
Beberapa bulan pun berlalu, hari ini di rumah Darren terlihat sepi. Begitu juga dengan rumah Sherena. Pagi-pagi tadi, keluarga itu pergi ke rumah sakit, karena Sherena yang kontraksi juga pecah ketuban.
Darren heran, menurut dokter perkiraan hari kelahiran nya masih dua mingguan lagi, tapi sekarang sudah terjadi kontraksi dan bahkan Sherena sudah pecah ketuban duluan. Melihat hal itu, tanpa berpikir dua kali, dia langsung membawa sang istri ke rumah sakit untuk di lakukan tindakan sebelum terlambat.
Pria dewasa itu menundukan kepala nya, belum ada tanda-tanda perawat atau dokter akan keluar dari sana. Itu membuat hatinya tidak tenang saat ini, begitu juga dengan Arya dan Arumi. Mereka tentu saja mengkhawatirkan keadaan putri mereka.
Tak terasa, Darren menitikkan air mata nya. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan tadi, wanita itu meringis kesakitan membuat hatinya benar-benar ikut merasakan sakitnya. Kalau saja bisa, dia pasti akan meminta Tuhan untuk menggantikan posisi istrinya sekarang. Biarlah dia yang merasakan sakit nya.
"Nak.." Panggil Arya, membuat pria itu mendongak dan menatap wajah ayah mertua nya dengan sendu.
"Jangan menangis, kuatlah."
"Tapi Sherena, Pa.."
"Dia akan baik-baik saja, percaya padanya. Tidak ada orang yang lebih kuat dari seorang wanita, Nak. Dia mengandung selama sembilan bulan, lalu merasakan sakit nya melahirkan, lalu menyusui nya dan merawat anak nya." Jelas Arya yang membuat Darren tak bisa lagi menahan air mata nya. Hati nya di liputi rasa bersalah sekarang.
"Setelah dia melahirkan nanti, minta maaf dan berterimakasih lah. Dulu, papa juga melakukan nya pada Mama. Tak peduli seberapa besar kesalahan mu pada istrimu, dia pasti akan memaafkan mu. Lalu, berterimakasihlah karena istrimu sudah mau mengandung anak mu, lalu melahirkan nya."
"Iya, Pa. Darren akan melakukan nya nanti."
"Nak, dengarkanlah. Papa memang bukan orang yang suci, Papa manusia biasa. Sama seperti mu, tak pernah luput dari kesalahan terutama pada istri Papa. Tapi disaat melihat istri papa melahirkan, dia begitu kesakitan. Saat itu juga, Papa tak bisa lagi menahan rasa sedih. Papa sedih, takut dan marah bercampur jadi satu. Di situasi ini, segala kesalahan yang pernah papa lakukan terhadap mama kembali terbayang." Lirih Arya. Sedangkan Darren hanya terdiam mendengarkan ucapan papa mertua nya.
"Maka dari itu, kalau kamu memiliki kesalahan pada istri mu, minta maaflah. Setelah nya, berterimakasihlah. Papa mengatakan hal itu bukan karena kamu menikahi putri Papa, tapi sebagai seorang suami sudah sewajarnya kita meminta di maafkan semua kesalahan kita."
"Iya, Papa. Terimakasih, Darren akan melakukan nya."
"Temani dia nanti, moment ini memang akan sangat menyakitkan. Tapi, akan menjadi sangat membahagiakan nanti nya. Percayalah, Istrimu adalah wanita yang baik, wanita yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Ucap Arya. Darren menganggukan kepala nya dengan perlahan. Dia mengerti dengan ucapan sang Papa mertua.
Benar, istri nya adalah wanita yang baik dan wanita yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja, bersama buah hati mereka. Tak lama berselang, akhirnya seorang perawat keluar dari dalam ruangan.
"Permisi, dengan keluarga pasien?"
"Saya, saya suami nya suster. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Darren dengan khawatir.
"Masih pembukaan tujuh, kita harus menunggu sampai pembukaan sepuluh, baru bisa melahirkan dengan normal." Ucap perawat itu membuat hati Darren kembali terasa sakit dan sesak, artinya sang istri masih harus menahan rasa sakit nya sekarang.
"Tidak bisakah melahirkan sekarang saja?"
"Tidak bisa, Tuan. Harus menunggu dulu hingga pembukaan sepuluh, baru akan di lakukan di penanganan kembali." Jelas nya. Ya, manusia memang memiliki keinginan, tapi tenaga medis juga memiliki peraturan yang harus di patuhi.
__ADS_1
"Tapi, istri saya kesakitan, sus.."
"Maaf, kami tidak bisa gegabah dalam mengambil tindakan, Tuan."
"Baiklah, apa kamu bisa menemui pasien sekarang?"
"Silahkan, temani pasien terlebih dulu. Kalau ada apa-apa, panggil saya saja."
"Baik, Suster." Jawab Arya. Perawat itu pun pergi, karena merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
"Nak, masuklah. Temani istrimu." Ucap Arumi. Darren menganggukan kepala nya, dia pun langsung berlari masuk ke dalam ruangan. Hati pria itu kembali terasa sesak ketika dia melihat sang istri tengah memejamkan kedua mata nya, dengan tangan yang di infus. Bibir nya terlihat pucat, sebelah tangan nya lagi tengah mengusap-usap perut nya yang membuncit besar dengan lembut.
"Sayang.." Panggil Darren. Sherena membuka mata nya, lalu tersenyum tulus ke arah suami nya.
