Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 106 - Nasehat Andy


__ADS_3

Pria itu masih terdiam sambil menatap sang gadis yang menunjukkan wajah super duper asam nya, dia sedang membereskan meja makan setelah acara sarapan nya selesai. 


"Yang, aku mau berangkat sekarang."


"Yaudah." 


"Mau nitip makanan pas nanti aku pulang gak?" Tanya Darren. 


"Gak ada." 


"Beneran, sayang?"


"Gak usah bicara sama aku dulu sebelum kamu menjelaskan semua nya."


"Menjelaskan apa, Babe?" Tanya Darren dengan kening yang mengernyit keheranan.


"Bahkan kamu tidak tahu dimana letak kesalahan mu, kenapa aku sampai marah begini hmm? Sudahlah, aku capek. Mulai malam ini, aku pulang ke rumah ku." Jawab Sherena membuat Darren membulatkan kedua mata nya. 


"Yang, kok gitu sih? Jangan dong, yang. Please.."


"Habiskan kopi mu, lalu berangkat. Nanti kamu akan terlambat." Ucap Sherena tanpa menoleh sedikit pun. Gadis itu memilih memalingkan wajah nya dari sang pria. Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar. Sebegini kah fatal nya kesalahan nya? Hanya karena sebatang rokok saja, tapi berbuntut panjang seperti ini. 


"Semarah itu kah kamu, yang? Sampai tidak mau menatap wajah ku seperti ini."


"Ya, aku sangat marah." Jawab Sherena. Dia menatap wajah tampan sang kekasih, Darren melihat ada tatapan penuh rasa sakit dan ke kecewaan dari tatapan sang gadis. Sefatal inikah kesalahan nya?


"Sayang.."


"Cukup, pergilah." Usir Sherena, membuat Darren yang tadinya sudah bersiap untuk mendekat ke arah nya, berhenti seketika. 


"Jika kamu pulang nanti aku sudah tidak ada, artinya aku sudah pulang ke rumah." Ucap Darren. Pria itu yang sudah berniat untuk pergi pun berbalik, tapi Sherena masih tidak mau menatap ke arah nya. Darren pun memilih pergi dari rumah untuk bekerja. 


Sherena mengintip dari balik jendela saat Darren menghidupkan mesin mobil nya, lalu beberapa saat kemudian, mobil itu melaju dengan cepat menjauhi rumah nya. 


"Hufftt, semoga saja kamu bisa menyadari kesalahan mu, sayang. Maaf, aku begini karena aku ingin kamu terbuka. Maaf juga kalau aku terlalu egois dalam mengambil keputusan." Gumam Sherena, dia menghembuskan nafas nya dengan kasar lalu menaiki tangga dan masuk ke kamar nya. 


Dia mengemasi barang-barang milik nya, lalu memasukkan nya ke dalam tas gendong miliknya. Dia pun meninggalkan rumah milik sang kekasih, tak lupa mengunci pintu nya dan menyimpan kunci nya di tempat biasa. Sherena menatap rumah besar yang selama ini dia tempati bersama Darren lalu berbalik, niat nya untuk pulang sudah benar-benar bulat. 


Biarlah, dia akan menjauh untuk sementara waktu. Sampai Darren benar-benar menyadari kesalahan nya dan mau terbuka pada nya. Tentang apa yang dia rasakan, atau masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Inti nya, Sherena hanya ingin Darren berbagi sedikit masalah dengan nya. Itu akan membuat Sherena merasa di hargai, tidak seperti ini. 


Darren diam-diam menyembunyikan sebuah masalah dan melampiaskan nya dengan cara yang salah. Itulah yang tak di sukai oleh Sherena, bukan seperti itu yang dia inginkan. 


"Non, sudah pulang?"


"Hmmm, iya Bi." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Dia pun langsung menaiki tangga menuju ke kamar nya untuk beristirahat, nanti siang dia akan pergi ke mall bersama teman-teman nya untuk sekedar healing sejenak menghilangkan ke bosanan. Sekaligus Quality Time, mereka sudah jarang jalan-jalan bareng ke mall setelah lulus dan memiliki tambatan hati masing-masing. Karena waktu mereka selalu habis dengan pacar masing-masing. 


