Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 112 - Sherena Hamil


__ADS_3

"Permisi, dengan keluarga pasien?" Tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan. Darren yang tengah menunduk sambil menutupi wajan nya dengan kedua tangan mendongak dan langsung beranjak dari duduk nya.


"Saya suami nya, Sus. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Darren. Dia refleks mengatakan kalau Sherena adalah istri nya. Padahal, seminggu lagi mereka baru akan melangsungkan pernikahan. 


"Kondisi istri Tuan sudah membaik, hanya saja jangan terlalu banyak beraktivitas lebih dulu, dokter menyarankan agar istri anda melakukan bed rest." Jelas nya membuat kening Darren mengernyit. Jadi, sebenarnya ada apa dengan Sherena?


"Istri saya kenapa, sus?"


"Anda belum tahu? Istri anda tengah mengandung, Tuan. Beruntung nya, janin yang di kandung oleh istri anda masih bisa di selamatkan. Kalau sampai hal ini terjadi lagi, akan sangat berbahaya."


"H-aahh? Istri saya hamil, sus?" Tanya Darren. Dia benar-benar terkejut saat mengetahui fakta kalau ternyata Sherena sedang hamil.


"Iya, istri anda sedang hamil. Usia kandungan nya saat ini sudah berusia enam minggu. Kandungan nya masih sangat rentan keguguran, itu lah yang membuat nya pendarahan." Jelas perawat itu membuat Darren terdiam. Sungguh demi apapun, dia tidak menyangka kalau Sherena tengah mengandung saat ini. Dia bahagia? Tentu saja, dia sangat bahagia karena dia sudah sangat lama menantikan kabar bahagia ini. 


Tapi, dengan status mereka saat ini bagaimana orang tua Sherena menyikapi nya? Dia sudah bisa membayangkan kemarahan Arya, ayah Sherena. Memikirkan nya saja, sudah membuat kepala nya pusing. 


"Tuan, anda melamun?"


"Aaahh, tidak sus. Bisakah saya melihat keadaan istri saya?"


"Tentu saja, Tuan. Silahkan." Darren pun masuk ke dalam ruangan. Pria itu menatap sang kekasih yang masih belum membuka kedua mata nya. 


Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di samping brankar tempat tidur sang kekasih dengan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Darren menggenggam tangan Sherena dengan erat, sambil mengusap-usap punggung tangan nya dengan lembut.


"Bee, bangunlah. Maafkan aku terlambat, andai saja aku datang lebih cepat mungkin ini semua takkan terjadi." Gumam Darren, dia menundukan kepala nya dalam. Dia benar-benar menyesal kenapa dia datang terlambat? Kalau saja dia datang lebih cepat, pasti keadaan Sherena takkan seperti ini. 


Tapi, kalau Sherena tidak pendarahan dan di bawa ke rumah sakit. Mungkin sampai saat ini, Darren takkan mengetahui kalau sebenarnya sang kekasih tengah mengandung buah cinta mereka berdua. Selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian bukan? Itu benar dan Darren merasakan nya saat ini. 


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, sayang. Aku tidak apa-apa, aku dan anak kita baik-baik saja." Suara yang terdengar sangat lirih. Darren mendongakan kepala nya, dia menatap wajah cantik Sherena yang tengah tersenyum menatap ke arah nya.


"Bee.."


Darren langsung memeluk Sherena dengan erat, dia menangis di pelukan gadis itu. Ini adalah pertama kali nya dia menangis, setelah beberapa tahun silam dia menangisi kematian kedua orang tua nya. Kini, dia menangis karena saking khawatir nya dengan keadaan sang kekasih. 


"Kok nangis? Udah mau jadi Ayah, kenapa masih cengeng hmm?" Tanya Sherena membuat Darren segera melerai pelukan nya, dia sedikit menjauh dari posisi sang kekasih. Mata nya menatap Sherena dengan intens. 


"Sejak kapan kamu menyadari nya, sayang?"


"Hmm, mungkin sekitar satu minggu yang lalu, sayang." Jawab Sherena membuat kedua mata pria itu membeliak. 


"Satu minggu? Kenapa kamu tidak memberitahu aku, Bee?"


