Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 124 - Penyesalan Agnes


__ADS_3

Sherena dan ketiga teman nya masih menatap wajah Agnes yang terlihat sendu, tatapan mata nya terlihat nanar. Tak lama kemudian, Agnes tersenyum lalu mengusap sudut mata nya yang berlinang air mata.


"Maaf, Sher. Gue ngakuin kalo apa yang di lakuin sama nyokap gue itu salah, salah besar. Tapi gue tahu kalau Lo itu orang baik, Lo pasti mau maafin nyokap gue kan? Dia udah meninggal sekarang, tapi gue sering di datangin sama dia lewat mimpi." Ucap Agnes. Kedua mata nya terlihat berkaca-kaca, mengingat kepergian sang ibu membuat hati Agnes terasa sesak.


Rasa sakit nya masih dia rasakan, bukan hanya sakit tapi juga pedih. Rita meninggalkan dirinya sendirian di dunia yang kejam dan keras ini. Bagaimana bisa dia bertahan sendirian tanpa sosok seorang ibu yang selama ini menjadi penjaga nya. 


"Maksud Lo?" Tanya April, dia menatap Agnes dengan tangan yang bersedekap di dada. Jujur saja dia greget dengan sosok wanita itu, bagaimana pun juga dulu dia adalah perempuan yang jahat. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau dia mau berubah bukan? Nama nya juga manusia. 


"Kayaknya nyokap gue tuh meninggal nya gak tenang karena banyak salah sama Lo, Sher. Terlebih atas kejadian di cafe hari itu, tapi sumpah gue gak ikut-ikutan pas nyokap gue lakuin itu. Gue cuma datang kesana mau makan, terus nyokap gue lihat Lo sendirian." 


"Tapi kata-kata Lo waktu itu nyakitin gue, Agnes!" Jawab Sherena, akhirnya dia membuka suara nya. Sedari tadi dia hanya diam saja mendengarkan apa yang di katakan oleh Agnes. 


"Sorry, Sher. Gue iri sama Lo."


"Gue gak ngarep Lo mau maafin gue kok, gue kesini cuma mau minta maaf atas nama nyokap gue. Kasian, dia gak bisa beristirahat dengan tenang karena belom minta maaf sama Lo." Jawab Agnes, membuat hati Sherena terketuk. 


Jujur saja, apa yang di lakukan oleh Rita padanya sangat menyakitkan, bahkan rasa sakit itu masih ada dan terasa. Perkataan kasar dan kejam wanita itu masih terngiang-ngiang di pikiran nya, tapi haruskah dia memaafkan semua tentang wanita itu? Mengingat saat ini, Rita sudah meninggal karena ulah nya sendiri. 


"Gue tahu Lo orang baik, Sher. Sekali lagi, gue minta maaf atas nama nyokap gue, kalo perlu gue bakalan bersujud di kaki Lo buat maafin nyokap gue." Ucap Agnes, dia masih menatap Sherena dengan sendu. Sudah beberapa detik tapi tidak ada jawaban dari perempuan itu. 


Agnes tahu, memaafkan semua kejahatan yang sudah di lakukan oleh ibu nya pasti akan sangat berat, mengingat betapa kejam dan jahat nya wanita itu pada Sherena. Padahal disini, dia tidak bersalah apa-apa. Dia tidak merebut Darren dari nya, dia juga tidak memaksa Darren untuk mencintai nya. 


Dia bersama Darren jauh setelah pria itu berpisah dari Rita, tapi rasa dendam yang di miliki oleh Rita begitu besar. Dia tidak rela saat melihat mantan suami nya bahagia dengan perempuan lain, sedangkan dirinya harus menderita setelah kepergian sang suami untuk selama nya. 


Laki-laki yang dia pilih hingga meninggalkan Darren dulu, disaat dia sedang berada di bawah. Dia tidak memiliki apa-apa, tapi setelah dia sukses Rita tergoda dan menginginkan kembali sang mantan. Itu lah yang membuat kedua mata Rita buta karena sebuah obsesi dan ambisi hingga membuat nya celaka. 


