
"Mana sepatu pesanan ku?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil.
"Ini, Tuan. Aku buru-buru, kalau begitu aku akan pergi sekarang." Ucap Andy.
"Ya, kau mau ngapel ke rumah Meysa? Bawa oleh-oleh biar nanti di kasih jatah."
"Dompet ku kan bolong pake dana talang beli sepatu itu." Celetuk Andy membuat Darren tertawa.
"Sudah aku transfer ke nomor rekening mu, ini untuk jajan di jalan nanti." Darren memberikan beberapa lembar uang pada Andy sebagai bonus.
"Ini?"
"Bonus nya."
"Ohh, oke. Terimakasih, Tuan. Selamat bersenang-senang kalau begitu." Ucap Andy, Darren pun menganggukan kepala nya lalu pergi dengan senyum yang berseri karena dapat bonus plus tidak jadi dompet nya bolong karena uang nya sudah di ganti oleh Darren.
Ya, dia akan berkunjung ke rumah Meysa hari ini. Dia akan membeli cemilan dan oleh-oleh untuk gadis nya di rumah, hari ini Meysa mengabari kalau orang tua nya pergi dua hari ke depan. Jadi, dia di minta untuk menemani nya selama orang tua nya ke luar kota.
Pria itu terus saja menyunggingkan senyum manis nya. Dia mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata. Dia tak sabar untuk bertemu dengan Meysa, kekasih nya. Gadis yang membuat seorang Andy, pria datar setelah Darren di kantor mengejar-ngejar gadis itu.
Hanya berselang satu jam saja, akhirnya Andy sampai di kediaman sang kekasih. Gadis itu sudah menyambut kedatangan Andy di ambang pintu karena dia mendengar suara mobil yang berhenti di rumah nya.
Gadis itu tersenyum saat melihat sang pria keluar dari mobil dengan menenteng beberapa kresek di tangan nya.
"Malam, sayang."
"Hmm, selamat malam juga. Apa itu?" Tanya Meysa menunjuk ke arah kresek yang di bawa oleh Andy.
"Martabak keju kesukaan kamu, terus cemilan juga."
"Wah, terimakasih sayang. Tahu aja aku lagi pengen makan yang manis-manis."
"Ya sudah, ayo masuk. Udara nya terasa sedikit sejuk, mungkin sebentar lagi akan turun hujan ya? Sudah mendung." Ucap Andy sambil melihat ke arah langit. Malam-malam yang cukup sunyi dengan langit yang mendung.
"Oke.." Meysa pun membukakan pintu rumah nya lebar-lebar, membiarkan Andy masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Andy masuk, dia membuka jas nya juga melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher nya seharian ini. Dia duduk di sofa sambil menyandarkan punggung nya di sandaran sofa sambil memejamkan kedua mata nya.
"Capek ya?" Tanya Meysa sambil membawa secangkir teh hangat untuk Andy.
"Hmm, iya nih capek banget, sayang."
"Mau aku pijitin gak?"
"Enggak, aku mau susu. Boleh? Haus banget rasa nya."
"Ini udah aku bikinin teh, kenapa tadi gak bilang kalo mau susu?" Tanya Meysa membuat Andy terkekeh.
"Bukan susu itu, tapi susu yang ini." Ucap Andy sambil menunjuk ke arah dada Meysa yang terlihat menyembul. Ukuran nya cukup besar dan pas di genggaman tangan nya, itu sangat cukup menggugah selera.
"Ohh, bilang dong. Kirain apaan, yaudah boleh tapi buka aja sendiri." Ucap Meysa, Andy pun membawa gadis itu ke dalam pangkuan nya, dia mendudukan Meysa di paha nya.
Meysa memeluk leher Andy dengan kedua tangan nya, pria itu juga merangkul pinggang Meysa dengan posesif. Pria itu menduselkan wajah nya di ceruk leher Meysa dan mencium leher gadis itu, menyesap nya hingga meninggalkan beberapa jejak kemerahan disana. Meysa memejamkan mata nya, dia menikmati apa yang di lakukan oleh Andy disana. Beberapa kali, dia juga melenguuh pelan karena rasa yang di berikan oleh Andy benar-benar membuat nya menggila.
