Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 107 - Quality Time With Trio Wekwek


__ADS_3

"Setelah gue denger penjelasan Lo, gue gak bisa komen sih. Ini berhubungan sama hati Lo." Ucap April pelan, membuat Sherena hanya terdiam dengan air muka yang kecut seperti tadi. Tidak berubah sama sekali. 


"Tapi, sebaiknya Lo harus selesaikan masalah ini baik-baik dengan kepala dingin." Jelas Meysa. 


"Gampang, pakein es aja kepala nya. Dah dingin tuh." Celetuk Arina sambil menggigit sepotong ayam goreng dan memakan nya. 


"Dihh, Lo mah. Serius dikit napa sih? Heran gue, kenapa Marvin mau sama modelan cewek kayak Lo deh." Ucap Meysa, tapi bukan nya membuat Arina tersinggung atau marah. Tapi sebaliknya, Arina malah tertawa terbahak-bahak tanpa merasa tersinggung sama sekali. 


"Jelas Marvin mau lah, secara ya kan gue tuh cantik, manis dan imut begini kok." Jawab Arina sambil mengibaskan rambut nya ke belakang dengan percaya diri. 


"Iya sih, cantik tapi kelakuan nya kayak bakso urat. Ngeselin, alot." Celetuk Meysa membuat Arina semakin tertawa.


"Kok gue di samain sama bakso urat sih." 


"Mirip soalnya, gak bulet tapi bertekstur kayak wajah Lo." Ucap April, membuat Arina mendelik. 


"Ya kalo rata gue bukan manusia kali." Jawab Arina, membuat ketiga teman nya itu terkekeh. Ada-ada saja memang teman-teman nya ini. 


"Oke, balik lagi ke topik utama. Menurut gue sih, mendingan Lo bicarain ini sama Darren deh."


"Bicarain apaan? Gue laper kalo sekarang." Jawab Sherena sambil sibuk memakan ayam goreng dengan lahap.


"Astaga, makan aja Lo." 


"Mey, tanyain sama laki Lo dong. Apa Darren ada cerita sama dia tentang masalah ini." Ucap Sherena, Meysa yang kebetulan sedang bermain ponsel dan bertukar pesan dengan sang kekasih itu pun langsung mengirimkan pesan itu. 


"Belom bales, kalo dah bales gue kasih tahu nanti."


"Okelah, gue pengen lupain masalah ini sejenak. Sumpah, kepala gue pusing banget. Semalam kurang tidur gara-gara marahan, tadi pagi di teror teman-teman laknat yang bikin tidur guebgak tenang!" Ketus Sherena, membuat teman-teman yang nya tertawa. 

__ADS_1


"Sorry elaah, mana kita tahu kan ya kalo Lo habis berantem rumah tangga."


"Diem lu, ayo makan. Gue laper lah." Ucap Sherena. Ketiga pun memakan ayam goreng itu dengan lahap. Ke empat gadis itu makan ayam goreng krispi dengan lahap, sesekali mereka mengobrol sambil bercanda yang mengundang gelak tawa. 


"Nih, laki gue dah bales." Ucap Meysa sambil memperlihatkan balasan dari Andy. Sherena mengambil ponsel milik Meysa dan membaca pesan dari asisten sang kekasih. 


"Dih, dia senyam senyum dia gays." Celetuk April sambil terkekeh, saat melihat Sherena yang mesem-mesem sambil membaca pesan dari Andy. 


'Bukan lagi, wajah nya sampai kusut parah kayak bungkus nasi padang. Pas aku tanya kenapa, dia bilang Nona Sheren marah gara-gara dia ngerokok. Tapi aku sudah bilangin sama dia kok biar terbuka sama Nona Sheren biar gak ada salah paham. Katanya, nanti malem dia mau bicara sama Nona Sheren kok.' Isi pesan yang di kirimkan oleh Meysa. 


"Ternyata dia sampai segitu nya ya.."


"Iyalah, orang Lo pacar nya. Lagian dia tuh udah bucin akut kan sama Lo, jadi wajar aja kalau dia segalau itu pas Lo marah sama dia." Jelas April sambil terkekeh.


"Iya tuh, bener kata April. Gue aja liatnya suka iri liat kalian berdua, tapi ya sekarang gue juga bisa kayak gitu." Celetuk Arina sambil tertawa.


"Jujur aja nih, gue masih gak nyangka kalo Lo bakalan laku. Eehh, laki-laki yang demen si Arin malah cowok famous di sekolah anjir, si Marvin." 


"Anjir ketahuan, dia pakai pelet anjir." Ucap Meysa sambil tertawa. Ketiga gadis itu pun tertawa. Tentu nya, Arina mengatakan hal itu hanya untuk candaan agar suasana tidak canggung. Tentu saja, dia bisa berpacaran dengan Marvin karena murni pria itu yang menyukai nya duluan. 


