
"Ckkk, kau baru kekasih nya kan? Belum jadi istri nya?" Tanya Sarah dengan sinis, Sherena terkekeh. Tak di sangka dia akan bertemu dengan wanita tebal muka di perusahaan sang kekasih. Dengan tangan yang masih mengusap lembut kepala pria nya, Sherena menatap wanita yang nampak angkuh itu.
"Kenapa kau diam? Kalah ya?" Tanya Sarah lagi, masih dengan senyum sinis nya.
"Tidak, tapi aku rasa tidak ada guna nya membalas ucapan wanita tidak tahu malu seperti anda. Dari pada membuat istirahat pacar saya terganggu, lebih baik saya diam." Jawab Sherena.
"Haha, bilang saja kau kalah, gadis kecil."
"Kalah? Tentu tidak, aku tidak akan mengalah untuk hal apapun. Kau dengar? Sebaiknya, kau pergi dari ruangan ini atau aku akan membangunkan Darren untuk mengusir mu?" Tanya Sherena. Wanita itu tertawa, dia menyangka gadis kecil di depan nya hanya membual. Lagi pun, dia yakin kalau Darren pasti akan membela nya, nanti dia akan membuat drama seolah-olah Sherena telah menyakiti nya. Dengan begitu, Darren pasti akan berpihak padanya.
"Lakukan saja, aku tidak takut."
"Baiklah." Jawab Sherena. Dia membuka kaos nya dan membangunkan Darren, dengan cara seperti apa? Mencium bibirnya. Biasa nya ini adalah cara yang paling ampuh untuk membangunkan seseorang.
"Enghh, sayang. Kenapa?" Tanya Darren dengan suara serak khas bangun tidur nya. Sarah tertegun di tempat nya saat mendengar panggilan sayang dari pria incaran nya itu pada gadis kecil yang sederhana itu.
"Ada nenek lampir, sayang. Usir dulu gih, berisik." Ucap Sherena yang membuat Sarah membulatkan mata nya, dia ingin marah tapi dia harus menjaga image nya di depan Darren. Biarlah, dia akan memperingatkan gadis itu nanti.
"Hmm, nenek lampir? Ini perusahaan, sayang. Bukan gua."
"Tapi itu ada, sayang. Usir dulu ya, baru kita bisa ehem." Jawab Sherena dengan senyum menggoda nya.
Darren bangkit dari rebahan nya, dia melihat siapa yang di maksud oleh Sherena. Ya, meskipun sebenarnya dia sudah tahu sih ya, kan dari tadi dia tidak tidur, hanya saja dia merasa nyaman untuk tidur di pelukan Sherena dan mengendus aroma tubuh gadis itu.
"Hahaha.." Darren tergelak, membuat kedua wanita itu keheranan. Ada apa dengan Darren?
"Sayang, kamu kenapa? Gak mungkin salah minum obat kan?" Tanya Sherena.
"Dia mah bukan nenek lampir."
"Terus?" Tanya gadis itu lagi.
"Dia Sarah, sekretaris ku." Jawab Darren, membuat Sarah tersenyum sinis, sedangkan Sherena manggut-manggut.
"Ohh, hanya sekretaris toh? Tapi, dia bisa masuk kesini tanpa mengetuk pintu dulu, sayang. Bukankah itu tidak sopan?"
"Iya, benar. Dia memang tidak sopan, sayang."
"Harusnya, kamu sebagai atasan itu yang tegas dong. Pecat gitu, mana ada sekretaris tapi penampilan nya kayak lont*." Jawab Sherena, membuat kedua tangan wanita itu terkepal erat.
"Jangan menatap kekasih ku seperti itu, pergilah keluar!" Tegas Darren, gantian. Kini Sherena yang tersenyum sinis, dia merasa senang karena Darren membela dirinya dari pada wanita gatal itu.
Setelah wanita itu keluar, kini tinggalah Darren dan Sherena. Gadis itu menatap tajam ke arah pria yang nampak salah tingkah itu.
"Pantesan ya, kamu betah ada di kantor. Rupanya ada perempuan genit yang menyamar jadi sekretaris?"
"Sayang, kamu ini apa-apaan sih? Aku betah di kantor, ya karena pekerjaan. Bukan karena wanita itu, sayang." Jawab Darren sambil meraih tangan gadis itu.
"Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapan mu itu, sedangkan aku bisa melihat nya sendiri hmm? Dia bahkan bisa masuk ke ruangan ini tanpa harus mengetuk pintu terlebih dulu, apa kalian punya hubungan spesial antara CEO dan sekretaris nya? Seperti di novel-novel?" Celoteh Sherena.
Tahap kecemburuan nya sudah berada di tahap yang paling tinggi, dia cemburu buta. Benar-benar cemburu, karena dia merasa punya hak untuk cemburu sekarang, karena dia adalah kekasih Darren.
"Haha, sayang. Pikiran mu terlalu jauh." Ucap Darren, dia meraih Sherena ke dalam pelukan nya.
"Kamu terlihat tidak panik sama sekali, sayang."
"Memang nya kenapa aku harus panik? Toh, aku tidak melakukan kesalahan apapun." Jawab Darren sambil membelai mesra wajah Sherena, lalu mengecup pipi nya dengan mesra. Perlakuan Darren membuat wajah Sherena memerah seketika, tentu saja dia malu di tatap seperti itu oleh Darren. Tapi dia juga bahagia, karena sekarang hanya ada Darren Bucin. Tidak ada Darren yang ketus dan jutek.
__ADS_1
"Dih, aku mual denger nya." Jawab Sherena ketus.
"Mual? Lho, kamu hamil? Tapi kita kan gak pernah ngapa-ngapain, sayang?" Tanya Darren yang membuat Sherena mendelik kesal, dia menggeplak manja lengan besar pria tampan itu saking gemas nya.
"Udah, jangan bikin aku kesel dong."
"Iya iya, maaf ya sayang."
"Kamu belum makan siang?" Tanya Sherena, Darren menggeleng pelan lalu menyandarkan kepala nya di bahu Sherena. Gadis itu mengusap rambut Darren dengan lembut, lalu mengecup mesra punggung tangan pria tampan itu.
"Sayang gak boleh telat makan, harusnya."
"Hmm, kepala aku sakit banget."
"Sini, aku pijat lagi." Pinta Sherena, Darren pun kembali merebahkan kepala nya di pangkuan Sherena. Gadis itu kembali memijat kepala sang pria dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.
"Sayang, agak keras di bagian ini."
"Iya, sayang. Telpon Om Andy, biar belikan makanan buat kamu makan siang."
"Kamu aja, aku pusing." Darren memberikan ponsel nya. Pertama kali nya, Darren mengizinkan ponsel nya untuk di sentuh oleh orang lain.
"Pake sandi, yang. Sandi nya apa?"
"Nama kamu dan aku." Jawab Darren singkat, pria itu menjawab dengan kedua mata yang sudah terpejam.
Deg..
Sandi ponsel nya nama dirinya dan pria ini? Aaaaa, sungguh demi apapun dia sangat bahagia. Bahagia sekali. Sumpah demi apapun, dia merasa di anggap oleh pria tampan ini. Bolehkah dia besar kepala sekarang?
"Nama kontak nya apa, yang?"
"Andy." Jawab Darren lagi, dia semakin menduselkan wajah nya di perut rata Sherena. Dia benar-benar menyukai kehangatan dan aroma tubuh gadis itu, benar-benar candu.
Sherena pun menghubungi nomor asisten sang kekasih. Tak berapa lama, pria itu menjawab nya.
'Hallo, Tuan Darren..'
"Eemm, maaf Om. Ini Sherena."
'Ohh, iya Nona. Ada apa? Perlu sesuatu?' Tanya Andy.
"Begini, dia belum makan siang. Jadi, bisakah tolong belikan makanan?" Tanya Sherena.
'Baik, Nona. Apa menu nya?'
"Aku mau bakso pedes ya, kalau dia mungkin sup saja. Atau soto daging?"
'Baik, Nona. Tunggu sebentar, saya akan membeli nya sekarang.'
"Terimakasih, Om." Jawab Sherena. Gadis itu pun memutus panggilan telepon nya, dia pun kembali memijat kepala Darren yang masih terasa sakit.
"Pengen nge dot, yang." Ucap Darren, suara nya terdengar berat.
"Dot kan buat bayi, sayang."
"Ya, kan aku juga bayi." Jawab Darren sambil tersenyum kecil. Sherena terkekeh, dia paham benar apa keinginan pria tampan itu.
__ADS_1
"Iya, boleh."
