
"Sayang, besok kan libur. Anterin aku beli lipbalm ya?" Ajak Sherena pada Darren, pria yang tengah mengemudi itu menatap wajah sang kekasih.
"Lipbalm buat apa, sayang?"
"Buat lembab in bibir dong, soalnya bibir aku tuh suka kering kalau gak punya lipbalm." Jawab Sheren. Dia memiliki bibir yang cukup sensitif, kalau dia sembarangan mengenakan lipcream tanpa mengenakan lipbalm terlebih dulu, bibir nya akan kering parah bahkan bisa di kelopek. Saat itu, Sheren pasti punya kebiasaan ngelopek bibir dan akhirnya bibir nya akan terluka.
"Biasa nya juga gak pake kan?"
"Pake dong, cuma lipbalm nya hilang. Gak tahu kemana, jadi nya mau beli baru aja." Jawab Sherena.
"Sekarang aja, gimana? Besok kita home date aja, mau?"
"Home date?"
"Iya, kita ngedate di rumah. Kamu ada janji mau masakin aku nasi goreng seafood kan?" Tanya Darren, bermesraan dengan gadis nya di rumah seharian pasti akan sangat menyenangkan.
"Eehh iya ya, yaudah kita pulang dulu terus mandi ya? Sekalian aku pengen makan es krim."
"Es krim? Bukan nya kalau sedang datang bulan gak boleh makan atau minum yang dingin-dingin, sayang?" Tanya Darren. Dia membaca nya dari internet, dia benar-benar niat untuk mencari tahu tentang menstruasi. Ya, tujuan nya hanya agar Sheren merasa di mengerti. Dia ingin Sheren merasa di perhatikan oleh nya.
"Kalo dikit kan boleh, lagian kamu tau itu dari mana coba?" Tanya Sheren sambil cemberut.
"Dari internet." Sherena melirik ke arah sang pria, apa benar pria itu mengetahui hal-hal seputar menstruasi itu dari internet? Kalau memang iya, niat sekali dia.
"Niat banget sampe searching di internet, gak malu apa?"
"Ngapain malu? Toh, gak ada yang tahu ini kecuali kamu sama aku, ya readers juga sih. Tapi aku lakuin ini tuh biar kamu ngerasa di perhatikan gitu, biar aku tahu juga siklus bulanan kamu, kalau lagi datang bulan kamu kayak gimana, makanan apa aja yang gak boleh kamu makan selama periode kewanitaan itu." Jelas Darren panjang lebar, membuat Sherena terkesan. Sungguh demi apapun, dia merasa tersanjung. Inilah salah satu alasan enak nya berpacaran dengan pria yang usia nya lebih dewasa, tanpa di minta pun dia langsung mengerti.
"Aaaaa, makasih ayang.." Sheren langsung menggelayut manja di lengan besar milik Darren.
"Sun dulu kalo gitu." Pinta Darren, Sheren pun memonyongkan bibir nya. Pria itu tersenyum lalu mencaplok bibir Sherena yang terlihat seperti bebek, membuat nya gemas sendiri.
Hanya beberapa detik saja, hingga akhirnya dia melepaskan ciuman nya. Tentu nya, itu membuat Sheren keheranan. Soalnya, dia tahu benar kalau Darren menyukai bibir nya. Jadi, kalau ciuman sudah pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai beberapa menit barulah dia merasa cukup.
"Kok bentar, yang?" Tanya Sheren sambil mengerucutkan bibir nya. Darren terkekeh, lalu menyentil pelan kening Sherena, membuat gadis itu meringis sambil mengusap kening nya yang baru saja kena sentil.
"Lagi di jalan, kamu gak liat aku lagi nyetir, sayang?"
"Eehh, hehe.. Iya ya, maaf deh."
"Nanti aku minta lagi yang lama ya?"
"Iya, boleh." Jawab Sherena, Darren terkekeh lalu mengecup singkat puncak kepala sang gadis lalu mengusap nya dengan lembut.
Setelah itu, tak ada pembicaraan lagi di antara kedua nya. Gadis itu pun berpamitan pulang, Darren mengizinkan nya. Toh ini hanya beberapa saat saja, karena mereka sudah janjian untuk pergi ke mall untuk membeli lipbalm.
