Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 127 - Jatah Atau Berhenti Merokok?


__ADS_3

"Hallo, ada apa Dad?" Tanya Sherena sambil tersenyum.


'Masih di sekolah, Mom?' Balik tanya Darren di seberang telepon.


"Iya, Dad. Ini masih kumpul-kumpul sama temen-temen, Daddy dimana?" 


'Ini udah di bawah, Mom. Sudah selesai ngerumpi nya apa belum?' Tanya Darren membuat Sherena tertawa, seperti nya suami nya memang tahu kebiasaan nya kalau sudah berkumpul dengan teman-teman nya, ya pasti ngerumpi atau bergosip hal-hal yang tak berfaedah. 


"Yaudah, Mommy kesana sekarang ya, Dad."


'Iya, hati-hati. Disini juga ada Tomi, dia sedang menunggu April seperti nya.' 


"Hehe, iya Dad. Soalnya April nya gak mau pergi sebelum aku di jemput sama Daddy, katanya takut di cincang sama Daddy." Jelas Sherena membuat April yang sedang minum itu tersedak seketika. 


Uhukk.. uhukk.. 


'Ya sudah, Daddy tunggu disini ya.'


"Oke, Daddy." Jawab Sherena. Dia terkekeh saat melihat wajah April yang memerah karena baru saja dia tersedak minuman yang sedang dia minum.


"Haha, wajah Lo merah kayak gitu, Prill."


"Cepu amat Lo, udah tahu gue takut sama laki Lo, malah ngadu." Ketus nya sambil mendelikkan kedua mata nya. Sherena terkekeh pelan, dia merasa lucu dengan ucapan April. 


"Laki gue ganteng gitu, apa yang harus Lo takutin sih?"


"Emang ganteng, tapi gak tahu lah. Dia nakutin buat gue, apalagi suara nya bikin gue merinding." Jawab April sambil terkekeh pelan.


"Udah di bawah dia?" Tanya Meysa sambil memasukkan ponsel nya ke dalam tas.


"Iya, dia udah jemput di bawah."


"Yaudah, yuk pulang." Ajak Meysa dan di angguki oleh ketiga gadis yang ada disana, mungkin empat orang karena Marvin juga masih ada disana bersama Arina. Kalau sudah begini, Marvin tuh ingin nya deket-deket terus sama Arina.


Ke empat gadis itu pun berjalan beriringan, Sherena berada di tengah-tengah antara Aprill dan Meysa. Kedua nya bermaksud untuk menjaga Sherena, karena bumil yang satu ini cukup ceroboh, hingga membuat mereka kadang-kadang sering merasa tidak percaya pada Sherena karena sikap nya yang ceroboh. 


Hingga akhirnya, ke empat nya pun keluar dari lingkungan sekolah. Mereka sudah melihat ada tiga pria tampan yang sedang mengobrol, membuat April tersenyum kecil saat melihat Tomi tampak akrab dengan Andy dan Darren. 


"Tom, aku dengar kau arsitek ya?" Tanya Darren pada Tomi. Pria itu tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya.


"Iya benar, Tuan. Dari siapa anda tahu pekerjaan saya?"


"Aprill, dia berteman dengan Sherena."


"Ohh iya, Sherena. Kalau boleh tahu, anda siapa nya Sherena?" Tanya Tomi lagi, mana dia tahu kalau pria tampan dan kaya raya di depan nya ini adalah suami dari sahabat kekasih nya. 


"Sherena adalah istriku, dan itu Andy adalah calon suami Meysa." 


"Wahh, maaf-maaf. Saya tidak tahu, Tuan." Ucap Tomi.


"Ckk, tidak perlu terlalu formal seperti itu, Tom."


"Hahaha, baiklah."


"Kau sedang mengerjakan desain di perusahaan mana sekarang ini, Tom?" Tanya Darren lagi. 


"Dari perusahaan SBC corp, Tuan."


