Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 47 - Pemilik Sekolah


__ADS_3

Darren menatap tajam gadis yang berjalan pelan masuk ke dalam ruangan yang mereka semua tahu, kalau ini adalah ruangan bimbingan konseling atau ruang BK. Agnes tersenyum genit ke arah Darren, membuat pria itu bergidik saking jijik nya dia melihat gadis itu. 


'Wahh, ternyata dia lebih tampan dari yang tadi. Apa aku seterkenal itu ya sampai cowok ganteng kayak mereka mencari ku? Aahh, tidak perlu di ragukan. Aku memang cantik, jadi tak heran jika aku di cari-cari oleh pria tampan seperti mereka.' Batin Agnes dengan percaya diri. 


"Duduk.." Pinta Darren. Agnes duduk di meja yang berhadapan dengan pria itu. 


"Ada apa ya? Kenapa kalian mencari ku, apa aku secantik itu sampai-sampai kalian mencari ku?" Tanya Agnes, membuat Andy juga Darren kompak memutar mata mereka dengan jengah. Gadis ini terlalu percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri, Nona. Itu akan membuat anda malu. Kami mencari mu bukan karena kecantikan mu." Bukan Darren, tapi Andy lah yang menjawab nya. 


"Lalu, kalau bukan karena kalian naksir padaku, untuk apa kalian mencari ku?"


"Untuk meminta pertanggung jawaban." Jawab Darren, dia kembali menatap gadis itu dengan tajam. Sedangkan Andy menyedekapkan kedua tangan nya di dada. 


"H-aahh? Apa yang harus aku pertanggung jawabkan? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Jawab Agnes, membuat Darren mengepalkan tangan nya. 


"Tidak melakukan kesalahan apapun katamu?"


"Iya, aku tidak melakukan apapun hari ini. Hanya memberikan hukuman pada seorang gadis yang telat jadwal piket." Jawab Agnes membuat Darren tersenyum smirk. 


"Kau tidak mendengarkan alasan nya dulu, dia pasti punya alasan kenapa bisa terlambat, bukan?"


"Ya, dia mengatakan kalau dia sakit. Tapi, aku tidak peduli sama sekali. Terlebih dia gadis yang sangat menyebalkan, aku punya dendam sendiri padanya." Jawab Agnes, membuat rahang Darren mengerat menahan amarah nya. Dia benar-benar marah saat ini, sungguh demi apapun dia ingin beranjak dari duduknya, lalu menjambak rambut gadis itu dengan kejam. Tapi, dia tak mungkin melakukan hal itu di sekolah ini bukan? Apa kata Sheren dan guru-guru di sini nantinya?


"Kau tahu siapa gadis itu hmm?"


"Sherena, gadis dari kelas IPA 3." Jawab Agnes membuat Darren semakin kuat mengepalkan tangan nya.


"Kau tahu kalau dia kekasih ku, Nona yang angkuh?"


"H-aahhh?" Tanya Agnes, terlihat benar kalau dia tengah ketakutan saat ini. 


"Ya, gadis yang kau katai-katai itu adalah kekasih ku. Sherena adalah gadisku! Kau tahu kenapa aku datang kesini? Bukan untuk mu, tapi untuk gadis ku yang tiba-tiba saja pingsan padahal tadi dia baik-baik saja! Rupanya dia menerima kekerasan dari kau!" Ucap Darren, wajah nya memerah menahan amarah. Tapi beruntunglah ada Andy disana yang bisa menenangkan Darren dari amarah. 


"A-apa? Tidak mungkin."


"Tidak mungkin kau bilang? Gadis ku masih ada di ruang UKS sekarang, itu karena ulah mu. Sialan!"


"Tapi dimana letak kesalahan ku, bukankah memberikan hukuman itu wajar?" Tanya Agnes, dia berusaha membela dirinya sendiri. Dia tak mau di salahkan, karena memang dia merasa tidak bersalah sama sekali. 