Sherena pun merebahkan tubuh nya di atas ranjang, sedari tadi ponsel nya terus saja berbunyi. Namun, Sherena memilih membiarkan nya saja. Palingan itu panggilan dari teman-teman nya, April, Meysa kalau tidak ya pasti Arin. 


Tapi, semakin di biarkan ponsel nya malah semakin sering berbunyi nyaring dan itu membuat Sherena kesal. Akhirnya, dia mengambil ponsel nya dan melihat siapa yang sedari tadi menghubungi nya. Benar saja, April, Meysa dan juga Arina. 


Sherena membuka room chat pribadi nya dengan ketiga sahabat nya itu, lalu menanyakan apa maksud mereka menghubungi nya, padahal semalam mereka janjian ketemuan di mall jam satu siang. Tapi ini masih jam sembilan, mereka sudah meneror nya dengan panggilan-panggilan dan pesan yang membuat ponsel Sherena ngelag sejenak saat data internet di ponsel nya di nyalakan.


"Ngapain udah nelponin jam segini? Pada kurang kerjaan apa yakk?" Tanya Sherena.


'Wkwk, gak gitu. Kita cuma mau mastiin kalo Lo gak lupa sama janji kita semalem.' Balas April dengan emoticon tertawa.


"Gue masih muda ya, gak sepikun itu. Gue inget kok, jam satu siang di mall Surya kencana kan?" 


'Oke deh kalo inget, kita tungguin ya. Inget, gak usah bawa laki. Ini beneran quality time buat ciwi-ciwi. Paham gak Lo?' Tanya Meysa membuat Sherena bad mood, pasalnya dia sedang bertengkar dengan Darren. Jadi pesan itu membuat nya kesal. 


"Paham gue, dahlah gue mau tidur dulu bentar. Punya temen kayak Lo pada bikin gue harus punya banyak stok kesabaran." 

__ADS_1


Mereka pun hanya membalas dengan stiker emoji tertawa. Mereka tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Sherena, karena memang pada dasar nya mereka memang sedikit menyebalkan, apalagi dengan segala tingkah random mereka, membuat ucapan Sherena sangat tepat. Dia harus mempunyai banyak tenaga dan stok kesabaran yang banyak untuk bisa menghadapi ketiga teman nya. 


Tapi, di balik tingkah dan sifat mereka masing-masing, ketiga nya memang teman yang baik. Mereka selalu bisa memberikan solusi yang baik dan memberikan hiburan disaat salah satu dari mereka merasa sedih akan sesuatu. 


Di kantor, Andy mengernyitkan kening nya saat melihat wajah Darren yang kusut. Sangat kusut, seperti pakaian yang tidak di setrika satu tahun, saking kusut nya. Tentu saja itu membuat Andy bertanya-tanya, kira-kira ada apa yang membuat wajah tampan pria itu se kusut itu, padahal ini masih pagi. 


"Permisi, Tuan. Selamat pagi.."


"Ya, pagi.." jawab Naren dengan lemas. Ya, terdengar sangat lemas bagi pendengaran Andy. 


"Maaf, Tuan. Ada apa dengan wajah anda pagi ini?" Tanya Andy membuat Naren langsung meraba-raba wajah nya. Mencari, kira-kira apa yang aneh menurut Andy. Padahal, dia merasa tidak ada yang aneh menurut nya.


"Wajah ku baik-baik saja, apa aku terlihat aneh atau jelek, Andy?" Balik tanya Darren membuat Andy mengernyit. Bukan itu maksud nya, kalau masalah wajah ya Darren memang memiliki wajah yang tampan, itu sih tidak perlu di tanyakan lagi. 


"Bukan itu maksud saya, Tuan."


"Lalu?" Tanya Darren lagi, membuat Andy terkekeh pelan. 