Kali ini, dia sendiri yang akan meminta izin pada kedua orang tua Sherena untuk membawa anak gadis mereka keluar. Ya, meskipun Sherena yang mengajak nya, tapi tetap saja dia pergi bersama nya. Setidaknya, kalau dia izin secara langsung setidaknya orang tua Sherena bisa menjamin kalau anak gadis mereka bersama orang yang tepat dan keamanan nya akan terjamin.
"Lho, kok udah pulang?" Tanya Arumi pada Sherena yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Udah, Ma. Di sekolah juga udah gak ada pelajaran, jadi nya pulang aja." Jawab Sherena sambil mendudukan tubuh nya di sofa.
"Ngemil nih.." Arumi meletakan salad buah dengan parutan keju di atas nya. Gadis itu berbinar, pulang sekolah capek-capek begini di suguhi salad buah yang enak dan menyegarkan, sungguh seperti surga dunia bagi Sherena saat ini. Salad buah adalah salah satu cemilan kesukaan nya, jadi bisa di pastikan sebahagia apa dia saat ini.
"Makasih, Mama. Tahu aja anak nya lagi bad days." Jawab Sherena sambil tersenyum, dia pun menyiapkan salad buah ke dalam mulut nya. Salad buah buatan tangan ibu memang terasa lebih enak dan menyegarkan di bandingkan beli dari orang lain.
"Bad days, kenapa?"
Sherena pun menceritakan semua yang dia alami hingga dia pingsan, lalu keributan yang dia saksikan di kantin. Tapi, dia tidak menceritakan apa yang gadis itu katakan tentang dirinya. Dia tidak ingin membuat orang tua nya khawatir, sejauh ini dia betah-betah saja sekolah disana, karena ada tiga teman baik nya.
"Ya ampun, terus gimana?"
"Dia di keluarin dari sekolah, Ma. Terus, apa mama tahu apa yang paling bikin Sheren kaget?" Tanya Sherena, Arumi menggelengkan kepala nya.
"Sekolah itu punya nya Om Darren."
"H-aahh?" Tanya Arumi, dia juga tidak tahu menahu sekolah tempat dia memasukkan putri nya bersekolah itu ternyata milik Darren.
"Iya, Ma. Sheren juga baru tahu tadi, padahal nama nya tercetak jelas di mading sekolah. Tapi, Sheren gak tahu nama lengkap nya Om Darren itu siapa, jadi gak ngeuh." Ucap Sherena yang membuat Arumi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kamu ini gimana? Nama calon suami sendiri sampe gak hafal gini."
"Ya, mana Sheren tahu, Ma. Sheren cuma tahu nama belakang nya doang, Darren." Jawab Sherena sambil nyengir. Mulut nya juga penuh dengan salad buah yang di buatkan oleh sang ibu.
"Astaga, Sheren.." Arumi menggelengkan kepala nya, ada-ada saja dengan putri nya ini.
"Hehe.. Ohh iya Ma, nanti sore Sheren mau pergi sama Om Darren ya?"
"Kemana?" Tanya Arumi sambil mengernyitkan kening nya.
"Mau ke mall, beli lipbalm."
"Lho, lipbalm yang mama beliin kemana? Gak mungkin udah habis kan, baru semingguan yang lalu Mama beliin, udah habis aja." Tanya Arumi, pasalnya seminggu yang lalu dia sendiri yang membelikan lipbalm untuk putri nya, tapi sekarang udah minta izin mau beli lipbalm lagi. Kan aneh ya?
"Bukan habis, Ma.."
"Terus, gak mungkin kamu makan kan?" Tanya Arumi yang membuat Sherena terkekeh.
"Isshh, Mama pikir Sheren ini apaan pake makan lipbalm segala." Ketus Sherena sambil memutar mata nya jengah.
"Ya terus?"
"Hilang, Ma. Lipbalm nya hilang, gak tau kemana deh. Kayaknya Sheren lupa nyimpen." Jawab Sherena pelan.
"Hmmm, ya sudah. Tapi pulang nya jangan malem-malem ya, meskipun kamu pergi nya sama Darren, tetep aja harus hati-hati."
"Iya, Ma." Jawab Sherena sambil tersenyum manis.
Setelah menghabiskan satu mangkuk salad buah nya, Sherena pun langsung masuk ke kamar nya untuk membersihkan tubuh nya dan bersiap-siap untuk pergi bersama Darren.