"Aku pikir, aku akan memberikan kejutan di hari ulang tahun mu, besok. Tapi malah terjadi hal yang tak di inginkan, kamu jadi tahu duluan." Jelas Sherena membuat tangis Darren pecah seketika.


"Maaf, maafkan aku.."


"Maaf untuk apa, sayang? Kamu tidak salah apapun padaku. Jangan terus menyalahkan diri sendiri, aku dan anak kita baik-baik saja kok." 


"Aku menyesal, kenapa tidak datang lebih awal. Kalau aku datang lebih awal, pasti ini semua takkan terjadi." Ucap Darren lirih, Sherena mengusap-usap kepala belakang Darren yang tersuruk di dada nya. 


"Jika kamu datang lebih awal, kamu juga takkan mengetahui kehamilan ku kan? Jadi surprise besok akan berjalan lancar." 


"Maaf, karena aku juga tidak menyadari perubahan mu, sayang."


"Astaga, sudah berapa kali kamu meminta maaf padaku? Tidak apa-apa, sayang. Jangan terus meminta maaf, kamu tidak bersalah apa-apa. Yang penting sekarang, aku dan anak kita baik-baik saja aku sudah sangat bersyukur." Jelas Sherena. Darren kembali melerai pelukan nya pada tubuh Sherena, lalu mengecup mesra kening perempuan cantik itu dan membelai wajah nya.


"Kamu tidak keberatan dengan kehamilan ini, sayang?" Tanya Darren sambil mengusap lembut perut rata sang gadis. 


"Tidak, tidak sama sekali. Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelum nya, sayang?" 


"Iya, tapi status kita.."


"Seminggu lagi kita akan menikah bukan? Jadi, tidak masalah kan?"


"Baiklah, terimakasih sudah mau mengandung anak ku, sayang." Perempuan itu menganggukan kepala nya dengan cepat.


"Aku lapar, sayang." Rengek Sherena dengan manja. Darren terkejut, tadi mereka belum sempat makan karena terjadi hal-hal yang tidak di inginkan oleh kedua nya. Kenapa juga dia harus bertemu dengan Rita? Wanita menyebalkan itu harus nya di basmi dengan pestisida. 

__ADS_1


"Astaga, maafkan aku, sayang. Aku akan menghubungi Andy."


"Hmm.."


"Bumil cantik ku ini ingin makan apa?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil.


"Aku ingin makan soto daging, sayang."


"Baiklah, aku akan memesan nya. Minum nya?" Tanya pria itu sambil tersenyum. Dia tidak ingin salah memesankan makanan dan minuman untuk sang kekasih, apalagi melakukan kesalahan sekarang ini. Karena hormon ibu hamil benar-benar tidak bisa di tebak bukan? Bisa membaik atau memburuk dalam waktu singkat. 


"Teh manis hangat, tapi aku ingin buah jeruk." 


"Baiklah, sayang. Sebentar ya?" Ucap Darren sambil tersenyum kecil. Sherena menganggukan kepala nya. Meskipun rasa nya, air liur nya seakan menetes saat membayangkan nasi yang di makan dengan kuah soto daging, itu pasti akan sangat menyegarkan apalagi jika di tambah dengan perasan jeruk limau. Pasti sangat enak sekali, tapi dia harus sabar menunggu terlebih dulu untuk bisa memakan nya. 


"Mama sama Papa udah di kasih tahu kalau aku di rumah sakit, sayang?"


"Belum, sayang. Bagaimana kalau mereka bertanya kamu sakit apa?"


"Bilangin aja aku pingsan karena kelelahan, atau kamu katakan saja yang sejujur nya." Jawab Sherena enteng. Tapi tidak dengan Darren, dia agak sedikit khawatir dengan kemarahan Arya, tapi cepat atau lambat dia tetap harus menghadapi kemarahan nya bukan? 


Lagi pula, ini adalah resiko yang harus dia tanggung karena sudah berani melakukan hal itu sebelum menikah. Setiap perbuatan, pasti ada konsekuensi nya dan Darren harus siap dengan hal itu. 


