Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 115 - Kedatangan Trio Wekwek


__ADS_3

Siang hari nya, Sherena kedatangan tu kehormatan. Siapa lagi kalau bukan kedatangan trio wekwek ke rumah, mereka berniat untuk menjenguk Sherena ke rumah nya karena saat di rawat di rumah sakit, mereka tidak sempat menjenguk.


Ketiga nya datang dan Arumi langsung menyambut kedatangan sahabat putri nya itu dengan ramah. 


"Eehh, kalian datang ya?"


"Hallo, Mama.." Panggil ketiga nya dengan kompak. Mereka datang tentu nya tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa parsel buah tapi isinya hanya buah jeruk saja. Karena mereka tahu kalau Sherena sangat menyukai buah jeruk. Ada juga yang membawa kue coklat yang juga kesukaan Sherena, ada juga yang membawa bunga. Mereka benar-benar saling melengkapi satu sama lain. 


"Masuklah.."


"Oke, Mam." Jawab nya, ketiga nya pun langsung masuk ke dalam begitu Arumi membuka pintu rumah nya lebar-lebar mempersilahkan untuk ketiga sahabat putri nya masuk.


"Sheren nya mana, Mam?" Tanya April. 


"Di kamar, sedari tadi dia gak keluar kamar. Kayaknya sih masih lemes." Jawab Arumi sambil tersenyum kecil.


"Kami izin menyusul ke kamar nya ya, Mam?"


"Boleh, masuk aja. Di lantai atas, kamar yang paling ujung."


"Oke, makasih Mam." Jawab April. Ketiga nya pun langsung pergi ke kamar Sherena dengan meniti satu persatu anak tangga secara perlahan. Sesampai nya di atas, mereka pun langsung membuka pintu kamar Sherena yang kebetulan tidak di kunci. 


Terlihat, gadis itu sedang berbaring sambil memainkan ponsel nya. Bukan memainkan, mungkin lebih tepat nya dia sedang melakukan panggilan video. 


"Surprise.." Ucap ketiga nya yang membuat Sherena terlonjak kaget, bahkan ponsel yang sedang dia pegang terlempar begitu saja.


"Eehhh kambing bertelur.." Latah Sherena yang membuat ketiga teman nya tertawa terbahak-bahak, mereka puas karena berhasil mengejutkan Sherena. 


"Hahahaha, sejak kapan kambing bertelur anjir? Lucu banget latah nya." Celetuk Meysa sambil tertawa.


"Hooh, kenapa gak sekalian sapi aja yang bertelur, Sher." Ucap Arina.


"Ckkk, diem kalian berdua. Nyebelin banget deh, kalo gue punya penyakit jantung pasti dah mati gue." 


"Haha sorry-sorry.." Ucap April. 


"Ponsel gue ke lempar kemana ya?" Gumam Sherena sambil mencari ponsel nya, tadi dia sedang melakukan panggilan video bersama sang kekasih. Sekalian menemani pria itu bekerja, eeh malah datang tamu tak di undang. 


"Itu tuh, di dekat selimut Lo." Tunjuk April, Sherena mencari nya dan dia pun menemukan ponsel nya. 


'Hallo, Bee. Sayang kamu baik-baik saja kan?' Tanya Darren, karena dia mendengar sang kekasih tiba-tiba saja menjerit tak karuan juga layar ponsel nya yang langsung hitam begitu saja.


"Iya, aku baik-baik saja kok. Jangan khawatir, tadi aku cuma kaget aja. Soalnya ada tamu gak di undang." Jawab Sherena membuat Darren mengernyitkan kening nya.


'Tamu tak di undang? Kamu kan lagi hamil, masa kedatangan tamu?' Tanya Darren lagi. Iya kan? Mana ada orang hamil tapi masih kedatangan tamu. 


"Bukan tamu yang itu, tapi si trio wekwek." Jawab Sherena, dia mengarahkan kamera ponsel nya ke arah tiga sahabat nya yang langsung melambaikan tangan nya. 


'Ya sudah, sekarang kamu udah ada yang nemenin. Aku kerja dulu ya, nanti sore aku kesana.'


"Oke, sayang. See you.." 


'See you, have fun Babe!' Ucap Darren, panggilan pun selesai. Sherena meletakan ponsel nya di atas meja nakas lalu menatap satu persatu sahabat nya yang sudah menunjukkan senyum jahil nya.


