Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 55 - Tidur Siang


__ADS_3

"Aduh, kenyang.." Ucap Darren sambil mengusap perut nya yang terasa kembung. Dia ke kenyangan setelah memakan dua piring nasi goreng buatan sang kekasih. Sungguh demi apapun, rasa makanan yang di buat dengan bumbu cinta, rasanya jauh lebih nikmat.


Selain di masakan, plus makan nya juga di temani oleh gadis pujaan nya. Bukan nya ini adalah hal yang menyenangkan? Apalagi kekasih nya adalah gadis secantik Sherena.


"Kenyang ya? Makan nya sampai habis dua piring." Celetuk Sheren sambil tersenyum, begitu juga Darren. Biasa nya, dia jarang makan banyak. Tapi, dia makan hingga dua porsi nasi goreng buatan sang gadis. 


"Hehe, habis nya nasi goreng nya enak banget. Seperti nya, kamu berbakat masak deh, yang." 


"Makasih, aku seneng lho di puji gini." Jawab Sherena sambil terkekeh, gadis itu pun membawa piring kotor bekas makan mereka berdua ke belakang dan menyimpan nya di wastafel. 


"Sayang.." Rengek Darren dengan suara yang terdengar manja. 


"Iya, ada apa?" Tanya Sherena, dia berbalik menatap wajah tampan sang kekasih. 


"Kamu mau ngapain? Habis makan, biasa nya aku ngantuk, hehe." 


"Mau nyuci piring dulu, yang. Yaudah, kalau mau tidur ya tidur aja, nanti setelah semua nya selesai aku langsung pulang." Ucap Sherena, tapi hal itu malah membuat Darren cemberut. 


"Itu bibir nya kenapa cemberut gitu? Gemesin deh." Sherena terkekeh sambil mencubit gemas pipi sang pria. 


"Kok pulang sih, aku mau manja-manjaan sama kamu seharian, sayang. Mumpung aku libur kerja, besok kan kita udah mulai sibuk lagi. Kamu sibuk sekolah, aku sibuk kerja. Ketemu nya cuma pagi sama sore doang." 


"Iya iya, yaudah aku cuci piring dulu ya. Setelah itu baru manjain kamu, oke?"


"Iya deh." Jawab Darren. Tapi bukan nya pergi, dia malah berdiri di belakang Sherena dan memeluk gadis itu sambil menyandarkan dagu nya di pundak sang gadis. 


"Sayang, kamu menstruasi nya cepet juga ya."


"Hmmm, biasa nya sih semingguan. Tapi sekarang tumben cuma empat hari udah selesai." Jawab Sherena, gadis itu fokus mencuci semua perabotan yang kotor karena acara memasak nya tadi. Seolah tidak terganggu sama sekali dengan ada nya Darren yang bermanja di belakang nya. 


Pria itu menyusupkan kepala nya di ceruk leher Sherena, dia mengecupi nya dengan gemas, bahkan menggigit nya hingga meninggalkan bekas kemerahan. 


"Aaww, sakit. Jangan di gigit gitu dong, yang." Ketus Sherena, dia menjauhkan kepala Darren dari leher nya, tapi ya bukan Darren nama nya jika menyerah begitu saja. 


"Gemes, sayang.."


"Diem, atau aku pulang nih?" Tanya Sherena, cara yang ampuh membuat Darren diam. Pria itu pun menghentikan sejenak kegiatan nya, dia memilih melihat kegiatan sang gadis dengan fokus. 


Sherena tersenyum kecil saat melihat betapa penurut nya Darren, apalagi ekspresi nya membuat Sherena gemas sendiri. Dia pun mencolek hidung sang pria dengan tangan nya yang di penuhi oleh busa sabun, hingga membuat pria itu belepotan oleh busa sabun.


"Issshhh, ayang.." Rengek Darren sambil menghapus busa sabun yang menempel di hidung nya karena ke isengan sang gadis. Tapi, bukan nya marah dia malah terkekeh lalu menggelitik perut Sherena.


"Aaaa, sayang geli.." 


"Nah, rasakan ini. Suruh siapa nakal hmm?" 


"Sayang, sudah.." Pinta Sherena sambil tertawa karena rasa geli yang dia rasakan karena ulah jahil Darren. Tapi, pria itu tidak menurut dia malah semakin menjadi. 


"Yang, udah dong perut aku sakit ini.."


"Aahh, maafkan aku sayang." Ucap Darren, dia kembali memeluk sang gadis dari belakang dan anteng melihat kegiatan sang gadis yang masih belum selesai, yakni mencuci piring. 


Setelah selesai dengan acara mencuci nya, gadis itu pun membereskan nya di rak piring. Lalu mencuci tangan nya dan pergi menyusul Darren yang sudah terlebih dulu pergi ke ruang tamu untuk menonton televisi. 


