
Setelah kedua nya merasa lelah karena bermain di pantai sambil menikmati sunset berdua, kedua nya pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
"Sayang, mau beli sesuatu?" Tanya Darren pada Sherena. Gadis itu menggelengkan kepala nya. Entahlah, dia merasa lemas sekali hari ini.
"Wajah kamu pucat sekali, kamu kenapa?" Tanya Darren lagi, dia menghentikan laju kendaraan nya di pinggir jalan, dia membingkai wajah cantik sang kekasih lalu mengusap kening Sherena yang berkeringat.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Padahal tadi, kamu terlihat baik-baik saja."
"Gak tau, tapi rasa nya lemes banget deh."
"Kamu belum makan? Iya kan?" Tanya pria itu lagi, dia terlihat benar-benar khawatir saat ini.
"Iya, aku memang belum makan." Jelas Sherena.
"Ya sudah, kita mampir dulu buat makan ya? Mau makan apa, sayang?"
"Ayam goreng deh."
"Siap.." Jawab Darren, dia pun kembali menyalakan mesin mobil nya lalu melajukan nya dengan kecepatan sedang. Pria itu terus saja melirik ke arah sang gadis yang nampak pucat, dia juga lebih sering diam. Padahal biasa nya, dia selalu bawel dan berceloteh ria saat di dalam mobil.
Darren menghentikan laju kendaraan nya di sebuah restoran ayam goreng kesukaan sang gadis. Dia sudah beberapa kali di ajak oleh Sherena kesini, karena memang selain harga nya yang murah, rasa nya juga enak.
"Ayo masuk, sayang." Ajak Darren sambil mengulurkan tangan nya. Sherena menerima uluran tangan sang kekasih, lalu berjalan masuk ke dalam restoran itu.
"Menu nya yang biasa, Bee?"
"Iya, sayang." Jawab Sherena.
"Yaudah, kamu nyari meja ya. Aku yang pesen."
"Iya, hati-hati, sayang."
"Kamu juga." Ucap Darren. Sherena pun pergi untuk mencari meja yang masih kosong, sedangkan Darren pergi ke depan untuk memesan makanan nya. Dia tahu benar menu kesukaan sang kekasih.
Sherena menemukan meja yang kosong lalu duduk disana. Tapi, tak lama kemudian seseorang datang dan langsung duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan nya.
"Maaf, tapi kursi ini untuk.."
"Siapa? Darren?" Tanya nya, membuat kening Sherena mengernyit. Dia mendongakan kepala nya dan saat itu juga dia menggelengkan kepala nya saat melihat siapa yang duduk di depan nya.
Agnes dan Rita. Kedua biang kerok itu duduk di depan nya dengan tatapan memicing juga senyuman jahat. Sherena tak habis pikir dengan kedua sosok makhluk astral itu. Kenapa juga dia harus bertemu dengan kedua nya disaat dia sedang merasa lemas seperti ini, tenaga nya terasa benar-benar habis saat ini. Bahkan seluruh tulang di tubuh nya terasa lepas semua dari tempat nya.
Entah ada apa dengan tubuh nya, padahal tadi dia merasa baik-baik saja. Bahkan di acara perpisahan sekolah pun, dia tidak merasakan apapun.
"Dia keliatan pucat, Ma. Seperti nya dia ketakutan melihat kita berdua." Ucap Agnes membuat Rita tertawa.
"Dia hanya berani saat ada Darren di samping nya, kalau pria itu tidak ada dia tak lebih dari seorang gadis lemah!" Ejek Rita, tapi sejauh ini Sherena masih terlihat cukup tenang. Dia tidak boleh terpancing emosi agar kedua nya tidak besar kepala.
"Lalu, kemana pria itu sekarang? Upss, maksud ku calon papa tiri ku, Ma."
"Entahlah, mungkin dia sedang memesan makanan untuk kita makan." Jawab Rita dengan percaya diri, membuat Sherena berdecak sebal.
"Jangan terlalu percaya diri, nanti kena mental gak ada yang nolongin." Celetuk Sherena dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
"Ckk, siapa yang terlalu percaya diri? Aku rasa tidak, karena cepat atau lambat Darren akan kembali padaku dan itu pasti."
