Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 138 - Wanita yang Tepat


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Marvin, dia datang ke rumah kontrakan sang kekasih. Dia melihat Arina sedang duduk sambil menonton televisi di rumah nya.


"Sudah datang? Kemarilah, sayang." Ucap Arina sambil menepuk-nepuk kursi di samping nya. Perempuan yang kini tengah hamil muda itu tersenyum sambil menyambut sang kekasih. 


Marvin pun masuk dengan langkah ragu, dia duduk di samping sang kekasih. Arina mengernyitkan kening nya, dia heran saat melihat wajah sang kekasih yang di tekuk seperti ini. Terlihat jelas kalau dia sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu kenapa? Kok wajah nya di tekuk begitu?" Tanya Arina. Marvin menoleh dan menatap wajah cantik Arina, tapi sedetik kemudian dia langsung menghambur memeluk sang kekasih dengan erat. Namun, yang lebih mengherankan nya lagi bagi Arina adalah, Marvin yang menangis di pelukan nya. 


"Hey, kamu kenapa, sayang? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Arina sambil mengusap-usap punggung sang kekasih dengan lembut, maksud hati dia ingin menenangkan Marvin, tapi ternyata pemuda itu malah semakin menangis kejer di dekapan nya.


"Sayang, kamu kenapa sih? Datang-datang bukan nya manjain aku kayak biasa nya, kok malah nangis sih?" Tanya Arina. Dia terus saja mengusap-usap punggung sang kekasih dengan lembut.


"Maaf, sayang.."


"Maaf untuk apa? Kamu buat salah apa sama aku, sayang?" Tanya Arina. Dia sendiri lupa kalau Marvin berbuat kesalahan pada nya.


"Aku minta maaf atas nama ibu ku, sayang."


"Ibu? Dia kenapa? Perasaan dia gak ada bikin salah tuh sama aku, sayang." Jawab Arina.


"Dia jahat, dia berusaha memisahkan kita lewat Mecca, sayang."


"H-aahh? Apa maksud mu, sayang?"


"Mecca dan semua drama nya adalah perbuatan Ibu, Sayang. Dia yang membayar Mecca agar mau mengaku-ngaku kalau dia tengah hamil anak ku, padahal dia hamil anak pacarnya." Jelas Marvin sambil sesenggukan.


"Astaga, kenapa Ibu mu melakukan hal seperti itu, sayang?"


"Dia gila, sayang. Cewek baik-baik kayak kamu, tapi dia gak suka katanya."


"Jadi selama ini.."

__ADS_1


"Iya, selama ini dia bertingkah seolah dia mendukung hubungan kita, padahal sebaliknya." Jelas Marvin membuat dada Arina terasa sesak. Benarkah semua ini? Kenapa Sintia begitu jahat padanya? Padahal dia dan Marvin saling mencintai tapi kenapa dia berusaha memisahkan nya? Tega sekali, memang nya apa kesalahan nya yang membuat nya tidak menyukai dirinya?


"Maaf.."


"Tidak apa-apa, itu bukan salah mu, sayang. Sudah, jangan nangis dong. Malu sama adik bayi kalau liat papa nya cengeng." Ucap Arina.


"Aku kesel, yang. Aku kecewa banget sama dia, aku benci.."


"Gak boleh gitu, sayang. Seburuk apapun perbuatan beliau, tapi tetap saja dia adalah ibu mu. Wanita yang sudah melahirkan mu, tidak seharusnya kamu membenci nya, sayang."


"Aku bahkan merasa ragu kalau aku di lahirkan dari rahim wanita itu, sayang."


"Sayang.."


"Mana ada seorang ibu yang ingin membuat anak nya sendiri menderita? Gila, hanya ibu ku saja yang melakukan itu." Jawab Marvin, dia tersenyum getir saat mengingat semua kejadian yang terjadi karena ulah ibu nya sendiri.


Jujur saja, dia malu pada Arina. Dia marah, kecewa yang berujung dengan benci. Sungguh demi apapun dia benci, dia membenci ibu nya sendiri. Tapi bukan tanpa alasan bukan? Selama ini, Marvin selalu menuruti apapun perkataan orang tua nya. Kecuali untuk satu hal, yaitu merokok dan balapan. Tapi sekarang, Marvin sudah meninggalkan dunia malam setelah dirinya menjalin kasih dengan Arina. Hanya tinggal kebiasaan merokok nya saja yang belum hilang. Tapi tak apa-apa, semua membutuhkan proses bukan? Arina yakin, lambat laun Marvin pasti akan bisa meninggalkan kebiasaan buruk nya itu.