Agnes beranjak dari duduk nya, dia bersiap untuk berlutut demi sebuah kata maaf dari Sherena untuk ibu nya, dia tidak bisa tenang sebelum dia berhasil mendapatkan maaf dari perempuan yang sudah ibu nya jahati. 


"Tidak, tidak perlu berlutut padaku, Agnes. Aku memaafkan semua kesalahan ibu, berikut juga dengan mu. Aku memaafkan semua nya, bangunlah. Jangan begini, Agnes." Ucap Sherena. Akhirnya pertahanan nya luluh juga, dia tak tega begitu melihat Agnes bersedia untuk berlutut di kaki nya hanya untuk meminta maaf. Perempuan itu benar-benar serius dengan apa yang dia katakan, dia benar-benar membuktikan nya. 


Jadi, Agnes benar-benar meminta maaf padanya dengan serius dan tulus. Kalau sudah begini, siapapun takkan tega. Meskipun orang itu memiliki hati batu sekalipun, tetap saja takkan tega jika melihat apa yang akan di lakukan oleh Agnes. 


"Terimakasih, Sherena. Terimakasih, gue tahu Lo orang baik." Ucap Agnes, sambil menangis. Terlihat jelas kalau dia menyesali semua perbuatan nya, bukankah ini adalah sebuah perubahan yang bagus?


"Sama-sama, Agnes. Gue maafin semua kesalahan kalian berdua, nyokap Lo bisa beristirahat tenang sekarang." 


"Iya, terimakasih Sheren." Ucap Agnes lagi, Sherena mengusap air mata yang berlinang di mata Agnes lalu memeluk nya. Dia masih mau merangkul orang yang sudah menyakiti dan jahat padanya. 


"Pantesan Darren milih Lo, Sher. Lo orang yang punya hati sebaik malaikat, maafin gue ya. Gue salah, gue khilaf. Setelah ini, gue bakalan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, gue janji." 


"Baguslah, Lo harus berubah. Masa depan Lo masih panjang, jangan putus asa, Agnes. Gue yakin Lo bisa, semangat ya." Ucap Sherena membuat Agnes mengangguk lalu tersenyum kecil, tapi senyuman yang di perlihatkan oleh Agnes terlihat penuh luka. 


"Jangan maksain senyum kalau emang Lo gak kuat, Nes. Tapi, gue yakin Lo kuat."


"Iya, Sher. Gue bakalan berusaha buat kuat, gue gak mau ngikuti jejak nyokap gue." 


"Gue percaya kalau Lo bakalan bisa berubah jadi lebih baik lagi, Nes." Jawab Sherena. Agnes pun kembali memeluk Sherena dan perempuan hamil itu menyambut nya dengan hangat. 


"Maafin gue, harus nya saat itu gue larang nyokap gue buat terus jahatin Lo, tapi gue boddoh, gue sama jahat nya sama nyokap gue. Gue malah dukung dia, sorry banget Sherena."

__ADS_1


"Astaga, udah berapa puluh kali Lo minta maaf sama gue, Nes? Udah ya, gue udah maafin Lo kok." Ucap Sherena lagi sambil menepuk-nepuk punggung Agnes dengan lembut. 


"Makasih ya, Sher. Gue mau berkunjung ke makam nyokap gue habis ini."


"Lo keliatan capek banget, Nes." Lirih Sherena. Perempuan itu tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala nya.


"Enggak kok, Sher."


"Gak usah bohong, Nes."


"Emang nya keliatan banget ya, Sher?" Tanya Agnes sambil menepuk-nepuk wajah nya dengan perlahan. 


"Iya, keliatan pake banget." 


"Gue emang capek, gue kerja sekarang. Buat makan, buat biaya hidup."


"Kerja? Lo kerja, Nes?" Tanya April. Dia ikut terbawa suasana meloow tadi, sampai-sampai kedua mata nya berkaca-kaca melihat betapa sakit nya tangisan yang di tunjukkan oleh Agnes, dia sangat menyesali semua yang sudah di perbuat.


"Iya, gue kerja. Kalau gak kerja mau makan gimana?"


"Bukan nya mendiang bokap Lo itu pengusaha?"


