Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 109 - Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang paling di tunggu oleh Sherena dan juga semua teman-teman Sheren. Hari ini adalah hari perpisahan bagi semua siswa siswi di SMA bina bangsa. Sherena datang bersama kedua orang tua nya, mereka pulang lebih cepat untuk menghadiri acara perpisahan putri mereka. 


Sherena terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna pink pastel dengan rambut yang di sanggul rapih. Wajah cantik nya di poles make up tipis namun mampu membuat penampilan gadis itu terlihat sangat cantik dan pangling. 


"Gileee, cantik bener istri CEO yang satu ini." Puji Meysa sambil meraba-raba wajah cantik Sherena yang sudah di poles make up.


"Isshh, jangan di pegang nanti make up nya luntur." Ucap April, bukan Sherena yang sewot tapi April. 


"Tapi emang sih, bener kalo Sherena emang cantik banget. Keliatan beda ya aura istri CEO nya." 


"Cieee, siapa yang seminggu lagi bakalan jadi nikah? Ehem.." Goda April sambil menyenggol-nyenggol lengan Sherena yang terlihat malu-malu.


"Udah isshh, gak usah di ingetin mulu. Gue kan jadi deg-degan kalo di ingetin." Rengek Sherena, wajah nya memerah nya menahan rasa malu yang dia rasakan karena godaan teman-teman nya. 


"Wajah nya merah kayak tomat." Celetuk Arina sambil tersenyum. 


"Wahh, iya ya. Udah, gak usah di godain lagi. Kasian Sherena nya." Ucap April. 


"Oke oke, kita kesana aja yuk?" Ajak Meysa. Ke empat gadis itu pun berjalan pelan ke kursi yang sudah di sediakan dengan nama masing-masing murid. Sherena tersenyum kecil saat melihat pesan dari sang kekasih. 


"Kenapa nih senyam-senyum?"


"Ayang gue lagi di jalan, mau kesini."


"Wahh, sama laki gue gak?" Tanya Meysa dengan antusias.


"Gak tahu, sebentar gue tanyain dulu ya." Sherena pun langsung menanyakan pada sang kekasih apakah dia kesini bersama Andy atau tidak. 


"Belum di bales, lagi nyetir kali ya. Sabar dulu Lo, Mey. Mending makan hidangan." Ucap Sherena sambil mencomot sepotong kue bolu pandan lalu memakan nya. 

__ADS_1


"Laki gue juga lagi kesini sama nyokap, bokap gue." Ucap April sambil terkekeh.


"Ckk, laki gue dari tadi udah disini. Tuh di belakang gue, bilang aja kalian pasti ngiri kan sama gue. Iya kan?" Ucap Arina sambil tertawa, membuat teman nya kompak mendelik ke arah nya. 


"GeEr banget jadi orang. Jangan terlalu percaya diri."


"Iya tuh, kalo ngehayal jangan terlalu tinggi. Nanti kalo jatuh, sakit. Kasian gak ada yang nolongin." Ucap Sherena membuat Arina terdiam seketika.


"Hahaha, sorry sorry deh." Jawab Arina sambil mengambil makanan yang di sediakan. 


Tak lama kemudian, Darren datang bersama Andy di belakang nya. Dia celingukan mencari keberadaan sang kekasih. 


"Sheren duduk dimana ya?" Gumam Darren sambil celingukan mencari sang kekasih. 


"Di telepon napa? Panas nih, Tuan." 


"Ya, sebentar." Ucap Darren, dia bersiap untuk menghubungi nomor sang kekasih. Tapi, sedetik kemudian dia melirik ke arah Andy yang menutupi kepala nya dengan jas miliknya. 


"Hehe, maafkan saya Tuan." Jawab Andy, dia pun mengambil ponsel dan menghubungi nomor sang kekasih. 


Meysa yang sedang makan pun langsung mengambil ponsel nya dari tas, lalu tersenyum saat melihat nama pemanggil, yaitu sang kekasih. 


"Hallo, kenapa yang?"


