
Pagi-pagi sekali, Darren sudah bersiap dengan pakaian kantor nya. Seperti biasa, hari ini dia akan pergi ke perusahaan untuk bekerja, pagi ini juga Darren mendapatkan tugas tambahan. Yakni mengantarkan sang istri ke sekolah untuk mengambil ijazah kelulusan nya.
"Mom, hati-hati ya. Ingat, jangan nakal disana. Kamu lagi hamil, jangan pecicilan!" Tegas Darren, Sherena menganggukan kepala nya.
"Iya, Daddy." Jawab Sherena sambil terkekeh pelan.
"Minum dulu susu nya sama vitamin nya, baru boleh pergi." Ucap Darren. Karena tak ingin membuat suami nya marah, akhirnya dia pun menurut. Meskipun sebenarnya, dia merasa enek saat minum susu di pagi hari apalagi rasa vanilla.
"Dad, besok-besok kalau beli susu kehamilan jangan rasa vanilla ya?"
"Kenapa memang nya, Mom?" Tanya Darren sambil meletakan kembali gelas yang sudah kosong.
"Enek, Dad. Apalagi di minum nya pagi-pagi begini."
"Kalo enek, kenapa di minum?" Tanya pria itu lagi sambil mengernyitkan kening nya. Istrinya mengatakan kalau susu kehamilan yang baru saja dia minum itu membuat nya enek, tapi susu di gelas itu dia minum sampai habis.
"Hehe, takut Daddy marah soalnya. Jadi aku paksain."
"Astaga, Mom. Daddy juga gak bakalan maksain Mommy kalau emang beneran enek, kebetulan ini susu nya tinggal sedikit. Jadi kalau Daddy beli susu kehamilan rasa apa?" Tanya Darren. Memang untuk susu dan kebutuhan Sherena selama hamil, selalu Darren yang membelikan nya. Dia tidak pernah keberatan saat istri nya meminta untuk di belikan susu kehamilan.
"Coklat aja, Dad." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil.
"Yaudah, sekarang kita berangkat?"
"Iya, Daddy."
Sherena pun berjalan berdampingan dengan sang suami, dia menggandeng mesra tangan Darren dan kedua nya pun pergi ke sekolah. Pria itu mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan sedang, sebenarnya ini sudah sedikit terlambat untuk pergi ke perusahaan, tapi berhubung dia adalah pemilik perusahaan, telat sedikit karena mengantar istri nya lebih dulu tidak masalah.
"Dad.." Panggil Sherena. Dia lupa kalau dia tidak punya uang saat ini, dia melupakan kartu miliknya di kamar seperti nya dan dia baru menyadari nya saat mereka sudah dekat dengan sekolah. Witch is, jarak nya sudah lumayan jauh dari rumah.
"Iya, kenapa Mom?"
"Mommy minta uang buat jajan, kartu nya lupa di rumah, Dad. Hehe." Jawab Sherena sambil cengengesan.
"Astaga, Mommy. Kamu ini kenapa bisa ceroboh begitu, sampai lupa kartu gitu. Gimana kalau ada apa-apa?"
"Marah-marah mulu deh." Celetuk Sherena sambil memutar mata nya dengan jengah.
"Iya, ini uang buat jajan. Ini kartu nya bawa ya?" Ucap Darren sambil memberikan uang dan juga kartu kredit miliknya pada Sherena. Terhitung, ini sudah ketiga kali nya Darren memberikan kartu miliknya pada Sherena karena sejak hamil Sherena jadi pelupa. Dia sering melupakan hal-hal penting.
"Hehe, makasih. Gak usah kartu nya, uang nya aja, Dad. Malas, nanti hilang."
"Kamu nya jangan teledor dong, Mom. Ini uang nya pakai aja buat jajan, kartu nya simpen aja."
"Uang nya aja, kartu nya udah banyak di rumah." Jelas Sherena sambil tersenyum kecil.
"Hufftt, yaudah. Nih Daddy tambahin, takut nya gak cukup. Jangan nolak, kalau ada sisa nya simpan." Darren menambah uang berwarna merah itu pada sang istri.
"Yaudahlah kalo gitu kan Mommy gak bakalan bisa nolak, makasih Daddy."