"Aku akan jujur mengatakan semua nya, tapi setelah kamu pulang ke rumah ya. Setelah keadaan kamu sembuh, oke?" 


"Baiklah, sayang." Jawab Sherena sambil tersenyum. 


"Ini ngilu gak?" Tanya Darren sambil menyentuh area sensitif sang kekasih, tempat yang menjadi kesukaan nya belakangan ini. 


"Enggak kok, memang nya kenapa? Jangan bilang kamu pengen?" 


"Astaga, otak kamu ini di simpen dimana hmm? Ya kali, aku minta itu disaat keadaan kamu sedang sakit begini." Ucap Darren sambil tertawa. Sedangkan Sherena hanya cengengesan, iya juga ya. Kenapa dia bisa kepikiran kesana?


"Hehe, soalnya kamu tuh kalo udah nanya gitu pasti ujung-ujungnya minta jatah."


"Iya kah? Kamu sampai hafal gitu." 


"Hmm, jelas hafal dong. Soalnya udah kebiasaan kamu mah." Jawab Sherena sambil tertawa.


"Alesan, bilang aja doyan. Kamu menduda lama, pas buka puasa gak bisa berhenti ya?"


"Hahaha, itu tahu." Jawab Darren sambil terkekeh. Tapi tangan nya tetap mengusap-usap perut rata sang kekasih dengan lembut. 


"Masih lama ya? Laper banget aku, yang."


"Sebentar, aku cek dulu di aplikasi." Jawab Darren, dia membuka ponsel dan melihat di aplikasi. 


"Sudah di depan katanya, sebentar ya? Aku keluar sebentar, kamu gapapa kan?" Tanya Darren. Sherena menganggukan kepala nya, dia tidak masalah di tinggalkan paling hanya sebentar kan? Hanya mengambil makanan ke depan, setelah itu langsung kembali kesini.


"Iya, hati-hati. Cepet balik lagi ya?"


"Oke, sayang ku." Jawab Darren, dia pun segera beranjak dari duduknya lalu pergi sebentar dari ruangan sang kekasih. Sherena mengecek ponsel nya yang berada di atas meja nakas. Dia menghidupkan nya dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk yang menanyakan keberadaan dan keadaan nya saat ini. 


Sherena tersenyum kecil, dia senang karena memiliki teman-teman yang baik hati dan perhatian. Mereka berteman dengan tulus, tanpa memandang apapun dari segi harta atau pun kekuasaan. Mereka tidak menilai seseorang berdasarkan hal itu. 


Gadis itu membuka room chat dan mengetik pesan yang menjelaskan keadaan nya saat ini. 


"Hai gaeys, sorry udah bikin kalian semua khawatir. Tapi tenang aja, sekarang gue baik-baik aja. Cuma ya, harus di rawat di rumah sakit sampai besok paling. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." Isi pesan yang di kirimkan oleh Sherena. Dia ingin menunggu balasan dari teman-teman nya, tapi Darren keburu datang dengan membawa makanan untuk nya.


"Gak boleh main ponsel dulu, Bee. Kamu harus banyak istirahat." Ucap Darren membuat Sherena cemberut.


"Aku cuma buka pesan dari teman-teman, mereka khawatir nanyain keadaan aku." Jawab Sherena. 


"Mama sama Papa?" Tanya Darren. 


"Iya, udah aku kirim pesan. Katanya mau kesini sekarang." Jawab Sherena. Darren pun menganggukan kepala nya, dia pun membuka bungkusan nasi dan soto nya, lalu memindahkan nya ke dalam piring. 


"Makan dulu, sayang."

__ADS_1


"Suapin.." rengek Sherena dengan manja, membuat Darren terkekeh. 


"Bumil ku manja sekali."


"Gapapa dong, kan kamu yang bikin aku begini." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. 


"Iya iya.." Jawab Darren, dia pun menyuapi sang kekasih untuk makan. Sesekali, dia juga ikutan makan karena perut nya juga sudah kelaparan. 


"Sayang, kamu makan pakai sendok yang sama kayak aku?" Tanya Sherena.


"Iya, memang nya kenapa, sayang?" Balik tanya Darren sambil menyuap nasi dan soto daging ke dalam mulut nya.


