
Darren makan dengan lahap, begitu juga Sherena. Meskipun dia heboh sendiri karena bakso nya yang terlalu pedas.
"Pedes?" Tanya Darren, Sherena menganggukan kepala nya. Wajah nya memerah dengan keringat yang membanjiri wajah nya.
Andy sudah keluar sejak tadi karena dia sudah selesai makan, lagi pun dia tak tahan untuk berlama-lama berada di ruangan yang terdapat dua orang bucin. Membuat nya harus selalu mengusap dada melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh kedua nya, Darren juga tega sekali. Sudah tahu asisten nya itu jomblo, malah ada acara pamer kemesraan pula. Jadilah Andy mengiri.
"Iya, tapi enak." Jawab Sherena membuat Darren terkekeh, dia mengambil mangkuk berisi bakso milik Sherena. Dia memotong nya, lalu memakan nya. Sherena kita pria itu akan memakan nya, tapi ternyata dia salah besar.
Darren menarik kepala Sherena, dia memindahkan bakso yang ada di mulutnya ke mulut Sherena. Kedua mata gadis itu membulat, dia benar-benar tidak menyangka kalau Darren akan melakukan hal seperti ini.
"Tidak terlalu pedas, kan?" Tanya Darren seolah tanpa dosa.
"T-tidak, tapi.."
"Tapi apa, hmm?" Tanya Darren sambil mencubit gemas pipi Sherena.
"Aku malu.."
"Malu kok bilang-bilang, sayang." Darren tersenyum menggoda. Pria ini benar-benar tidak bisa di tebak.
"Tapi bakso nya jadi makin enak karena bercampur sama rasa bibir kamu, yang." Sherena mengatakan hal itu dengan malu-malu, wajah nya merona karena malu.
"Mau lagi, sayang? Biar gak terlalu pedes."
"Gak usah, Yang. Kamu makan aja, aku bisa sendiri." Jawab Sherena, jujur saja dia sangat malu saat ini padahal mereka sudah sering bertukar saliva, tapi ini pertama kalinya kalau ciuman sambil makan bakso. Anggap saja itu sebagai sensasi baru, iya kan?
"Tapi bakso nya pedes, sayang. Lain kali, jangan jajan bakso pedes gini ya. Nanti perut kamu sakit."
"Iya, sayang. Makasih udah perhatian." Ucap Sherena, Darren mengangguk. Dia pun kembali melanjutkan makan nya. Makanan nya masih tersisa cukup banyak, soto daging dengan kuah kening yang terasa menyegarkan bagi Darren. Seperti nya, ini akan menjadi menu favorit nya sekarang.
"Soto nya enak deh."
__ADS_1
"Nanti aku belajar masak soto, biar kamu inget aku terus." Jawab Sherena sambil tersenyum manis. Darren mengacak rambut sang gadis dengan mesra, juga mengecup kening sang gadis dengan dalam.
"Iya, tapi kalo kamu capek jangan maksain ya, Bby? Aku gak mau kalau kamu sakit, apalagi kamu mau ujian sebentar lagi kan? Jangan terlalu fokus belajar masak, fokus saja belajar untuk ujian mu ya?"
"Hmmm, pasti sayang. Aku harus dapat nilai bagus kan?"
"Iya, itu harus, sayang. Nanti kalau hasil ujian mu bagus, aku kasih hadiah. Gimana, deal?"
"Yee, deal." Jawab Sherena dengan senyum nya, dia benar-benar antusias. Jadi dia lebih bersemangat untuk mendapatkan nilai bagus, agar bisa mendapatkan hadiah dari sang kekasih.
"Jadi, harus semangat ya belajar nya. Nanti aku belikan apapun yang kamu mau." Jawab Darren, Sherena menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia pun kembali makan dengan lahap.
Setelah selesai makan, Sherena pun harus menunggui Darren yang kembali melanjutkan pekerjaan nya.
"Ayang, bosen.." Rengek Sherena.
"Sini, sayang."
Sherena pun menurut, dia beranjak dari duduknya, lalu berjalan pelan ke meja kerja sang kekasih.
"Sayang wangi, pake parfum apa?" Tanya Sherena sambil mengendus aroma yang menguar lembut dari leher Darren.
"Gak ada, aku jarang pakai parfum. Ini parfum alami, sayang." Jawab Darren, Sherena semakin nakal, dia mengecupi leher Darren bahkan menyesap nya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Darren juga tidak melarang, dia membiarkan Sherena melakukan apapun yang dia inginkan.