"Memang, tapi lihat dulu. Apa mata mu buta atau telinga mu tuli hah? Mengaku saja cantik, tapi buta mata. Kau pasti bisa melihat dari penampilan nya kalau gadis ku sedang sakit. Dia juga mengatakan kalau dia sedang bukan? Lalu kenapa kau memberi nya hukuman seberat itu hah? Memang nya kau siapa bisa melakukan itu pada gadis ku!" 


"Ckkk, dia nya aja yang lemah. Masa di suruh menyapu lapangan doang sampe pingsan sih." Ketus Agnes, membuat kesabaran Darren akhirnya habis. Dia beranjak dari duduk nya, lalu menjambak rambut panjang gadis itu hingga membuat nya terdongak.


"Coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengar nya."


"T-tidak, ampuni aku."


"Ampun? Kau meminta ampun setelah mulut kotor mu itu mengata-ngatai gadis ku tadi hmmm? Apa perlu aku robek mulut sialan mu ini hah?" Ucap Darren membuat gadis itu ketakutan, tubuh nya bergetar karena rasa takut. Baru kali ini dia merasa ketakutan seperti ini. Biasa nya, dialah yang membuat orang lain ketakutan karena ulahnya. 


"Sebagai balasan nya, kira-kira harus aku apakan gadis itu, Andy?"


"Seret saja dia ke lapangan, Tuan. Gadis tak tau malu seperti dia memang harus di beri pelajaran agar tidak bertindak seenak jidat nya saja."

__ADS_1


"Tidak, jangan. Kalian tidak tau aku siapa bukan? Orang tua ku seorang CEO dan salah satu penyumbang terbesar di sekolah ini, pasti kalian akan di permalukan oleh orang tua ku!" Ancam gadis itu, dia kehabisan cara. Dia benar-benar ketakutan saat ini, tanpa dia tahu siapa Darren sebenarnya.


"Ohh ya? Panggil orang tua mu kemari, Nona. Aku tidak takut sama sekali." 


"H-aaahhh.."


"Andy?" 


"Sudah, tuan. Saya sudah menghubungi wali dari gadis ini. Sebaiknya, jangan terlalu banyak menyentuh nya. Nanti tangan anda kotor." Ucap Andy sambil mengulurkan satu bungkus tissu basah pada Darren. Pria itu mengambil nya, lalu mengusap tangan nya yang bekas memegang Agnes itu dengan tisu yang sudah di berikan oleh Andy. 


"Aku pastikan kau akan menyesal karena sudah berani membuat masalah dengan ku. Orang tua yang kau bangga-banggakan itu akan jatuh miskin dalam hitungan jam."


Kedua mata Agnes membeliak, dia benar-benar tidak menyangka kalau ada pria semenyeramkan ini. Aneh nya, dia tidak mengetahui siapa pria ini? Dan apa kekuasaan nya yang membuat dia tidak takut bahkan setelah mendengar ancaman nya barusan. Malah sebaliknya, dia berbalik mengancam nya dan membuat dirinya ketakutan saat ini. Bagaimana kalau dia benar-benar jatuh miskin? Apa yang akan dia pamerkan lagi kalau begitu. 


'Tidak, tidak. Aku tidak boleh jatuh miskin, aku tidak mau kehilangan apa yang sudah aku milik sekarang. Aaahhh siall, siapa sih dia ini? Kenapa bisa-bisa nya dia membuat ku takut.' Batin Agnes. 


"Siapa kau?"


"Baru bertanya sekarang? Hahaha.." Darren tertawa, membuat Agnes yakin kalau pria di depan nya ini bukanlah orang sembarangan.


"Andy, apakah orang tua gadis ini masih lama?"


"Saya akan menghubungi nya lagi, Tuan. Sebentar." Jawab Andy, membuat Agnes mengernyitkan kening nya heran. Dari mana mereka mempunyai nomor kedua orang tua nya?


"Dari mana kalian mendapatkan nomor orang tua ku?"


"Itu bukanlah hal yang sulit, bagiku!" Jawab Darren, pria itu menyeringai yang mampu membuat seluruh tubuh Agnes merinding, bahkan bulu-bulu halus di tubuh nya berdiri. Saking menakutkan nya senyuman Darren. 


