Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 137 - Kebenaran yang Menyakitkan


__ADS_3

Plak.. 


Suara tamparan terdengar menggema di seluruh ruangan, dimana pria tampan bernama Rama itu dengan keras nya menampar pipi kanan sang istri, Sintia. 


Wanita itu menatap Rama dengan tatapan penuh arti, dia tidak tahu dan tidak mengerti kenapa saat datang, tiba-tiba saja langsung menampar wajah nya. 


"Apa yang kamu lakukan, Mas?!" Tanya Sintia sambil memegangi pipi nya yang memerah karena tamparan yang di layangkan oleh suami nya.


"Kau masih berani menanyakan hal itu, Sintia? Setelah apa yang kau lakukan pada putra mu sendiri hah?" Tanya Rama membuat kening Sintia mengernyit. 


"Memang nya apa yang aku lakukan?" Tanya Sintia lagi dengan wajah angkuh nya.


"Kau membayar Mecca untuk bersandiwara seolah dia tengah mengandung anak Marvin untuk memisahkan putra kita dengan Arina bukan? Padahal, pada kenyataan nya Mecca tengah mengandung anak kekasih nya dan itu bukan Marvin!" 


Terkejut. Jelas, Sintia sangat terkejut mendengar ucapan Rama. Dari mana suami nya mengetahui hal ini? Sedangkan dia sudah yakin kalau Mecca tidak mungkin mengkhianati nya setelah dia mengancam nya.


"Aku tidak menyangka kamu bisa sejahat ini, Sintia. Padahal Marvin adalah putra kandung mu, tapi kau dengan tega nya melakukan hal sekeji ini? Kau tak memikirkan bagaimana hancur nya perasaan Marvin saat dia mengetahui hal ini, belum lagi perasaan Arina!"


"Ckk, aku tidak peduli dengan perempuan kampungan itu. Aku tidak menyukai nya karena dia terlihat seperti orang udik!"


"Jaga perkataan mu, Sintia. Marvin akan marah besar jika dia sampai mendengar semua perkataan mu, kau mau di benci anak mu sendiri hah?"


"Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanya agar Marvin tidak menikah dengan gadis itu."


"Memang nya kenapa dengan Arina?" Tanya seseorang yang membuat kedua nya mengalihkan tatapan mereka ke arah sumber suara. Ya, seorang pemuda tengah berdiri dengan wajah penuh keterkejutan nya. Di adalah Marvin, dia pulang ke rumah untuk berganti pakaian tapi siapa yang menyangka kalau dia malah mendapatkan kejutan yang begitu luar biasa.


"M-marvin.." 


"Iya, ini aku." Jawab Marvin, dia berjalan dengan langkah perlahan nya ke arah kedua orang tua nya yang tengah berdiri berhadapan.


"Ada apa dengan Arin, Ma?" Tanya nya lirih. Tatapan mata nya terlihat sangat sendu, dia benar-benar tidak menyangka kalau sosok yang selama ini selalu dia bangga-banggakan itu ternyata adalah sumber masalah yang dia alami, sumber rasa sakit yang dia rasakan sekarang.


"Ada apa dengan Arina, Ma?!" Tanya Marvin dengan nada tinggi. Baru kali ini pemuda itu berani meninggikan suara nya di depan kedua orang tua nya. Senakal-nakal nya Marvin, dia tetap menjadi anak yang penurut saat di depan kedua orang tua nya. Tapi sekarang? Dia terlihat sangat marah, benar-benar marah. Bahkan cara dia menatap sang ibu benar-benar berbeda, tiada tatapan hangat penuh kasih sayang, kini hanya ada tatapan penuh kebencian.


"Kenapa harus aku dan Arin, Ma? Aku mencintai Arina karena dia gadis yang istimewa untuk Marvin. Sungguh, aku tidak menyangka kalau semua ini adalah perbuatan kotor Mama."


"Marvin, dengarkan Mama dulu.."


"Dengarkan apa? Aku tidak mau mendengar apapun lagi, aku kecewa sama Mama. Bahkan, aku malu punya ibu seperti anda!"


"Marvin.."


"Aku membenci mu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu!"

__ADS_1


"Marvin, Mama tidak akan mengizinkan kamu untuk menikah dengan wanita itu." Ucap Sintia membuat Marvin yang bersiap pergi dari rumah, segera berbalik dan menatap sinis ke arah sang ibu.


"Apa? Aku tidak butuh izin mu untuk menikahi Arina. Aku bahkan ragu, apa kau benar-benar ibu kandung ku? Kelakuan mu ini benar-benar membuat aku malu, kau tidak mencerminkan kasih sayang seorang ibu pada anak kandung nya sendiri." Ucap Marvin membuat Sintia terkejut. Dia tidak menyangka kalau Marvin akan berkata demikian. 


"Marvin, tunggu.."


"Puas kau membuat putra mu seperti ini? Dia kecewa dengan apa yang sudah kau perbuat, Sintia. Dia bahkan membenci mu sekarang."


"Diamlah, kau tidak berhak ikut campur!"


"Ohh, begitu kah? Kau lupa siapa aku? Aku adalah orang yang telah mengambil mu dari dunia gelap mu itu, Sintia. Ku pikir kau akan berubah, tapi ternyata kau tetap Sintia yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri ya? Ambisi mu untuk mendapatkan semua harta kekayaan ku membuat mu gila." Ucap Rama membuat Sintia mengepalkan kedua tangan nya.


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu repot-repot untuk membuatkan teh atau kopi yang sudah kau campur dengan obat-obatan itu. Aku sudah terlalu muak meminum nya." Sintia membulatkan kedua mata nya, dia tidak menyangka kalau Rama akan mengetahui hal ini. 


