
Akhirnya, setelah di bujuk beberapa kali Sheren pun menuruti saran dari sang kekasih yang menyarankan nya untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Gadis itu berjalan dengan tangan yang saling bergandengan mesra membuat para kaum hawa merasa iri, terlebih lagi setelah mereka mengetahui siapa sosok Darren yang tak lain adalah pemilik sekolah tempat mereka menempuh pendidikan.
Tak di sangka, ternyata sang pemilik sekolah mempunyai kekasih yang ternyata adalah salah satu siswi pindahan baru disini, yaitu Sherena. Itu membuat desas desus tentang siapa Darren dan Sherena mulai merebak kemana-mana. Tapi, semua isu yang tak benar, langsung di hempaskan oleh trio wekwek yang merasa tidak terima sahabat mereka di gosipkan seperti itu.
Saat ini, ketiga gadis itu pergi ke kantin untuk makan siang. Mereka sedikit melewatkan makan siang karena semua keributan yang di buat oleh Agnes tadi. Mereka juga sibuk menunggui Sheren yang pingsan tadi.
Mereka sedang asik memakan makan siang masing-masing hingga telinga mereka mendengar sesuatu yang cukup membuat mereka tersinggung, apalagi jika Sherena yang mendengar nya.
"Eehh, gak nyangka ya ternyata si Sheren itu simpanan nya Om-om pemilik sekolah ini." Celetuk salah satu siswi, dia tersenyum sinis saat bicara hal itu.
"Sheren? Anak kelas berapa?" Tanya yang lain.
"Itu lho, Sheren kelas dua belas IPA 3."
"Ohh, yang murid baru itu ya? Iya sih, gak nyangka banget. Keliatan nya aja lugu, polos taunya suhu ya. Yakin gak sih dia masih perawaan? Secara kan pacar nya udah Om-om." Celetuk nya sambil terkekeh, seolah apa yang mereka bicarakan itu hal yang lucu.
"Apa jangan-jangan, dia bisa masuk ke sekolah ini gara-gara pacaran sama Om-om itu ya?"
"Ya bisa jadi kan, keliatan nya dia gadis dari kalangan biasa." Jawab nya lagi membuat ketiga teman Sherena yang memang mengetahui kenapa dan siapa Sherena mengepalkan tangan mereka, karena kesal. Terutama April, dia yang selama ini mengetahui bagaimana Sherena dan seperti apa keluarga nya merasa kesal sendiri.
"Apa mungkin dia menjual tubuh nya sama Tuan Darren ya, biar bisa masuk ke sekolah ini?"
"CUKUP!" April berteriak, dia menggebrak meja dengan keras. Dia beranjak dari duduknya, lalu membawa sebotol air mineral dan menyiram siswi yang sudah berani membicarakan sahabat nya secara terang-terangan itu.
"Aaasshh, Lo ngapain sih hah? Tiba-tiba dateng nyiram kita gini."
"Ngapain? Kalian tanya gue ngapain hah?" Sewot April, membuat Arin dan Meysa langsung berjalan mendekat. Mereka tidak menyangka kalau April akan semarah ini karena mendengar ucapan-ucapan tak pantas tentang Sherena.
"Dih, gak jelas banget Lo."
"Apa Lo bilang hah? Gak tau diri banget ya Lo, plus gak tahu malu. Denger ya, semua yang kalian semua omongin tentang Sherena itu gak bener."
"Ckk, dari mana Lo tahu emang nya?" Tanya nya, dia beranjak dari duduknya dan membusungkan dada nya seolah siap mengajak April berperang.
"Rumah gue sama Sheren deketan, jadi gue bisa tahu apapun tentang Sherena!"
"Cuma deket, bukan berarti Lo tahu semua nya." Ucap nya sambil tersenyum mengejek.
"Lalu, apa yang Lo tahu tentang sahabat kita memang nya?" Kali ini Arina yang angkat bicara.
"Dia muraahan!"
Plak..
Meysa melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan gadis itu, hingga membuat nya terhuyung ke samping saking kuat nya tamparan yang di lakukan oleh Meysa.
