede kan?' 


"Dih, yaudah kalau gak mau." Jawab Sherena dengan nada kesal, dia pun langsung mematikan sambungan telepon nya secara sepihak lalu melempar nya dengan asal ke atas kasur.


"Dia kenapa sih? Nyebelin banget deh. Biasa nya juga hari sabtu itu dia seharian di rumah kan? Ngapain sekarang pake lembur segala? Isshhh ngeselin banget."


"Terus, apa katanya tadi? Aku ke kanak-kanakan? Issh, dia aja yang terlalu tua!" Omel Sherena sambil merebahkan tubuh nya di ranjang. Tapi dia masih merasa kesal setengah mati dengan Darren. 


"Isshh, ngeselin!" Rutuk gadis itu, lalu berguling-guling di atas kasur untuk melampiaskan rasa kesal nya. Ya maklum lah, Sherena itu masih remaja. Jadi ada kala nya dia hanya ingin di mengerti tanpa mau mengerti. Benar kan? Hakikat nya juga, wanita itu selalu ingin di mengerti. 


Sedangkan di lain tempat, Darren tengah bertemu dengan pengrajin perhiasan. Dia tidak sendirian, dia bersama Andy disini. Tadi nya, Darren akan membiarkan Andy yang menangani nya. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, dia memilih untuk ikut kesini. Barang kali ada desain yang sudah tersedia, lalu cocok dengan nya. 


"Bagaimana dengan cincin ini, Tuan? Desain nya sederhana tapi akan terlihat sangat elegant saat di kenakan." Ucap sang perajin perhiasan itu dengan menunjukkan beberapa model cincin pertunangan. 


"Hmmm, ya lagi pula Sheren tidak suka sesuatu yang terlalu mencolok, dia lebih suka dengan sesuatu yang sederhana." Jawab Darren sambil melihat-lihat desain cincin, semua nya cantik. Apalagi saat di kenakan di jari manis Sherena, membayangkan nya saja membuat Darren senyam senyum sendiri. 


"Jadi bagaimana, Tuan?" Tanya nya lagi, Darren terpikat dengan salah satu desain yang di rekomendasikan oleh perajin perhiasan itu. 


"Andy, menurut mu bagusan yang mana?" 


"Saya lebih menyukai yang ini, Tuan." Jawab Andy sambil menunjuk salah satu cincin yang terlihat sangat indah. 


"Ya, aku juga lebih menyukai ini. Tapi, bisakah ini di ganti dengan berlian saja?"


"Tentu, tuan. Itu juga berlian yang cukup mahal."


"Aku mau ini di ganti dengan berlian termahal, kau mengerti?" Tanya Darren, perajin perhiasan itu menganggukan kepala nya mengerti. 


"Saya mengerti, Tuan."


"Aku juga ingin mengukir nama ku dan calon ku di bagian dalam cincin nya, bisakah selesai lusa? Hari senin sore." Tanya Darren, dia benar-benar yakin dengan keputusan nya untuk melamar Sherena segera. Lagi pula, dia tidak ingin kalau sampai Sherena di rebut laki-laki lain. 


Kenapa Darren bisa berpikiran seperti itu? Tentu saja bisa, mengingat kalau Sherena adalah gadis yang cantik, tidak menutup kemungkinan ada pria lain yang mengincar gadis nya dan dia tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Jadi, sebelum semua nya terlambat, ada baiknya dia mengikat Sherena dengan sebuah ikatan terlebih dulu, agar gadis itu tidak berani macam-macam juga.


Tapi seperti nya Sherena bukanlah gadis seperti itu, mengingat dia sangat berusaha keras untuk meluluhkan hati seorang Darren. Jadi rasanya tidak mungkin kalau dia menyia-nyiakan Darren setelah mati-matian untuk mendapatkan nya bukan?


"Bisa, Tuan. Saya akan mengerjakan nya 24 jam agar bisa selesai tepat waktu." Jelas nya sambil tersenyum.


"Baiklah, aku ingin yang ini. Untuk pembayaran nya, biar asisten ku yang melakukan nya."


"Baik, untuk sekarang bayar separuh saya sebagai DP." Jelas perajin itu. Andy langsung maju dan meminta nomor rekening pria itu. Andy pun langsung mentransfer uang nya.


"Cukup?"

__ADS_1


"Ini sudah lebih dari cukup, tuan." Jawab nya, Andy dan Darren pun merasa telah selesai dengan kegiatan nya. Mereka pun memutuskan untuk pulang. 


"Tuan, sekarang kita akan kemana?" Tanya Andy sambil mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata. 


"Ke butik, aku ingin membeli gaun yang indah untuk Sheren."


"Baik, Tuan. Butik langganan anda?" Tanya nya lagi, Darren menganggukan kepala nya. Andy pun mengerti, dia sudah bekerja cukup lama bersama pria itu, jadi dia tahu benar dimana butik langganan nya karena dia sering mengantarkan Darren kesana untuk mengambil pesanan jas atau semacam nya. 


