
Sherena dan kedua orang tua nya pun pulang setelah selesai acara makan bakmi nya, juga Arya yang harus merogoh saku nya cukup dalam karena sekali makan putri nya. Dia cukup menganga saat membayar semua makanan itu, hampir menyentuh angka empat juta.
Karena putri nya cukup pintar untuk menyenangkan dirinya sendiri, dia memesan menu-menu best seller dengan harga yang cukup mahal persatu menu nya.
"Sudah sampai, sayang. Turun sana, belajar." Ucap Arumi. Sherena terkekeh lalu pergi ke kamar nya dengan langkah ceria karena sudah berhasil menjahili sang papah dengan membuat nya mengeluarkan banyak uang.
"Anak itu seperti nya sangat bahagia setelah menghabiskan uang ku." Gumam Arya sambil menggelengkan kepala nya, berbeda lagi dengan Arumi yang sudah cekikikan.
"Kamu juga sama aja kayak anak nya."
"Yaudahlah, yang penting Sherena nya udah gak murung lagi tuh."
"Tapi Mama gak belanja ya dua bulan ke depan." Ucap Arya membuat Arumi mendelik kesal.
"Oke, tapi gak ada jatah malam kalau perlu Papa tidur pisah kamar selama dua bulan kedepan, gimana?" Balik tanya Arumi yang membuat Arya kalah telak. Mana bisa begitu, dia paling tidak bisa berjauhan dari istri nya.
__ADS_1
"Mana bisa begitu, Ma." Rengek Arya.
"Ya bisa lah, papa juga bisa nyetop uang belanja Mama kan, kenapa Mama gak bisa nyetop jatah malam Papa juga?"
"Yaudah deh iya, gak jadi di stop. Malahan Papa tambahin dua kali lipat, gimana?" Tanya Arya, dia membujuk istrinya agar tidak merajuk dan itu akan sangat merugikan nya karena istri nya takkan mau memberikan nya jatah malam nya.
"Nah, begitu dong. Ada tambahan satu ronde juga, plus satu ronde Mama yang di atas." Ucap Arumi sambil mencubit mesra dagu sang suami.
"Idih, bagus kalian gitu di depan anak sendiri? Aku kok liat nya jijik ya?" Celetuk Sherena, dia tak sengaja melihat pemandangan yang membuat nya bergidik geli itu karena haus. Jadi, dia keluar kamar untuk mengambil minum. Tapi malah di suguhi pemandangan yang cukup membuat nya berdecak beberapa kali.
"Heh, gak boleh gitu. Ini detik-detik sebelum adik kamu jadi."
"Kenapa? Kamu sudah besar, masa mama sama papa tetap gak boleh bikin adik buat kamu? Bentar lagi kan kamu bakalan nikah, nanti kamu di bawa suami kamu. Kami pasti kesepian, sayang." Arya membujuk Sherena, membuat gadis itu memutar mata nya jengah.
"Jangan adik, cucu aja gimana?" Tanya Sherena membuat wajah Arya dan Arumi berbinar.
__ADS_1
"Nah, itu aja tuh paling bener. Oke, percepat aja nikah nya. Biar kita cepat menimang cucu, iya kan Ma?" Tanya Arya.
"Iya, gimana kalau lusa?" Tanya Arumi, membuat Sherena seketika menyesali ucapan nya. Sudah tahu ayah dan ibu nya kalau sudah kumat ya begini, malah di kasih jalan.
"Hadeehhh, dahlah malas menanggapi ke goblookan ini." Gumam Sherena, dia ngeloyor saja ke dapur dan mengambil jus mangga kesukaan nya, lalu membawa nya ke kamar. Selain jus, Sherena juga membawa cemilan berupa buah.
Belakangan ini, Sherena lebih sering ngemil buah di bandingkan dengan ciki-ciki atau coklat. Alasan nya ya karena dia sering sakit gigi, juga dia menyadari kalau itu tidak sehat plus dia di marahi oleh Darren kalau terlalu banyak ngemil ciki. Jadi, sekarang dia lari nya ke ngemil buah-buahan yang jauh lebih sehat.
Tring..
Bunyi ponsel Sherena yang berbunyi cukup nyaring, gadis itu mengambil dan membuka pesan lalu membaca nya. Gadis itu tersenyum karena ternyata sang pujaan hati lah yang mengirimi nya pesan.
'Aku sudah sampai di kota tujuan dengan selamat, kamu sudah tidur atau sedang belajar? Semangat belajar nya, sayang. Jangan di balas ya, belajar saja yang fokus. Love you three thousand.' Isi pesan yang di kirimkan oleh Darren, membuat hati Sherena berbunga-bunga, bahkan ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di perut nya saat ini.
"Love you more three thousand, sayang." Balas Sherena, tapi hanya dia gumam kan saja. Karena pria itu meminta nya agar tidak membalas pesan nya, jadi dia hanya mengatakan nya.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