Blouse rajut berwarna hijau mint dan celana kulot jeans berwarna hitam adalah outfit pilihan Sherena sore ini untuk pergi bersama sang pujaan hati. Gadis itu memakai liptint, lalu menyapukan bedak dan setelah itu pun dia mencatok rambut nya.
Setelah merasa cukup, gadis itu pun mengambil tas selempang miliknya dan memasukan ponsel, juga dompet berisi uang dan kartu-kartu miliknya. Seperti kartu pelajar, kartu pengenal dan beberapa kartu kredit pemberian sang ayah.
Gadis itu turun dari kamar nya, tapi ternyata di ruang tamu, sudah ada Darren yang menunggu nya sambil mengobrol dengan sang Mama. Karena papa nya belum pulang dari kantor jam segini, paling satu jam lagi beliau akan pulang.
"Sudah siap, sayang?" Tanya Darren, dia tak malu memanggil Sherena dengan panggil mesra seperti itu. Arumi juga paham benar kalau mereka adalah pasangan yang tengah di mabuk asmara. Jadi, dia hanya tersenyum simpul begitu mendengar panggilan sayang pria itu pada putri nya.
"Yaudah, berangkat sekarang yuk?" Ajak Darren, Sherena menganggukan kepala nya.
"Ma, Sheren mau.."
"Iya, tadi Darren sudah izin kok. Hati-hati di jalan nya ya, jangan malem-malem pulang nya." Peringat Arumi, membuat Sherena tersenyum kecil.
"Oke, Ma."
"Yaudah, sana berangkat." Sherena dan Darren pun keluar bersamaan, dengan tangan yang saling bertaut mesra. Arumi tersenyum melihat pemandangan romantis itu, seperti nya Darren adalah pria yang baik. Dia akan menjaga Sherena dengan baik, tak ada salahnya mempercayakan putri nya pada pria itu bukan? Hanya saja, jangan terlalu percaya dengan manusia. Nanti kecewa.
Sherena dan Darren pun berangkat, pria itu mengendarakan mobil nya dengan kecepatan sedang. Dia selalu menikmati moment-moment kebersamaan nya dengan sang gadis. Entahlah, tapi saat bersama Sherena, hari-hari nya terasa indah dan lebih berwarna. Bahkan, waktu pun terasa berputar lebih cepat saat dia bersama gadis itu. Itulah yang membuat Darren seringkali lupa waktu.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?"
"Nanti di mall aku mau sekalian beli barang, boleh kan?"
"Boleh, sayang. Tadi mama kamu juga minta di beliin buah apel, katanya kamu suka makan apel?"
"Hehe, iya. Aku ngemil buah sih, tapi aku paling suka ngemil salad buah gitu." Jawab Sherena, membuat Darren manggut-manggut. Dia tahu cemilan favorit gadis nya, dia bisa membelikan atau membuatkan nya nanti, untuk membujuk gadis itu misalnya.
"Yaudah, nanti sekalian ke supermarket aja gimana?"
"Oke, sayang." Jawab Sherena. Gadis itu pun duduk anteng di samping Darren, sesekali dia akan bernyanyi mengikuti lagi yang di putar di mobil. Aneh saja, semua lagu-lagu yang Darren putar adalah lagu kesukaan nya, lagu yang ada di playlist nya.
Satu jam kemudian, Sherena dan Darren pun sampai di mall. Kedua nya berjalan dengan tangan yang saling bertaut mesra ala sepasang kekasih yang romantis, kedua nya sesekali saling melempar tatapan, dengan senyuman manis nya.
"Mau nonton gak?"
"Enggak deh, gak ada film yang seru. Kebanyakan film horor, aku gak suka nonton kek gituan. Sama aja kayak bunuh diri, nakut-nakutin diri sendiri yang ada." Jawab Sherena membuat Darren terkekeh pelan.
__ADS_1
"Yaudah, kita ke toko kosmetik dulu aja kalo gitu." Sherena mengangguk, dia pun mengikuti langkah Darren di belakang nya. Gadis itu sesekali menjahili sang pria, hingga membuat kedua nya kejar-kejaran di mall, terlihat seperti pasangan yang sangat bahagia.
"Aaaahh, sudah-sudah. Aku capek, sayang."
"Yaudah ayo, kita beli lipbalm nya dulu." Ajak Darren lagi. Dia kembali menarik tangan gadis nya ke arah toko yang menyediakan banyak merk dan jenis kosmetik dari yang murah, bahkan hingga yang mahal sekalipun ada disini.