"Kalo punya mulut tuh di jaga, dari mana Lo tahu kalau temen kita kayak gitu? Apa jangan-jangan Lo yang begitu, iya?" Tanya Meysa.
"Berani banget kalian sama gue!"
"Emang nya kenapa? Kita gak takut sama orang bermulut sampah kayak Lo. Kalo gak tahu apa-apa itu mendingan diem!" Ucap April.
"Emang ngapain sih kalian bela dia? Kalo emang kelakuan nya bejat kayak yang kita omongin, Lo bakalan malu!"
"Heh, denger ya. Sahabat kita gak murahaan kayak Lo, dia bisa jaga dirinya sendiri meskipun dia punya pacar Om-om. Ngarti Lo?" Ucap Meysa, dia ikutan sewot karena merasa benar-benar kesal dengan gadis yang entah siapa nama nya, dia tidak tahu. Mungkin saja antek-antek nya si Agnes.
"Ckk, murahaan ya muraahan aja gak usah di tutup-tutupi."
Plak..
Lagi-lagi dengan ringan nya, Meysa melayangkan tamparan di pipi kiri gadis itu membuat kedua pipi nya memerah seketika. Cap lima jari tercetak jelas di wajah nya, gadis itu merasa tidak terima dan berniat untuk membalas tamparan itu.
Tapi, tangan nya berhenti di udara padahal Meysa sudah memejamkan mata nya bersiap menerima tamparan yang akan di layangkan oleh gadis itu. Tapi setelah beberapa detik, dia tidak merasakan apa-apa. Gadis itu membuka kedua mata nya dengan perlahan, dia membulatkan kedua mata nya saat melihat ada punggung tegap yang di balut dengan jas rapih.
Andy menahan tangan yang ingin menyentuh gadis yang dia incar, dia mencengkeram nya hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. Tak lama kemudian, Darren dan Sherena juga datang.
"Aaaa, sakit. Lepasin.."
"Tidak akan!" Jawab Andy dengan wajah datar nya.
"Sa-kit.."
__ADS_1
"Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang di rasakan Nona Sheren seandainya dia mendengar kata-kata menjijikan mu itu." Ucap Andy, gadis itu meronta berusaha lepas dari pria itu. Tapi, tenaga Andy yang kuat tidak sebanding dengan gadis itu. Hingga sekuat apapun dia meronta, dia tetap tidak bisa terlepas dari pria berwajah tampan itu.
"Om, sudah.." Ucap Sherena, barulah pria itu menurut dan melepaskan cekalan tangan nya.
"Di sekolah ini masih banyak orang bermulut sampah yang suka menilai orang berdasarkan apa yang dia dengar, bukan berdasarkan fakta sebenarnya!" Ucap Andy.
"Hubungi kepala sekolah dan laporkan tindakan nya, aku tidak mau mendengar apapun tentang gadis ku di kata-katai seperti ini lagi, Andy."
"Baik, Pak. Saya akan ke ruangan nya sekarang." Jawab Andy, dia pun segera pergi. Sedangkan Darren menatap tajam ketiga gadis yang menundukan kepala mereka.
"Pergi dari sini." Ucap Darren dingin, ketiga nya langsung pergi dari kantin.
Sheren memilih duduk di dekat ketiga teman nya. Tadi nya, dia ingin pulang dan menurut dengan Darren. Tapi perut nya yang kelaparan tidak bisa di toleransi. Tadi, dia hanya makan seporsi bubur ayam dan itu tidak membuatnya kenyang sama sekali. Jadi, dia dan Darren juga Andy pergi ke kantin. Mereka juga belum makan siang, tapi siapa yang menyangka saat sampai di kantin mereka malah di sajikan dengan pemandangan yang cukup miris.
Dimana ketiga teman Sherena tengah berdebat dengan tiga gadis lain, dan apa yang mereka debatkan adalah Sherena.
"Sher.."
"Kenapa?" Tanya Sherena sambil tersenyum.
"Gak usah dengerin apa yang dia bilang ya?"
"Haha, santai aja kali. Gue gak sebaper itu, lagian semua itu gak bener. Gue masih perawaan sampai sekarang." Gadis itu tersenyum manis, dia menarik mangkuk berisi mie ayam milik Arina lalu memakan nya.