"Kau terkejut? Sudah lama aku tahu hal ini dan diam-diam aku selalu menukar teh atau kopi buatan mu itu dengan buatan pelayan." 


"Bagaimana bisa? Sedangkan aku selalu melihat mu minum teh buatan ku!"


"Kau sangat licik, Sintia. Tapi untunglah, pelayan ku lebih cerdik di bandingkan kau!"


"Sial.."


"Sintia, aku menjatuhkan talak padamu. Mulai saat ini kau bukan lagi istriku, kau bisa pergi dari rumah ku. Karena aku dan Marvin akan bahagia tanpa mu, kami tidak membutuhkan wanita bermuka dua dalam hidup kami."


"Rama, jangan seperti ini. Aku mohon, tolong beri aku kesempatan sekali lagi."


"Rama.."


"Kemasi barang mu lalu pergi dari rumah ku sekarang juga. Tidak perlu khawatir, kau boleh membawa mobil dan dua kartu ATM milik ku yang ada padamu. Aku sudah mengisi nya masing-masing seratus juta, manfaatkan uang itu dengan baik untuk hidup mu!" Tegas Rama. Pria itu pun meninggalkan Sintia yang masih membeku di tempat nya, air mata nya menetes membasahi wajah nya. 


Menyesal? Sudah sangat terlambat, seharusnya dia berpikir jernih terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri. Kalau sudah begini, tidak mungkin bisa di perbaiki lagi termasuk kepercayaan suami dan putra nya, Marvin. Selamanya, pemuda itu akan membenci dirinya karena kejadian hal ini. 


Marvin berada di rumah Darren sekarang, dengan wajah sembab nya, dia datang memberanikan dirinya untuk meminta solusi dari semua nya, jujur saja dia malu dengan pria itu karena dia sudah terlalu banyak membantu nya mengatasi masalah ini dan dia yakin kalau kejahatan sang ibu yang terbongkar saat ini pun pasti ada campur tangan Darren di dalam nya. 


"Lho, Marvin. Ngapain? Kok nangis?" Tanya Sherena yang terkejut melihat Marvin yang tengah menangis di sofa ruang tamu.


"Masuklah, sayang."


"Tidak apa-apa, Bang. Sherena juga berhak tahu masalah ini, karena Arin juga sahabat nya."


"Hmm, baiklah. Sudah, jangan menangis. Pria gentel tidak menangis, Vin." Ucap Darren.


"Ibu ku gila, bang."

__ADS_1


"Aku tahu, Vin. Sudah aku bilang bukan? Terkadang, orang terdekat bisa menjadi musuh dan sumber rasa sakit paling dalam?"


"Bang.."


"Aku tahu, kau kecewa dengan ibu mu atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi jangan menangis seperti ini, malu sama biji."


"Abang!"


"Hahaha, setelah ini kau akan melakukan apa?"


"Aku tetap akan menikahi Arin, aku tidak peduli meskipun ibu ku melarang nya. Dia tidak merestui ku, tapi aku tidak peduli karena Papa mendukung ku."


"Jangan lupakan, aku, Andy, ada Tomi juga yang akan mendukung setiap keputusan mu, Vin."


"Terimakasih, Bang. Aku benar-benar kecewa, aku tidak menyangka kalau semua masalah yang terjadi ternyata dalang dari semua nya adalah ibu ku sendiri."


"H-aahh?" Tanya Sherena. Marvin mengangguk dengan wajah sendu nya, membuat Sherena langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan nya.


"Astaga, Marvin.."


"Ibu ku gila harta, Sher.."


"Marvin, kau harus kuat ya."


"Tentu, aku akan terus kuat. Kalau aku saja rapuh, siapa yang akan menguatkan Arin?" Tanya Marvin membuat Sherena tersenyum. Kisah cinta sahabat nya yang satu itu tidak berjalan dengan mulus, tapi untung saja suami nya dan Andy gerak cepat membantu menyelesaikan masalah yang di alami oleh kedua nya dan inilah hasilnya. 


Marvin lega karena akhirnya dia tidak akan di tuntut atau di kejar-kejar lagi untuk bertanggung jawab atas janin yang bukan miliknya. Tapi di sisi lain, dia mendapatkan kabar yang sangat buruk hingga membuat nya tidak bisa menahan emosi nya. Baru kali ini Marvin menangis karena sebuah masalah yang dia alami, padahal selama ini dia selalu menjadi pria yang kuat dan tabah. Tapi untuk masalah Arina, dia selalu lemah karena cinta lah melemahkan nya. 


"Aku harus bilang apa sama Arin, Bang?"


"Gak tahu, tapi bicarakan saja secara baik-baik, Vin. Aku yakin Arin akan mengerti."


"Dia pasti mengerti karena dia memang memiliki hati yang lapang, tapi apakah dia akan bisa memaafkan ibu ku? Ckk, bahkan memanggil nya ibu saja membuat tenggorokan ku tercekat. Memalukan sekali."


"Bagaimana pun juga, dia tetap ibu mu, Vin."


"Ibu macam apa yang ingin melihat anak nya menderita, Bang?"


"Hmm, ibu seperti apa ya? Entahlah, aku baru menemui kasus seperti mu, Vin."


"Mas, ihh.."


"Bener lho, baru kali ini aku melihat ada ibu yang jahat sama anak nya sendiri. Gila aja.."

__ADS_1


"Aku juga bilang apa, ibu ku gila, Bang." Jawab Marvin lirih. 


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2