Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 60 - Capek, Pengen Nikah Aja!


__ADS_3

Kedua insan itu sibuk pacaran, mereka bersenda gurau yang membuat gelak tawa terdengar renyah. Tak jarang, itu membuat Darren yang memang kelelahan setelah bekerja langsung bersemangat lagi, ibarat kata Sherena adalah mood booster bagi Darren saat ini.


Tapi, beberapa detik kemudian ponsel Sherena berdering cukup nyaring. Sherena menelan telur gulung nya, lalu mengambil ponsel dan mengangkat nya. 


"Hallo, Ma."


'Sayang, kamu di rumah dulu ya. Ini mama sama papa mobil nya malah mogok, ini lagi di benerin.'


"Ohh, masih lama gak Ma?" Tanya Sherena.


'Kayak nya sih agak lama. Kamu minta Darren temenin dulu ya?'


"Iya, Ma. Ini orang nya ada kok disini, nanti Sheren minta temenin." 


'Yaudah, udah dulu ya.'


"Iya, Ma. Hati-hati di jalan nya ya." Ucap Sherena, sang mama pun menganggukan kepala nya dan panggilan pun selesai.


"Yang, temenin aku dulu ya?" Ucap Sherena pada Darren yang tengah duduk santai di ruang tamu dengan secangkir teh hangat yang baru saja Sheren buatkan.


"Emang mama sama papa masih lama pulang nya?" Tanya Darren sambil menyandarkan punggung nya di sofa.


"Udah di jalan, tapi mobil nya mogok. Jadi di benerin dulu, kayaknya agak lama." 


"Yaudah, kalo gitu." Jawab Darren, sungguh demi apapun dia tidak keberatan kalau di minta untuk menemani gadis nya meskipun itu 24 jam nonstop. Dia senang-senang saja, karena saat bersama Sherena mood nya selalu membaik. 


"Yang, ini telor gulung nya abisin aja ya?"


"Lho, kenapa izin sama aku? Habisin aja, sayang. Aku kan emang beliin buat kamu." Jelas Darren sambil tersenyum, dia menepuk-nepuk puncak kepala Sherena dengan mesra, membuat Sherena tersenyum lalu menyandarkan kepala nya di dada bidang Darren. 


"Sayang wangi banget, pake parfum apa?"


"Aku gak terlalu suka pake parfum, sayang."


"Tapi sumpah deh, ini aroma nya wangi banget. Aku suka." Jelas Sherena, membuat Darren tersenyum. 


"Kamu suka?"


"Gak usah di tanya, suka nya pake banget. Inti nya, apapun yang ada sama kamu, aku selalu suka." Jelas Sherena membuat Darren tergelak. 


"Belajar gombal dari mana hmm?"


"Dari Meysa, hehe." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Darren yang gemas pun langsung memeluk erat Sherena, juga mengecupi puncak kepala nya. 


"Meysa pinter gombal tapi kok masih jomblo, yang."


"Husshh, gak boleh gitu. Sekarang kan lagi usaha buat dapetin Om Andy." Jawab Sherena sambil mencubit kecil dada sang pria karena gemas, kalo ngomong suka ada bener nya gitu. Tapi plis lah jangan di perjelas gitu, wkwk.


"Kan bener, dia jomblo."


"Iya aku juga tahu, tapi gak usah di perjelas gitu dong." Ucap Sherena sambil mendelik.


"Di larang mendelik gitu sama calon suami." Ucap Darren sambil menyentil kening Sherena pelan. 


"Aawwhhss, sakit issh.." gadis itu meringis sambil memegangi kening nya yang habis kena sentil.


"Utututu, sayang. Maaf ya? Aku cium ya."


"Modus kamu mah, yang." Ucap Sherena membuat Darren tersenyum kecil pertanda kalau dia mengiyakan ucapan sang gadis. Gak tahulah, kenapa kalau berdekatan dengan Sherena, dia mau nya tuh kecup sana kecup sini terus-terusan. 


Seperti nya, bibir nya akan gatal jika tidak mengecup Sherena sehari saja. Karena setiap hari, pasti Darren akan mengecup Sherena, di tempat-tempat yang dia sukai. Misal di bibir, pipi kanan kiri, kening, leher. Pokoknya semua nya tanpa ada yang terlewat satu bagian pun. 