"Sama-sama, inget pesan Daddy ya. Jangan pecicilan!"
"Isshh, iya iya. Teman-teman Mommy juga gak bakalan berani kali ngajakin aku pecicilan, kan mereka tahu aku hamil." Jelas Sherena sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, hati-hati ya. Kalau sudah selesai, telepon Daddy ya. Biar nanti Daddy jemput."
"Oke, Daddy. Mommy keluar dulu ya?"
"Iya, Mom."
Sherena pun membuka pintu mobil dan kembali menutup nya. Dia berjalan perlahan ke arah gerbang sekolah dan berbalik, dia tersenyum sambil melambaikan tangan nya ke arah mobil sang suami yang perlahan mulai melaju, menjauh dari arah sekolah.
Perempuan hamil itu pun berjalan masuk dan memilih menunggu teman-teman nya di kantin. Sebelum nya, dia sudah mengabari ketiga teman nya tapi mereka sedang dalam perjalanan saat ini. Jadi, Sherena pun memilih masuk dan menyapa adik kelas nya.
"Kak Sheren.." Sapa adik kelas yang waktu itu memberikan coklat pada Sherena.
"Hai, apa kabar?"
"Baik, kakak. Kakak apa kabar?"
"Baik juga."
"Lho, kakak sedang hamil?" Tanya nya lagi, perut Sherena yang biasa nya sangat langsing dan proporsional, kini terlihat sedikit agak membuncit dan dia langsung menyadari nya.
__ADS_1
"Hehe, iya."
"Wah, selamat kakak. Sudah berapa bulan? Boleh aku usap gak, gemes banget." Ucap nya dengan antusias.
"Boleh kok, kakak hamil baru satu bulan. Habis nikah, langsung isi." Jelas sherena sambil tersenyum manis. Gadis itu pun mengusap nya dengan lembut.
"Gemesin banget perut nya, kak."
"Hmm, kamu gak masuk kelas?" Tanya Sherena.
"Hehe, lagi di hukum kak. Telat piket soalnya."
"Telat piket?"
"Iya kak, kesiangan bangun nya jadi telat piket nya. Di hukum deh gak boleh masuk kelas di jam pelajaran pertama." Jelas nya sambil cengengesan.
"Gapapa kok, semangat ya. Ngapain dong semalaman sampai kamu kesiangan hmm?"
"Ngedrakor, kak. Hehe.."
"Kamu ini, jangan ngedrakor dong kalau besok nya sekolah."
"Hehe, maafin kak."
"Susul kakak ya? Belajar yang rajin, udah kelas tiga kan? Tinggal satu tahun lagi."
"Iya kakak." Jawab nya sambil tersenyum. Tak lama, ketiga teman nya datang dan langsung mendekat ke arah Sherena yang terlihat sedang asik mengobrol dengan adik kelas nya.
"Hey, Sher.."
"Eehh, udah pada dateng ya?"
"Iya, ayo sekarang ke kantor kepala sekolah dulu." Ajak April sambil menggandeng tangan Sherena dengan lembut.
"Oke."
"Aku duluan ya, selamat menjalani hukuman. Semangat terus, sebentar lagi lulus." Ucap Sherena. Gadis itu tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya. Dia pun menyaksikan Sherena dan teman-teman nya pergi dengan langkah pelan.
"Pasti nyenengin banget punya temen kayak mereka, selalu mendukung di setiap keputusan yang di buat salah satu dari mereka." Gumam nya. Dia pun kembali menjalani hukuman, yaitu berdiri di luar kelas sendirian gara-gara lupa kalau hari ini dia ada jadwal piket.
"Sher, perut Lo lucu banget deh."
"Hehe, iyaa. Padahal baru dua bulan, tapi udah gede begini." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Dia terkekeh sambil mengusap lembut perut sahabat nya.
"Kembar gak sih?" Tanya April.
"Gak tahu, dokter gak ada bilang kembar atau cuma satu. Tapi pas di USG bulatan nya cuma dua, satu nya bulatan rahim, satu nya lagi bulatan janin." Jelas Sherena.
"Hmm, yaudah. Mau kembar atau cuma satu, yang penting kamu sama baby nya sehat terus." Ucap Arina sambil tersenyum manis.