"Tolong, jangan apa-apa kan aku Tuan."


Tak lama kemudian, Sherena datang ke ruangan itu bersama ketiga teman nya. Mereka membawa bukti-bukti pembullyan yang di lakukan Agnes, bukan hanya Sheren yang menjadi korban atas tindakan seenaknya dari gadis itu, tapi ada yang lain nya. Bahkan ada yang sampai pingsan karena di tampar oleh gadis itu. So, dia memang meresahkan di sekolah itu. 


"Sayang, sudah lebih baik?"


"Hmmm, ya. Hanya sedikit pusing saja." Jawab Sherena. Tak lama, para guru datang dan memberi hormat pada Darren. Tentu saja, hal itu membuat Agnes semakin keheranan. Siapa sebenarnya Darren? Kenapa sekelas kepala sekolah saja membungkuk hormat pada pria itu?


"Maaf, atas keteledoran saya membuat orang yang anda kasihi menjadi korban."


"Ya, tidak apa-apa. Tapi, aku berhak memberikan nya hukuman atas tindakan nya, bukan?"


"Tentu, tuan. Anda bisa memberi nya hukuman yang setimpal berdasarkan perbuatan nya." Jawab pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah. 


"Kau pasti heran kan? Kenapa mereka mengenal ku, bahkan memberi hormat padaku?" Tanya Darren membuat Agnes tercengang, kenapa Darren bisa tahu apa yang ada di pikiran nya, apa pria ini semacam cenayang yang bisa membaca isi pikiran orang lain?


"Kenalkan, aku Darren Wisnu Abiana. Mungkin kau sudah pernah mendengar nama ku sebelum nya? Ya, tercetak jelas disana." Darren menunjuk susunan nama yang tercetak jelas di tembok sekolah. Ya, disana tertera nama Darren Wisnu Abiana sebagai pemilik sekolah. What? Jadi sekolah ini milik Darren?


Darren tersenyum penuh kepuasan. Bukan hanya Agnes yang terkejut, tapi Sherena dan teman-teman nya juga. Kenapa mereka baru sadar kalau selama ini mereka sekolah di sekolahan milik Darren? Pantasan saja saat dia menyebutkan nama lengkap nya, terdengar tidak asing karena memang mereka selalu melihatnya di dinding sekolah setiap hari. 


"Sudah jelas bukan? Jadi, kira nya hukuman apa yang paling setimpal untuk mu? Di DO dari sekolah seperti nya bagus, karena sekolah milik ku tidak membutuhkan murid tukang bully. Dan, kalau kau mengatakan orang tua mu menjadi penyumbang terbesar di sekolah ini, aku tahu kau bohong, Nona Agnes." Ucap Darren membuat wajah Agnes memerah. Akhirnya, kebohongan yang selama ini dia ucapkan pada siswa siswi lain terbongkar sudah berkat Darren. 


"Maafkan saya, Tuan. Saya mohon.."


"Tidak, kalau kau di biarkan lebih lama bersekolah disini, aku khawatir nama baik sekolah ini akan tercoreng oleh perbuatan mu itu." Jawab Darren dan di angguki oleh kepala sekolah. Gadis ini memang terlalu meresahkan di sekolah, sudah banyak kali dia di panggil ke ruang BK tapi dia tidak kapok juga. 

__ADS_1


"Sebagai peringatan terakhir, karena kepala sekolah dan guru BK tidak bisa menangani kenakalan mu, akhirnya harus aku yang turun tangan sendiri. Kau di keluarkan dari sekolah, tanpa protes!"


"Anda tidak bisa melakukan itu pada saya, Tuan!"


"Kenapa, tidak bisa hmm? Aku berhak atas sekolah ini, aku berhak mengeluarkan siswi yang akan mencoreng nama baik sekolah ku." Tegas Darren.


"Tapi, masa hanya karena aku menghukum dia, jadi di keluarkan dari sekolah sih?" Ucap Agnes dengan tatapan mengiba. 