"Boleh ya? Kangen banget soalnya."


"Kangen apaan? Tadi pagi kamu udah nyosor ya sama aku." Ucap Sherena sambil mencebikan bibir nya. Tadi pagi saat Darren mengantar nya ke sekolah, dia sempat-sempatnya berhenti di jalanan yang sepi dan tanpa basa basi langsung menyosor bibir nya, hingga liptint yang sudah dia pakai luntur sudah.


"Dih, itu kan tadi pagi, sayang. Udah beberapa jam yang lalu, sekarang beda lagi. Biar aku tidurnya nyenyak nanti." Jawab Darren sambil tersenyum nakal. Sherena menggelengkan kepala nya, dia benar-benar tidak paham dengan cara pikir Darren. Bawaan nya mesuum aja terus, gak tahu tempat dan waktu. 


"Ayang, kamu gak bosen ciumin aku terus?"


"Enggak, ciuman sama kamu mah candu. Jadi gak bakalan ada bosen nya, yang ada malah nagih." Jawab nya sambil menyosor ke arah Sherena. Tapi gadis itu menutup bibir nya dengan kedua tangan, Darren tidak putus asa, dia berusaha mendapatkan apa yang dia mau. Dia membuka tangan Sherena dari bibir nya dan mencekal nya. Darren meletakan kedua tangan Sherena di atas kepala nya, hanya dengan satu tangan. 

__ADS_1


Jadi, bisa di bayangkan sebesar apa tangan Darren bukan? Hingga dua tangan Sherena saja mampu dia pegang hanya dengan menggunakan satu tangan saja. 


"Pelan-pelan aja cium nya, kamu natap aku kek gitu nakutin tahu! Kayak mau makan orang." 


"Ya, aku mau makan kamu. Gadis nakal."


"Dih, siapa yang nakal. Aku gak nakal ya.." bantah Sherena membuat Darren langsung mencium bibir Sherena, dia melumaat nya dengan lembut dan penuh perasaan. Sherena juga membalas ciuman Darren meskipun tadi dia sempat menolak karena pria itu terlalu sering mencium nya. 


Darren melepaskan kedua tangan Sherena, gadis itu langsung memeluk leher kokoh sang pria sambil tetap berciuman. Saat ini posisi kedua nya setengah berbaring di sofa dengan Darren yang berada di atas tubuh Sherena, hampir menindih nya kalau saja Darren tidak menahan dengan tangan nya. 


Kedua nya terlihat sangat menikmati ciuman itu, hingga puncaknya saat tangan nakal Darren menyusup masuk ke dalam tangtop yang di kenakan oleh Sherena. Dia meremaas bukit kenyal yang masih tertutup braa tipis itu dengan sedikit renda itu. Meskipun dari balik wadah nya, tapi itu tidak mengurangi  ke kenyalan yang dia rasakan. Sungguh, memegang benda itu memang secandu itu. Dia ketagihan setelah pertama kali dia menyentuh nya waktu itu. 


Ukuran nya yang juga pas di tangan, membuat Darren sangat menyukai nya. Tapi sekarang, ukuran buah kenyal milik Sherena bertambah karena ulah tangan nya yang selalu memainkan nya kapanpun kalau ada kesempatan, seperti saat ini. 


Ya, berada di rumah hanya berdua dengan sang kekasih tentu nya adalah kesempatan yang bagus bagi Darren dan dia takkan bisa menyia-nyiakan nya. Jadi, gas saja selagi masih ada kesempatan dan Sherena memberikan nya, kenapa tidak ya kan?


"Sayang, sudah.." 


"Sebentar lagi, baby."


"Dih, baby yang bisa bikin baby." Jawab Sherena sambil terkekeh, dia pun membiarkan saja Darren bermain-main dengan dada nya, Sherena mengusap lembut rambut Darren. 


"Sayang, enak.." Lirih Darren sambil kembali melahap puncak buah kenyal sang gadis dengan lahap nya, seperti bayi yang kehausan. Dia menyesap nya cukup kuat hingga membuat Sherena meringis karena merasa ngilu plus kebas karena ini yang nyusu bukan bayi, tapi orang dewasa yang jelas sudah punya gigi. 


