
Akhirnya, kedua pemuda itu pun sampai di kantin. Marvin langsung mendorong pelan punggung Danu membuat nya mendelik sebal ke arah teman nya. Dia kesal, tapi Marvin cukup membantu mempermudah usaha nya untuk mendapatkan informasi.
Ya, gadis yang di sukai oleh Danu adalah Agnes. Tapi dia tahu kalau Agnes terlalu tinggi untuk dia gapai, maka dari itu dia memilih untuk memendam perasaan nya selama tiga tahun lebih lama nya.
Terbukti bukan, Danu adalah pria yang setia. Buktinya, selama tiga tahun itu dia tidak pernah dekat atau bahkan menyukai perempuan lain. Yang ada di dalam hati nya hanya ada Agnes dan Agnes. Dia tidak peduli meskipun perempuan itu cukup angkuh dan sombong, bahkan beberapa kali dia melihat sendiri saat perempuan itu membully adik kelas nya, bahkan dia juga tahu saat Agnes mengatakan kata-kata yang kejam pada Sherena.
"Ada apa? Gak usah di dorong-dorong gitu juga kali, Vin." Ucap Meysa, sedangkan Sherena dia hanya terdiam. Benar, mood nya sekarang sedang tidak baik-baik saja, alias tengah di landa bad mood parah tapi entah kenapa. Bahkan ketiga teman nya saja tidak mengetahui ada apa sebenarnya dengan Sherena, tapi mereka tidak mau banyak bertanya karena takut pertanyaan hal itu akan membuat mood Sherena semakin anjlok. Nama nya juga Bumil ya kan, mood nya seperti roller coaster.
"Ada apa ini? Kalian terlihat sedikit serius." Ucap Sherena lirih. Dia lemas, tapi katanya Danu ingin bicara dengan nya.
"Danu tuh, gue mah kesini nganter dia doang." Jawab Marvin, dia duduk di samping Arina dan tanpa banyak bicara lagi langsubg bermanja di pangkuan Arina.
"Bau rokok, minggir sana." Bukan nya di manjakan, Arina malah mengusir Marvin karena pakaian nya bau asap rokok.
"Elah yang, dikit doang tadi habis satu batang."
"Ya tetap aja bau, sana balik ganti baju."
"Sama kamu, ya?"
"Kagak, gue tahu akal bulus lu. Mesuum!"
"Astaga, yang. Lu bawaan nya nethink mulu dah, heran." Ucap Marvin sambil mencebikan bibir nya.
"Lagian, gak usah bucin disini. Di liat adek kelas tuh, malu dikit napa."
"Marvin kan gak tahu malu, Prill. Minimal nih, tahu tempat gitu lah. Gak bucin di kantin." Jawab Meysa sambil tertawa.
"Ckkk, awas aja kalian ya.."
"Udah-udah, kalian ini apa-apaan sih." Lerai Sherena. Ya beginilah kalau ada Marvin ikut bergabung, bawaan nya sewot melulu karena Marvin yang sering kali mancing-mancing.
"Jadi, Dan. Lo mau ngomong apaan sama gue? Cepetan, keburu gue beneran bad mood nih."
"Jangan bad mood dulu, nanti gue beliin es krim deh." Bujuk Danu sambil cengengesan.
"Sama bakso bakar sepuluh tusuk, deal?"
"Oke deal, bumil." Jawab Danu sambil terkekeh pelan, dari dulu kebiasaan Sherena tidak berubah sama sekali, tidak peduli sedang bad mood atau good mood, kalau masalah makanan gas aja. Itulah Sherena, semua orang juga tahu kelemahan perempuan itu, pasti makanan.
"Jadi, mau ngomongin apa?"
"Gini nih, gue mau tanya. Nyokap nya Agnes itu mantan bini nya laki Lo kan, Sher?"
"Hmm, yoii. Terus kenapa?" Tanya Sherena sambil menggulung mie ayam nya di garpu lalu melahap nya.
"Nah, jadi begini nih, Sher. Tadi siang, gue kan dateng ke makam nenek gue, jengukin aja udah lama gak kesana. Gak sengaja tuh, gue liat ada cewek yang nangis-nangis gitu di depan kuburan yang keliatan baru banget."
"Lanjut.."
"Gue gak mau ganggu kan, jadi gue cuma liatin aja tuh cewek nangis dari kejauhan, kayaknya tuh cewek juga kagak ngeuh kalau disana ada gue. Terus berselang beberapa menit doang, dia balik tuh."
