
Keesokan hari nya, Sherena berangkat sekolah bersama Darren seperti biasa. Arya juga sudah tidak heran lagi, tak apa-apa karena dia tahu kalau Darren adalah pria yang baik. Hanya sedikit lebih dewasa saja di bandingkan dengan putri nya, sekarang saja dia masih sekolah. Berbeda dengan Darren yang sudah dewasa dan mungkin saja cukup berpengalaman dalam hal asmara. Terbukti, kalau dia menyandang duda tanpa anak.
"Sayang.." panggil Darren dengan lembut, pria itu melirik sekilas ke arah sang gadis yang nampak cantik dengan balutan seragam sekolah nya. Rambut nya di gerai indah, selain di gerai karena Darren menyukai saat Sheren menggerai rambut nya, tujuan Sheren menggerai rambut nya hanya karena dia ingin menutupi tanda kemerahan yang di buat oleh Darren kemarin di leher nya.
"Iya, kenapa?" Tanya Sherena sambil tersenyum, dia memegang buku di pangkuan nya.
"Apa perut nya masih sakit, sayang?"
"Hmmm, masih tapi tidak sesakit kemarin." Jawab Sherena, Darren tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
"Syukurlah kalau begitu, bagaimana rasa teh nya, sayang?" Tanya Darren lagi.
"Teh nya enak, sayang. Rasa nya hangat dan membuat aku tidur dengan nyaman, padahal biasa nya aku selalu kesulitan untuk tidur di hari seperti itu."
"Apa maksud mu, sayang?"
"Ya, biasa nya aku gak bisa tidur saat sedang menstruasi hari pertama." Jawab Sheren sambil tersenyum manis.
"Kenapa?"
"Ya, karena rasa nya sangat sakit, sayang." Jawab Sherena lagi.
"Hmm, sesakit itu ya?"
"Iya, sangat sakit. Kan aku udah bilang sama kamu kemarin."
"Kalau begitu, hati-hati saat di sekolah nanti. Jangan sampai kamu kecapean ya?" Peringat Darren, dia menatap gadis nya dengan khawatir.
"Tidak perlu menatap ku seperti itu, sayang. Aku akan baik-baik saja, trust me."
"Ya, aku percaya padamu, sayang. Tapi jika sesuatu terjadi padamu, langsung hubungi aku."
"Baiklah, aku akan langsung menelpon mu." Jawab Sherena. Darren tersenyum, menyenangkan sekali punya kekasih yang penurut, selain itu Sherena juga cantik.
"Sudah sampai, aku keluar dulu ya?" Ucap Sherena saat Darren baru saja menghentikan mobil nya di depan gerbang sekolah nya.
"Hati-hati, sayang."
"Iya, sayang. Sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu hmm? Sudah banyak kali." Jawab Sherena sambil terkekeh.
"Aku khawatir soalnya, maaf ya."
"Tidak apa-apa, sayang ku. Ini bekal untuk mu, sayang." Sherena memberikan kotak bekal berisi menu sarapan yang dia masak sendiri untuk sang kekasih. Tentu nya di buat dengan ekstra cinta di dalam nya, membuat masakan itu terasa lebih nikmat.
"Terimakasih, sayang. Omong-omong, kamu dapet ide dari mana untuk menu sarapan ku setiap hari nya, sayang?" Tanya Darren.
"Hmm, aku melihat-lihat inspirasi nya dari internet, sayang. Lalu, aku membuat nya dengan sepenuh hati. Kamu suka kan, apa makanan nya terasa enak, sayang?" Balik tanya Sherena, dia belum bertanya tentang rasa makanan yang dia buat dengan susah payah itu.
"Tidak perlu di tanya lagi, kamu pasti tahu kenapa bekal dari mu selalu habis tak bersisa hmmm? Itu karena masakan mu terasa sangat enak, sayang."
"Syukurlah kalau enak, karena aku menambahkan bubuk-bubuk cinta di dalam nya." Jawab Sherena sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Benarkah? Pantasan saja, menu-menu dari mu, aku tak pernah bisa menemukan yang sama persis di restoran. Ternyata, kamu memakai bumbu spesial ya?"
"Iya, tentu saja. Apapun untuk kekasih ku yang tampan ini, hehe."
"Kamu ini bisa saja, sayang. Sudah, turunlah nanti kamu terlambat. Aku juga akan terlambat untuk meeting pagi bersama klien." Ucap Darren sambil tersenyum kecil.
"Iya, hati-hati di jalan nya ya. Kamu meeting nya sama siapa? Jangan bilang kalau pergi nya sama si ulet keket."
"Hahaha, sayang. Kamu ini tetep cemburu sama Sarah? Dia bukanlah saingan mu, sayang. Dia mah gak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kamu, ibaratnya tuh kamu bunga mawar dan dia bunga bangkai." Jawab Darren sambil terkekeh.
"Kenapa harus bunga bangkai hmmm?"
"Ya karena bau, sayang."
"Tapi ingat kalau bunga bangkai itu langka!" Jawab Sherena yang membuat Darren bungkam seketika.
"Hehe, salah ya?"
"Salah banget, jadi meeting nya sama siapa?" Tanya Sheren lagi.
"Sama Andy, sayang."
"Yaudah, awas aja kalo bohong. Gak bakalan aku kasih jatah susu."
"Iya iya, aku gak bakalan bohong sayang."
"Aku pegang janji kamu, aku turun dulu ya? Kamu semangat kerja nya, hati-hati juga di jalan nya." Peringat Sherena, Darren pun mengiyakan. Sebelum turun dari mobil, Sherena menyempatkan diri untuk mencium bibir Darren, bahkan sempat melumaat nya sebentar.