'Posisi kamu dimana, yang? Aku nyariin nih sama Tuan Darren. Berdiri terus lambaikan tangan ya.' Ucap Andy. Cukup kesulitan mencari keberadaan sang kekasih di tengah kerumunan yang berisi ratusan siswa dan juga orang tua wali murid yang hadir di acara perpisahan sekolah ini. 


Meysa menurut, dia berdiri dari duduk nya lalu ikut mencari keberadaan sang kekasih. Setelah menemukan nya, dia langsung melambaikan tangan nya. Andy melihat nya, dia pun mencolek lengan sang atasan. 


'Oke, aku sudah lihat posisi kamu, Yang.' Panggilan telepon nya pun selesai, Darren dan Andy pun langsung menuju ke posisi sang kekasih. 

__ADS_1


Dengan langkah tegap, pakaian yang rapih, jelas terlihat kalau mereka berdua bukanlah orang sembarangan. Sudah pastilah itu orang berpengaruh dengan kekuasaan tinggi. 


Darren mendekat ke arah Sherena dengan wajah datar nya, namun saat melihat sang gadis tatapan mata yang sedari tadi terlihat tajam itu kini menghangat, bahkan dia menatap Sherena dengan tatapan penuh cinta. 


"Happy graduation, Babe." Ucap Darren sambil memberikan sebuket besar bunga mawar pada Sherena. Gadis itu terlihat sangat senang dengan bunga yang di berikan oleh sang kekasih.


"Terimakasih, sayang." Jawab Sherena, dia langsung memeluk Darren. Pria itu membalas pelukan sang kekasih dengan senang hati, dia mengecupi puncak kepala sang kekasih. Sherena mendongakan kepala nya, menatap wajah tampan sang kekasih. Darren menundukkan kepala nya, lalu mengecup kening Sherena dengan lembut. 


"Sama-sama, sayang." Jawab Darren. Tentu nya, kemesraan itu membuat kedua nya menjadi pusat perhatian. Tapi, ini sudah hal yang lumrah bagi sepasang kekasih jadi tidak ada yang mempermasalahkan hal ini. 


Tak lama, Tomi juga datang. Sedangkan Arin sudah nempel-nempel dengan Marvin, ya tepat nya sih Marvin yang gak mau jauh-jauhan dengan kekasih nya itu. Dia juga yang nyosor-nyosor karena merasa iri saat melihat kemesraan yang di tunjukan oleh tiga pasangan lain nya. 


Acara pun di mulai, Darren duduk di samping sang kekasih dengan tangan yang saling bertautan mesra. Acara puncak, yaitu pengumuman nilai terbaik dan murid terbaik atau juara kelas. 


"Selamat kepada Sherena Maulidia, sebagai juara umum dan juara satu di kelas 12." Ucap seseorang yang menjadi MC di atas panggung. Sherena terkejut bukan main, sumpah demi apapun dia tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan seperti ini. 


"Wahh, selamat bestie.." Ucap sahabat Sherena dengan heboh. 


"Selamat, Bee." Ucap Darren sambil mengecup punggung tangan Sherena dengan lembut. 


"Aaahhh, terimakasih. Aku tidak menyangka akan mendapatkan predikat ini. Sumpah demi apapun, tapi terimakasih." Ucap Sherena. Dia pun beranjak dari duduk nya lalu berjalan dengan anggun ke arah panggung.


Gadis itu mendapatkan banyak tepuk tangan dan sorak sorai, bahkan Arumi dan Arya sudah menitikkan air mata kebahagiaan nya. Kedua nya beberapa kali mengusap air mata yang menganak sungai dengan tissu. 


Harusnya mereka senang bukan? Tapi yang terjadi malah sebaliknya, jeduabnya merasa sedih karena putri mereka di perlakukan seperti orang asing oleh keluarga pihak Arya, bahkan nenek nya sampai sekarang tidak menyukai Arumi dan juga putri mereka, Sherena. 


Kemarin saja saat mereka di sana, nenek Sherena tidak menanyakan keberadaan cucu nya sama sekali. Berbeda dengan cucu yang lain nya, hanya pada putri mereka saja dia bersikap seperti itu. Bukankah ini sangat tidak adil? Ya, tentu saja iya. 


"Aku sangat bangga melihat putri ku.." Lirih Arya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2