"Sejak hamil, kamu keliatan lebih cantik plus dewasa." Meysa tersenyum sambil mengusap juga perut buncit sahabat nya.
"Apa iya?"
"Kita setuju sama Meysa, Lo jauh lebih cantik terus keliatan dewasa juga. Aura Lo tuh terpancar banget, sumpah." Jelas April dan di angguki oleh ketiga teman lain nya. Mereka pun pergi ke ruangan kepala sekolah untuk mengambil ijazah kelulusan dan setelah selesai, mereka pun pergi ke kantin untuk sekedar makan bersama sambil mengobrol. Tapi ternyata, topik yang mereka bicarakan cukup sensitif.
Sensitif? Ya, sensitif bagi perempuan yang masih gadis. Ke empat nya tertawa, saat mendengar cerita masing-masing membuat suasana kantin lebih ramai. Dapat ketiga teman nya itu lihat kalau nafssu makan bumil itu jauh lebih dari sebelumnya.
Jika sebelum nya, Sherena hanya akan memakan dua mangkuk mie ayam atau bakso, maka sekarang dua kali lipat nya. Dua mangkuk bakso dan dua mangkuk mie ayam, ketiga nya kompak menganga saat melihat Sherena yang begitu lahap memakan makanan nya.
"Gilaaa, nafsuu makan bumil yang satu ini. Lahap bener makan nya." Celetuk April membuat Sherena cengengesan.
"Gapapa kali, nama nya juga bumil. Kalau biasa nya Sherena makan dua mangkuk, sekarang kan mereka berdua sama bayi yang ada di perut nya, jadi di kali dua aja. Gak usah heran, Prill." Bela Meysa sambil tersenyum.
Dia malah anteng melihat Sherena makan, melihat bumil itu makan dengan lahap membuat nya senang. Karena biasa nya, banyak ibu hamil yang malah kehilangan selera makan mereka karena bawaan bayi. Tapi lain hal nya dengan Sherena, kehamilan nya tidak mempengaruhi selera makan nya sama sekali.
"Hehe, sorry kalau kalian kaget lihat porsi makan gue sekarang. Gak tahu kenapa, gue bawaan nya laper mulu." Jelas Sherena sambil terkekeh.
"Gapapa, wajar kok yang penting bumil nya happy." Arjuna tersenyum sambil mengelus pundak Sherena.
"Makasih banget, kalian emang teman yang baik. Harusnya kalian tuh illfeel liat cara gue makan sekarang."
"Dihh, illfeel apaan dah. Kagak, santai saja. Kita juga sama kayak Lo." Jawab April sambil tersenyum. Sebisa mungkin, jangan sampai membuat mood ibu hamil itu berantakan, kalau bumil nya sampai rewel berabe nanti. Bagaimana nasib mereka nanti, apalagi kalau Darren sampai tahu kalau terjadi sesuatu pada istrinya, bisa-bisa mereka akan di cincang habis nanti nya.
__ADS_1
"Terimakasih.."
"Sama-sama, ayo makan lagi. Makan yang banyak, khusus hari ini gue yang traktir." Ucap April. Ketiga teman nya pun langsung bersorak, makanan gratis akan terasa berkali-kali lipat enak nya.
"Sering-sering ya, Prill."
"Oke, nanti ke nikahan gue jangan lupa datang ya? Ngarep banget gue kalian datang."
"Pasti, gue bakalan datang ke nikahan bestai gue." Jawab Meysa sambil tersenyum.
"Jelas, kita pasti datang." Ucap Arina, dia juga sedang makan. Dari rumah tadi, dia belum makan sama sekali, keburu Marvin datang untuk menjemput nya. Sekarang, pemuda itu berada bersama teman-teman nya, mungkin nongkrong sambil ngerokok.
"Gue juga dateng kok, Prill." Jawab Sherena.
"Beneran kan? Laki Lo gak bakalan marah kan?"
"Nggak bakalan, nanti gue dateng nya sama Darren kok." Jawab Sherena sambil tersenyum manis. April merasa bahagia, ya dia sangat bahagia sekarang ini karena dia memiliki teman yang suportif. Mereka selalu mendukung satu sama lain.