"Iya, dia pengusaha. Tapi perusahaan nya bangkrut, itu yang bikin bokap gue meninggal. Dia serangan jantung karena saham nya terus merosot, dan apa kalian tahu siapa dalang dari penjualan saham itu?" 


"Siapa memang nya?" Tanya Meysa. Dia penasaran, ya meskipun dia tak mengenal ayah Agnes. Dia hanya tahu sosok ibu nya, Rita. Karena dia yang sering datang ke sekolah jika putri nya itu berbuat ulah.


"Siapa lagi, nyokap gue jawaban nya." Jawab Agnes sambil tersenyum kecut.


"Arin, Lo kalo ngomong tuh yaak! Di saring dulu, mau bagaimana pun si Agnes masih berduka anjir. Meskipun emang, dia jahat banget sih." Jawab April. Membuat Meysa dan Sherena menggelengkan kepala mereka dengan kompak.


"Hmm, ya gue tahu kok kalau nyokap gue jahat. Gapapa kok, gue gak ngerasa tersinggung."


"Nes.."


"Ya, perusahaan bangkrut. Hutang dimana-mana, rumah besar itu di gadaikan sama nyokap gue, terus kita tinggal di kontrakan. Dulu sih ada nyokap gue yang bayarin kontrakan, sekarang gue harus kerja sendiri kan? Gue harus mandiri, sebagai anak yatim piatu gue harus bisa apa-apa sendiri." Jawab Agnes membuat Sherena dan ketiga teman nya menatap gadis itu dengan sendu.


"Gak usah natap gue kayak gitu, gue masih sehat kok. Jadi masih bisa kerja buat biayain diri sendiri."


"Semangat Agnes.." ucap Sherena.


"Pasti, gue pasti semangat terus kok. Thanks buat semua nya, tapi gue harus pergi. Bentar lagi, gue harus kerja." Jawab Agnes sambil tersenyum kecil. 


"Seminggu lagi gue mau nikah, datang yaak?" Ucap April.


"Gue usahain, Prill." Jawab Agnes. Dia pun pergi dari tempat Sherena dan ketiga teman nya duduk. Ke empat nya terus menatap punggung Agnes hingga menghilang di balik lorong sekolah. 


"Gak nyangka gue dia hidup susah sekarang." Gumam April.


"Hidup itu kayak roda berputar, kadang di atas, kadang juga di bawah." 

__ADS_1


"Ya, Lo bener, Rin. Tapi kenapa harus nunggu sampai dia kehilangan semua nya, baru dia mau berubah?" Tanya Meysa sambil menyendok makanan nya, dia masih belum selesai dengan makanan di piring nya, karena dia memesan batagor lagi setelah menghabiskan dua mangkuk bakso dan mie ayam. Aji mumpung, mumpung di bayarin jadi harus makan yang banyak. Mendadak, perut yang biasa nya gampang kenyang pun, jadi muat banyak karena di traktir, hehe.


"Nama nya juga manusia, gak bakalan mau berubah. Gak bakalan mau mengerti sebuah merasakan sakit yang sama. Si Agnes udah ngerasain semua nya, makanya dia berubah." Jawab Sherena.


"Hmm, iya juga sih bener ya." 


"Tapi ya, kita sebagai manusia emang gak pantes menghakimi. Justru bagus dong kalau dia mau berubah?"


"Iya, semoga aja dia gak begitu lagi. Gue yakin sih, Agnes jahat itu karena di hasut. Jadi gak usah terlalu mojokin dia juga, meskipun jujur aja gue belom lupa sama apa yang dia bilang, soalnya sakit banget." Jawab Sherena sambil tersenyum kecut. 


"Tapi, kita salut banget sama Lo, Sher. Lo masih mau maafin dia, padahal dia udah nyakitin Lo."


"Gue gak mau aja nyokap nya tidur tapi gak tenang, gapapa gue bilang maafin dia sama mendiang nyokap nya, gue tulus maafin mereka. Tapi buat melupakan, kayak nya gak mungkin deh." Jawab Sherena.


"Iya, pasti membekas banget kan ya?"