"Ohh, begitu ya? Selain arsitek, kau juga bekerja sebagai mandor?"


"Iya, Tuan. Sekalian lah, nabung. Soalnya nikah kan perlu uang banyak, hehe." Jawab Tomi sambil terkekeh pelan.


"Hmm, aku minta nomor ponsel mu. Ada beberapa tempat yang ingin aku bangun sebuah rumah atau perusahaan." Darren mengulurkan ponsel nya dan membiarkan Tomi menuliskan nomor ponsel nya.


"Terimakasih, Tomi."


"Sama-sama, Tuan." Jawab Tomi sambil menganggukan kepala nya.


"Omong-omong, kau akan menikah beberapa hari lagi bukan?"


"Iya, Tuan. Kalau anda berkenan, tolong datanglah." 


"Tentu, aku pasti datang bersama istriku." Jawab Darren tanpa ragu. 


"Daddy.." Panggil Sherena, obrolan para pria itu pun terhenti seketika. Darren membulatkan kedua mata nya saat melihat Sherena berlari kecil untuk lebih cepat sampai ke arah nya.


"Mom, jangan berlari nanti jatuh." Ucap Darren, tapi Sherena tidak menghiraukan peringatan dari sang suami dan akhirnya dia pun tersandung, hampir saja dia terjatuh kalau saja Aprill tidak cepat menarik tangan Sherena. 


Melihat hal itu, Darren langsung berjalan mendekat dengan cepat. Aprill pun melepaskan tangan nya dari tangan Sherena saat melihat Darren mendekat, jujur saja seperti apa yang dia katakan pada sherena tadi, dia takut pada Darren. Bukan dengan wajah nya, tapi dengan tatapan tajam nya seperti saat ini. 


Pria itu berjalan dengan tubuh tegap nya lalu menarik Sherena ke dalam pelukan nya, namun sorot mata nya tetap menajam.


"Sudah Daddy peringatkan, jangan ceroboh, Mom. Ingat, kamu ini sedang hamil. Jangan melupakan hal itu!" Tegas Darren membuat kedua mata Sherena berkaca-kaca. 


"Maaf, Dad.."


"Lain kali jangan di ulangi lagi ya? Daddy khawatir sama kamu dan anak kita, Daddy harap kamu mengerti."


"Iya, Daddy. Sheren minta maaf ya?"


"Iya, sayang. Kita pulang sekarang?" Ajak Darren sambil menggandeng lengan sang istri.

__ADS_1


"Gue duluan ya gaeys, sampai jumpa di pernikahan April beberapa hari lagi."


"Oke, Sher. Hati-hati yaa.." Ucap teman-teman nya. Sherena dan Darren pun masuk ke dalam mobil dan pria itu langsung mengemudikan kendaraan roda empat nya itu menjauhi kawasan kampus.


"Gimana, seneng gak bisa kumpul-kumpul lagi sama teman-teman kamu, sayang?"


"Seneng banget dong, Dad. Kita banyak bercerita tadi."


"Bercerita atau bergosip, sayang?" Tanya Darren membuat Sherena terkekeh. Benar, memang bukan mengobrol biasa tapi bergosip karena itu sudah kebiasaan. Meskipun Sherena tidak mengaku kalau dirinya ikut bergosip, tapi tetap saja Darren bisa menebak nya karena dia tahu seperti apa istri dan teman-teman nya jika sudah berkumpul.


"Mana ada aku bergosip."


"Ckk, Daddy udah tahu kebiasaan kamu sama temen kamu kalau udah kumpul-kumpul."


"Hehe, cuma dikit kok, Dad." Jawab Sherena sambil tertawa kecil.


"Dad.."


"Yes, Mommy. Ada apa?" Tanya Darren, dia melirik sekilas ke arah sang istri yang juga tengah menatap ke arah nya.


"Tadi, ada Agnes ke sekolah. Terus.."