"Btw, si Marvin masih ngerokok gak?" Tanya April pada Arina. Gadis itu mengangguk lemas, dia juga bingung sendiri. Harus dengan cara apa lagi dia melarang sang kekasih untuk merokok, tapi dia tidak menurut sama sekali.
"Masih, kalian tahu gak harus pake cara apa gitu gue ngebujuk nya?" Keluh Arina sambil menunduk. Dia bosan, saat berdekatan dengan Marvin, tubuh nya berbau asap rokok.
"Suruh ganti pake bibir Lo aja, Rin."
"Udah, kagak mempan." Jawab Arina.
"Hmm, gue ada cara nya." Celetuk Sherena sambil tersenyum nakal.
"Apa tuh?"
"Masih suka minta jatah gak si Marvin?" Tanya Sherena santai, sambil menyendok bakso di mangkuk nya lalu memakan nya dengan lahap.
"Jelas, itu katanya vitamin. Kalau rokok itu kebutuhan." Jawab Arina.
"Sini deh Lo, gue bisikin." Ucap Sherena, Arina pun mengangguk dan mendengarkan saran dari Sherena dengan seksama, kedua mata gadis itu membulat sempurna tapi kemudian dia tersenyum.
"Oke kan?"
"Wajib di coba sih saran nya, oke gue bakalan cobain." Jawab Arina.
"Cobain nanti malem deh, pasti berhasil."
"Oke." Jawab Arina sambil tertawa kecil. Membuat Aprill dan Meysa saling melempar tatapan mereka karena tidak mengerti dengan apa yang kedua teman nya itu bicarakan.
"Apa sih?"
"Gak tahu, biarin aja." Jawab Meysa, dia memilih untuk kembali memakan mie ayam nya dengan lahap.
Beberapa menit berselang, Sherena dan ketiga teman nya mendapatkan hal yang tidak terduga.
"Sher.." Panggil seseorang yang membuat Sherena langsung menoleh begitu mendengar nama nya di panggil. Agnes, ya orang yang memanggil dirinya adalah Agnes.
Ketiga teman Sherena langsung beranjak dari duduk nya, mereka masih belum melupakan kejadian buruk yang menimpa sahabat mereka karena ulah gadis di depan nya ini bersama ibu nya.
"Mau ngapain Lo kesini hah? Gak ada puas-puas nya Lo gangguin Sherena!" Sewot Meysa. Dia benar-benar panik saat mengetahui kalau hari itu Sherena hampir saja keguguran karena ulah gila Rita, ibu nya Agnes.
"Harus nya Lo tuh udah gak punya muka buat ketemu sama Sherena!" Cetus April.
"Iya tuh, gara-gara Lo sama ibu Lo yang kayak nenek lampir itu, Sherena hampir aja keguguran!"
"Sorry, sorry. Gue tahu kalau gue salah sama Sherena, tapi plis gue mohon sama kalian bertiga. Gue pengen ngomong sama Sherena, kali ini aja." Mohon Agnes membuat Sherena yang masih duduk dengan ketiga teman nya yang melindungi nya di belakang mereka sediikit merasa tersentuh, tapi ketiga teman nya tidak mengizinkan nya sama sekali.
"Mau ngomong apa lagi Lo hah?"
"Sorry, gue pengen minta maaf atas perbuatan ibu gue. Gue mohon, izinin gue buat ngomong sama Sherena!"
"Gays, udahlah. Biarin dia bicara sama gue." Jawab Sherena membuat April memutar mata nya dengan jengah.
"Ckk, disini aja bicara nya. Kita gak berani jamin kalau semisal Lo punya niat jahat buat nyelakain Sherena sama bayi nya." Ucap April, mereka pun menyingkir dan duduk di satu kursi panjang yang sama dengan Sherena. Sedangkan Agnes duduk di kursi yang berada di hadapan ke empat gadis itu dengan wajah kuyu nya. Terlihat jelas kalau dia kelelahan, kurang beristirahat. Ada lingkaran hitam di bawah mata nya, terlihat seperti panda.
"Cepetan mau ngomong apa Lo?"
"Gue mau minta maaf sama Sherena. Sorry banget atas kejadian hari itu, Sher. Jujur aja gue ngerasa bersalah banget sekarang ini, gue gak bisa tidur nyenyak setelah hari itu, apalagi setelah Ibu gue meninggal."
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