"Wajah anda terlihat kusut, Tuan. Anda kenapa? Memiliki masalah? Anda bisa bercerita pada saya." Jelas Andy, membuat Darren mendongakan wajah nya. 


"Sherena marah pada ku, Andy."


"Marah? Kenapa bisa?" Tanya Andy. Setahu nya, pasangan kekasih itu baik-baik saja. Bahkan selalu menebar kemesraan dimana-mana, jadi saat mendengar kalau kedua nya bertengkar, Andy cukup terkejut. 


"Aku ketahuan merokok, Andy."


"H-aahh?" Tanya Andy lagi, membuat Darren msngangguk pelan. 


"Astaga, Tuan. Saya bilang juga apa, hentikan kebiasaan buruk itu. Karena merokok benar-benar tidak baik untuk kesehatan."


"Tapi, aku rasa bukan itu yang menjadi permasalahan nya, Andy." 


"Lalu, apa?"


Dia tidak boleh asal menerka, karena ini terlalu beresiko untuk hubungan Sherena dan Darren. Salah saja memberikan solusi, pasti akan berabe kesana nya nanti dan Andy tidak mau di salahkan tentang hal apapun yang berkaitan dengan hubungan atasan nya dan salah satu sahabat kekasih nya itu. 


"Ya, mungkin yang di inginkan oleh Nona Sherena adalah kejujuran, Tuan."


"Maksud mu? Aku tak membohongi nya sama sekali." Darren mengelak, padahal dia memang memiliki sedikit masalah yang membuat dia kembali melakukan kesalahan nya.


"Apa Tuan sedang ada masalah? Tolong jujur pada saya, Tuan." 


"Hmmm, ya memang aku memiliki sedikit masalah yang membuat aku kembali dengan kebiasaan buruk ini, Andy." Jelas Darren membuat Andy mengangguk, dia paham benar biduk permasalahan antara Darren dan Sherena. 


"Oke, jadi inti nya pasti Nona Sherena mengira kalau anda merokok karena memiliki masalah dan itu adalah cara anda melampiaskan kemarahan, ke kecewaan atau ke kesalan anda dengan melakukan kebiasaan buruk itu."


"Menurut saya, anda harus terbuka dan bicara jujur pada Nona Sherena tentang masalah yang sedang anda hadapi. Menurut saya, ini simple saja. Dia ingin anda berbagi keluh kesah dengan nya, berbagi suka dan duka bersama nya. Itu saja, jadi bukan karena masalah rokok nya tapi karena anda tidak jujur pada Nona Sherena lah yang menjadi biduk permasalahan nya, Tuan." Jelas Andy panjang lebar. Membuat Darren terdiam, dia rasa penjelasan Andy barusan memang benar. 


Dia tidak jujur pada Sherena, padahal dia kekasih nya dan dia berhak mengetahui apa masalah yang saat ini dia alami dan dia hadapi. 


"Jadi menurut mu, aku harus menceritakan semua nya pada Sherena, begitu?"


"Iya, Tuan. Dengan begitu, dia akan merasa di hargai oleh anda sebagai kekasih, bukan orang asing."


"Dia memang bukan orang asing, Andy. Dia kekasih ku dan sebentar lagi akan menjadi istriku, bagian dari hidup ku!" Tegas Darren, membuat Andy sedikit menyunggingkan senyum tipis nya.


"Tapi, dengan anda tidak jujur pada Nona Sherena, itu membuat dia merasa di orang asingkan, Tuan." Jawab Andy. 


Darren menganggukan kepala nya, ucapan Andy benar-benar memojokkan nya. Benar, Sherena pasti merasa di orang asingkan, maka nya dia marah saat ini. 


"Saran saya, lebih baik anda segera bertemu dengan Nona Sherena dan bicarakan ini secara baik-baik agar tidak terjadi kesalah pahaman." Jelas Andy.

__ADS_1


"Hmm, ya. Aku akan mencoba bicara bersama Sherena nanti malam, terimakasih sudah memberikan solusi yang terbaik untuk ku, Andy."


"Sama-sama, Tuan. Itu sudah tugas saya, semoga anda cepat berbaikan dengan Nona Sherena ya, Tuan."