"Hmmm, kalian kesini mo ngapain?"


"Jahat banget, pake nanya segala. Ya jelas nengokin Lo, katanya Lo sakit. Jadi kita kesini jengukin." Jawab Meysa sambil tersenyum kecil. 


"Udah baikan sih sekarang, cuma lemes nya doang, awet banget perasaan." 


"Syukur deh, gue khawatir banget pas denger kalo Lo sakit." Ucap Arin.


"Lo tahu dari mana, Rin?" Tanya Sherena lirih.


"Dari Meysa di room chat, dia bilang kalo Lo pendarahan terus di bawa ke rumah sakit." 


"Iya tuh, untung aja calon keponakan kita gak kenapa-napa ya. Kalau sampai terjadi sesuatu, gue bejek-bejek itu nenek lampir." Jawab Meysa sambil mengepalkan tangan nya.

__ADS_1


"Gue tuh beruntung sebenarnya, pas Lo nginfoin kalo Sherena pendarahan terus di bawa ke rumah sakit itu. Kebetulan, gue lagi jalan-jalan sama Tomi di jalan Deket tuh cafe. Gue kesana, terus liat tuh nenek sihir, gue tampar aja. Puas banget rasanya." Ucap April sambil tersenyum jahat.


"Seriusan? Wah, April keren banget." 


"Harus nya jangan di tampar, Prill." Ucap Sherena membuat ketiga teman nya itu, langsung menatap ke arah Sherena.


"Kok tumben Lo.."


"Gue belom selesai, harus nya Lo cakar tuh muka nya." Lanjut Sherena membuat ketiga teman nya membulatkan mulut mereka, lalu tertawa bersama. Sherena juga tertawa lepas, kedatangan ketiga sahabat nya ini membuat mood nya membaik. 


"Malu gue kalo keliatan barbar di depan laki sendiri." Jawab April.


"Haha, tumben Lo punya malu. Perasaan selama ini Lo tuh kayak orang gak tahu malu, Prill."


"Kemaren-kemaren, urat malu gue tuh dah putus. Sekarang, gue udah bujuk itu urat biar balikan. Makanya sekarang gue punya rasa malu, puas Lo?" Kesal April membuat ketiga nya kembali tertawa.


"Jadi sekarang gimana keadaan Lo, Sher?"


"Seperti yang udah gue bilang tadi, udah agak membaik tinggal lemes nya doang." Jawab Sherena.


"Wajah Lo keliatan pucat banget deh, apa keponakan gue rewel, Sher?" Tanya Arina sambil mengusap lembut perut rata Sherena.


"Hmm, belakangan ini dia agak rewel. Kalian tahu? Dia gak suka bau badan Darren, gue sampe muntah-muntah gara-gara deketan sama dia. Kasian banget, apalagi gue ketusin dia. Padahal ini kan bukan kemauan gue gitu." 


"Ya, nama nya orang hamil kan bisa di tebak kan bawaan bayi nya kek gimana. Menurut gue masih wajar-wajar aja sih." Jawab April, membuat Sherena menganggukan kepala nya.


"Tapi tetep aja, gue kasian liat laki gue, dia keliatan murung banget soalnya gue usir mulu kalo dia datang kesini, bau banget anjir. Padahal biasa nya, gue suka aroma nya apalagi bau ketiak nya, bikin gue nyaman. Tapi sekarang kok bawaan nya malah mual, lihat wajah nya juga gue bosen rasanya." 


"Wahh, gue gak percaya sih Lo bilang kalo muka nya Om Darren itu ngebosenin."


"Fiks, Sherena beneran ngidam bawaan orok itu mah." Ucap Meysa sambil terkekeh. 


"Iya kan? Padahal kita-kita semua tahu, kalo lu tuh bucin abis sama tuh laki. Lah sekarang bilang dia ngebosenin? Lu harus periksa mata ke dokter, Sher!" Celetuk April. Aneh-aneh saja memang bumil satu ini, orang wajah nya ganteng banget gitu eehh malah di bilang ngebosenin. 


"Mana gue tahu, emang udah bawaan bayi kayaknya." Jawab Sherena lirih. 


"Masih muntah-muntah?" Tanya Arina. Sherena menganggukan kepala nya pelan, dia memang masih mengalami morning sickness yang bisa di bilang cukup parah setiap pagi nya. Itulah yang membuat Sherena lemas bukan main. 