"Apa dia menyakiti mu lagi, sayang?" Tanya Darren dengan panik, dia panik karena dia tahu manusia macam apa Agnes itu.


"Tidak dong, Dad. Daddy juga gak perlu khawatir, karena saat melihat dia mendekat, April, Meysa sama Arin langsung berdiri buat lindungin aku, Dad." Jawab Sherena membuat Darren menghela nafas nya dengan lega. Teman-teman Sherena memang paling bisa di andalkan. 


"Baguslah kalau begitu, jadi Daddy tidak perlu marah-marah sama teman mu itu."


"Ckk, pantesan aja mereka takut sama Daddy. Ternyata begitu, marah-marah aja terus nanti cepet tua keriput gitu."


"Hmm, lalu gimana lagi?"


"Dia minta maaf sama aku, dia sampe nangis-nangis. Apa Daddy tahu? Dia juga berlutut di kaki aku lho buat maaf aku, Dad. Dia juga meminta maaf atas perbuatan jahat mendiang ibu nya dulu semasa hidup." 


"Terus, dia juga cerita kalau setiap malam ibu nya itu terus datang di dalam mimpi nya Agnes, katanya dia gak bisa tidur dengan tenang sebelum dapet maaf dari aku." Jelas Sherena, sedangkan Darren mendengar kan dengan seksama.


"Mommy gak tega dong, Dad. Jadi akhirnya aku maafin Agnes. Dia juga kelihatan cape banget lho, Dad. Wajah nya kuyu banget, kelelahan kayaknya."


"Kelelahan? Memang nya dia habis ngapain, Mom?" Tanya Darren.


"Dia bekerja paruh waktu di cafe katanya." Jawab Sherena sambil tersenyum.


"Seperti nya dia berubah?"


"Iya, dia berubah Dad." Jawab Sherena.


"Ckk, harus merasakan kehilangan semua yang dia miliki, baru nyesel dan berubah."


"Hmmm, ya kamu benar, sayang." Jawab Darren.


"Kita akan pulang, Dad?"


"Iya, kita pulang. Pekerjaan Daddy juga sudah selesai semua nya, jadi ngapain ke kantor lagi? Mending leha-leha di rumah sambil manja-manjaan sama Mommy." Jawab pria itu sambil tersenyum genit, kalau sudah begini pastilah jawaban nya ke hal-hal yang berbau mesuum. Tapi tak apa, dia suka. Jadi dia tidak akan menolak apapun keinginan suami nya, apapun itu. 


Sedangkan di tempat lain, Arina dan Marvin baru saja sampai ke rumah. Tadi di perjalanan pulang, mereka berhenti di tempat seblak karena Arina tiba-tiba saja menginginkan makanan berkuah pedas itu. 


"Enak gak, Bby?" Tanya Marvin sambil menekan-nekan konsol game di tangan nya.


"Enak dong, banget malahan." Jawab Arina sambil tersenyum kecil.


"Suapin dong, satu aja. Bakso nya aja tapi." Pinta Marvin, jujur saja dia tidak menyukai makanan itu. Berbeda dengan Arina, hampir setiap hari dia memakan makanan itu tanpa merasa bosan sedikit pun. 


Arin pun menyuapi Marvin dengan seblak yang sedang dia makan, pemuda itu menerima nya dan mengunyah nya dengan perlahan. Rasa nya tidak terlalu buruk.


"Gimana?"


"Apa nya, Bby?" Tanya Marvin membuat Arina terkekeh.


"Seblak nya, sayang."


"Ohh, kirain apaan. Lumayan lah, not bad but no good." Jawab Marvin membuat Arina tertawa.


"Sok Inggris."


"Dih, aku pandai bahasa inggris ya."


"Isshh, iya-iya. Mentang-mentang orang tua kamu bule, jadi pinter bahasa inggris."


"Hahaha, kamu ini sayang. Lagi dong, enak juga."


