Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 132 - Bubuk Rahasia


__ADS_3

Setelah mengetahui keadaan Arina dan kenapa dia bisa sampai pingsan tadi, membuat Marvin sedikit murung. Dalam keadaan nya sekarang, dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika di tanya, apakah dia mencintai Arina? Tentu saja, jawaban nya adalah iya. Dia sangat mencintai Arina. 


Tapi, bagaimana dengan orang tua nya? Bukan nya dia takut untuk membangkang kepada kedua orang tua nya lagi kali ini. Tapi yang dia khawatir kan adalah Arina, dalam kondisi sekarang ini, fisik nya pasti akan sangat lemah karena kehamilan nya. 


Marvin mendongak menatap wajah cantik sang kekasih yang masih tertidur di atas brankar rumah sakit. Perempuan itu masih belum sadarkan diri dari pingsan nya sampai sekarang. Khawatir? Tentu saja, dia sangat khawatir sekarang. Tapi kata perawat, semua nya akan baik-baik saja. 


"Bangunlah, sayang. Aku rindu dan aku khawatir.." Pemuda itu bergumam lirih, tanpa terasa air mata nya menetes tanpa bisa di cegah. Bukan nya dia tidak menerima kabar kalau kekasih nya tengah hamil, tapi situasi nya sekarang benar-benar tidak tepat. 


Dia sedang memiliki masalah dengan orang lain dan juga kedua orang tua nya, jelas-jelas itu menyeret Arina ke dalam rumit nya kehidupan Marvin saat ini. 


Dia siap bertanggung jawab untuk menikahi Arina karena sedari awal, memang itu adalah niat nya. Dia akan menikahi Arina setelah dia mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi istrinya nanti. Karena sesuai dengan keinginan Marvin sedari awal, dia ingin saat menikah nanti dia sudah memiliki pekerjaan tetap agar istrinya tidak perlu hidup susah. Itu adalah tujuan nya. 


Tapi, bagaimana dengan masalah nya sekarang? Dia khawatir dengan kedua orang tua nya yang takkan menerima kehamilan Arin, karena nama baiknya di depan kedua nya sudah benar-benar tercoreng oleh Mecca. Entah dari mana wanita itu datang, tiada angin, tiada hujan tiba-tiba saja datang membuat semua yang sudah dia rencanakan matang-matang hancur berantakan. 


"Tuan, Nona Arin harus kami pindahkan ke ruang pemeriksaan terlebih dulu, untuk mengetahui usia kehamilan dan kondisi rahim nya." Ucap seorang perawat yang mengenakan seragam berwarna biru telur asin.


"Baik, Sus. Tapi bisakah saya mendampingi nya?"


"Tidak bisa, Tuan. Paling hanya menunggu di depan ruangan nya saja." Jelas perawat itu sambil tersenyum kecil. Marvin mengangguk, lalu keluar terlebih dulu dari ruangan itu dengan langkah berat nya. 


Dia keluar dan menutup pintu nya, ternyata di luar ruangan masih ada Darren yang setia menunggu nya. Sedangkan Sherena, dia sudah pulang di jemput oleh orang tua nya, begitu juga dengan Rama. Dia sudah pulang karena di usia senja nya saat ini, dia tidak bisa berlama-lama berada di rumah sakit karena imun nya akan mudah terjangkit penyakit dari rumah sakit. 


"Vin.." Panggil Darren lirih, namun Marvin tidak menjawab. Dia hanya diam dan sesekali melirik ke arah Darren. Pria itu terheran-heran, kira-kira apa yang terjadi pada Marvin? Dari ekspresi wajah nya terlihat jelas kalau dia mempunyai banyak beban di pundak nya sekarang. 


"Kau kenapa? Bagaimana keadaan Arin, dia baik-baik saja kan?" Tanya Darren. 


"Arin baik-baik saja, hanya saja dia belum siuman dari pingsan nya, itu saja."


