
Hari ini adalah hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh pasangan Marvin dan Arina. Ya, hari ini adalah hari pernikahan mereka. Dengan pesta yang di adakan oleh Rama yang cukup mewah, mengingat ini adalah pernikahan putra semata wayang nya. Jadi, dia ingin membuat kesan yang sangat baik untuk pernikahan ini, karena pernikahan itu adalah moment yang sakral dan berkesan, maka dari itu dia menyelenggarakan pesta seperti ini.
Marvin berdiri gugup di dekat altar pernikahan, dengan tuxedo berwarna hitam yang membalut tubuh nya dengan rapi. Pemuda itu terlihat sangat tampan dengan memakai pakaian itu. Beberapa kali, Marvin menyeka keringat nya yang membasahi wajah nya mungkin karena saking gugup nya dan membuat nya berkeringat.
"Nih, usap pake tissu." Ucap Darren sambil mengulurkan tissu pada Marvin.
"Thanks ya, Bang."
"Hmm, gugup lu?"
"Iya, bang. Gugup banget, sampai rasanya mules ini perut." Bisik Marvin yang membuat Daren terkekeh.
"Aku juga seperti itu saat akan menikahi Sherena, nanti setelah ucap janji suci akan terasa lega. Good luck, bro." Ucap Darren sambil menepuk pundak Marvin ala pria, lalu dia kembali duduk di tempat nya. Di samping Tomi dan juga Andy yang juga hadir. Jangan tanyakan kemana para istri mereka, karena ketiga wanita itu yang menjadi pengiring pengantin atau istilah keren nya di sebut bridesmaid.
Di kamar, Arina masih di rias oleh MUA yang di sewa oleh Rama, untuk menyulap calon menantu nya agar terlihat cantik dan membuat semua orang terhipnotis akan kecantikan Arina. Disana, ada Sherena, April dan juga Meysa. Ketiga nya bergantian menjadi bridesmaid di pernikahan keempat teman nya karena itulah janji mereka dan uniknya mereka menikah dalam waktu yang berdekatan. Begitu juga dengan kehamilan mereka, saat ini hanya Meysa saja yang belum mengandung.
Wajah Meysa terlihat pucat, sedari tadi dia mengeluh pusing. Mungkin karena semalam dia habis di gempur habis-habisan oleh Andy, suaminya. Jadi dia kurang beristirahat, dia masih mencoba untuk berpositif thinking. Dalam tiga bulan pernikahan nya, dia sudah beberapa kali mengetest kehamilan, namun hasilnya selalu negatif. Itu membuat nya pusing, karena jujur saja dia maupun Andy sudah sangat menginginkan hadir nya seorang malaikat yang hadir di rahim nya, untuk menyempurnakan kehidupan mereka.
"Mey, pucet amat Lo. Kenapa?" Tanya Sherena sambil menepuk pundak Meysa. Tak biasa nya wanita itu terlihat diam seperti ini, jadi sedikit menimbulkan keheranan bagi teman-teman nya.
"Pusing banget kepala gue." Jawab nya lirih.
"Minum obat dulu atuh." Ucap April. Dia juga sama pucat nya seperti Meysa, namun bukan karena pusing. April pucat karena dia enek membayangkan aroma-aroma makanan dan parfum dari para tamu undangan yang bercampur, dia takut kejadian seperti di pernikahan Meysa dan Andy akan terulang lagi.
"Iya, thanks ya." Ucap Meysa, dia pun mengambil obat itu dan meminum nya.
__ADS_1
"Baikan gak?" Tanya Arina.
"Iya, udah baikan kok. Jangan khawatir, fokus saja sama pernikahan kamu, Rin. Aku baik-baik saja." Jawab Meysa sambil tersenyum. Begitu juga dengan Arina, dia tersenyum lega begitu mendengar jawaban Meysa.
Hingga akhirnya, acara pun di mulai. Arina nampak cantik dengan gaun yang melekat di tubuh nya, gaun yang mengembang di bagian bawah nya, membuat Arina terlihat bak putri kerajaan. Tapi, ada duka nya di balik penampilan Arina yang cantik bak putri itu, yaitu dia kesulitan berjalan. Hingga harus membuat ketiga teman nya itu memegangi ekor gaun nya yang menjuntai.
Pintu besar itu terbuka. Arina tersenyum saat tak sengaja tatapan mata nya bertemu dengan tatapan mata sang kekasih, tunggu bukan kekasih lagi tapi calon suami nya.
Marvin menatap calon istrinya dengan tatapan penuh ke kaguman. Cantik sekali, aura nya terlihat jelas membuat dada nya kembali berdebar tak karuan hanya karena melihat Arina berjalan pelan dengan di dampingi dayang-dayang nya.
'Cantik banget bini gue, aduh perut gue makin mules. Sialan.' Batin Marvin. Saking gugup nya, perut nya terasa mulas sedari tadi.