"Kamu gak jijik? Itu kan bekas aku makan."


"Enggak dong, kenapa harus jijik? Biasa nya kita malah tukeran liur kan? Jangan kan cuma liur, cairan pelepasan kamu aja aku telan." Jawab Darren membuat wajah Sherena memerah. 


"Aku malu, sayang." 


"Kenapa harus malu? Udahlah, gak usah malu-malu." Jawab Darren sambil tersenyum, dia pun kembali menyuapi sang kekasih dengan nasi dan soto daging. Gadis itu juga menerima nya dengan senang hati, dia makan dengan lahap. 


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka menampilkan wajah-wajah khawatir dari Arumi dan Arya, kedua orang tua Sherena. 


"Sayang.." Panggil Arumi, wanita paruh baya itu langsung memeluk putri nya. 


"Mama.."


"Kamu kenapa hmm? Kenapa bisa sampai di rawat seperti ini?" Tanya Arumi sambil mengusap lembut wajah putri nya. 


"Sheren cuma kelelahan saja kok, Ma. Sherena baik-baik saja sekarang." Jawab Gadis itu sambil tersenyum kecil. 


"Mama sangat khawatir, sayang."


"Sheren baik-baik saja kok, Ma. Gak usah khawatir ya."


"Kami langsung menyusul kesini saat membaca pesan mu, sayang." 


"Sheren baik-baik saja kok, untung saja Darren langsung membawa Sheren kesini." Jelas Sherena. 


"Terimakasih ya, Nak Darren."


"Sama-sama, itu sudah tugas ku untuk menjaga Sherena." Jawab Darren sambil tersenyum canggung. Apalagi saat mata nya tak sengaja menatap tatapan mata Arya yang terlihat sangat tajam, sedikit membuat nyali nya menciut. 


"Baguslah, kau harus menjadi priabyang bertanggung jawab." Ucap Arya membuat Darren menoleh. 


"Pasti, saya akan mempertanggung jawabkan apapun yang sudah terjadi antara aku dan Sherena." Jawab Darren sambil tersenyum kecil. 


"Hmm, aku tunggu itikad baik mu." Ucap Arya, seperti nya dia sudah mencurigai kalau terjadi sesuatu pada putri nya. 


Tapi, bukankah dia juga tidak bisa menyalahkan Sherena atau Darren saja? Dia juga bersalah dalam hal ini, karena dia terlalu percaya bahkan dia sendiri yang menitipkan putri nya pada Darren. Jadi jangan salahkan kalau semisal Darren melakukan hal di luar batas. 


Nama nya anak laki-laki dan perempuan di persatukan ya pasti bunting lah. Mustahil kalau semisal tidak bunting, karena kedua nya sama-sama normal. Tapi tidak apa-apa, kalau pun semisal Sherena tengah mengandung saat ini, dia senang karena artinya dia akan segera memiliki cucu, bukan? 


Hal yang sangat dia nantikan, lagi pula mereka akan menikah satu minggu lagi dari sekarang, kedua nya akan menikah dan bersatu di dalam ikatan suci pernikahan. 


"Papa kok bengong, kenapa?" Tanya Arumi sambil menepuk-nepuk lengan sang suami dengan pelan.


"Tidak ada kok, tidak apa-apa. Papa hanya heran saja, kenapa dia bisa pingsan padahal tadi baik-baik saja."


"Dia kelelahan seperti nya, Sheren kan belum istirahat setelah ujian." Jawab Arumi. Arya pun menganggukan kepala nya, memang dia melihat sendiri tahu kalau putri nya belum beristirahat sama sekali. 


"Kata perawat Sherena harus bed rest selama beberapa hari." Jelas Darren. 


"Hmm, separah itu keadaan mu sekarang, sayang?" Tanya Arumi sambil mengusap lembut puncak kepala sang putri dengan lembut. 


"Seperti nya begitu, padahal Sherena merasa baik-baik saja."


'Mungkin bawaan bayi kali ya? Aneh saja, padahal aku sedang hamil tapi tidak mengalami morning sicknes sama sekali. Apa itu wajar ya?' Batin Sherena.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2