"Lalu, ada apa dengan mu? Kau terlihat murung, apa kau memiliki masalah yang berat?" Tanya Darren lagi sambil menepuk pundak Marvin. Terlihat, pemuda itu menghembuskan nafas nya dengan kasar. Masalah yang tengah dia hadapi saat ini sangatlah berat, benar-benar berat. 


"Vin, cerita padaku.."


"Arin hamil, Bang." Jawab Marvin lirih, nyaris berbisik saking lirih nya ucapan pemuda tampan itu.


"H-aahh? Hamil?" Tanya Darren dengan terkejut, dia benar-benar terkejut mendengar kabar yang di bawa oleh Marvin. Hamil katanya?


"Iya, Bang. Sekarang Arin lagi di periksa sama dokter buat tahu berapa usia kehamilan sama keadaan rahim dan juga kandungan nya." 


"Lalu, kenapa kau terlihat tidak bahagia sama sekali, Vin? Kekasih mu sedang mengandung anak mu sekarang." Ucap Darren membuat Marvin menatap pria di samping nya dengan sendu, lalu sedetik kemudian kedua mata nya mengeluarkan air bening yang berjatuhan membasahi pipi nya. 


"Aku bahagia, sangat bahagia. Artinya aku dan Arin memang di takdirkan bersama meskipun dengan jalur hamil duluan. Tapi yang jadi masalah sekarang, bagaimana dengan kedua orang tua ku? Mereka mendukung aku untuk bertanggung jawab atas kehamilan Mecca, padahal itu bukan perbuatan ku, Bang."


"Aku takut akan terjadi sesuatu pada Arin, Bang. Aku tahu seperti apa orang tua ku, terkhusus nya ibu ku. Dia adalah wanita yang ambisius, kalau dia sudah memutuskan sesuatu artinya itu wajib di tunaikan." Jelas Marvin membuat Darren terdiam. Benar, dari wajah nya saja sudah kelihatan kalau Sintia itu adalah wanita yang selalu di penuhi ambisi dan obsesi. 

__ADS_1


"Ada aku, kau tidak perlu khawatir, Vin. Tidak akan ada yang bisa menyakiti Arina selama masih ada aku."


"Bang.."


"Kau mencintai Arina bukan? Lalu, kehamilan wanita itu, kau yakin itu bukan perbuatan bejat mu?" Tanya Darren membuat Marvin langsung menoleh.


"Tidak, bukan! Itu bukan perbuatan ku, aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu dengan wanita lain kecuali Arina." Jawab Marvin.


"Oke, aku yakin kalau anak yang ada di kandungan Arina adalah anak mu. Lalu, anak siapa yang di kandung wanita itu, Vin?" Tanya Darren membuat Marvin menggeleng. Mana dia tahu? Bertemu juga tidak pernah sejak beberapa tahun lalu, eehh tiba-tiba datang membuat huru hara yang merugikan bagi Marvin. Merugikan? Ya tentu saja. 


Selain sebuah kepercayaan orang tua dan kekasih nya, image nya sebagai pria baik-baik juga patut di pertanyakan bukan? Padahal, sebrengsek-brengseek nya laki-laki, tetap saja dia menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi pendamping hidup nya. 


Itulah yang terjadi pada Marvin, dia memang nakal sewaktu sekolah. Sering bolos, merokok di sekolah bahkan sering mabuk-mabukan, tapi setelah bertemu dengan Arina sedikit demi sedikit dia mengubah kebiasaan nya. Dia tidak pernah minum lagi, bahkan merokok pun dia sangat mengurangi sekarang. Dia merasakan kalau bibir Arina lebih enak dari pada Rokok, namun dia hanya bisa mengurangi belum bisa berhenti sepenuh nya. 


"Mana gue tahu, Bang. Ketemu aja gak pernah, terakhir ketemu tuh pas perpisahan SMP dulu." Jawab Marvin.