"Aku rasa, pria seperti Darren terlalu tampan dan berwibawa jika untuk beralih profesi menjadi pemulung."
"H-ahh, apa maksud mu?" Tanya Agnes. Sherena tertawa licik.
"Ya, untuk apa dia memungut sampah? Kalian berdua tidak lebih dari seonggok kotoran di mata tunangan ku!" Jawab Sherena dengan senyum mengejek nya.
"Apa? Berani-berani nya kau menyebut ku sampah."
"Hah, siapa yang menyebut mu sampah? Aku tidak menyebut mu sampah, itu hanya sebagai perumpamaan saja. Tapi, jika kau merasa, ya sudah. Itu lebih bagus." Jawab Sherena membuat Rita mengepalkan kedua tangan nya.
'Dimana Darren? Kenapa dia lama sekali, aku benar-benar merasa lelah meladeni kedua makhluk astral ini.' Batin Sherena. Dia benar-benar lemas, kepala nya juga terasa pusing sekali.
"Aahhss.." Pekik Sherena sambil memegangi kepala nya.
"Hahaha, kau kenapa? Aku rasa kau sedang sakit ya? Baguslah, aku harap kau sakit parah dan mati. Dengan begitu, Darren akan menjadi milik ku sepenuh nya." Ucap Rita dengan penuh kepuasan.
"Kenapa perut ku tiba-tiba sakit?" Gumam Sherena. Dia memegangi perut nya, rasa nya benar-benar sakit.
__ADS_1
Sherena bersiap untuk beranjak dari duduk nya, dia akan pulang saja dan beristirahat di rumah. Darren juga entah pergi kemana, dia lama sekali padahal tadi dia hanya mengatakan kalau dia akan memesan makanan, tapi ini sudah terlalu lama.
Rita tersenyum licik, lalu dia mengulurkan kaki nya saat Sherena berjalan menjauh, membuat gadis itu terjatuh.
"Aawwhsss.." Sherena memekik kesakitan sambil memegangi perut nya yang terasa sangat sakit.
Gadis itu jatuh terduduk, dari balik celana nya darah merembes bahkan hingga mengotori lantai. Darren yang melihat hal itu langsung membulatkan kedua mata nya dan berlari ke arah sang gadis yang masih dalam posisi terduduk.
"Bee, are you okay?"
"Not okay, i still hurt." Jawab Sherena, dia terlihat meringis menahan sakit sambil memegangi perut nya.
"Astaga, ini darah? Darah apa ini, sayang?" Tanya Darren, tapi terlambat karena Sherena sudah jatuh tak sadarkan diri di pelukan nya. Mungkin karena rasa sakit yang benar-benar membuat nya tak tahan, hingga akhirnya dia tumbang.
"Bee, bangun sayang. Maaf aku datang terlambat.." Ucap Darren sambil menepuk-nepuk pipi Sherena dengan pelan, tapi hasil nya nihil karena sang gadis tak kunjung bangun juga.
"Kau apakan gadis ku hah?" Bentak Darren pada Rita, membuat wanita itu terhenyak begitu mendengar suara Darren yang terdengar sangat marah.
"A-aku tidak melakukan apa-apa." Jawab nya tidak mengaku.
"Bohong, Tuan. Wanita itu mengulurkan kaki nya saat Nona itu berjalan, anda bisa melihat nya sendiri dari kamera cctv." Ucap seorang gadis yang sedari tadi melihat adegan di meja samping nya.
Darren menatap ke arah mantan istri nya dengan tatapan tajam, membuat nyali wanita itu menciut seketika.
"Aku takkan pernah mengampuni mu kalau sampai terjadi sesuatu pada Sherena, camkan itu! Wanita sialan!" Hardik Darren.
"Tolong tahan dia, jangan biarkan kedua iblis ini pergi. Aku harus pergi ke rumah sakit untuk mengantar gadis ku."
"Baik, akan kami jaga kedua nya." Jawab pengunjung pria yang mendengar semua nya. Wajah Rita dan Agnes berubah panik, kedua nya merasa takut saat ini dan bersiap untuk pergi, tapi orang-orang disana langsung menangkap dan menahan nya, bahkan mereka mengikat nya.
"Terimakasih, nanti aku akan menghubungi pihak berwajib."
