
"Jangan terlalu percaya diri, aku memiliki sejuta bukti kejahatan kalian. Jadi jangan harap kalian berdua bisa lolos dari jeratan hukum!" Tegas Andy, dia tersenyum miring saat melihat kedua wanita itu terlihat benar-benar terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Oke, aku rasa sudah cukup. Jadi selamat menikmati waktu kalian disini, renungkan dengan baik perbuatan kalian. Selamat bertemu di ruang sidang nanti." Ucap Darren, dia dan Andy pun beranjak dari duduknya dan pergi. Membuat Rita berusaha untuk mengejar Darren, dia masih tidak terima kalau harus mendekam di penjara. Tapi sipir penjaga langsung menangkap Rita dan menahan pergerakan nya.
Dia tidak mau berada disini, dia tak suka. Dia tak ingin meninggalkan semua kemewahan yang dia miliki hanya karena Darren. Bukan nya sadar, niat dan dendam Rita untuk menghancurkan Darren dengan Sherena semakin besar. Dia mengepalkan kedua tangan nya dengan penuh amarah.
"Darren, lepaskan aku!" Teriak Rita, hingga sipir merasa kesal lalu menutup mulut Rita menggunakan tissu dan menyeret nya kembali ke sel tahanan.
"Jangan berisik!" Tegas sipir yang berjaga itu, lalu dia pergi dengan langkah tegap nya. Dia tak peduli dengan tahanan yang terus saja berteriak meminta di lepaskan, karena itu sudah biasa terjadi di tempat ini. Harus nya, tempat ini menjadi pelajaran. Tapi tak jarang, banyak penjahat tidak tahu diri dan malah hidup dengan di penuhi dendam, contoh nya ya Rita.
"Aku pastikan, kalian berdua takkan pernah bahagia. Itu janji ku!" Ucap Rita lirih. Membuat Agnes yang berada di samping ibu nya itu memutar mata nya dengan jengah.
"Ckk, sudahlah Bu. Cukup dan hentikan niat mu untuk mengejar Om Darren, dia bukan milik ibu lagi sekarang. Dia sudah bahagia dengan wanita lain, harusnya ibu juga sadar diri sih. Mana bisa bersaing sama Sheren?"
"Apa maksud mu heh!" Bentak Rita membuat Agnes tersenyum miring.
"Sheren adalah perempuan muda, sedangkan Ibu? Sudah tua, lagi pula ibu ini bekas nya Om Darren kan? Jadi mana mungkin dia mau kembali lagi ke mantan yang sudah membuang nya? Aku rasa, hanya orang bodoh yang melakukan itu." Jawab Agnes membuat Rita berang.
Dia marah, dia murka karena sekarang putri nya malah terlihat seolah membela Darren dan Sherena. Dia tidak lagi berada di pihak nya, Rita mendekat dan mencekik leher Agnes hingga gadis itu gelagapan mencari oksigen.
Agnes memukul-mukul sel hingga menimbulkan bunyi gaduh. Sipir yang berjaga pun segera datang dan melihat apa yang tengah di lakukan oleh Rita pada putri kandung nya sendiri. Ambisi telah membuat wanita itu gelap mata, dia tidak peduli meskipun itu putri nya sendiri. Selama itu menghalangi niat nya, dia akan menyingkirkan nya. Gila bukan?
Kesempatan yang bagus, Rita menendang sipir itu dan berlari keluar dari sel. Sipir itu langsung menghubungi penjaga lain dan malam itu, seluruh isi penjara terasa riuh hanya karena ada satu tahanan yang melarikan diri.
Uhukk.. uhukk..
Agnes terbatuk-batuk, gadis itu terlihat megap-megap mencari oksigen. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ibu nya akan tega pada dirinya, padahal selama ini yang dia tahu kalau ibu nya itu adalah sosok ibu yang baik, tapi kenapa sekarang dia berubah?
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Terimakasih karena sudah datang di waktu yang tepat, kalau tidak pasti aku sudah mati di tangan ibu ku sendiri sekarang." Jawab Agnes sambil tersenyum kecil.