"Gue kaget Sher, ternyata tuh cewek si Agnes. Dia berantakan banget, rambut nya acak-acakan, wajah nya sembab mungkin kebanyakan nangis kali ya. Gue penasaran kan, emang nya itu kuburan siapa sampai-sampai dia nangis nya sampe begitu." Jelas Danu membuat Sherena mulai paham kemana arah pembicaraan Danu sekarang.
"Gue mendekat tuh ke kuburan baru itu, tanah nya masih merah, bahkan bunga yang ada di atas kuburan itu juga masih keliatan seger. Ternyata setelah gue baca tulisan di batu nisan nya, ternyata itu makam nya Rita, alias nyokap nya si Agnes."
"Iya, emang nyokap nya Agnes udah meninggal sekitar tiga apa empat hari yang lalu gitu." Jawab Sherena dengan wajah datar nya.
"Jadi, kesimpulan dari cerita gue tadi tuh. Gue pengen tahu, emak nya si Agnes meninggal nya kenapa. Itu aja." Jawab Danu membuat Sherena menggelengkan kepala nya. Dia kira, Danu ingin bicara apa. Tapi ternyata hanya ini.
"Korban tabrak lari, Dan. Tapi sekarang yang udah nabrak nyokap nya si Agnes udah ketangkap kok dan di jatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya."
"H-aahh? Kok bisa? Lo bisa cerita kan? Belom bad mood kan, Sher?" Tanya Danu membuat Sherena tergelak.
"Oke, jadi begini seminggu yang lalu kan gue sama laki gue kan mau makan di restoran yang ada di jalan xxx, nah laki gue pergi mesen makan ngantri karena restoran nya rame banget hari itu. Gue nunggu aja kan di meja, soalnya gue ngerasa badan tuh lemes banget, saat itu laki gue belom tahu kalo sebenarnya gue tuh hamil."
"Mereka nyelonong aja dan tiba-tiba duduk di depan gue, Rita sama Agnes. Kedua nya datang dan duduk tanpa gue minta di depan gue, terus biasa lah ada cekcok dikit. Terus, gue kan emang ngerasa gak enak badan jadi gue milih pergi karena muak. Nah, gue gak merhatiin kalau kaki nya nyokap si Agnes sengaja mau bikin gue jatoh kan."
__ADS_1
"Akhirnya karena gue kurang fokus, gue jatoh kan. Jatoh nya duduk lagi, sakit banget. Bisa di tebak kan apa yang terjadi selanjut nya?"
"Lo pendarahan, Sher?" Tanya Marvin dan Sherena terkekeh lalu mengangguk.
"Bener, gue pendarahan dan di bawa ke rumah sakit sama laki gue. Gue gak tahu apa-apa tentang mereka, yang terjadi setelah gue di bawa ke rumah sakit juga gue gak tahu. April nampar Rita sama Agnes juga gue gak tahu, tapi gue tahu nya pas dia cerita sama gue."
"Karena kejadian itu gue hampir aja keguguran, jadi Darren sama Andy bikin laporan buat nuntut tuh dua orang. Berhasil, mereka berdua di bawa ke penjara. Tapi malam hari nya setelah laki gue sama sekretaris nya jenguk tuh dua orang, Rita kabur dari penjara."
"Nah, dia kayaknya gak fokus juga malah nyebrang tanpa sadar kalo ada mobil yang cepet banget. Udah terduga kan alur nya kayak apa? Yaps, bener. Rita di tabrak sama tuh mobil, saking kuat nya sampai-sampai tubuh Rita tuh kelempar sepuluh meter dari TKP." Jelas Sherena dengan wajah datar nya. Meskipun sebenarnya, dia ikut bersedih untuk hal ini karena bagaimana pun, sejahat apapun Rita semasa hidup, tetap saja dia juga manusia.
"Gue denger sih kepala nya hancur kena aspal, tapi kata Darren sama Andy dia mau menyumbangkan sebagian organ penting nya buat orang yang membutuhkan." Jelas Sherena.
"Setidaknya, dia bisa berbuat baik meskipun sudah terlambat ya, di saat-saat terakhir nya gitu." Ucap Arina sambil mengusap mata nya yang berkaca-kaca.
"Lo nangis kenapa?" Tanya Meysa yang sedang duduk di depan nya.
"Kaki gue, kenapa Lo injek anjir? Sakit banget.." Ringis Arina membuat Meysa melihat ke bawah meja, benar saja kalau kaki nya ada di atas kaki Arina.
"Hehe, sorry. Greget soalnya tadi, jadinya ke injek. Sorry, bestai."
"Dih, sebel." Jawab Arina sambil mengusap-usap kaki nya yang baru saja kena injak itu.