"Yang mana?" Sheren terlihat kebingungan memilih, biasa nya kan dia di belikan oleh sang Mama. Sekarang dia kebingungan kalau harus beli sendiri.
"Aku bingung, yang. Bagusan mana?"
"Aku gak tahu sih, yang. Beli aja yang menurut kamu bagus, aku yang bayar."
"Serius?" Tanya Sherena, padahal dia juga punya uang kalau hanya untuk sekedar membeli lipbalm, tapi ya kalau di bayarin syukurlah. Berarti uang nya akan dia simpan saja di dalam kartu nya.
"Iya dong, kamu kalau pergi sama aku gak usah ngeluarin uang. Biar aku saja, sayang."
"Hehe, makasih sayang."
"Sama-sama." Jawab Darren sambil mengacak rambut Sherena dengan gemas. Gadis cantik itu pun kebingungan lagi saat memilih antara dua liptint dengan kualitas yang sama-sama bagus nya.
"Gimana?"
"Bingung, yang ini atau yang ini?" Tanya Sherena, sedangkan tertawa. Gadis nya masih saja kebingungan, sudah beberapa menit tapi dia juga belum mendapatkan pilihan yang tepat.
"Udah, beli aja dua-duanya."
"Boleh memang nya?" Tanya Sherena, Darren mencubit manja kedua pipi gadis nya karena gemas dengan sang gadis.
"Boleh, sayang. Dari pada kamu bingung kan milih yang mana."
"Hehe, gitu dong dari tadi."
"Astaga, sayang." Darren semakin gemas sendiri dengan gadis nya ini.
"Hehe, ambil dua ya? Kalau mau beli lipcream nya sekalian boleh?"
"Kamu bagus nya pake liptint, sayang."
"Ohh, yaudah. Mau ya?"
"Ayo, sayang." Jawab Darren, Sherena tersenyum antusias. Dia pun beralih ke area liptint, disana berjejer banyak merk liptint. Tapi Sheren langsung mengambil satu liptint yang biasa dia kenakan.
"Yang ini, yang." Sheren menunjukkan liptint yang biasa dia beli.
"Beli beberapa warna, sayang. Biar warna nya ganti-ganti." Pinta Darren, Sherena pun menurut dan membeli lima warna liptint kesukaan nya. Dia juga menambah satu merk liptint dengan dalih ingin mencoba nya. Tapi, Darren sama sekali tidak keberatan.
"Sudah, sayang?"
"Mau masker, boleh?"
"Ambil, sayang. Apapun yang kamu mau, beli saja. Mumpung aku sedang berbaik hati." Jawab Darren membuat Sherena kesenangan. Dia pun mengambil beberapa masker dan setelah selesai, mereka pun membayar nya di kasir. Lumayan menguras kantong juga, hampir satu juta. Tapi itu semua bukan apa-apa bagi Darren. Asalkan gadis nya merasa bahagia, dia tidak keberatan. Tipe pria yang pengertian, dia paham benar kalau cantik itu perlu modal.
"Sekarang mau kemana, sayang?" Tanya Darren, dia menenteng paperbag berisikan lipbalm dan liptint milik sang gadis.
"Ke toko itu dulu." Tunjuk Sherena, membuat kening Darren mengernyit. Mau apa gadis nya ke toko seperti itu? Tak mungkin rasa nya jika dia ingin membeli pakaian dinas bukan?
"Ngapain kesana? Mau beli pakaian haram, sayang?"
"Isshh, kalo ngomong ya." Ucap Sheren sambil menggeplak manja lengan sang pria. Namun, alih-alih kesakitan dia malah tergelak mendengar ucapan sang gadis.
"Terus, mau beli apa?" Tanya Darren. Meskipun sebenarnya dia merasa malu dengan hal ini, tapi akhirnya dia berjinjit dan membisikan apa yang mau dia beli di toko itu.
"H-aaah, apa?"
"Batok kelapa gandeng." Jawab Sherena yang membuat Darren langsung konek. Dia paham dengan artinya batok kelapa gandeng.
"Ohh, okey. Ayo aku anterin." Ajak Darren, Sherena pun mengekor di belakang Darren dengan wajah yang memerah sepenuhnya, dia malu tapi ya sudah terlanjur, jadi biarkan saja. Dia akan menyampingkan dulu rasa malu nya untuk saat ini.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