"Yes, makasih sayang." Darren langsung bangkit dari rebahan nya dan mendorong Sherena hingga setengah terbaring di sofa. Pria itu menindih tubuh Sherena, lalu mengangkat kaos yang di kenakan oleh Sherena ke atas dan mengeluarkan buah kenyal milik gadis itu.
Pria itu langsung menyusu di dada gadis nya, dia suka dan benar-benar menyukai nya. Apalagi sekarang, ukuran nya jauh lebih besar dari pada saat pertama kali dia menyentuh nya. Semakin suka saja Darren di buatnya, ini adalah bagian favorit nya. Tapi entahlah, apakah posisi itu akan tergeser oleh mahkota milik Sherena? Karena sejauh ini, Darren belum pernah menyentuh nya sama sekali.
Sherena sendiri membiarkan pria tampan itu melakukan apapun yang dia inginkan, tapi untuk kehormatan, Sherena belum memberikan nya karena tujuan nya adalah melakukan nya setelah menikah nanti. Setidaknya, kalau dirinya dan Darren tidak berjodoh, dia masih memiliki sesuatu yang bisa di banggakan pada suaminya.
Tapi entahlah jika nanti dia kebelet sendiri, karena Darren selalu memancing nya. Sebisa mungkin, dia akan tetap menolak untuk melakukan itu dulu. Cukup hanya seperti ini saja, bagi Sherena itu sudah cukup. Meskipun ini sudah bisa di bilang hubungan yang toxic.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar ketukan lirih, maka kedua nya pun langsung menghentikan aktivitas nya. Darren langsung bangkit dari tubuh Sherena, gadis itu juga sibuk merapikan pakaian nya.
"Masuk.."
Andy pun masuk dengan wajah datar nya dengan menenteng beberapa kresek di tangan nya.
"Ini makanan nya, Nona, Tuan."
"Kau juga beli, Andy?" Tanya Darren, Andy tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya mengiyakan, dia juga menunjukkan kresek berisi makanan untuknya.
"Baguslah, mari kita makan bersama." Ajak Sherena membuat Darren mendelik tak suka, karena dia takkan bebas untuk bermesraan dengan gadis nya.
"Tidak perlu, Nona. Saya akan makan sendiri saja."
"Tak apa, makanlah disini bersama kami." Ajak Sherena, akhirnya Darren juga angkat bicara.
"Makanlah disini, Andy."
"Baiklah, Tuan." Jawab Andy, dia pun ikut duduk di sofa yang masih kosong. Sebenarnya, Andy juga tak ingin bergabung disini, karena sudah di pastikan dia akan menjadi nyamuk disini.
Dan benar saja, Andy harus menghela nafas nya saat melihat adegan mesra di depan nya. Dia merasa iri, tapi sayang nya dia jomblo.
Darren menikmati makanan nya dengan di suapi oleh Sherena. Gadis itu awalnya menolak karena merasa tak enak karena ada Andy disini. Tapi, Darren kalau sudah ada kemauan ya harus di laksanakan, nanti dia merajuk siapa yang susah? Sherena lah, siapa lagi.
"Makan pedes.."
"Hehe, enak yang. Kepala aku juga sedikit pusing, aku kalo lagi pusing suka makan pedes biar segeran dikit." Jawab Sherena.
"Jangan terlalu banyak makan pedes, sayang."
"Iya, enggak kok. Aku makan pedes kalo lagi pengen aja." Jawab Sherena membuat Darren melirik tajam ke arah Andy. Pria itu menyadari nya dan langsung menunduk karena dia sadar akan kesalahan nya.
"Gak usah ya kamu mendelik kayak gitu sama asisten kamu, aku yang minta. Jadi dia gak salah."
"Kamu belain dia, sayang?"
"Udah, jangan mulai ya. Nanti gak aku kasih susu sebulan, mau?" Tanya Sherena membuat Darren terhenyak.
"Iya-iya, aku diam sayang." Jawab Darren. Tapi Andy mengernyitkan kening nya, memang nya kenapa kalau tidak di kasih susu oleh gadis itu? Kan bisa beli di toko, iyakan? Tapi, syukurlah Darren langsung terdiam begitu mendengar ucapan gadis itu.
Tentu saja Darren langsung terdiam, karena susu yang di maksud Sherena dan Andy berbeda definisi. Yang tau-tau aja lah.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1