"Aaahhh, pelan-pelan.."
Andy gemas, sesekali dia menggigit manja puncak buah kenyal Meysa. Sebelah buah kenyal itu tidak di biarkan menganggur begitu saja, dia meremaas nya dengan lembut.
"Shhh.. aahh.." Meysa mendesis pelan, dia juga mendesaah karena perbuatan Andy yang membuat dirinya mabuk kepayang. Sensasi nya benar-benar tidak di jelaskan oleh kata-kata, saking nikmat nya.
"Sayang, bisakah kita melakukan hal yang lebih dari sekedar sentuhan ini?"
"Lebih seperti apa, sayang?" Tanya Meysa, dia membingkai wajah tampan Andy yang tersuru di dada nya, wajah nya mendusel disana sambil mengecupi buah kenyal itu dengan gemas nya.
"Seperti memasuki yang di bawah sana misalnya. Bisakah?" Tanya Andy membuat Meysa terhenyak. Dia tak menyangka kalau Andy akan meminta hal ini juga, padahal sejauh ini dia tidak pernah meminta hal sejauh itu padanya.
"Kenapa tiba-tiba minta hal ini, sayang? Jangan-jangan sebelum kamu kesini, kamu nontonin film biru ya?" Tanya Meysa membuat Andy mendongak lalu menggigit bibir Meysa dengan gemas.
"Mana ada aku begitu, gak ada lho. Tapi, tadi aku kan habis nganterin sepatu pesanan nya Tuan Darren. Kamu tahu gak mereka habis ngapain?"
"Enggak, emang nya habis ngapain gitu, yang?" Tanya Meysa, jujur saja dia penasaran. Memang nya kedua pasangan itu habis ngapain sih? Hingga sampai kesini, kekasih nya ini langsung meminta hal itu secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Habis keramas, kata Tuan Darren mereka habis merayakan kelulusan Sherena dengan melakukan itu. Terus Sherena nya di sogok sama sepatu, itu doang sih."
"Nah lho, Sherena di sogok sepatu makanya mau ngasih jatah. Lah aku? Di sogok apaan sama kamu? Masa cuma sama martabak keju sih, emang keperawanaan aku semurah itu ya?" Tanya Meysa membuat Andy terkekeh.
"Bukan begitu, sayang. Harga untuk sebuah kehormatan itu tiada nilai nya."
"Terus?"
"Ya aku cuma minta doang, kalau kamu gak ngizinin ya gapapa kok." Jawab Andy, dia tersenyum tapi di balik senyuman nya itu ada sebuah rasa kecewa dan Meysa tahu akan hal itu.
"Sakit gak sih gituan, yang?"
"Sakit pas awal nya doang kok, setelah nya enak-enak aja." Jawab Andy sambil tersenyum kecil.
"Aahh masa? Yang bener dong."
"Beneran, yang. Ya kali aku bercanda sama hal kayak gini." Jelas nya sambil meremaas lembut buah kenyal milik Meysa.
"Tapi kata Sheren, dia sampai gak bisa jalan dua hari. Artinya, itu sangat menyakitkan bukan?"
"Itu karena Tuan Darren main nya brutal, sayang. Kalau memang sesakit itu, terus sekarang kenapa Sheren mau-mau aja tuh main sama Tuan Darren? Cuma satu jawaban nya kenapa dia mau main, karena enak dan bikin ketagihan, sayang."
"Aku takut sakit.."
"Aku bakalan lakuin secara pelan-pelan kok, yang." Bujuk Andy, sedangkan Meysa masih terlihat seperti pikir-pikir dulu. Jujur saja, dia mulai goyah oleh godaan sang kekasih. Apa benarkah melakukan hal itu benar-benar seenak dan senikmat itu hingga membuat ketagihan? Bukan ketagihan lagi, tapi candu. Sherena sendiri yang mengatakan hal itu.
"Baiklah, ayo." Jawab Meysa membuat kedua mata Andy membeliak, benarkah ini? Apakah dia tidak salah dengar? Akhirnya dia juga akan berbuka puasa setelah sekian lama berpuasa seperti Darren?
"Benarkah?"
"Iya, aku serius. Cepatlah, keburu aku berubah pikiran."
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1