"Udah, tapi pas udah minum itu vitamin gue malah makin mual, Rin." Jawab Sherena lagi. 


"Yaudah, nih gue bawain jeruk. Biar gak terlalu mual, kalo mual Lo makan jeruk biar segeran dikit." Ucap Meysa sambil memberikan parsel buah yang di bawa, meskipun isinya hanya buah jeruk saja. Karena Sherena terlihat jarang sekali memakan buah, kecuali jeruk atau apel. Padahal sebenarnya, Sherena menyukai Aneka buah, apalagi jika di buat salad. 


Tapi saat bersama teman-teman nya, Sherena lebih sering memakan buah jeruk saja. Maka dari itu, teman-teman nya menyimpulkan kalau Sherena lebih menyukai buah jeruk di banding buah lain nya.


"Tahu aja lagi pengen jeruk, tadi nya mau pesen sama Darren kalo dia balik kerja nanti. Tapi kalo udah di bawain mah, gak jadi. Makasih banget ya, Mey."


"Sama-sama, di makan."


"Iya, pasti gue makan sampai habis." Jawab Sherena. Tanpa ragu, dia membuka parsel buah pemberian sang sahabat lalu memakan nya dengan lahap.


"Jeruk nya manis, tapi enak."


"Lah, orang beli jeruk pasti milih yang manis. Lo berharap apa emang sama tuh jeruk?" Tanya April. 


"Kalo jeruk nya asem pasti seger, hehe." 


"Astaga, emang nih ya bumil yang satu ini aneh nya kebangetan." Jawab Arina sambil tertawa pelan.


"Tapi sebenarnya, ada hikmah sih di balik pertemuan Lo sama tuh nenek sihir."


"Hikmah apaan?" Tanya Sherena sambil fokus memakan buah jeruk nya dengan lahap. 


"Ya, Darren jadi tegas tuh sama mantan nya. Dia penjarain itu si nenek lampir." 


"Iya, tapi rencana yang udah kita susun malah berantakan. Darren jadi tahu kalo gue hamil, padahal harusnya kan buat surprise nanti." Jawab Sherena membuat ketiga teman nya mengangguk pelan. 


Benar, mereka susah-susah membuatkan surprise untuk Darren dengan kado kehamilan Sherena. Tapi di buat berantakan karena insiden tak mengenakan itu, jadinya Darren sudah tahu duluan dengan kejutan yang sudah Sherena sembunyikan dari nya.

__ADS_1


Flashback on.. 


Hari itu, Sherena merasa tubuh nya sangat lemas. Seharian ini dia hanya rebahan saja di atas ranjang karena tubuh nya terasa sangat lemas, bahkan tubuh nya serasa tidak bertulang saking lemas nya. 


Sherena juga mengeluhkan kalau dia telat kedatangan tamu bulanan nya, sudah terlewat satu minggu. Sherena pun memutuskan untuk menceritakan semua ini pada ketiga teman nya. 


Teman-teman nya pun menyarankan untuk mengecek nya dengan menggunakan testpack yang banyak tersedia di apotik. Tapi karena masih merasa lemas, akhirnya April yang membelikan nya untuk Sherena lalu mengirim nya lewat kurir dan membungkus nya dengan sangat rapih agar tidak ada yang curiga kalau barang yang dia kirim berisi testpack. 


Gadis itu menerima nya, lalu mengecek nya dengan hati yang berdebar tak karuan. Gadis itu mencelupkan alat tes kehamilan itu ke wadah penampung air sisa metabolisme itu. Sherena menutup kedua mata nya, dia berharap hasil nya negatif. Tapi kalau pun fositif dia tidak akan mempermasalahkan nya, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Darren.


Satu detik, dua detik, Sherena pun akhirnya memberanikan diri nya untuk melihat hasil test nya. Ternyata, hasil nya dua garis merah yang terlihat sangat jelas. Artinya fositif, dia benar-benar hamil saat ini. 


Pantas saja, rasa nya dia selalu lemas, terkadang juga dia merasa mual. Ternyata ini adalah jawaban nya, dia sedang mengandung saat ini. 


Sherena pun mengatakan hal itu pada Meysa dan Arin, karena April sedang tidak aktif saat itu. Hari itu juga, mereka langsung pergi ke dokter kandungan dengan tujuan untuk mengecek kandungan dan mereka ingin mengetahui usia kandungan Sherena.