Melihat gadis nya yang berjalan mendekat, wajah Darren langsung berbinar. Dia menepuk sofa di samping nya agar sang gadis mau duduk disana. 

__ADS_1


"Duduk disini, sayang." Pinta Darren, Sherena pun menurut dan duduk di samping sang pria. Baru saja dia mendaratkan pantaat nya di sofa, kepala pria itu langsung berbaring di pangkuan nya. Sherena mengusap-usap rambut sang pria, dia paham benar kalau Darren sedang dalam mode manja-manja nya. 


"Sayang.."


"Iya, kenapa?"


"Nunggu kamu lulus itu masih lama ya?" 


"Dua bulanan lagi, sayang. Memang nya kenapa?" Tanya Sherena sambil terus mengusap-usap kepala Darren dengan lembut. 


"Gak kuat, yang. Tadi aja hampir kebablasan, ini si junior juga masih tegak aja, belum mau tidur lagi. Rasa nya gak nyaman, yang. Pegel." Keluh Darren, ya maklum saja karena Darren itu seorang pria yang sudah lama menduda. Jadi, saat punya pacar ya gak jauh-jauh dari hal yang berbau mesuum. 


"Siapa yang mulai? Kamu kan, pake segala bawa aku ke kamar." 


"Tadi nya aku mau nekat unboxing kamu, sayang. Tapi rasa nya gak tega, tubuh kamu mungil gini apa si junior bisa masuk ya?" Tanya Darren membuat Sherena menggelengkan kepala nya. Pokoknya, kalau bicara dengan Darren, topik nya yang di bahas pasti tentang anu. 


"Mana aku tahu."


"Makanya, harus di cobain dulu biar tahu." Jawab Darren yang membuat Sherena refleks menepuk pelan bibir sang pria yang terdengar sangat ringan mengatakan nya, seolah tanpa beban sama sekali. Padahal, apa yang dia katakan cukup membuat nya terkejut. 


"Mulut mu ini, kalo ngomong sembarangan aja." 


"Kan aku penasaran, sayang." Ucap Darren sambil tersenyum kecil. Berbanding terbalik dengan Sherena yang sudah menunjukkan wajah asam nya. 


"Kamu pikir aku enggak? Kamu mah seenggaknya udah tahu rasanya gimana, lah aku?"


"Yaudah, jadi nya mau di unboxing nih? Penasaran kan sama rasa nya? Enak, sayang." Jawab Darren, kedua mata nya berbinar cerah saat mengatakan hal itu. 


"Enggak dulu, aku belum siap kehilangan hal itu, sayang."


"Yaaahh, yaudahlah." Jawab Darren lesu, dia pun memainkan remot televisi mencari siaran yang bagus. Sherena juga sedang memainkan ponsel nya, berbalas pesan dengan ketiga teman sengklek nya. Gadis itu terkikik geli saat melihat Arina dan Meysa debat. Masalah apa? Gak jauh-jauh dari membahas Andy, asisten pacar nya. 


"Ngapain kamu nanyain tentang dia hmm? Mau di sosor juga, gitu?" Tanya Darren sewot, seperti nya dia cemburu dan Sherena mengetahui hal itu. Terlihat jelas dari perubahan ekspresi pria itu ketika dia menanyakan tentang pria lain padanya. 


"Isshh, kamu apa-apaan sih. Aku kan udah punya kamu yang ganteng nya kayak idol Korea, jadi ngapain cari yang lain. Lagian nih ya, dapetin kamu itu susah. Soalnya dia tuh kayak sok jual mahal, padahal mau." Celetuk Sherena yang membuat Darren melirik sinis ke arah sang gadis. 


Apa benar kalau dia sok jual mahal? Ya bener lah, dia memang agak sedikit jual mahal biar Sherena berjuang lagi untuk bisa meluluhkan hati nya, tapi sekarang malah berbalik, dia bucin abis dengan gadis bernama Sherena yang nyata nya adalah tetangga nya. 


"Ya terus, ngapain tanya-tanya tentang pria lain sama pacar sendiri? Gak mikir apa kalau aku cemburu?"


"Hahaha, sayang. Yaudah, aku minta maaf ya? Jadi, pria tampan ku ini sedang cemburu? Pantesan aja wajah nya kusut gini." Ucap Sherena sambil mengunyel-unyel pipi sang pria saking gemas nya. 


"Ini Arin sama April nanyain tentang Om Andy, kan rencana mereka tuh mau jodohin Om Andy sama Meysa."


"Gak usah ikut campur urusan orang lain, sayang. Ini berhubungan dengan perasaan dan kamu tahu sendiri kalau perasaan itu gak bisa di paksakan. Kalau memang mereka berjodoh, tanpa harus di dekatkan pun, mereka akan bersama." Jelas Darren panjang lebar, membuat Sherena mendengus pelan. Bukan ini jawaban yang dia inginkan, tapi Darren malah mengatakan hal yang cukup bijak sebenarnya, tapi bagi Sherena itu malah terdengar sangat menyebalkan. 