"Sudah tugas ku, anteng disini dan jangan berusaha untuk melarikan diri." Ucap Sipir itu dan pergi keluar sel, lalu kembali mengunci nya. Dia harus kembali berjaga dan harus mencari keberadaan wanita yang kabur tadi.
Sedangkan di luar penjara, Rita tersenyum jahat. Dia berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi, sekarang ini dia sedang berjalan sendirian di pinggir jalan. Tanpa alas kaki, pakaian tahanan berwarna orange dan rambut acak-acakan, tangan di borgol, membuat Rita terlihat sangat kentara kalau dia tahanan yang melarikan diri.
Dia berjalan untuk menyebrang jalan, tapi sialnya dia kurang berhati-hati dan tidak melihat kalau ada kendaraan yang berkecepatan tinggi mendekat ke arah nya. Wanita itu berteriak dan sepersekian detik, tubuh nya melayang hingga akhirnya jatuh di aspal yang dingin dan basah karena saat tabrakan itu terjadi, sedang hujan rintik-rintik mewarnai suasana malam itu.
Polisi yang masih melakukan pengejaran terhadap Rita pun langsung melihat keadaan korban. Namun, karena luka di kepala yang sangat parah, membuat nyawa nya tidak bisa di selamatkan. Rita mati dengan tragis, ambisi nya terlalu gilaa hingga akhirnya dia mati mengenaskan.
Kepala nya bocor bahkan isi kepala nya hampir keluar saking keras nya dia menghantam aspal karena tabrakan itu. Polisi pun segera mengabari orang yang melaporkan Rita dan membawa nya ke sel, yaitu Darren dan mengabarkan kalau tersangka atas nama Rita sudah tewas karena kecelakaan.
'Hallo, kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa tersangka bernama Rita telah tewas karena kecelakaan.'
Tentu saja, hal itu membuat Darren yang baru saja tertidur setelah mengerjakan pekerjaan yang menumpuk, karena dia sibuk dengan Sherena beberapa hari ini, plus menyiapkan pernikahan yang akan di laksanakan dalam waktu dekat, hanya dalam waktu satu minggu lagi.
"Baik, besok aku kesana. Malam ini aku benar-benar lelah, Pak." Jawab Darren. Panggilan pun selesai, Darren terdiam cukup lama. Dia merasa kalau tadi saat dia berkunjung ke penjara, keadaan wanita itu baik-baik saja bukan? Tapi sekarang dia tewas karena kecelakaan?
"Tapi bagaimana bisa kecelakaan? Aahh sudahlah, aku mengantuk." Gumam pria itu. Dia pun memilih tidur dan besok pagi sebelum ke kantor, dia akan pergi ke penjara untuk melihat keadaan wanita yang dulu pernah sangat dia cintai. Tapi sekarang, dia malah berbalik membenci wanita itu.
Apalagi setelah kejadian kemarin, untung saja buah hati nya sangat kuat, jadi dia bisa bertahan. Bagaimana kalau tidak? Dia tidak akan pernah memaafkan wanita itu, bahkan setelah dia mati pun dia takkan membuat dia tenang!
__ADS_1
Keesokan pagi nya, Darren datang ke rumah sakit bersama Andy. Dia meminta izin pada polisi yang berjaga dan polisi itu memperbolehkan nya. Darren tidak memberitahukan hal ini pada Sherena, dia khawatir kalau gadis itu akan merasa bersalah pada wanita itu. Padahal, dia sama sekali tidak bersalah. Justru sebaliknya, Rita lah yang bersalah dalam hal ini. Makanya Darren memenjarakan nya, tapi belum juga di vonis hukuman wanita itu sudah tewas.
"Kenapa dia bisa tewas ya, Tuan?" Tanya Andy dengan suara lirih nya.
"Mana aku tahu, kita tanyakan pada polisi." Jawab Darren. Dia mana tahu sebab musabab wanita itu bisa mati padahal kemarin malam dia masih baik-baik saja bukan?
