
Pria berwajah tampan itu menatap datar seseorang yang kini berdiri di depan nya, dengan kepala tertunduk. Dia tidak berani menatap wajah Darren seperti nya, lebih tepatnya dia takut.
"Tegakkan kepala mu!" Tegas Darren, barulah dia menegakkan kepala nya. Namun mata nya tetap tidak mampu menatap wajah sang atasan.
"Jelaskan, kemana semua uang dari klien hmm? Kenapa tidak ada di laporan?" Tanya Darren pelan, namun terdengar sangat menusuk.
Diam, wanita itu diam. Dia bingung harus mengatakan apa. Dia pikir Darren tidak memantau gerak gerik nya, padahal mata-mata pria itu ada dimana-mana, bahkan orang yang selama ini menjadi kaki tangan wanita itu, adalah mata-mata yang di kirim oleh Darren. Jadi, tak ada alasan lagi untuk wanita itu mengelak bukan?
"Permisi, tuan."
"Masuk, Hani." Gadis bernama Hani itu pun masuk dengan membawa laporan uang yang sebenarnya, laporan real yang belum di manipulasi oleh wanita itu.
Kedua mata wanita itu membeliak, dia benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat. Dia tidak menyangka kalau Hani adalah orang yang di utus oleh Darren. Padahal, selama ini dia adalah kaki tangan nya. Sialnya, dia tidak mencurigai gadis itu sama sekali.
"Ini laporan keuangan dari divisi keuangan sebelum di manipulasi." Darren mengambil nya dari tangan Hani. Kening pria itu mengernyit, kalau ini barulah laporan yang benar.
"Ini baru laporan yang benar, terimakasih Hani."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Jawab Hani, Darren mengangguk dan gadis itu pun keluar dari ruangan. Pria itu tersenyum smirk menatap wanita yang wajah nya memucat.
"Kembalikan dana yang kau gelapkan!"
"T-tuan, tolong berikan saya waktu." Mohon wanita bernama Mina itu, wanita itu baru menjabat sebagai ketua di divisi keuangan selama beberapa bulan terakhir. Setelah divisi keuangan kehilangan pimpinan, karena dia mengajukan cuti karena sedang hamil.
"Dua hari, kalau sampai uang itu tidak kau kembalikan dalam dua hari, siap-siap mendekam di penjara!"
"Tapi, Tuan. Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu." Lirih nya, Darren terkekeh. Dia menyeringai menatap wanita itu.
"Bayar dengan nyawa mu, deal?"
"T-tidak, Tuan. Saya mohon, ampuni saya dan kesalahan saya."
"Kalau begitu, kembalikan uang perusahaan secepatnya. Seharusnya, kau di berikan tanggung jawab dan kepercayaan seperti ini, kau memanfaatkan nya dengan baik, Mina."
"Saya bersalah, tuan. Maaf.."
"Kembalikan uang itu secepatnya, aku tak peduli kau mendapatkan nya dari mana." Tegas Darren, Mina menganggukan kepala nya. Tapi, kepala nya berputar bagaimana cara dia mendapatkan uang sebanyak tiga milyar dalam dua hari?
"Jangan coba-coba untuk kabur, karena anak buah ku akan mengawasi mu 24 jam! Jadi, kalau kau tak ingin mati, sebaiknya lunasi hutang mu atau kau akan sangat menyesal karena sudah berani berurusan dengan ku!"
"B-baik, Tuan." Jawab Mina, dia ketakutan saat ini. Sungguh, pria yang saat ini berdiri di depan nya sangat jauh berbeda dengan Darren yang sering dia lihat.
"Keluar!"
__ADS_1
Mina pun keluar dengan kepala tertunduk dalam, dia memikirkan harus dari mana mendapatkan uang sebanyak itu dalam dua hari? Dia tak mungkin harus menjual diri untuk bisa melunasi hutang nya bukan?
"Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Mina, kau hanya bisa membuat masalah." Rutuk wanita itu, dia menyesal karena sudah bertindak tanpa memikirkan konsekuensi nya terlebih dulu. Dia tergiur dengan uang, hingga membuat dirinya sendiri celaka. Belum lagi, dia merasa di khianati oleh Hani. Dia adalah sekretaris nya di divisi keuangan.
Jadi, wajar saja kalau gadis itu mengetahui semua perbuatan nya. Dia juga memanipulasi laporan keuangan untuk menghilangkan jejak, tapi Darren terlalu jeli untuk melihat perbedaan sekecil apapun, dengan mudahnya dia mengetahui adanya kecurangan.
Darren kembali duduk di kursi kebesaran nya, dia memejamkan mata nya sambil memijit pelipis nya yang terasa sakit. Mengurus hal semacam ini tentu saja membuat kepala nya pusing, baru juga menjabat beberapa bulan sudah berani menggelapkan dana perusahaan. Bagaimana kalau dia menjabat bertahun-tahun? Bisa-bisa perusahaan nya bangkrut.