Tapi, rupanya hal itu malah membuat Sherena semakin menjadi. Dia membuka beberapa kancing kemeja milik Darren dan melanjutkan aktivitas nya, menyesap di beberapa tempat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Sama seperti yang biasa pria itu lakukan padanya.
"Sayang, duduk yang anteng." Pinta Darren, tapi Sherena tidak mendengarkan. Dia malah semakin menjadi, membuat Darren mengepalkan tangan nya. Bukan karena dia sedang marah, tapi dia berusaha menahan mati-matian nafssu nya. Dia laki-laki dewasa yang normal, wajar saja kalau sentuhan-sentuhan gadis itu membuatnya bernafssu.
"Kamu nakal ya, mau aku terkam atau berhenti hmm?" Tanya Darren, suara nya sudah serak seperti menahan sesuatu.
Sherena nyengir seolah tanpa dosa, dia pun akhirnya diam seketika. Gadis itu melingkarkan kedua tangan nya di leher Darren, dia bersandar manja di dada bidang pria itu. Aroma tubuh Darren yang wangi maskulin membuat Sherena merasa nyaman. Akhirnya, dia pun tertidur dengan tetap memeluk Darren.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.." Jawab Darren dengan suara tegas nya, Sarah masuk dengan wajah sinis nya, apalagi saat melihat Sherena yang menggelayut manja di pelukan Darren. Dia menatap tidak suka melihat hal itu, dia iri, dia cemburu karena dia tak bisa melakukan hal itu pada Darren.
"Ada apa, Sarah?"
"Ini laporan yang tuan minta kemarin."
"Hmm.." Darren mengambil nya, lalu memeriksa nya. Sedangkan tatapan mata Sarah terus tertuju ke arah gadis yang menempel di tubuh Darren. Mata nya memerah saat melihat tanda kemerahan di leher Darren, dia tidak perlu bertanya lagi siapa yang membuat nya kan? Sudah pasti itu Sherena.
"Tuan.."
"Hmmm?"
"Kenapa anda membiarkan gadis itu terlalu manja, jangan di biasakan nanti kebiasaan." Ucap Sarah yang membuat Darren tersenyum miring. Dia dengan jelas tahu kenapa Sarah mengatakan hal demikian, padahal hal ini tidak mengganggu siapapun.
"Apa kau merasa keberatan, Sarah? Padahal aku tidak mengganggu mu, begitu pun dengan kekasih ku. Lalu, apa masalah mu? Jangan terlalu banyak ikut campur atau mengomentari hubungan ku dengan kekasih ku, Sarah."
"T-api tuan.."
"Aku tegaskan disini, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kau hanya sekretaris, tak pantas mengatakan hal ini padaku atau pada kekasih ku. Apa ucapan ku jelas, Sarah?"
"Sekarang, keluarlah dari ruangan ku. Kau mengganggu gadis ku yang tertidur." Ucap Darren, membuat Sarah langsung keluar dengan dongkol. Dia kesal, benar-benar kesal. Lebih tepatnya ya iri, dia merasa iri dengki karena dia tak bisa seperti Sherena.
'Kesel, aku sangat membenci gadis itu. Aku harus menyingkirkan nya, dengan begitu Darren akan kemari padaku. Dia akan kembali membutuhkan aku untuk memuaskan hasraat nya. Rencana yang bagus, Sarah.' Batin Sarah. Dia pun masuk kembali ke dalam ruangan nya, tanpa dia sadari kalau Andy sejak tadi melihat gerak geriknya.
"Ular betina itu terlihat mencurigakan, aku yakin ini semua pasti ada hubungan nya dengan Tuan Darren dan Nona Sherena. Aku harus bicara tentang ini bersama Tuan Darren." Gumam Andy, dia bersiap untuk mengetuk pintu ruangan Darren.
Tapi, begitu mengingat kalau di dalam ruangan itu ada Sherena, dia pun mengurungkan niat nya. Dia takut kalau dia mengganggu, jadi lebih baik dia tak jadi masuk dari pada hati nya terbakar karena melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblo nya meronta-ronta.
"Sebaiknya aku bicarakan ini besok, sekarang situasi nya tidak memungkinkan." Gumam Andy, dia pun berbalik dan memilih masuk ke dalam ruangan nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