"Ini lebih enak dari pada rokok kamu itu kan, Bby?" Tanya Arina.


"Enggak, rokok ku masih jauh lebih enak." Jawab Marvin membuat Arina mendelik.


"Kalau sama ini? Gimana?" Tanya Arina sambil membuka kancing blouse nya satu persatu dengan perlahan, membuat Marvin melepaskan konsol game nya. Dia menatap Arina dengan tatapan yang penuh arti. Dengan nakal, Arina mengusap dada nya yang berisi dan kenyal, putih dan mulus. Terlihat sangat menggiurkan.


"Bby, tolonglah. Ini masih siang lho.."


"Ya, terus?"


"Kamu udah menggoda aja, nih liat." Marvin bangkit dari duduk nya, lalu membuka celana panjang nya dan menyisakan celana pendek yang tadi dia pakai di dalam. 

__ADS_1


Menggembung. Ya benar, terlihat jelas kalau bagian sensitif sang kekasih sudah menggembung menunjukkan kalau dia sudah mulai terpancing.


"Pengen gak?"


"Banget, yuk. Satu ronde aja sore ini, nanti malem lanjut satu ronde. Gimana?" Tanya Marvin sambil menarik turunkan alis nya dengan nakal.


"Deal, tapi ada syarat nya.."


"Hah, pake syarat segala, Bby?" Tanya Marvin sambil mengernyitkan kening nya. 


"Iya, pake syarat. Gimana, kamu sanggup?" Marvin terdiam sambil memikirkan kira-kira apa yang akan menjadi syarat dari Arin agar dia bisa menikmati jatah nya. 


"Bayangkan saat aku berada di atas tubuh mu, sayang." Goda Arin membuat Marvin langsung mengangguk. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung menyanggupi syarat dari Arina, meskipun dia belum tahu apa syarat dari sang kekasih. Tapi saat membayangkan Arina yang bermain di atas tubuh nya, membuat nya bersemangat. Itu adalah kelemahan nya, dia paling suka saat Arina bergerak di atas nya. 


"Baiklah, apa syarat nya, sayang?"


"Berhenti merokok!"


"Sayang, kamu kan tahu kalau aku gak bisa berhenti. Itu udah candu buat aku, sayang."


"Jadi, gimana? Gak mau jatah?" Tanya Arina lagi sambil tersenyum menggoda ke arah Marvin membuat pemuda itu merasa frustasi sendiri. Dia tidak bisa berhenti merokok, tapi dia juga tidak bisa menahan gairah nya apalagi jika tidak memberikan jatah nya padanya. Bahaya, benar-benar gawat bagi kesejahteraan dirinya dan juga sang junior. 


"Aku masih nunggu jawaban kamu lho, yang.."


"Aku akan coba berhenti tapi secara perlahan, bagaimana? Kalau langsung berhenti, aku takut gak kuat." Jawab Marvin.


"Itu sih derita kamu, aku gak mau tahu." Jawab Arina sambil kembali memakan seblak nya dengan lahap.


"Sayang, plis.."


"Gak mau tahu!" 


"Ckk.." Marvin berdecak, dia suka merokok dan juga suka jatah nya. Jadi bagaimana? Dia kebingungan sendiri karena kedua nya sama-sama kegiatan favorit nya. 


Tapi saat melihat dada Arina yang menyembul indah, akhirnya pertahanan Marvin runtuh. Dia harus berhenti merokok, itu tekad nya agar bisa berhenti merokok. 


"Jangan dekat-dekat, baju kamu bau begitu." Tapi Marvin tidak mengindahkan ucapan Arina, dia semakin mendekat dan menarik tengkuk sang kekasih dan mencium bibir nya dengan mesra. Arina terkejut bukan main, tapi kemudian dia menikmati ciuman itu hingga akhirnya kedua nya terjebak dalam ciuman yang memabukkan.