Darren juga ingin membeli satu setel jas untuk melamar sang gadis nanti, dia harus menyiapkan semua nya dengan baik. Dia ingin memberikan kesan yang tidak akan pernah terlupakan oleh Sherena, maupun oleh dirinya. Meskipun ini bukan yang pertama bagi Darren, tapi Sherena adalah gadis yang benar-benar dia pilih sekarang. Jadi, rasa nya akan sedikit berbeda. Bahkan dia sudah merasakan kegugupan yang luar biasa dari sekarang.


"Andy, apa kau merasa aneh kalau aku gugup dari sekarang?"


"Hahaha, wajar-wajar saja, Tuan. Tapi, apakah anda merasakan hal yang sama ketika melakukan itu pada mantan istri anda?" Tanya Andy. Darren bukanlah yang pertama kali, memang pertama kali bagi Sherena tapi tidak bagi Darren yang sudah cukup berpengalaman. 


"Tidak, tidak sama sekali. Mungkin karena aku terlanjur kecewa padanya dulu."


"Kecewa karena apa, Tuan? Maaf, tapi saya penasaran, hehe." Andy cengengesan, ini pertama kali nya dia berani menanyakan hal sensitif ini pada Darren. Padahal dia sudah bekerja cukup lama bersama pria itu, hingga dia hafal kebiasaan pria tampan itu. 


"Dulu, aku melakukan nya sebelum menikah. Tapi apa yang aku dapat? Bekas, dia sudah tidak lagi perawaan saat aku memakai nya. Tapi, karena rasa tanggung jawab ku sebagai pria, aku pun mencoba menerima karena setiap manusia pasti pernah punya masa lalu, bukan?"


"Aku memeluk nya dengan hangat, menerima semua kekurangan nya, tapi nyata nya apa yang aku dapatkan? Tidak ada, selain rasa sakit." Jelas Darren panjang lebar. Pria itu tersenyum kecut begitu menceritakan semua ini pada Andy, asisten nya.


"Jadi, kau paham kan kenapa aku trauma dengan makhluk yang bernama wanita?"


"Saya paham, Tuan. Tapi sekarang, anda sudah memiliki Nona Sherena yang akan mengobati semua luka yang di torehkan oleh mantan istri anda." Ucap Andy lirih, Darren menganggukan kepala setuju dengan ucapan Andy. 


"Ya, aku beruntung karena di pertemukan dengan gadis itu. Kalau saja dia tidak datang, mungkin saat ini aku masih berada di dalam kubangan masa lalu, menyesali nya. Padahal itu tiada pernah ada habisnya." Darren tersenyum getir, namun mata nya tidak bisa berbohong. Masih ada sorot rasa sakit dari tatapan nya, meskipun bibir nya menyunggingkan senyuman. 


Andy tahu benar, luka yang di tinggalkan oleh wanita bernama Rita itu begitu mendalam, hingga mampu membuat hati seseorang yang sudah dia lukai tertutup untuk wanita. Tapi syukurlah, saat ini Darren sudah bisa melupakan sedikit-sedikit rasa sakit itu bersama dengan Sherena. Gadis itu adalah obat bagi Darren, sekaligus membuktikan kalau semua wanita itu sama. 


"Mencintai Sherena membuat aku sadar, kalau tak semua wanita hanya bisa menyakiti. Lalu kembali setelah dia melihat apa yang aku miliki sekarang ini, Andy. Sherena benar-benar gadis yang berbeda."


Darren dan Sherena memiliki karakter masing-masing yang akan membuat mereka terlihat sempurna, karena saling melengkapi satu sama lain. Pokoknya, bagi Andy pasangan itu sudah bisa di bilang couple goals. 


Tak terasa, karena asik mengobrol mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Darren keluar di ikuti oleh Andy, dia masuk dengan wajah datar nya. 


"Andy, menurut mu apa aku harus memakai jas atau pakaian biasa saja, seperti kemeja."


"Akan lebih berkesan kalau anda mengenakan setelan jas lengkap, Tuan." Jelas Andy, Darren pun mengangguk setuju. Dia pun memilih jas berwarna hitam, sedangkan untuk Sherena dia memilih dress selutut berwarna pink pastel. 


Darren memang tidak mengetahui apa warna favorit gadis nya, tapi pilihan nya cukup bagus. Bahkan Andy saja setuju dengan selera nya. Gaun cantik dengan manik-manik menjadi pilihan Darren, pasti gaun itu akan jauh terlihat lebih cantik saat Sherena memakai nya. 


"Andy, aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Bagaimana ini?"


"Apa, Tuan?" Tanya Andy dengan panik, bagaimana tidak panik coba? Darren mengatakan ini adalah hal yang sangat penting, apa? Perasaan dia tidak melupakan apapun. 


"Aku lupa mengukur ukuran jari manis Sherena, bagaimana kalau cincin nya kebesaran?"


"Tenang, saya akan meminta Meysa untuk mengukur jari manis Nona Sherena besok. Jangan terlalu khawatir, semua ada solusi nya."