Darren menggendong tubuh Sherena ala bridal style, pria itu berlari dengan cepat menuju ke arah mobil nya. Dia membuka pintu mobil nya dan meletakan sang gadis di kursi belakang, dia pun langsung mengemudikan kendaraan nya itu dengan kecepatan tinggi dengan tujuan agar lebih cepat sampai.
Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan sang gadis. Dia tidak akan pernah bisa memaafkan diri nya sendiri seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada gadis nya.
"Sial, sial, sial. Harusnya aku menjebloskan wanita itu ke penjara sejak lama!" Rutuk Darren. Dia memukul kemudi beberapa kali untuk melampiaskan kemarahan nya. Dia benar-benar marah dan menyesal, kenapa harus mengantri panjang sih?
"Semoga kamu baik-baik saja, sayang. Aku mohon, bertahan dan kuatlah untuk ku. Aku berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal untuk orang yang sudah membuat mu begini." Gumam Darren, dia menyatukan jemari nya lalu menundukan kepala nya. Dia benar-benar menyesal, andai saja dia tidak mengantri pasti semua ini takkan pernah terjadi.
"Aaahh sialan, aku gagal melindungi kekasih ku sendiri dari wanita pembawa sial itu." Gerutu Darren sambil mengepalkan kedua tangan nya.
Pria itu merogoh ponsel dan menghubungi Andy untuk menangani wanita itu dan juga putri nya. Apapun cara nya, dia harus di hukum sesuai dengan perbuatan nya.
'Hallo, ada apa, Tuan?'
"Sedang dimana kau?" Tanya Darren pada Andy, asisten nya.
'Di rumah Meysa, Tuan. Ada apa?'
"Bisakah kau ke restoran di jalan xxx, bawa polisi untuk menangkap Rita dan anak nya."
'Ada hal yang terjadi?' tanya Andy lagi.
"Jangan banyak bertanya bisa? Cepatlah, orang-orang disana akan menjelaskan nya."
'Baiklah aku kesana sekarang, Tuan. Anda dimana?'
"Di rumah sakit, Sherena pendarahan." Jelas Darren membuat Andy membulatkan mata nya.
'Kenapa bisa?'
"Aku juga belum tahu pasti nya, dokter belum keluar. Lakukan tugas mu dengan baik, Andy."
'Baik, aku kesana sekarang.' Jelas Andy. Dia pun segera beranjak dari duduk nya, tanpa peduli dengan Meysa yang sudah setengah telanjaang karena perbuatan nya.
"Lho, mau kemana, yang? Kita belum selesai, aku lagi enak-enak nya sayang!" Rengek Meysa.
"Maaf, sayang. Aku di beri tugas untuk menangkap nenek lampir dan anak nya lalu membawa kedua nya ke kantor polisi."
"Apa mereka berbuat ulah lagi, sayang?" Tanya Meysa, dia mengambil kembali pakaian dan braa yang sudah di buka oleh Andy tadi.
"Aku belum tahu pasti nya, tapi sekarang Nona Sherena ada di rumah sakit."
__ADS_1
"H-aahh? Ada apa dengan Sherena, dia kenapa? Padahal tadi dia baik-baik saja, sayang." Tanya Meysa, dia benar-benar kaget dengan apa yang dia dengar dari mulut sang kekasih.
"Dia pendarahan, sayang. Aku yakin, ini semua ada sangkut pautnya dengan nenek lampir dan anak nya itu. Makanya Tuan Darren meminta ku untuk membawa kedua nya ke kantor polisi. Jangan marah ya? Nanti kita lanjutkan lagi."
"Iya, baiklah. Kamu pergi saja, hati-hati di jalan nya dan segera kabari aku ya?" Tanya Meysa. Nanggung memang, begitu juga Andy. Tubuh nya sudah memanas karena permainan nya dengan Meysa, tapi malah harus mengerjakan tugas.
"Terimakasih karena sudah mengerti, sayang. Aku mencintaimu." Ucap Andy, lalu mengecup singkat kening sang gadis. Dia mengambil jas dari sofa dan memakai nya.
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Andy pun memakai sepatu miliknya, lalu pergi dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar harus cepat sekarang, sebelum Darren kembali menghubungi nya. Bisa-bisa bonus bulan ini di potong karena dia terlambat melakukan tugas.