"Aku keluar dulu, dadah sayang."
Di sekolah, Sherena baru ingat kalau hari ini adalah jadwal dia piket. Gadis itu benar-benar melupakan nya, gara-gara perut nya yang sakit dia jadi melupakan tugas nya.
"Bagus ya, kamu datang siang padahal ada jadwal piket!" Ketus salah satu kakak kelas Sherena.
"Maaf, Kak. Saya sakit semalam gak bisa tidur, jadi saya kesiangan bangun nya." Jawab Sherena.
"Sapu lapangan basket!"
"B-baiklah, saya ke kelas dulu menyimpan tas." Sherena pun pergi ke kelas nya, disana sudah ada teman-teman Sherena.
"Sher, baru dateng Lo?"
"Hmm, seperti yang kalian lihat. Udah mah gue baru datang, malah kena omel kakak kelas. Padahal semalem gue sakit, gak bisa tidur, jadi nya kesiangan." Jawab Sherena lesu.
"Jadi, Lo di kasih tugas apa sama kakak kelas?" Tanya Meysa.
"Sapu lapangan basket." Jawab Sheren sambil menyimpan tas juga buku-buku miliknya di atas meja.
"Gila, dia pikir lapangan basket itu kecil apa? Mana panas gini." Celetuk Arina, dia tidak habis pikir dengan kakak kelas nya itu. Mereka pikir menyapu lapangan basket sendirian itu mudah? Tidak, karena lapangan basket itu luas apalagi hanya di bersihkan oleh satu orang.
"Hmmm, makanya. Mana gue lagi dateng bulan ini. Sakit banget ini perut gue." Keluh Sherena.
__ADS_1
"Yaudah, kita bantuin deh." Ucap April dan di angguki oleh Arina juga Meysa.
"Serius ini?"
"Ya serius lah, ayo biar cepet selesai." Ajak April. Ke empat nya pun pergi dari kelas, menuju ke lapangan basket. Mereka membawa alat kebersihan masing-masing, Sherena tersenyum manis. Dia senang karena memiliki teman yang mempunyai jiwa solidaritas yang tinggi seperti mereka.
Mereka mulai bersih-bersih dengan fokus, mereka berempat baju membahu untuk membersihkan lapangan basket itu. Tapi, karena cuaca yang sangat terik di pagi hari ini, di tambah lagi Sherena belum sarapan, apalagi saat ini dia sedang datang bulan hari kedua, perut nya pasti sangat sakit. Wajah Sherena memucat, akhirnya gadis itu tumbang tak sadarkan diri di lapangan basket.
Brukk..
Sontak saja membuat ketiga teman nya langsung menoleh ke arah Sherena, mereka membulatkan mata mereka lalu berlari ke arah Sherena yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sheren.." Panggil April sambil menepuk-nepuk pipi Sherena.
"Badan nya panas banget, dia demam gini." Ucap Meysa.
"Minta bantuan, Rin." Pinta April pada Arina, gadis itu langsung berlari untuk mencari bantuan.
"Ini pasti dia belum sarapan, lagi dateng bulan, malah di suruh beres-beres di lapangan yang panas terik gini." Ketus Meysa.
"Iya, dia keringetan gini, pucet juga."
"Apa kita harus ngasih tahu Om Darren ya, Pril?" Tanya Meysa.
"Harus dong, dia harus di kasih tahu. Lo yang ngasih tahu nya ya, gue yang nungguin Sheren sama Arin disini."
"Iyaa, kalo gitu gue nitip Sheren dulu ya."
"Ya, kalo gue sama Sheren gak ada disini berarti di UKS ya. Lo paham?"
"Oke." Meysa pun pergi, tinggalah April dan Sherena di lapangan.
Tak lama kemudian, Arin datang bersama beberapa orang. Mereka pun langsung membawa Sherena ke ruang UKS.
Di kelas, Meysa mengambil ponsel milik Sherena dan menghubungi nomor Darren, beruntung nya Meysa mengetahui sandi ponsel milik sahabat nya itu.
Tersambung, tapi selang beberapa menit, panggilan itu tidak kunjung di angkat juga oleh sang pemilik nomor. Meysa berdecak kesal, apa Darren tahu kalau yang menghubungi nya bukan Sherena ya?
Akhirnya, setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel Darren, akhirnya pria itu mengangkat panggilan nya juga.
'Hallo, sayang. Ada apa? Maaf, aku baru saja selesai meeting bersama klien.'
"Maaf, Om. Saya Meysa temen nya Sheren."
'Haahh, mau apa kamu? Dimana gadis ku, lancang sekali kau memainkan ponsel milik Sherena!'
"Saya menghubungi anda hanya untuk memberi tahu kalau Sherena pingsan di sekolah." Jawab Meysa, Darren terkejut di seberang sana. Pantasan saja hatinya merasa tak enak sejak tadi, ternyata memang hal buruk terjadi pada gadis nya.
'Lalu, bagaimana sekarang? Apa sudah siuman?'
"Belum, Tuan. Saat ini sudah di bawa ke UKS, sudah dulu ya. Saya hanya ingin memberitahu Anda tentang ini. Terimakasih." ucap Meysa, dia pun mematikan sambungan telepon nya. Dia sudah memberitahu Darren, kekasih dari sahabat nya itu. Masalah pria itu akan datang kemari atau tidak, biarlah. Itu urusan belakangan. Meysa pun pergi dari kelas menuju ruang UKS, dia ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan Sherena saat ini.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