"Sayang, itu milik teman mu. Kalau mau, biar aku pesankan."
"Gapapa kok, makan aja." Ucap Arina, mereka memang sudah terbiasa makan bersama tanpa ada kata jijik sekalipun.
"Kita percaya 100 persen sama Lo, Sher."
"Syukurlah kalau kalian emang percaya sama gue, thanks ya. Meskipun mungkin di luaran sana banyak yang meragukan kehormatan gue, apalagi setelah tahu kalau gue pacaran sama pria yang udah dewasa."
"Gak usah mikirin pendapat orang lain, yang ngejalanin kan Lo sama Om Darren. Udah, jangan di pikirin. Kalian berhak bahagia." Ucap April, dia tersenyum kecil sambil menatap Sherena.
"Hmm, iya. Makasih banget kalian udah dukung gue."
"Santai, kayak sama siapa aja." Arina ikut bicara juga.
"Yang, mau ikut ngumpul sama ciwi-ciwi?" Tanya Sheren pada Darren yang betah ikut ngumpul dengan geng wekwek nya.
"Enggak, nungguin Andy. Tapi lama ya."
"Kamu susulin aja dulu, kasian dia kesana kemari sendirian."
"Tapi, kamu gimana?" Tanya Darren, setelah kejadian yang menimpa gadis nya, dia merasa tidak percaya dengan siapapun disini.
"Gapapa, aku ada temen-temen disini." Jawab Sherena, dia tersenyum mengisyaratkan kalau dia memang baik-baik saja.
"Ya sudah, aku nitip Sheren dulu ya. Sebentar, kalau ada apa-apa langsung telepon aku."
"Baik, Om." Jawab ketiga nya dengan kompak. Darren menganggukan kepala nya, lalu beranjak dari duduknya dan pergi dengan langkah tegap nya. Dia akan menyusul Andy, kenapa dia bisa sangat lama. Padahal hanya meminta kepala sekolah untuk memanggil gadis yang sudah menyebarkan hal tidak benar tentang Sherena.
"Sher, sorry ya kita gak bisa lindungin nama baik Lo." Ucap April, dia merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi.
"Ngapain minta maaf? Ini bukan kesalahan Lo, Pril. Kita gak bisa jamin hati orang kayak gimana, biarin aja. Mereka berhak berpendapat apapun, gue gak bakalan anggap semua itu."
"Baguslah kalo gitu, gue lega denger nya." Ucap April lagi.
"Tapi beneran kan Lo baik-baik aja sekarang?"
"Setelah makan mie ayam, gue rasa udah membaik sih, meskipun masih lemes." Jawab Sheren membuat ketiga teman nya tertawa.
"Eehh, Rin. Ini mie ayam punya Lo? Gue habisin, maaf ya."
"Gapapa, gue pesen lagi aja. Mau sekalian?" Tawar Arina sambil terkekeh, sungguh dia tidak keberatan sama sekali.
"Gue mie ayam lagi deh." Ucap Sherena, dia mana kenyang kan ya. Mie ayam milik Arin juga tinggal setengah nya tadi, jadi dia harus pesan satu porsi lagi agar kenyang.
"Bakso deh."
"Gue juga bakso, Rin." Jawab April.
"Oke, minum nya yang kayak biasa?" Tanya Arin lagi.
__ADS_1
"Iya, biasa aja. Es teh lemon dingin."
"Ya iya dingin atuh, kan nama nya juga es teh." Ucap Arina sambil terkekeh. Meysa yang mengatakan itu juga ikut tertawa, iya ya? Kenapa baru kepikiran juga, ngapain bilang harus mengatakan hal itu. Malu-maluin aja.
Arina pun beranjak dari duduknya dan pergi membelikan pesanan teman-teman nya.
"Arin punya pacar gak sih?" Tanya Sheren secara tiba-tiba.
"Setahu gue sih gak ada, tapi gak tahu kalo ternyata dia punya crush." Jawab Meysa.
"Lo, punya?" Tanya Sheren pada Meysa, gadis itu nyengir sebagai jawaban. Sudah pasti, jawaban nya ya karena dia tidak punya pacar.
"Udah bisa di tebak sih kalo dia." Ucap April sambil terkekeh.