"Ini bukan tentang Sheren saja, tapi masih banyak siswa siswi yang menjadi korban mu, Agnes. Kesalahan mu ini sangat tidak bisa di maafkan oleh pihak sekolah sekalipun." Bukan Darren, tapi kepala sekolah.


"Jelas? Makanya, jadi orang jangan sok berkuasa. Berhadapan dengan ku kamu mengemis seperti ini, menjijikan!" 


"Minta maaf sama Sheren dong, Nes." Ucap April, dia ikut andil mengutarakan suara nya. Sudah lama dia sebal melihat kelakuan Agnes. 


Gadis itu beranjak dari duduknya, lalu melangkah mendekati Sherena, semua orang berpikir kalau dia akan meminta maaf pada Sheren. Tapi salah, gadis itu malah menjambak rambut Sherena dan melayangkan satu tamparan di pipi kanan Sherena. Teman-teman Sheren yang melihat itu tentu saja tidak tinggal diam, mereka balik menjambak rambut Agnes juga membalas tamparan yang gadis itu lakukan. 


"Aaaaa, lepaskan aku sialan!" Teriak Agnes, karena rambut nya di tarik oleh April.


"Berani sekali kau melakukan hal ini pada teman ku, jangan harap aku bakalan diam aja ya!" Ucap April, Meysa juga ikut dalam kerusuhan. Hari itu terjadi keributan besar di ruangan BK, sebelum akhirnya gadis itu pergi di bawa oleh kedua orang tua nya. 


Lagi-lagi di ruang UKS, Darren tengah mengobati luka di wajah Sherena karena tamparan yang di lakukan oleh Agnes membuat sudut bibir gadis itu terluka. 


"Aasshh, pelan-pelan dong." 


"Maaf, sayang. Sakit banget ya?"


"Hmmm, sebenarnya gak sih. Tapi aku berdrama aja, biar kamu nya perhatian. Hehe." Jawab Sherena sambil terkekeh. 


"Isshh, kamu ini, sayang. Kamu bikin aku khawatir tau gak!"


"Iya maaf, sayang." 


"Maaf, aku terlambat. Harusnya, aku bertindak sebelum ini terjadi. Tapi, aku menganggap remeh akan gadis itu dan membiarkan nya, aku percaya kalau kepala sekolah bisa menangani nya, tapi ternyata tidak. Akhirnya aku harus turun tangan sendiri." Jelas Darren panjang lebar.


"Hmmm, aku kaget lho. Ternyata aku sekolah di sekolah punya pacar aku sendiri, hehe."


"Kamu gak ngeuh kalau ini punyaku? Padahal nama ku terpampang jelas di mading." Ucap Darren sambil mengusap wajah cantik sang gadis dengan lembut.


"Aku gak tahu nama lengkap kamu, aku cuma tahu awalnya doang." Sherena menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. 


"Nama calon suami sendiri sampai gak hafal, gadis ku ini memang berbeda." Gumam Darren sambil menggelengkan kepala nya. 


"Apa sayang bicara sesuatu?"


"Tidak, sayang." Jawab Darren sambil tersenyum manis. Pria itu kembali mengusap wajah cantik Sherena, dia marah karena gadis itu sudah berani melayangkan tamparan ke wajah Sherena. Padahal, dia juga belum pernah menyakiti gadis kesayangan nya seperti ini.


"Kita pulang saja ya?" Tanya Darren lirih.


"Enggak aahh, waktu itu aku udah bolos sehari. Aku gak mau bolos lagi, nanti nilai aku jelek, yang."


"Kan pacar mu ini yang punya sekolah nya, sayang. Harus nya kamu gak perlu khawatir."


"Dihh, enggak ya. Aku gak mau kalau lulus dapet nyogok, jangan mentang-mentang kamu pacar aku terus aku seenaknya aja minta di bagusin nilai nya. Curang itu nama nya, sayang." Ucap Sherena. Darren tersenyum, gadis nya ini berbeda dengan yang lain. Ya, dia jauh berbeda dengan gadis lain. Tak salah jika Darren sangat menyukai Sheren, karena dia mempunyai hal yang tidak gadis lain miliki.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2