Darren pun masuk ke ruangan jenazah, polisi langsung membuka resleting kantong jenazah dan seketika itu juga Darren membulatkan mata nya. Wanita itu tewas dengan luka yang menganga di bagian kepala nya.
"Dia tertabrak mobil kemarin malam saat mencoba melarikan diri dari penjara, Tuan."
"Oh, begitu? Bagaimana dengan penabrak nya?"
"Sudah kami amankan sekarang, Tuan." Jawab polisi itu.
"Baiklah, aku mencabut laporan ku." Putus Darren membuat Andy menepuk pundak pria itu. Dia tidak yakin kalau Agnes takkan melakukan hal yang sama dengan ibu nya, bagaimana kalau dia mengancam keselamatan Sherena?
"Tuan.."
"Kita bicara nanti." Jawab Darren, Andy pun menganggukan kepala nya.
"Baiklah, kalau begitu tolong urus pemakaman nya secara layak. Saya yang akan menanggung biaya nya, saya permisi dulu."
"Baiklah, Tuan. Terimakasih, kami juga sudah bicara dengan putri dari tersangka, dia mengatakan ingin menyumbangkan sejumlah organ penting nya untuk orang yang membutuhkan." Ucap polisi itu.
"Baguslah, setidaknya dia bisa berbuat baik meskipun setelah dia mati." Gumam Andy.
"Baiklah, kalau begitu kami berdua permisi dulu." Ucap Darren. Kedua nya pun pergi dari ruangan itu. Jujur saja, dia merasa ngilu sendiri saat melihat keadaan Rita, dia mati mengenaskan dengan luka yang menganga besar di kepala nya. Tapi, luka itu akan di jahit terlebih dulu sebelum jenazah di mandikan nanti nya.
"Ada apa? Kau ingin bicara?"
"Iya, Tuan. Apa tuan yakin akan mencabut laporan itu? Saya pikir jangan dulu, jangan mengambil resiko yang bisa saja terjadi nanti nya." Jelas Andy.
"Kita lihat saja nanti, tak ada yang tahu kan bagaimana dia ke depan nya setelah ini? Bisa saja dia berubah dan menjadi gadis baik."
"Tapi, bagaimana kalau sebaliknya? Saya khawatir kalau nanti nya dia malah melakukan hal yang membuat nyawa Nona Sherena berada dalam bahaya. Karena saya yakin, dia tidak mungkin mengusik anda. Tapi tidak dengan nona Sherena karena dia adalah wanita, Tuan." Jelas Andy panjang lebar.
"Aku akan lebih waspada sekarang, Andy. Jangan terlalu khawatir karena aku akan menjaga istriku dengan baik." Jelas Darren. Andy pun menganggukan kepala nya, kalau sudah begini dia bisa apa? Menurut saja, semoga saja perempuan itu mendapatkan hidayah selama di penjara dan membuat nya kapok.
Kedua pria itu pun pergi ke kantor untuk bekerja. Sedangkan di rumah Sherena, gadis itu masih mengalami morning sickness yang cukup parah, dia muntah-muntah terus menerus hingga tenggorokan nya terasa pahit.
"Sayang.." Panggil Arumi, membuat Sherena yang sedang muntah itu langsung membersihkan toilet dan membasuh wajah nya. Tapi dia tidak bisa berbohong kalau dia merasa lemas saat ini.
"Iya, Ma. Ada apa?"
"Gapapa, kenapa belum turun? Mama khawatir sama kamu, takut nya malah keterusan sakit nya." Jawab Arumi. Sherena paham benar kalau orang tua nya pasti merasa khawatir sekarang ini, tapi dia bisa apa? Selama Darren belum mengatakan yang sebenarnya, dia akan menyembunyikan nya sebisa mungkin.
"Enggak kok, Ma. Ini cuma lemas aja, Sheren izin sarapan di kamar aja boleh?"
"Hmm, boleh kok. Kamu sarapan bubur aja ya?"
"Iya, Ma." Jawab Sherena. Arumi pun pergi dari kamar putri nya untuk mengambilkan sarapan.