Arina tersenyum manis saat melihat wajah Marvin yang terlihat gugup, wajah nya memucat, namun sedetik kemudian berubah menjadi memerah saat dia sudah berdiri di hadapan nya.
Darren cekikikan melihat wajah gugup Marvin yang baginya terlihat sangat lucu. Marvin mengulurkan tangan nya, Arina pun menerima nya dengan senang hati. Kedua nya pun berjalan pelan ke altar, pemuka agama yang sedari tadi berdiri menunggu di atas altar pun tersenyum saat melihat kedua nya datang dengan langkah pelan dan tangan yang saling bergandengan mesra.
"Sekarang, kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri."
Kedua nya tersenyum manis, sungguh ini sangat membahagiakan. Moment yang sangat berharga bagi kedua nya sekarang, Marvin mendekatkan wajah nya ke arah Arina dan mencium bibir nya. Semua orang pun bertepuk tangan dengan meriah, termasuk ketiga sahabat Arina. Mereka tersenyum penuh kebahagiaan, mereka ikut berbahagia dengan pernikahan Arina dan Marvin.
Akhirnya, setelah perjuangan yang cukup panjang dengan banyak nya cobaan yang mereka hadapi, mereka pun bersatu akhirnya. Perjuangan Marvin dan Arina membuahkan hasil yang baik. Di salah satu kursi yang cukup jauh dari pelaminan, seseorang duduk dengan kedua mata berkaca-kaca. Dia menyaksikan putra nya menikah dengan wanita yang dia cintai.
Langkah nya memang salah, dia terlalu terbawa perasaan hingga bertindak jahat seperti itu. Dia melihat senyuman penuh kebahagiaan yang di tunjukan putra nya membuat hatinya terenyuh. Sungguh demi apapun, hatinya ikut merasakan kebahagiaan karena pernikahan putra nya.
Sintia mengusap air mata yang menetes tanpa bisa di cegah, wanita itu pun beranjak dari duduk nya, namun langkah nya di hadang oleh Darren yang sudah melihat keberadaan Sintia sejak tadi.
__ADS_1
"T-tuan Darren.."
"Anda masih berani menampakan wajah anda disini?"
"Saya hanya ingin menyaksikan Marvin menikah, itu saja. Setelah itu saya akan pergi, saya tidak akan mengganggu Marvin dan Arina lagi."
"Kau tak ingin menemui anak mu? Bahkan di hari bahagia nya, Nyonya Sintia?" Tanya Darren lagi. Wanita itu menatap sendu ke arah pria gagah itu, kalau boleh jujur dia sangat ingin menemui putra nya. Tapi, apakah Marvin masih mau bertemu dengan nya? Dia yakin sekarang, kalau Marvin sudah membenci nya.
Bagaimana tidak membenci nya? Hal yang dia lakukan benar-benar sangat jahat saat itu, hanya karena ambisi nya.
"Aku yakin, Marvin adalah anak yang baik. Begitu juga dengan Arina, sebelum anda menilai seseorang, harusnya anda melihat dengan jelas bagaimana sikap dan sifat asli nya. Arina adalah wanita yang baik, dia serasi dengan Marvin. Saya bahkan heran dengan anda, wanita seperti apa yang anda inginkan untuk menjadi pendamping Marvin?" Tanya Darren yang membuat Sintia menundukan kepala nya.
"Saya malu, saya yakin dia akan membenci saya sekarang, Tuan."
"Temui mereka, bertindaklah baik. Kau sudah gagal menjadi seorang ibu, setidaknya jangan gagal menjadi seorang tamu!" Ucap Darren sinis. Sintia pun mengangguk. Dengan langkah ragu, dia berjalan ke depan dan naik ke pelaminan, tempat putra dan menantu nya sedang berpoto bersama para tamu.
"Selamat atas pernikahan kalian.." Ucap Sintia yang membuat Marvin membulatkan kedua mata nya. Tadi, dia sudah merasa sedih karena ibu nya tidak datang ke pesta pernikahan nya. Jujur saja, dia memang membenci ibu nya, namun dia tetap saja merindukan sosok wanita yang telah melahirkan nya belasan tahun silam.
"Mama.." Lirih Marvin, dia tidak bisa menahan air mata nya lagi. Dia meraih tubuh ringkih wanita yang berstatus ibu nya itu ke dalam pelukan nya.
"Terimakasih sudah datang, Mama."
"M-marvin.." Ucap Sintia yang terkejut, reaksi yang jauh dari perkiraan. Dia berpikir kalau Marvin mungkin akan menghardik dan mengata-ngatai dirinya penuh kebencian, namun ternyata tidak sama sekali. Dia malah memeluk nya dengan tangan terbuka dan penuh kehangatan, pelukan hangat yang tidak berubah sama sekali, masih sama seperti dulu.
Sintia memejamkan mata nya, lalu perlahan membalas pelukan putra nya. Keduanya menangis di dalam pelukan itu, membuat Arina ikut larut dalam suasana yang terasa sangat menyedihkan itu.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