"Ibarat nya tuh kayak papan, terus di tancapin paku. Meskipun si paku nya udah di cabut, tapi bekas nya tetap ada dan gak bisa di tutupi." Jelas Sherena membuat ketiga teman nya mengangguk setuju. Benar, apa yang di katakan oleh Sherena memang benar. Meskipun dia memaafkan semua kesalahan orang tua Agnes, juga Agnes sendiri, tapi untuk melupakan semua nya rasa nya mustahil.


"Bener, Sher." Jawab April. Ke empat sahabat itu pun kembali menikmati makanan mereka masing-masing dengan sesekali di selingi canda tawa yang membuat suasana kantin menghangat. 


Sedangkan di tempat lain, Agnes sedang berada di dalam bus. Mata nya menatap pemandangan jalanan yang selalu ramai seperti biasa nya. Gadis itu menatap pemandangan siang yang cukup terik itu dengan hati yang berkecamuk, hatibnya di liputi banyak rasa bersalah. Salah satu nya adalah, rasa bersalah pada Sherena. 


Agnes menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu dia meminta berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Pemakaman, ya gadis itu meminta berhenti di komplek pemakaman tempat jasad sang ibu di semayamkan beberapa hari yang lalu, bahkan bunga nya masih terlihat segar, tanah nya juga masih merah. 


"Ma, aku datang." Gumam Agnes, tadi sebelum kesini dia sudah membeli bunga untuk dia tabur di atas pusara sang ibu. 


Agnes menatap gundukan tanah berukuran kurang lebih dua meter itu dengan tatapan sendu, tak terasa air mata nya menetes tanpa di minta. Hati nya terasa sesak sekali sekarang.


"Sudah tiga hari berlalu, tapi rasa sakit setelah kepergian mu masih terasa sangat sakit, Ma." Lirih Agnes. Dia menangis, saat itu juga angin berhembus dengan kencang, rambut Agnes berterbangan. 


"Mama mendengar ku kan? Aku sakit, Ma. Aku sakit sekali, aku masih belum bisa menerima kepergian mu, maaf.." Agnes menangis tergugu di atas batu nisan sang ibu. 


"Tapi, mungkin seiring berjalan nya waktu. Aku akan terbiasa dengan keadaan ini, aku juga akan berusaha untuk merelakan kepergian mu. Maafkan aku, Ma."


"Ohh iya, Ma. Aku sudah mendapatkan maaf dari Sherena. Dia perempuan yang baik kan? Dia masih mau memaafkan kita, padahal kita sudah sangat jahat pada nya. Bahkan dia memeluk ku dengan tangan terbuka."


"Aku akan berubah menjadi sosok Agnes yang baru. Aku akan menjalani hidup ku dengan baik, tidak perlu khawatir. Aku juga sudah punya pekerjaan sekarang ini, jadi Mama tidak perlu khawatir lagi. Mama bisa beristirahat dengan tenang sekarang." 


"Ternyata kerja itu capek ya, Ma? Aku sampai ke kurangan tidur sehari nya untuk mengejar target penjualan. Semoga saja aku bisa sukses nanti nya."


"Aku berjanji akan sering berkunjung kesini untuk menjenguk Mama di rumah baru Mama. Aku sudah terlambat untuk bekerja, aku pergi dulu ya, Ma?" 


"Selamat bertemu esok hari." Ucap Agnes, dia mengecup batu nisan bertuliskan nama sang ibu itu. Lalu beranjak dari duduknya dan pergi dari makam sang ibu, meninggalkan rumah baru sang ibu dengan hati yang masih merasakan sakit yang teramat sakit.


Tanpa Agnes sadari, semua itu di lihat oleh seseorang yang kebetulan juga ada disana. 


"Itu Agnes kan? Dia menangis disana? Memang nya itu siapa?" Gumam nya. Dia pun mendekat dan melihat nama yang tertulis di nisan, dia membulatkan mata nya.


"Rita? Jadi ibu nya Agnes meninggal? Kapan ya, kenapa?" Gumam pria itu lagi. Dia terakhiri bertemu dengan wanita itu saat dia datang ke sekolah saat kasus yang melibatkan Sherena, Darren dan juga Meysa hari itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ibu nya Agnes sudah meninggal. 

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻


__ADS_2