Ketiga nya sangat antusias saat pergi memeriksakan kandungan Sherena, setelah mengetahui usia kandungan nya dan mereka pun merancang rencana karena Sherena mengetahui kalau sang kekasih akan berulang tahun. 


Akan sangat mengharukan kalau semisal nya dia memberitahu kan sang kekasih tentang kehamilan nya disaat moment pertambahan sang kekasih dia memberikan kado yang sangat berkesan dengan kehamilan nya. 


Sherena dan teman-teman nya pun menyiapkan surprise itu dengan hati-hati dan setelah itu mereka pun menyembunyikan semua nya, seolah tidak terjadi apa-apa pada Sherena. Perempuan itu juga sebisa mungkin menyembunyikan kehamilan nya dan bersikap sebiasa mungkin agar Darren tidak curiga.


Flashback off..


"Tapi gapapa lah, sekarang dia jadi tahu kalau kamu lagi mengandung kan, jadi dia bakalan lebih waspada sih."


"Iya, dia bakalan jadi ayah yang siaga nanti." Jawab April sambil tersenyum. Dia mengusap lembut perut Sherena. 


"Keponakan gue lagi ngapain ya di dalam sini?" Tanya April.


"Hahaha, gak tahu. Kayaknya sih lagi tidur." Jawab Sherena sambil terkekeh.


"Jangan rewel ya keponakan Aunty, kalau rewel, nanti gak di kasih hadiah sama Aunty ya. Kasian Mama nanti nya." Lirih Arina. 


"Makasih banget kalian udah selalu ada buat gue.."


"Sama-sama, bestie. Kita kan temanan, jadi gak usah bilang makasih. Pokok nya, kita bakalan selalu ada buat Lo, Sher. Mendukung apapun keputusan Lo."


"Aaaaa gue terhura banget, gue beruntung punya temen kayak kalian bertiga. Makasih ya.."


"Sama-sama." Jawab ketiga nya dengan kompak, mereka pun berpelukan. Sherena tersenyum, dia sangat senang karena dia memiliki teman seperti April, Arina dan Meysa. Mereka selalu memberikan nya dukungan, tentang hal apapun. 


Mereka juga selalu memberi solusi, mereka selalu ada di saat suka maupun duka, itulah yang membuat arti pertemanan mereka semakin terasa erat. Bahkan Sherena merasa seperti keluarga karena kedekatan mereka. 


Sore hari nya di kantor, Darren sudah bersiap untuk pulang. Pria berwajah tampan itu pun langsung pergi dari ruangan nya, tapi di lobi dia malah bertemu dengan Sarah. Sudah lama wanita itu tidak muncul di depan nya, tapi sekarang dia malah bertemu dengan wanita itu lagi.


"Tuan.."


"Hmmm, ada apa?"


"Bisakah kita bicara sebentar?"


"Kalau tidak penting sebaiknya tidak perlu, aku harus pulang karena Sherena sudah menunggu ku di rumah."


"Apa Tuan yakin akan menikahi gadis itu?" Tanya Sarah membuat Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Kau ingin apa sebenarnya hmm? Berhenti mengusik hidup ku, aku muak dengan semua ini Sarah."


"Aku hanya ingin mengingatkan kalau sebelum gadis itu hadir dalam hidup mu, akulah yang selalu ada untuk mu." Jawab Sarah dengan berani.


"Dengar Sarah, hubungan yang selalu kau ungkit-ungkit itu hanya sebuah hubungan timbal balik. Aku hanya menganggap nya simbiosis mutualisme, atau saling menguntungkan satu sama lain. Kau butuh uang untuk membeli susu anak mu, aku butuh kepuasan. Cukup, itu saja!"


"Darren.."


"Kalau kau merasa kalau hubungan yang pernah kita jalin itu istimewa, kau salah besar, Sarah. Karena kau yang main hati dengan semua yang aku lakukan, jadi itu bukan salah ku. Aku tidak menganggap dirimu sebagai orang istimewa."


"Dengar, aku tidak menganggap dirimu. Aku hanya mencintai Sherena, ingat itu dan jangan pernah mengusik hidup ku atau Sherena. Kalau kau nekat, lihat saja akibat nya!" Jawab Darren, dia pun langsung pergi meninggalkan Saran yang masih terdiam dengan kedua tangan yang terkepal, dia marah saat ini. Benar-benar marah, bahkan wajah nya yang tadi nya putih bersih kini berubah memerah karena amarah.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2