"Ya, Terimakasih Andy." Jawab Darren, Andy pun menganggukan. Setelah merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Andy pun memilih pergi dari ruangan atasan nya untuk melanjutkan pekerjaan nya yang cukup menggunung. 


Di tempat lain, Sherena berpamitan pada bibi-bibi art yang bekerja di rumah nya. Dia berpamitan untuk pergi ke mall berkumpul bersama teman-teman nya. Kali ini, Sherena berangkat dengan membawa sepeda motor matic yang di belikan oleh Papa nya saat hari ulang tahun nya. 


"Hati-hati, Nona."


"Iya, Bi. Sherena gak bakalan lama kok, paling sampe sore aja."


"Iya, Nona." Jawab nya, Sherena pun memakai helm nya dan melajukan kendaraan beroda dua itu menjauhi rumah nya. Kebetulan, jarak dari rumah nya ke mall itu tidak terlalu jauh. Hanya di tempuh dengan waktu lima belas menit saja, Sherena sudah sampai di mall itu. 


Sesampai nya di mall, Sherena terlihat celingukan mencari keberadaan tiga teman-teman nya. Setelah menemukan nya, gadis itu langsung berjalan mendekat dan duduk di kursi yang kosong. 


"Wajah nya kusut benar dah, kenapa?" Tanya April saat melihat wajah Sherena yang kusut, sekusut benang pancing. 


"Bentaran dah, pesenin gue minum dong. Lemon tea, capek banget nih gue." Ucap Sherena. Meysa pun langsung memesankan minuman untuk Sherena dan tak membutuhkan waktu lama, segelas besar lemon tea tersaji di depan mata nya. Sherena langsung meminum nya dengan cepat. 


"Haus banget dah ini orang, sampe netes-netes gitu deh." 


"Iya nih, bagaimana ini? Calon istri Pak CEO kok agak barbar begini ya?" Ucap Arina membuat Sherena mendelik. 


"Anjir, di delikin gak tuh sama calon nyonya CEO." 


"Diem deh kalian, capek banget gue."


"Lo keliatan nya bad mood banget deh, kenapa? Cerita kali sama kita-kita." Ucap Meysa.


"Males, mulut kalian ember. Gak bisa jaga rahasia." Jelas Sherena membuat ketiga nya berdecak sebal bersamaan. Mendengar itu, Sherena tertawa. Sudah kebiasaan mereka seperti nya, kalau melakukan sesuatu pasti barengan seperti itu. 


"Kapan sih kita ember hmm?"


"Iya iya, sorry." Jawab Sherena. 


"Jadi, Lo kenapa hmm?" Tanya Arina. 


"Gue lagi bad mood parah dari kemaren malam, gays."


"Iya kenapa? Perasaan masih belum akhir bulan deh, berarti Lo bad mood bukan karena lagi dapet." Ucap April. Dia tahu benar kalau Sherena biasa nya mendapatkan tamu bulanan nya pasti di tanggal akhir. 


"Gue berantem sama Darren." Lirih Sherena sambil memutar-mutar sedotan di dalam gelas minuman nya itu. 


"Lah, kenapa?" Tanya Arina dengan keheranan, biasa nya kan mereka selalu akur.


"Kok bisa sih?" Tanya April. 


"Iya, padahal biasa nya kalian kan selalu lengket dan romantis gitu. Kenapa?" Tanya Meysa.


"Gue sebel, tadi malam gue lihat dia merokok di balkon."


"Ya, terus? Ngerokok bagi pria kan udah biasa, wajar gitu. Pacar gue juga ngerokok kok, gapapa." Jelas April membuat Sherena terdiam.


"Bukan masalah rokok nya, Prill. Laki gue bukan tipe laki-laki yang suka ngerokok tanpa alasan. Dia ngerokok pasti karena lagi punya masalah, Lo paham gak?"


"Terus gimana?" Tanya Arina.


"Gue marah karena Darren gak jujur sama gue kalau dia lagi punya masalah, itu aja."


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2