"Kalo Lo?" Tanya Sheren lagi pada April.
"Ada sih, tapi belakangan ini dia agak sibuk. Jadi kita jarang kontekan." Jawab April dengan lesu.
"Sibuk ngapain?"
"Kerja lah, dia kerja jadi mandor gitu."
"Ohh, iya sih. Suka ngasih Lu duit?"
"Ya iya, dia ngasih teratur tiap bulan." Jawab April sambil tersenyum.
"Seriusan? Ternyata punya pacar yang udah kerja itu enak ya, ada yang ngasih uang jajan." Celetuk Meysa.
"Yeee, jadi Lo kapan punya pacar?"
"Gak ada yang mau ama gue, padahal perasaan gue tuh gak butek-butek amat deh. Terus karena apa ya gue gak laku?" Tanya Meysa membuat April menggeplak kepala gadis itu karena gemas.
"Karena Lo keliatan illfeel kalo di deketin cowok, kayak gak doyan batang!"
"Dih, omongan Lo tuh."
"Om Andy juga jomblo, mau gak?" Tanya Sheren sambil tersenyum menggoda, membuat Meysa terlihat bergidik saat mendengar ucapan Sherena. Dia tidak suka dengan pria pecicilan seperti Andy.
"Gak suka gue, dia pecicilan, nyebelin banget sumpah."
"Nah kan? Terlalu pemilih lu jadi cewek, kurang apa coba Om Andy? Udah ganteng, kerjaan nya bagus, cuma karena sikap nya kek gitu bukan berarti Lo tolak juga kali, Mey. Kapan laku nya Lo kalo gini terus, mau jadi perawaan tua Lo?" Tanya April membuat Meysa langsung menggelengkan kepala nya.
"Coba deh, Lo mau buka hati gitu. Pasti yang tadinya nyebelin itu, jadi nyenengin."
"Iya, penyakit cinta tuh bikin rasa pare yang pahit bisa jadi manis kayak buah mangga." Jawab Sherena sambil terkekeh.
"Tapi gak sama Om Andy juga kali, dia ganteng mana mau sama gue yang jomblo lumutan kek gini." Celetuk Meysa yang membuat April tersedak ludah nya sendiri, sedangkan Sherena sudah tertawa hingga wajah nya memerah.
"Lumutan anjir.."
"Udah-udah, ayo makan dulu." Ucap Arin yang datang bersama ibu kantin. Mereka pun menghentikan sejenak acara mengobrol nya lalu makan dengan lahap.
Sedangkan di ruang kepala sekolah, Darren tengah di landa rasa yang entah apa. Rasa nya bercampur antara, sedih, marah, kecewa. Semua nya bercampur menjadi satu saat ini tatkala dia melihat seseorang yang sungguh demi apapun, tak ingin dia lihat lagi wajah nya. Bahkan menyebut nama nya saja dia enggan.
"Ohh, jadi kamu yang punya sekolah ini ya?" Ucap nya dengan suara yang angkuh.
"Hmmm.."
"Tak kusangka, Upik abu yang dulu ku remehkan, kini berubah menjadi seorang pangeran." Wanita itu tersenyum mengejek ke arah Darren. Ya, wanita itu adalah Rita. Mantan istri Darren yang dulu pernah meninggalkan nya hanya karena materi.
"Setiap orang bisa berubah, Rita. Aku juga tak suka terus di remehkan orang lain, harusnya aku berterimakasih karena berkat kau, aku jadi termotivasi untuk berubah menjadi lebih bekerja keras dan ini yang aku dapat."
"Apa kabar mu, Darren?"
"Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik setelah berpisah dengan mu." Jawab Darren, dia tersenyum sinis menatap mantan istrinya yang terlihat cantik. Penampilan nya sama sekali tidak berubah, masih cantik seperti dulu. Tapi, bukan berarti Darren kembali menyukai nya.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Kau belum bisa melupakan aku ya?"
"Hahaha, jangan terlalu percaya diri. Nanti kau terhempas dengan keras, kau tahu rasa nya? Sakit." Jawab Darren dengan sedikit sindiran.
.......
🌻🌻🌻🥰🥰
__ADS_1