Awalnya, Arin merasa ragu saat Marvin mengatakan dia menyukai nya dan meminta nya untuk menjadi kekasih nya. Karena yang Arina tahu, Marvin menyukai sahabat nya, Sherena. Bahkan, pria itu dengan terang-terangan mengejar cinta seorang Sherena. Tapi kenapa sekarang malah berbalik target dan malah menyatakan perasaan nya padanya? Dia khawatir, kalau dia hanya menjadi bahan pelampiasan pria itu. 


Tapi setelah mendengar semua penjelasan yang di lakukan oleh Marvin dan melihat usaha pria itu untuk meluluhkan hati nya dan membuktikan semua perkataan nya itu dengan serius. Akhirnya, Arina berusaha untuk percaya pada Marvin dan memberanikan diri untuk menerima ungkapan perasaan Marvin dan menjadi sepasang kekasih. 


Ternyata, Marvin memang benar-benar mencintai dirinya. Dia sudah melupakan Sherena dan hanya fokus padanya. Arina pernah meminta bukti atas semua ucapan Marvin dan besok malam nya, pria itu membawa kedua orang tua nya, berkunjung ke rumah. Arin menyangka mereka hanya datang untuk berkunjung saja, tapi ternyata mereka datang untuk melamar Arina untuk Marvin. 


Jelas, dia terkejut bukan main tapi akhirnya dia menerima lamaran pria itu. Jujur saja, sudah cukup lama dia menyukai Marvin. Dari kelas satu SMA, dia menyukai sosok pria berwajah tampan bak malaikat itu dalam diam. Saking hebat nya Arina menyimpan perasaan nya, tak ada yang mengetahui kalau sebenarnya Arina menyukai Marvin. 


Bahkan saat ini pun, setelah dia bertunangan dengan Marvin, pria itu tidak mengetahui sama sekali kalau Arina menyimpan perasaan terhadap nya sudah sejak lama. Saat Marvin mengatakan kalau dia menyukai Sherena, Arina merasa minder sendiri dan sebisa mungkin dia tidak menunjukkan reaksi apapun agar tidak ada yang curiga dengan perasaan nya selama ini terhadap Marvin. 

__ADS_1


Tapi, itulah yang nama nya jodoh. Tak ada yang tahu kita berjodoh dengan siapa kan? Bukti nya sekarang, Marvin mengejar Sherena tapi tetap dirinya yang memenangkan hati seorang Marvin sepenuh nya. Bahkan dia sudah membuktikan keseriusan pada nya, jadi tak ada salah nya kalau dia merasa besar kepala sekarang kan? Dia senang sekaligus bahagia karena bisa membuat Marvin nyaman bersama nya dan mencintai nya.


"Pelet nya bikinin sarapan tiap pagi, iya gak sih?" Tanya Meysa sambil memainkan alis nya naik turun.


"Nyindir gue ya Lo?" Tanya Sherena sambil menatap ke arah sahabat nya. 


"Haha, peka amat deh Lo." 


"Sial banget, gak usah nyindir-nyindir gue. Nama nya juga usaha dan akhirnya gue dapetin ayang Darren."


"Dih ayang katanya, tadi aja mencak-mencak sambil marah-marah." Celetuk April sambil tergelak. 


"Diem lah, tapi gue seneng karena dia mikirin cara buat baikan sama gue. Itu aja udah bikin gue seneng kok. Oke, semua makanan ini gue yang bayarin!" Ucap Sherena membuat ketiga teman-teman nya bersorak kegirangan. 


"Ini nih yang bikin kita seneng sama Lo, Sher."


"Ckkk, ada maunya Lo. Gemes gue, sini gue siram lemon tea biar ada kecut-kecut nya." Celetuk Sherena membuat April terdiam seketika. 


"Makasih Sherena yang cantik, manis, putih, imut dan rajin menabung. Sering-sering aja traktir kita makan ya, biar kita gak perlu keluar uang." Ucap Arina sambil terkekeh kecil. 


"Makanya, kalian tuh harus jagain mood gue ya." 


"Siap." Jawab ketiga nya kompak, sudah mendengar traktiran saja langsung kompak. 


Setelah selesai dengan acara makan-makan, mereka pun melanjutkan dengan berjalan-jalan di sekitar mall di iringi dengan canda tawa yang membuat suasana jauh lebih hangat. Kalau sudah sefrekuensi seperti ini, bahkan tatap-tatapan saja, bisa membuat mereka tertawa kan?


"Beli es krim lah, enak buat ngademin kepala."


"Boleh, kali ini gue yang traktir." Ucap Meysa, lagi-lagi ketiga nya bersorak kesenangan. Mereka memang orang punya, tapi kalau mendengar kata traktir, mereka akan sangat dengan senang hati menerima nya. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2