"Enak apa nya? Aku heran deh, apa sih enak nya nyusu gini? Apa juga yang kamu hisap, yang? Kan gak ada air susu nya." Tanya Sherena, karena dia heran sendiri kenapa Darren sangat suka menyusu pada nya. Tidak mungkin kan, kalau semasa dia kecil dulu jarang minum susu? Rasa nya itu tidak mungkin, bahkan mustahil. 


Darren mendongak, lalu menyudahi acara minum susu segar langsung dari sumber nya itu, dia pun membantu merapikan pakaian Sherena yang sudah dia acak-acak, lalu merapikan kemeja nya juga. 


"Terimakasih, sayang."


"Hmm, sama-sama. Tapi pertanyaan aku tadi belum kamu jawab lho, yang." 


"Pertanyaan yang mana, sayang?" Tanya Darren sambil meminum teh buatan sang kekasih dengan perlahan, meskipun sudah cukup lama di hidangkan, tapi teh nya masih cukup panas juga. 


"Apa enak nya nyusu aku, sayang."


"Gak tahu, tapi rasa nya enak gitu. Apalagi buah ceri nya itu bikin aku gemes." Jawab Darren, dia terkekeh melihat ekspresi Sherena yang menurut nya sangat lucu.


"Padahal gak ada air nya kan, yang?"


"Inget, aku banyak kebutuhan. Cantik itu harus di modalin, jadi jangan males. Kerja!"


"Iya iya, aku bakalan rajin kerja buat nikahin kamu, sayang. Tapi, jangan lupa sama vitamin nya ya? Soalnya aku lemes kalo kerja gak di kasih vitamin dulu." Jelas Darren membuat Sherena menggeleng, ada-ada saja pacar nya ini. Vitamin katanya? Padahal gak tahu doyan atau memang itu penambah semangat nya. 


"Vitamin buat penambah semangat kerja, atau emang doyan kamu nya?"


"Dua-duanya, sayang. Pertama, aku doyan. Kedua, itu juga nambah semangat aku buat kerja. Serius lho ini, yang." Jawab Darren, tangan nya dengan jahil meremaas buah kenyal sang gadis dengan gemas.


"Tangan nya nakal banget sih ini, besok-besok kalo ketemu aku ikat tangan nya."


"Hehe, jangan dong. Nanti gak bisa gerayangin kamu, sayang." 


"Mesuum nya astagaa." Sherena gemas sendiri, dia pun menggigit lengan sang pria saking gemas nya.


"Ayang, sakit.."


"Rasain tuh, suruh siapa nakal gitu."


"Gak ada yang nyuruh, tapi aku nya aja suka." Sherena memutar mata nya jengah, lalu memilih memakan jajanan lain yang di belikan oleh Darren. 


"Enak, yang?"


"Jajanan gini mah selalu enak, apalagi kalau di beliin. Enak nya nambah berkali-kali lipat." Jawab Sherena sambil terkekeh, begitu juga dengan Darren. Semudah itu mengembalikan mood Sherena, sogok saja dengan cilok atau telur gulung, pasti dia akan luluh, tidak perlu di belikan tas mahal dulu. 


Malam itu, Darren pun menemani gadis nya sampai kedua orang tua nya pulang. Setelah mereka pulang, Darren pun segera berpamitan untuk pulang. Alamat tidur larut lagi, karena ada beberapa pekerjaan yang terbengkalai karena dia sibuk menemani Sherena. 


"Oke, mari kita kerjakan sekarang." Gumam Darren sambil membuka laptop nya, dia pun mulai mengerjakan pekerjaan nya dengan fokus. Sherena sendiri, saat dia pulang tadi, dia sudah mengantuk ingin tidur. Mungkin sekarang, dia sudah tidur.


Keesokan hari nya, seperti biasa Darren bangun pagi-pagi sekali. Bukan nya cuci muka, dia malah langsung membuka ponsel dan melihat pesan, kali aja ada pesan dari Sherena atau klien yang penting. 


"Huffftt, Sheren kok gak ngirim pesan ya?" Gumam Darren sambil cemberut, dia pun kembali menyimpan ponsel nya di meja kecil yang ada di kamar nya. 

__ADS_1


Dengan malas, Darren beranjak dari kasur empuk nya dan masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya. Tanpa dia sadari, Sherena ada di rumah nya. Dia masuk ke kamar dan segera membereskan kamar pria itu lalu menyapu dan menyemprotkan parfum miliknya disini, lalu kembali bersembunyi. 