"Hmmm, aku memang beruntung memiliki asisten seperti dirimu, Andy." Ucap Darren sambil terkekeh, setidaknya dia bisa tenang kalau Andy yang mengerjakan nya, karena semua nya bisa di pastikan akan selesai kalau pria itu yang turun tangan.


"Terimakasih, Tuan." Ucap Andy sambil terkekeh. Dia pun kembali mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Mereka kembali ke perusahaan, karena mobil Darren yang masih ada di parkiran kantor. 


"Terimakasih Andy, selesai kan tugas mu."


"Baik, Tuan. Akan saya selesaikan segera." Jawab Andy, kedua nya pun berpisah. Darren pulang ke rumah nya, begitu juga dengan Andy. Jalan ke rumah mereka memang berlawanan, yang satu ke kanan, satunya lagi ke kiri. 


Darren langsung masuk dan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, pria itu tersenyum semringah. Hanya terhalang hari esok, dia akan melamar Sheren, gadis pujaan nya yang cantik. 

__ADS_1


Saat di perempatan, dia teringat akan Sheren, biasa nya kalau mereka sedang pergi, gadis itu pasti meminta nya untuk berhenti sebentar. Tau sendiri lah gadis itu memang doyan dengan jajanan pinggir jalan, jadi sekarang dia juga berhenti untuk membelikan makanan street food untuk gadis nya, meskipun Sheren tidak memesan nya, tapi kalau di belikan tanpa diminta, pasti dia akan lebih senang kan?


Darren pun membeli beberapa jenis makanan yang biasa nya memang Sherena beli kalau berhenti disini. Setelah di rasa cukup, dia juga membelikan minuman Boba rasa coklat hazelnut kesukaan Sherena, tak lupa membelikan martabak kesukaan calon Pamer nya. 


Setelah itu, dia pun pergi untuk pulang. Sebelum pulang ke rumah, dia malah berkunjung ke rumah calon istri nya. Gini nih enaknya kalau rumah nya deketan, bisa ngapel setiap saat. Apalagi kalau sudah tunangan, pasti dia akan di bebaskan kapan pun datang ke rumah Sheren. 


Darren memencet bel rumah, kebetulan sekali Sherena juga sedang menuruni tangga. Dia pun langsung berjalan ke arah pintu utama, dia mana tahu kalau ternyata Darren yang datang berkunjung. Kalau dia tahu pria itu yang datang, dia akan mengganti pakaian nya terlebih dulu. 


Sudah tahu Darren itu nafsuaan, Sherena malah membuka pintu dengan hanya mengenakan tangtop ketat dan celana hotpants. Gadis itu melotot saat melihat Darren datang dengan senyum mesuum nya. 


"Hai, sayang.." 


"Lho kok.."


"Calon suami mu ini gak di suruh masuk, yang?" Tanya Darren, membuat Sherena mencebikan bibir nya.


"Dih, calon suami."


"Hahaha, sayang.."


"Silahkan masuk calon suami." Jawab Sherena sambil membuka lebar-lebar pintu rumah nya, mempersilahkan Darren masuk ke dalam rumah nya. 


Darren pun masuk dan duduk di sofa, dia meletakan barang bawaan nya di meja yang ada di ruang tamu. 


"Kok sepi, yang. Tumben." 


"Mama sama papa lagi di jalan."


"Habis dari mana?" Tanya Darren sambil membuka jas nya dan menyimpan nya di sandaran sofa.


"Katanya sih habis dari acara rekan kerja, tapi gak tahu deh. Itu apa, yang?" Tanya Sheren sambil menunjuk kresek yang ada di meja.


"Jajanan buat kamu, sama boba rasa coklat hazelnut kesukaan kamu. Terus ada martabak buat Pamer." Jawab Darren.


"Ihhhh, peka banget deh. Tau ya kamu kalau aku lagi bad mood."


"Lho, bad mood kenapa sih, yang? Apa karena aku bilang lembur di kantor ya, terus gak ngajak kamu malam mingguan?" Tanya Darren, membuat Sheren mendelik. Tapi, tetap saja dia mengambil jajanan di dalam kresek yang di bawakan oleh Darren dan memakan jajanan nya.


"Maaf ya, tapi aku beneran sibuk tadi. Nanti malem minggu depan, kita malam mingguan ya?"


"Janji nih?" Tanya Sherena luluh, dia mana bisa marah lama-lama dengan Darren karena pria itu punya seribu cara untuk membujuk dan membuat nya luluh seketika. 


"Iya, sayang. I promise." 


"Dih, sok Inggris."


"Haha, sayang. Gemesin nya kalau lagi mode merajuk gini tuh." Ucap Darren sambil mencubit kedua pipi Sherena yang menggembung berisi telur gulung.


"Issshh, ayang sakit.."


"Habis nya ini pipi gemesin banget deh, cabi kayak bakpau." 


"Hmmm, kemaren aja kayak mochi. Sekarang kayak bakpau, besok kayak apa ya?" Tanya Sherena membuat Darren terkekeh.


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_1


__ADS_2