Darren mengambil ponsel nya, dia mengirimkan pesan pada sang kekasih. Entahlah, kepala nya terasa sangat sakit.
"Sayang, bisakah kamu kesini? Aku sangat membutuhkan mu, kepala ku sakit." Isi pesan yang di kirimkan oleh Darren pada Sherena.
Tentu saja, Sherena yang sedang makan siang di kantin bersama teman-teman nya itu langsung terkejut begitu membaca pesan yang di kirimkan oleh Darren.
"Aaaa, laki gue kenapa ya? Padahal tadi pagi dia baik-baik aja."
"Kenapa, Sher?"
"Nih baca.." Sherena menunjukkan isi pesan yang di kirim oleh Darren.
"Wah, sana Lo pergi. Kasian si Om duren." Ucap April.
"Tapi gimana sekolah gue?"
"Yaudah, thanks banget ya gays."
"Sama-sama, hati-hati di jalan nya." Jawab Sherena. Gadis itu pun pergi meninggalkan kantin.
Sambil berjalan, Sherena mencoba menghubungi nomor Darren. Butuh beberapa detik untuk pria itu mengangkat telepon nya.
'Hallo, sayang.'
"Kirim alamat kantor nya, sayang. Aku kesana sekarang."
'Iya, aku kirimkan di pesan ya. Tapi, jangan pakai seragam sekolah, bisa?' Tanya Darren.
"Ya, aku akan berganti pakaian dulu. Sabar ya, tahan sebentar."
'Cepatlah, sayang kepala ku terasa sangat sakit. Aku membutuhkan mu.'
"Iya, aku sedang dalam perjalanan saat ini." Jawab Sherena. Darren mengiyakan ucapan sang gadis.
'Hati-hati di jalan nya, sayang.'
__ADS_1
"Heem.." Jawab Sherena, dia pun langsung naik ke motor ojek online yang masih sempat dia pesan sambil berjalan tadi.
"Ngebut pak, tapi berhenti dulu di toko baju yang ada di jalan xxx ya."
"Baik, Nona." Jawab nya, Sherena juga sempat membuka pesan berisi lokasi kantor sang kekasih.
Gadis itu benar-benar khawatir, dia panik setengah mati saat mengetahui kalau Darren sakit. Harusnya tadi, kalau dia tidak enak badan jangan berangkat kerja. Tapi yang lebih mengherankan nya lagi, tadi pagi dia terlihat baik-baik saja kan? Bahkan sempat menyosor nya tadi.
Sedangkan di kantor, Darren merasakan kepala nya semakin sakit. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Andy, dia adalah asisten pribadi nya. Pria itu langsung masuk saat mendapatkan telepon dari atasan nya.
"Tuan, anda baik-baik saja?"
"Kepala ku sakit, Andy. Ambilkan aku obat dan air." Pinta Darren, dengan sigap pria itu langsung mengambilkan segelas air putih dan obat untuk meredakan rasa sakit di kepala nya.
"Ini, Tuan."
Darren meminum nya dengan cepat, setelah merasa lebih baik dia pun kembali memberikan perintah pada asisten nya.
"Andy, kekasih ku akan datang kemari. Tolong sambut dia di lobi."
"Kekasih? Sejak kapan anda punya kekasih, tuan?"
"Apakah ini masa yang tepat untuk bertanya, hmm?" Tanya Darren membuat Andy cengengesan.
"Hehe, baiklah Tuan. Saya ke bawah dulu, anda sudah lebih baik?"
"Iyaa, sakit nya sedikit berkurang sekarang."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Andy pun keluar dari ruangan Darren. Tak di sangka, pria itu malah berpapasan dengan ular betina. Siapa lagi kalau bukan Sarah, wanita dengan penampilan menor itu menyapa Andy dengan senyuman manis nya yang justru membuat Andy bergidik ngeri. Dia takut saat melihat senyuman wanita itu.
"Dari mana?"
"Punya mata kan? Gak liat apa, kalau saya baru keluar dari ruangan Tuan Darren?" Ketus Andy.
"Ngapain?"
"Bukan urusan mu." Jawab Andy sinis, lalu segera pergi meninggalkan wanita itu, dia muak melihat nya ada disini. Memang wanita itu sangat menyebalkan plus genit pula, tapi pekerjaan nya selalu rapih dan bagus. Mungkin itulah yang membuat Darren tidak juga memecat wanita meresahkan itu.
"Ckkk, datar banget sih. Apakah aku harus berganti haluan ya? Aku harus bisa menaklukan Andy seperti nya." Gumam wanita itu sambil tersenyum smirk.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1