"Udah, gak usah asem gitu muka nya. Kamu jangan ikut-ikutan temen sengklek mu itu."


"Kenapa?" Tanya Sherena lirih. 


"Nurut aja apa kata calon suami, sayang."


"Isshh, yaudah iya, calsu." Jawab Sherena dengan sedikit ketus. Darren pun tersenyum lalu mengusap-usap wajah Sherena yang berada tepat di atas nya. 


"Kamu cantik deh."

__ADS_1


"Gak usah modus, sayang. Mau apa hmm?" Tanya Sherena, dia tahu benar kalau Darren memanggil nya seperti itu, ya kemungkinan nya hanya satu, pasti ada mau nya. 


"Mau di ****." 


"Apanya?" Tanya Sherena dengan wajah polos nya.


"Ini, bantuin biar dia tidur." 


"Ihhh, enggak!" 


"Jangan gitu dong, yang. Masa kamu gak kasian sama aku? Pegel lho ini." Bujuk Darren sambil menggerak-gerakkan tangan sang gadis. 


"Ya itu derita kamu, yang. Apa hubungan nya sama aku?"


"Masalah nya, dia gak bakalan bangun kalau kita gak berbuat itu tadi." Ucap Darren membuat Sherena menghela nafas nya. 


"Yang mulai nya siapa? Kamu kan, yaudah tanggung sendiri akibat nya. Punya junior sensitif, gampang berdiri pake di pancing-pancing segala." 


"Yang, ayolah."


"Enggak mau, jijik!"


"Jijik apa sih, yang? Aku mencuci nya setiap hari pake sabun biar wangi. Aku aja gak jijik jilatin punya kamu, bahkan menelan cairan kamu tadi." 


"Tapi, aku kan gak minta. Itu kamu yang nakal, sayang." Kekeuh Sherena, dia tidak ingin melakukan hal itu. Melihat saja dia belum berani, apalagi jika harus memegang atau mengemut nya seperti yang di pinta oleh Darren. 


"Yaudahlah, aku tidur aja kalo gitu."


"Oke, aku pulang ya?"


"Enggak, aku mau tidur sama kamu!" 


"Yaudah, tapi disini aja ya?" Tanya Sherena, dia tidak mau kalau harus masuk lagi ke kamar Darren. Dia takut kalau pria itu akan memaksa nya, jauh kan untuk kabur. Kalau disini ya minimal deket lah sama jalan keluar, wkwk.


"Iya." Jawab Darren singkat, kedua nya pun berpindah dari duduk di sofa turun ke bawah, kedua nya berbaring di karpet bulu-bulu. Darren langsung memeluk Sherena dari belakang dengan erat, pria itu juga menyingkirkan rambut Sherena ke atas, agar tidak menghalangi nya untuk mengendus aroma sang gadis. 


"Dingin, yang."


"Sebentar, aku ambil selimut dulu." Jawab Darren, dia pun beranjak dari tidur nya lalu berjalan ke kamar tamu di lantai bawah, pria itu mengambil selimut dan kembali ke ruang tengah. Dia kembali berbaring dan menyelimuti sang gadis, kedua nya pun kembali berpelukan dan tidur bersama. 


"Selamat tidur, sayang." Ucap Darren lirih, sambil mengusap-usap puncak kepala sang gadis dengan lembut. Dia juga mengecupi puncak kepala nya beberapa kali dengan hangat, setelah itu dia pun tertidur, begitu juga dengan Sheren. 


Sedangkan di rumah, Arumi dan Arya merasa keheranan karena putri mereka tidak kunjung pulang juga, padahal hari sudah siang. 


"Sheren ngapain aja ya di rumah Darren?" Tanya Arumi, dia terlihat khawatir. Pasalnya, putri nya itu berada di rumah seorang pria dewasa. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan? 


"Mana papa tahu, tanyain aja. Di telepon." 


"Udah, tapi Sheren nya gak ngangkat. Apa dia ketiduran di rumah Darren ya? Dia kan tukang tidur."


"Iya, fositif thinking aja, dia mungkin tidur siang di rumah Darren." Jawab Arya, Arumi pun menganggukan kepala nya. Dia pun merasa sedikit lega, karena dia yakin kalau putri nya ketiduran di rumah Darren. 


Di tambah lagi dengan situasi yang sangat memungkinkan untuk tidur siang dengan nyenyak, karena di luar sedang turun hujan deras bahkan beberapa kali terlihat petir menyambar. Kalau di rumah, biasa nya Sherena sudah tidur namun dia tidak akan bisa tidur nyenyak. Ya, dia takut akan petir. 


Tapi saat ini, Sherena tidur dengan nyenyak seolah tidak terganggu oleh apapun. Tentu saja, karena saat ini dia tidur dengan pelukan hangat sang kekasih, pria pujaan nya yang tampan. 

__ADS_1


...


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2