__ADS_1
Di ruang tamu, Arumi berpapasan dengan Arya. Pria itu sudah berpamitan untuk pergi ke kantor tadi, tapi sekarang malah kembali ke rumah.
"Lho kok balik lagi, Pa?"
"Bahan rapat penting nya ketinggalan, Ma. Hehe.."
"Kebiasaan ya kamu tuh, Pa." Jawab Arumi sambil terkekeh.
"Mana Sheren?"
"Di kamar nya, Pa. Dia masih lemes, ini Mama mau ambilin sarapan terus di anter ke kamar Sheren." Jawab Arumi sambil tersenyum kecil.
"Hmm, dia belum membaik?"
"Mama gak tahu, Pa. Wajah nya masih pucat, tapi dia sudah bisa berjalan-jalan."
"Baiklah, kalau ada apa-apa tentang Sheren. Segera hubungi Papa ya?"
"Iya, Pa. Sana berangkat, nanti kesiangan." Ucap Arumi. Arya pun menganggukan kepala nya dan pergi dari rumah dengan membawa berkas materi rapat nya yang tertinggal, lalu segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Maklumlah mobil tua, di bawa ngebut dikit pasti mogok. Jadi dia tidak bisa membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian, Arumi pun kembali ke kamar putri nya dengan semangkuk bubur hangat di tangan nya. Bubur dengan kuah kuning yang menggoda, aroma nya menguar membuat perut keroncongan. Sherena tersenyum kecil, lalu memakan bubur nya dengan lahap.
Hal yang sama terjadi pada Darren, entah kenapa dia tiba-tiba saja ingin sarapan bubur ayam. Padahal selama ini dia jarang sekali memakan bubur, bahkan terkesan tidak menyukai nya karena tekstur nya. Tapi sekarang dia ingin sekali memakan bubur ayam yang di beri kuah kari, pasti akan sangat enak.
"Andy, berhenti dulu di tempat bubur ya? Aku ingin sarapan bubur pagi ini."
"Sarapan bubur? Apa Tuan tidak salah?"
"Tidak, kenapa memang nya?" Tanya Darren.
"Tidak apa-apa, hanya saja biasa nya Tuan kan paling anti sarapan bubur."
"Gak tahu, ini lagi pengen aja." Jawab Darren. Andy pun tidak mencurigai apapun, dia mengemudikan kendaraan nya dan berhenti saat melihat ada tukang bubur yang mangkal di pinggir jalan. Jarak dari rumah sakit ke perusahaan cukup dekat, hanya sekitar 15 menit saja dengan menggunakan kendaraan roda empat. Itu pun kalau tidak macet, kalau macet ya pasti ngaret bisa sampai setengah jam atau bahkan satu jam.
Darren langsung memesan bubur dengan porsi lengkap lalu memakan nya dengan lahap, membuat Andy menatap wajah pria itu dengan keheranan. Aneh bukan? Kenapa tiba-tiba bisa dia menyukai bubur ayam? Padahal tidak biasa nya dia sarapan dengan bubur ayam, selain tidak menyukai tekstur nya, dia juga tidak suka bubur karena tidak membuat nya kenyang dalam waktu lama, berbeda dengan nasi.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu, Andy? Apa aku terlihat aneh?" Tanya Darren.
"Sedikit, Tuan. Biasa nya anda tidak sarapan bubur kan, tapi sekarang tiba-tiba sarapan seperti ini." Jawab Andy.
"Hmm, gak tahu. Tiba-tiba aja pengen makan bubur kayak gini, enak banget."
"Aneh.."
"Apa aneh kalau orang sarapan bubur ayam?"
"Ya tidak sih, tapi yang jadi masalah nya disini adalah, Anda tidak suka sarapan bubur. Itu saja." Jawab Andy. Darren sendiri sebenarnya merasa heran plus aneh dengan dirinya sendiri, tapi dia merasa wajar-wajar saja kan kalau dia tiba-tiba ingin sarapan bubur ayam?
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1