Meysa langsung mengambil ponsel dan menginformasikan keadaan Sherena saat ini.
"Gaeys, online bentar dong." Isi pesan dari Meysa di room chat grup nya.
'Ada apaan? Lagi sama Marvin.' Balas Arina, dia yang paling cepat merespon.
'Gue masih sama Tomi, ada apaan, Mey? Kayaknya penting deh.' Balas April.
"Si nenek lampir berulah lagi, gaeys. Sekarang Sherena di rumah sakit, kata nya dia pendarahan. Gue masih belum tahu Sherena kenapa, tapi kata laki gue sekarang dia lagi di rumah sakit." Jelas Meysa dengan menggunakan pesan suara.
'Wah, gak bisa di biarin nih. Terus kita harus gimana?'
"Kita tungguin dulu kabar terbaru dari laki gue. Semoga aja Sheren baik-baik aja, nanti gue infoin lagi."
'Oke, di tunggu kabar nya.'
'Gue tunggu.' balas April.
Meysa pun kembali meletakan ponsel nya, dia pun memilih untuk membersihkan tubuh nya saja saat ini sambil menunggu informasi terbaru dari sang kekasih. Karena ponsel Sherena tak bisa di hubungi sama sekali.
Di restoran, Agnes dan Rita meronta saat pihak berwajib membawa kedua nya untuk di amankan atas perintah Andy. Pria itu tersenyum mengejek saat tatapan mereka tak sengaja bertemu.
"Awas kau, akan ku balas nanti."
"Silahkan saja, balas aku jika kau mampu. Tapi, aku yakin Tuan Darren takkan melepaskan mu semudah itu. Selamat mendekam di balik penjara, nenek lampir dan antek-anteknya. Nikmati waktu kalian untuk merenung ya." Celetuk Andy membuat kedua nya berang. Mereka meronta ingin di lepaskan, tapi pegangan tangan petugas keamanan itu lebih kuat.
Tapi, tiba-tiba saja..
Plak.. plak..
Dua tamparan mendarat mulus di kedua pipi Rita, membuat wajah wanita itu terhuyung ke samping saking kuat nya tamparan yang di lakukan oleh orang yang tidak di kenal. Tapi, Andy tersenyum pertanda kalau dia mengenal siapa yang sudah berani menampar wanita itu.
Andai saja dia perempuan, sudah pasti dia akan melakukan hal yang sama sedari tadi. Tapi, sebagai pria yang gentel. Dia tidak mungkin menyakiti seorang wanita bukan? Meskipun wanita nya berspesies seperti binatang.
"Itu pelajaran yang pantas untuk ulat bulu seperti dirimu!" Ucap April. Dia emosi saat membaca dan mendengarkan pesan suara yang di kirimkan oleh Meysa.
Kebetulan, dia sedang berada di restoran itu juga bersama Tomi. Dia melihat kalau Rita dan Agnes juga ada disana, dia pun nekat karena merasa greget sejak lama.
"Heh, berani-berani nya kau menampar ibu ku!" Ucap Agnes membela sang ibu.
Plak..
"Kau juga menginginkan nya bukan? Aku mengabulkan nya." Agnes dan Rita menatap wajah April dengan tatapan tajam. Sudut bibir mereka terluka karena tamparan yang di lakukan oleh April benar-benar keras.
"Terimakasih sudah sangat mewakili aku, April." Ucap Andy.
"Lembek, harus nya tadi lu tampar ini dua orang pake gas elpiji." Celetuk April.
"Mati dong."
"Bodo amat, dah gue mau kesana dulu. Laki gue nungguin, infoin kalo udah ada kabar baru tentang Sherena. Oke?" Tanya April. Andy pun menganggukan kepala nya mengiyakan.
April pun pergi dari sana, begitu juga dengan Rita dan Agnes yang pergi di gelandang oleh petugas keamanan.
"Teman-teman Nona sherena benar-benar luar biasa." Gumam Andy. Dia melupakan kalau kekasih nya juga salah satu teman Sherena.
"Astaga, gadis ku juga luar biasa berarti ya." Gumam pria itu lagi sambil terkekeh pelan.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1