"Bisa jadi ini sebuah jebakan, bukan?" Tanya Darren lagi. Marvin menoleh dan menatap wajah Darren dengan seksama. Benar, dia tidak kepikiran sampai sana. Ini memang sudah jelas jebakan, karena mustahil bukan setelah beberapa tahun tidak berkomunikasi apalagi bertemu, bisa menyebabkan kehamilan?


"Iya, Bang. Agak sedikit janggal emang, tapi nyokap sama bokap gue keliatan nya percaya banget sama omongan nya Mecca." 


"Baiklah, lebih sekarang kau jaga saja Arin disini. Biar aku yang memikirkan semua nya, jangan khawatir. Aku pasti akan menemukan solusi nya tanpa kau harus menikahi kedua perempuan itu."


"Bang, aku hanya mencintai Arin dan aku hanya akan menikah dengan nya!" Tegas Marvin membuat Darren terkikik geli. 


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kau jaga Arina, besok aku kesini bersama istriku. Mungkin juga teman-teman nya yang sengklek plus rempong itu juga akan datang, jadi persiapkan mental dan telinga mu mendengar celotehan tak berguna yang akan mereka ributkan."


"Hmm, aku akan begadang malam ini. Kalau begitu aku permisi dulu, gak usah bengong atau ngelamun lama ya. Inget, ini rumah sakit." Ucap Darren.


"Ya emang ini rumah sakit, Bang. Siapa kata hotel?"


"Kau tahu kan seperti apa rumah sakit?"


"Enggak tuh, emang nya napa?" Tanya Marvin, entahlah tiba-tiba saja bulu kuduk nya meremang seketika. 


"Banyak hantu nya." Jawab Darren dengan wajah datar nya berbeda dengan Marvin yang terlihat terkejut. 


"Bang, gak usah nakut-nakutin deh."


"Hahaha, ya sudah. Jangan murung apalagi bengong, aku pasti akan membantu mu mencari jalan keluar nya, Vin."


"Iya, Bang. Thank you."


"The same." Jawab Darren sambil berjalan menjauh untuk pulang. Dia akan memikirkan semua nya dengan baik dan matang-matang. Dia tidak bisa bertindak ceroboh karena ini menyangkut dengan keutuhan sebuah keluarga. Seseorang yang dia curigai disini adalah Sintia, ibu nya Marvin dan istri sah dari Rama. 

__ADS_1


Jujur saja, disaat pertama kali dia melihat wajah wanita itu, feeling nya sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ekspresi wanita itu. Dia yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan, dia juga terlihat sinis pada Arina.


'Apa jangan-jangan ibu Marvin melakukan hal ini karena dia tidak suka pada Arin? Kalau iya, gila sekali wanita itu sampai bisa melakukan hal semacam ini? Artinya, dia wanita yang berbahaya bukan?' Batin Darren sambil mengemudikan kendaraan beroda empat nya itu di jalan raya, bergabung bersama banyak kendaraan lain di malam hari yang dingin ini. Namun, suasana jalan raya tidak pernah sepi sama sekali. Selalu ramai kapan pun dan bagaimana pun cuaca nya.


Di situasi lain, Rama baru saja sampai di rumah nya. Aneh sekali, dia merasakan rumah itu begitu hening. Tiada suara sang istri yang menyambut nya dengan senyuman hangat seperti hari-hari biasa nya. Rama mendudukan tubuh nya di sofa ruang tamu, dia menyandarkan punggung nya yang lelah di sandaran sofa, pria paruh baya itu mendongakan kepala nya lalu memejamkan kedua mata nya. 


Tak lama kemudian, terdengar seperti pintu rumah yang terbuka. Dengan cepat, Rama membuka kedua mata nya dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu Sintia, istrinya. Dia berjalan dengan langkah anggun nya, wajah cantik nya terlihat masih sangat segar dan bugar. 


Tubuh nya tidak berubah sama sekali, masih elok di pandang dan tidak membuat bosan. Meskipun usia nya sudah menyentuh kepala lima, namun wanita itu masih terlihat sangat cantik. 