Darren keluar dari kamar mandi sambil mengusak-ngusak rambut basah nya dengan handuk kecil. Dia menatap ke arah ranjang yang tadi nya berantakan itu, kini rapih dan wangi. Tapi, tunggu. Dia seperti pernah mencium aroma seperti ini. 


"Aroma nya sedikit familiar, tapi dimana aku mencium nya ya?"


"Di tubuh ku, mungkin.." Jawab Sherena sambil keluar dari persembunyian nya. Darren terhenyak begitu dia melihat Sherena yang ada di kamar nya. 


"Tunggu, sejak kapan kamu disini, yang?"


"Sejak tadi, yang."


"Dari mana kamu bisa masuk?" Tanya Darren, seingatnya dia mengunci pintu rumah nya. Tapi kenapa Sherena bisa masuk? Aneh kan ya?


"Dari jendela depan, kayaknya kamu lupa nutup jendela nya deh."


"H-ahh? Astaga, sayang. Untung aja gak ada yang nyangka kamu maling." 


"Mana ada maling nya cantik kayak aku, yang." Sewot Sherena sambil tertawa. 


"Lagian, kamu ngapain pagi-pagi begini sudah ada di rumah ku?"


"Gak boleh? Aku kan kangen, pengen manja-manjaan." Jawab Sherena manja. 


"Yaudah sini, mau manja-manjaan disini?"


"Iya, sayang." 


"Tapi, ini udah di beresin. Sayang aja kalo harus di berantakin lagi."


"Gapapa, nanti aku beresin lagi, sayang." Jawab Sherena, akhirnya Darren pun berbaring menyamping. Dia menepuk ranjang yang kosong, meminta untuk Sherena ikut berbaring di samping Darren. Gadis itu juga berbaring miring menghadap ke arah Darren, posisi mereka berhadapan saat ini. 


Darren melingkarkan tangan nya memeluk pinggang ramping Sherena, begitu juga dengan gadis cantik itu. Dia memeluk erat pinggang pria tampan itu. Gadis itu menyandarkan kepala nya dengan nyaman di dada bidang sang pria, Darren juga mengusap-usap kepala Sherena dengan lembut.


"Kenapa, yang?"


"H-ahh? Aku gak kenapa-napa kok, kenapa memang nya?"


"Tidak, hanya saja tidak biasa nya kamu meminta bermanja duluan seperti ini. Biasa nya, aku yang manja begini." Jelas Darren sambil tersenyum. 


"Memang nya gak boleh gitu kalau aku pengen di manja gini?" Tanya Sherena, membuat Darren terkekeh. 


"Bukan begitu, sayangku. Tapi, gak biasa nya aja kamu mendadak manja begini."


"Lagi capek aja, yang." 


"Ohh, capek ya? Yaudah, kamu manja-manjaan aja sama aku." Jawab Darren, dia pun membiarkan saja Sherena bermanja di dada nya. 


"Capek banget, yang. Aku gak mau sekolah lagi, nikah aja yuk?" Celetuk Sherena, membuat Darren terkejut dengan ucapan tiba-tiba gadis cantik nya ini.


"Lah, kok ujung nya minta nikah?"


"Capek, hehe." Jawab Sherena sambil terkekeh. 


"Nanggung, sayang. Tinggal berapa bulan lagi coba? Lanjutin aja, setelah lulus nanti kita nikah. Aku tungguin kamu kok." 


"Cuma dua bulan lagi sih, tapi itu kan lama ya?" 


"Kok jadi ngebet pengen nikah, kenapa hayok?" Tanya Darren sambil mencolek-colek pipi cabi Sherena.


"Hehe, aku kok jadi penasaran sama itu ya."


"Itu apa, sayang?"


"Itu lho, hubungan suami istri." Jawab Sherena, wajah nya memerah seketika. Apalagi saat melihat tatapan Darren yang terlihat sangat berbeda dari biasa nya. 


"Itu mah gak perlu nunggu kita nikah, sayang. Sekarang juga ayoo." Jawab Darren serius. 


"Isshh, sayang!" Rengek Sherena manja, membuat Darren tertawa. Lagian, apa-apaan gadis nya ini. Tiba-tiba saja penasaran dengan hal itu, padahal nanti juga dia akan merasakan nya sendiri bukan?


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻



__ADS_2