"Aku tahu kalau kamu kecewa, tapi sayang.."


"Lalu, ke depan nya kita akan bagaimana?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu hmm? Tentu saja kita akan menikah. Dengan atau tanpa restu wanita itu, aku akan tetap menikahi mu. Aku tidak mau anak kita lahir tanpa kehadiran sosok ayah yang menemani ibu nya bersalin, aku tidak mau." Ucap Marvin, dia menatap wajah Arina yang tengah menatap nya dengan senyuman kecil. Marvin menatap wajah cantik itu dengan sendu. 


"Jangan menatap ku seperti itu, sayang. Aku sudah memaafkan semua nya, jangan memikirkan apapun lagi. Bagaimana pekerjaan?"


"Aku menjadi resepsionis di perusahaan Bang Darren, bareng-bareng sama Ari." Jawab Marvin sambil menduselkan kepala nya di perut rata sang kekasih. Di usia kandungan yang masih belum dua bulan, tentu saja perut Arina belum terlihat membuncit sama sekali. Ukuran janin nya pun masih sebesar kacang merah saat ini. 


"Ari? Siapa itu, sayang?"


"Pacar nya Mecca." 

__ADS_1


"Ohh, jangan ada acara CLBK ya?"


"Gak ada, Mecca lagi hamil anak Ari. Kamu juga lagi hamil anak aku, jadi gak mungkin tukeran bapak kan? Lagian aku udah cinta mati sama kamu."


"Ckk, bucin juga kamu ya. Seminggu lagi, Meysa sama Bang Andy mau married, kita bisa datang barengan kan?"


"Kamu jadi bridesmaids lagi gak, yang?"


"Kata Meysa sih iya, bridesmaids nya gak ganti-ganti. Tatap aja aku, April sama Sheren. Cuma nikah nya aja yang gantian, hehe." Jawab Arina sambil terkekeh.


"Gapapa, sayang. Nanti kalau kita nikah, maaf ya kalau semisal aku gak bisa ngadain pesta mewah." Lirih Marvin membuat Arina tersenyum manis.


"Tidak apa-apa, pesta hanya sebagai formalitas yang terpenting adalah akad nya. Kita mengucap janji suci di hadapan Tuhan, itu saja sudah cukup. Jangan memikirkan tentang pesta. Aku tidak masalah meskipun kita menikah secara sederhana saja." 


"Benarkah, sayang?" Tanya Marvin. Arina tersenyum lalu menganggukan kepala nya.


"Tapi aku akan mengusahakan nya, sayang. Kamu percaya sama aku kan, sayang?"


"Tentu, aku selalu percaya padamu. Kalau tidak, untuk apa sekarang aku masih bertahan bersama mu?"


"Terimakasih, aku mencintai kamu."


"Aku juga sangat mencintai kamu, sayang." Balas Arina. Pasangan kekasih itu pun saling memeluk satu sama lain dengan erat dan mesra.


Marvin tidak salah memilih wanita bukan? Arina adalah wanita yang tepat untuk nya. Dia cantik dan juga memiliki hati yang sangat baik. Itulah yang membuat Marvin yakin dengan gadis itu, apalagi sampai dia berani menanam benih nya di rahim wanita itu. Bukan nya dia melupakan untuk memakai kontrasepsi atau apapun itu, tapi karena dia sudah yakin dengan Arina, maka dari itu dia membiarkan benih nya tumbuh di rahim Arina.


Sekarang, setelah semua ini harusnya Marvin merasa lega, bukan? Tapi nyata nya tidak sama sekali, dia malah merasa gundah. Sungguh demi apapun, dia merasa tidak tenang. Dia tahu seperti apa sifat ibu nya, dia adalah wanita yang ambisius. 


Dia khawatir kalau saat ini dia mengincar Arina untuk menyakiti nya karena niat jahat nya sudah terbongkar. Dia takut wanita itu akan membahayakan Arina atau janin yang sedang tumbuh di rahim sang kekasih. Sedangkan dirinya tidak bisa full 24 jam bersama untuk menemani Arina karena mulai besok dia harus bekerja di perusahaan Darren.


'Aku tidak yakin dengan wanita itu? Aku harus apa sekarang?' 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2