"Sudah pulang, Mas?" Tanya Sintia dengan ramah, seolah dia tidak merasa bersalah sama sekali. 


"Iya, kamu habis dari mana?"


"Keluar sebentar cari angin, aku bosan di rumah sendiri. Bagaimana keadaan Arin?" Tanya Sintia sambil memijit-mijit lengan besar sang suami. Inilah yang Rama sukai dari istrinya, dia selalu memperlakukan nya dengan baik, hanya saja dia terlalu mengatur dan mengekang. Apa yang dia lakukan dan tidak boleh dia lakukan, semua Sintia yang mengatur. Itu saja kekurangan nya, dia seolah ingin mengendalikan Rama. 


"Belum tahu, tadi Mas pulang duluan tanpa sempat tahu kondisi akhir nya."


"Marvin masih disana, Mas?"


"Iya, katanya dia mau jagain Arin di rumah sakit sampai keadaan nya membaik." Jawab Rama membuat ekspresi Sintia berubah. Dia kesal, karena putra nya itu tidak bisa dia atur seperti Rama. Dari dulu, Marvin adalah anak yang susah di atur dan keras kepala, jadi jangan heran kalau sampai sekarang dia sering membangkang dan tidak pernah mau menuruti apa perkataan nya. 


"Ohh, yaudah. Mas mau kopi atau teh? Aku buatin ya?"


"Iya, teh hangat saja, sayang." 


"Baik, Mas." Jawab Sintia. Dia pun beranjak dari duduk nya lalu pergi ke dapur. Dia pun membuatkan teh spesial untuk sang suami, tanpa sepengetahuan siapapun Sintia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku celana nya dan mencampur nya dengan teh yang dia buat untuk sang suami. 


Sintia tersenyum licik, lalu membawa nya ke ruang tamu untuk memberikan teh yang sudah dia campur dengan bubuk rahasia itu dan membiarkan Rama meminum nya. Dia akan menunggui suami nya untuk minum teh itu agar rencana nya bisa sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Apakah bubuk itu racun? Jawaban nya, bukan. Bubuk itu adalah obat yang mempengaruhi emosi. Itulah alasan nya kenapa Rama bisa berubah menjadi sangat tempramental dan dia bisa berubah kembali setelah efek obat nya habis. Gila bukan? Ya, benar-benar gila memang. Sintia bisa melakukan hal segila ini hanya untuk memuaskan hasraat nya untuk tetap menjadi orang yang harus di turuti. 


"Silahkan di minum teh nya, Mas."


"Terimakasih, sayang." Jawab Rama. Dia meminum sedikit teh itu dan sejauh ini, pria itu tidak pernah curiga dengan apapun yang dia buatkan. Selama ini, Sintia selalu mencampur bubuk itu pada makanan atau minuman yang menjadi kesukaan sang suami. 


Untuk memastikan efek nya bekerja, dia akan menunggui suami nya hingga menghabiskan makanan atau minuman yang dia buat agar dia yakin kalau bubuk itu berhasil dan bekerja. 


Tapi malam ini, Sintia tiba-tiba saja kebelet pipis. Wanita itu pun segera berpamitan pada sang suami untuk ke kamar mandi dan tanpa merasa curiga sedikit pun, Rama menganggukan kepala nya dan kembali menghabiskan teh nya. 


Dia menatap punggung sang istri yang menghilang di balik pintu kamar mereka, sambil tersenyum kecil penuh arti. Entah apa arti nya, hanya Rama lah yang mengetahui jawaban nya. Rama memang merasa kalau dirinya adalah pria yang paling beruntung karena beristrikan Sintia.


Dia adalah wanita yang cantik, baik dan lagi dia memiliki sesuatu yang mungkin saja tak banyak orang miliki. Rasa sabar, ya dia memiliki hal itu. Dia tidak pernah marah, bahkan saat Marvin masih kecil pun dia tidak pernah mengeluhkan apapun.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2