"Kemarilah, Mas." Pinta Sherena. Darren pun menurut, dia berjalan mendekat ke arah suami nya. Darren duduk di kursi yang ada di dekat brankar, sambil menggenggam tangan istrinya yang tertancap jarum infusan disana.
"Kenapa menatap aku seperti itu, Mas?" Tanya Darren dengan tatapan nanar.
"Aku tak tega melihat mu, sayang. Maaf.."
"Tidak apa-apa, jangan meminta maaf. Justru, aku sangat bahagia karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita." Jawab Sherena sambil tersenyum, berbeda dengan Darren yang menatap istrinya dengan sendu.
"Yaa, Mas juga bahagia. Mas percaya kamu memang wanita yang kuat, sayang."
"Kamu nyindir, Mas?"
"Enggak, tapi ya kalau Mas nya merasa ya gapapa."
"Tapi, kalau saja kamu tidak pantang menyerah untuk mengejar Mas, pasti sekarang kita gak bakalan bisa bersama. Iya kan?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil.
"Hahaha, iya Mas." Jawab Sherena sambil tergelak pelan, namun sedetik kemudian dia meringis.
"Sayang.."
"Awhss.."
"Yang, jangan bikin Mas khawatir."
"Kontraksi nya datang lagi, Mas. Sakit sekali.." Lirih Sherena yang membuat wajah Darren memerah. Dia takut sekaligus panik.
__ADS_1
"Sayang, Mas minta maaf kalau selama kita menikah, Mas sering membuat kesalahan sama kamu, maafin Mas ya dan terimakasih karena sudah mengandung dan melahirkan anak kita. Mas sangat berterimakasih atas itu, I love you.." Ucap Darren sambil mengusap-usap perut sang istri.
"Sama-sama, aku juga bahagia karena bisa mengandung anak kita, Mas. Terimakasih karena sudah sabar menghadapi aku selama ini, terimakasih juga telah memilih aku sebagai pendamping hidup mu. I love you more than anything." Balas Sherena sambil tersenyum.
"Adek, ayo dong. Jangan bikin Mami kesakitan ya? Kasian mami nya." Ucap Darren di dekat perut Sherena, seolah mengajak bayi yang ada di dalam perut sang istri itu berbicara.
"Mas, kontraksi nya semakin sering. Bisakah kamu panggilkan suster atau dokter? Aku gak kuat."
"Sebentar, sayang. Mas akan panggil suster dulu."
"Hmm, jangan lama Mas." Pinta Sherena. Darren menganggukan kepala nya, dengan berat hati dia melepaskan genggaman tangan nya pada lengan sang istri.
"Suster, tolong cek kembali pembukaan istri saya. Katanya kontraksi nya semakin sering." Pinta Darren dengan wajah panik nya ketika dia bertemu dengan seorang perawat yang melintas di depan nya.
"Sebentar, saya akan mengambil alat-alat nya dulu."
Suster itu berlari ke ruangan tempat di simpan nya berbagai macam alat kesehatan. Lalu, tak lama kemudian dia masuk ke dalam ruangan dan segera memeriksa pembukaan Sherena dengan cara memasukan tangan nya ke dalam milik Sherena. Hal itu, tentu saja membuat Darren melotot.
"Haruskah seperti itu mengecek pembukaan nya, sus?" Tanya Darren, dia meringis. Membayangkan kepalan tangan manusia masuk ke dalam lubang kecil nan sempit milik istrinya. Pasti itu sangat menyakitkan bukan?
"Iya, ini sudah sesuai dengan standar, Tuan. Jangan khawatir, ini akan baik-baik saja." Jawab perawat itu dengan senyuman kecil nya.
"Ohh, baiklah." Darren pun membiarkan perawat itu memeriksa pembukaan sang istri dan setelah beberapa menit berlalu, perawat itu pun membuka sarung tangan nya dan berlari keluar ruangan.
"Siapkan ruangan operasi, pembukaan pasien sudah lengkap. Hubungi dokter dan cepatlah."
"Baik, sus." Jawab perawat yang lain nya.
"Tahan sebentar lagi, Nona. Pembukaan nya sempurna, perawat dan dokter sedang menyiapkan ruang operasi. Bersabarlah, ini takkan lama." Ucap perawat itu.
Singkatnya, Sherena pun di pindah ke ruang operasi. Di dalam ruangan yang terasa mencekam itu, Sherena berjuang melahirkan anak nya. Buah cinta nya bersama Darren, pria yang sangat dia cintai. Pria itu dengan setia mendampingi istrinya, meskipun rasa nya nyawa nya seolah hilang separuh karena melihat banyak nya darah yang keluar.
Beberapa menit kemudian, suara tangis nyaring terdengar. Darren meneteskan air mata nya, buah hati nya bersama Sherena telah lahir dengan selamat. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menangis dengan kuat, membuat Darren dan Sherena tersenyum kecil.
"Selamat, Nona. Bayi nya laki-laki, lahir sempurna dengan berat badan 3,5 kilogram. Panjang nya 53 centimeter, lahir sehat dan sangat tampan." Ucap perawat sambil mendekatkan bayi mungil itu kepada Sherena.
"Harsya Alvian Abiana, selamat datang putra Mami dan Papi." Ucap Sherena. Sudah lama dia menyiapkan nama itu untuk sang putra. Darren pun mengambil alih bayi kecil itu dan menggendong nya, dengan tangan gemetar dia memeluk bayi mungil itu di dalam dekapan nya.
"Terimakasih sudah menyempurnakan hidup Mami dan Papi, Harsya. Papi sangat menyayangi mu, tumbuhlah menjadi anak laki-laki yang kuat, Nak."
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