Tanpa banyak bicara lagi, Marvin pun langsung menggendong Arina ke kamar dan terjadilah huru hara di dalam sana. Dimana, sore hari yang terlihat mendung itu di warnai dengan suara-suara erotis yang bersahutan dari dalam kamar tempat kedua nya memadu kasih.


Malam hari nya, Marvin terlihat sedang memasak untuk makan malam. Dia mengaduk nasi goreng di dalam teflon, sedangkan Arina masih tertidur karena kelelahan setelah di terkam oleh Marvin hampir dua jam lama nya. Itulah alasan kenapa Arina sering menolak permintaan sang kekasih untuk bermain, karena sekali bermain durasi nya sangat lama dan itu membuat inti tubuh nya lecet dan terasa perih.


Arina terusik dengan aroma makanan yang membuat perut nya keroncongan, dia mengenakan daster selutut dan keluar dengan langkah perlahan karena inti nya masih terasa sakit dan perih karena ulah rudal jumbo milik sang kekasih. 


"Masak apa, Bby?" Tanya Arina sambil bersandar manja di punggung Marvin. Pemuda itu menoleh lalu tersenyum saat melihat penampilan Arina yang terlihat sedikit berantakan, tapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun kecantikan yang di miliki oleh Arina.


"Nasi goreng doang, Bby. Laper gak?" Tanya Marvin membuat bibir Arina mencebik.


"Pake nanya, ya laper lah. Kamu main kayak orang kesurupan." Celetuk Arina membuat Marvin tertawa.


"Apa iya?"


"Iya lah, aku yang ngerasain lho. Sakit banget ini bekas nya." Jawab Arina.


"Maaf ya? Habis nya kamu tuh enak banget."


"Cepetan deh, aku laper."


"Sebentar lagi mateng kok, kamu bikin es teh ya?"


"Siap bos." Jawab Arina, dia pun berjalan pelan sambil memegangi pinggang nya, lalu mengambil air dan teh di dalam kulkas. Lalu menanak nya hingga panas dan menyeduh teh instan. Lalu menambahkan es batu dan gula, es teh nya pun siap. 


"Sayang, sudah? Ayo makan dulu." Ajak Marvin. Arina pun langsung mendekat dan duduk di samping Marvin dengan dua cangkir es teh manis. 


"Ini punya kamu, sayang."


"Kok porsi nya lebih banyak punya aku, Bby?"


"Gapapa, biar kamu kenyang. Soalnya pasti kamu capek habis layanin aku?" 


"Ohh, tumben kamu peka, sayang?" Tanya Arina sambil terkekeh.


"Hehe, maaf ya kalau selama ini aku gak peka, sayangku." Jawab Marvin sambil tergelak. Kedua nya pun makan dengan lahap, sesekali mereka bercanda ria sambil makan dengan lahap. Makan malam selalu terasa lebih hangat saat mereka makan bersama seperti ini.


"Gapapa kok, jadi udah dapet kerjaan belom, Bby?"


"Rencana nya sih mau ngelamar jadi OB di perusahaan nya laki si Sheren." Jawab Marvin sambil tersenyum kecil. 


"Kamu gapapa jadi OB, Bby? Kenapa gak ngikut perusahaan papi kamu aja?"


"Enggak lah, kalo kerja di perusahaan orang tua tuh berasa gak bebas aja rasanya." Jelas Marvin sambil tersenyum.


"Tapi, jadi OB kan capek, Bby."


"Yang nama nya kerjaan semua nya juga pasti capek, sayang. Jangankan kerja, main sama kamu aja capek kan? Bikin keringat, bener gak?"


"Otak mesuum.." Celetuk Arina dengan ketus, membuat Marvin terkekeh pelan. Entahlah, semenjak dia menikmati tubuh Arina hari itu, pikiran nya tidak pernah jauh-jauh dari hal yang berbau mesuum.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2