"Jadi begitu ya? Tapi gue lihat tubuh nya si Agnes gak sebody goals pas masih sekolah sekarang."
"Untuk yang itu gue gak tahu, mungkin aja dia kecapean. Soalnya kan sekarang dia hidup sendirian, jadi dia kerja katanya. Barusan dia abis kesini kok, minta maaf sama gue." Jelas Sherena sambil tersenyum kecil. Danu mengangguk-anggukan kepala nya, baguslah kalau semisal hubungan Sherena dan Agnes sudah membaik saat ini.
"Kalau semisal nya, Lo mau ngejar si Agnes sekarang. Dia udah berubah sekarang, asal Lo mau berjuang dan mau mengakui perasaan Lo sama Agnes, gue yakin dia bakalan nerima Lo."
"Gue gak yakin, secara ya kan si Agnes cakep. Lah gua?"
"Gak usah ngerendahjn diri Lo sendiri, Lo cakep kalo Lo mau berubah penampilan."
"Laki gue bisa bantuin Lo buat ngerubah penampilan Lo." Ucap Arina membuat Arvin yang sedang asik mendusel-dusel di lengan sang kekasih langsung membulatkan kedua mata nya.
"Kok gue? Males banget gue bantuin si monyet."
"Dih apa Lo?"
"Astaga, kalian ini temenan kan? Kok doyan berantem begini sih?"
"Siapa yang mau temenan sama monyet? Gue mah kagak." Jawab Marvin, dia malah menggelayut manja di lengan Arina.
"Astaga, kalian ini bisa gak sih akur? Katanya temenan tapi kok kayak kucing sama anjiing begini." Ucap Meysa yang sudah merasa jengah dengan perdebatan yang di sajikan oleh kedua pemuda itu.
"Sayang, gak boleh gitu ya?"
"Ckk, dia nya yang mulai."
"Kamu nya juga sama aja, malah di layanin." Jawab Arina sambil mengusap-usap rambut Marvin yang mendusel manja di lengan nya.
"Kok malah nyalahin aku sih, yang?"
"Astaga, gak gitu lho."
"Terus? Kamu belain dia, gitu?"
"Lah, terserah kamu aja kalau begitu." Jawab Arina, dia juga malas berdebat dengan sang kekasih yang sedang dalam mode nyebelin ini.
"Gak masalah, Dan. Lo bisa berubah secara perlahan, gak usah ngerasa insecure. Pada dasarnya, semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan nya masing-masing." Ucap Sherena.
"Hmm, ya. Thank you, Sher. Gue bakalan coba berubah, semoga aja Agnes mau nerima gue nanti nya." Jawab Danu sambil tersenyum kecil.
"Yaudah, mana traktiran es krim sama bakso bakar nya?" Tanya Sherena sambil menengadahkan tangan nya.
"Beli sendiri deh ya, hehe. Ini duit nya."
"Gue bercanda kali, gapapa. Gak usah, gue seneng bantu Lo, Dan. Good luck ya, semoga berhasil."
__ADS_1
"Oke, Sher. Gue mau pergi dulu, udah di telponin bokap."
"Hati-hati, Dan." Jawab Sherena.
"Gue juga duluan ya, Tomi udah di bawah." Ucap April.
"Gue juga, Andy udah jemput."
"Hmmm, yaudah bubar. Kita kembali ke jalan masing-masing, dengan pasangan masing-masing." Ucap Sherena dengan raut sendu nya. Setelah lulus, mereka jadi jarang berkumpul seperti hari-hari saat mereka masih sekolah dulu.
"Lo udah ada yang jemput?"
"Laki gue masih ada kerjaan kayaknya, kalo kalian mau duluan yaudah." Jawab Sherena.
"Kita bakalan sama Lo disini, sambil nungguin laki Lo jemput."
"Gapapa, gak usah. Kalian pergi aja, gue bisa naik gojek." Ucap Sherena membuat ketiga teman nya membulatkan mata nya. Mana bisa mereka membiarkan Sherena melakukan hal itu, bisa-bisa mereka di hukum oleh Darren kalau sampai terjadi sesuatu pada Sherena.
"Kagak, dari pada Lo naik gojek mendingan Lo nebeng sama gua!" Tegas Meysa.
"Hehe, jangan marah dong, Mey."
"Gilaaa, gak usah bikin gue emosi ya, Sher! Kita-kita bisa di cincang habis sama laki Lo kalau sampai terjadi sesuatu sama Lo gara-gara kita ninggalin Lo sendirian." Jawab Meysa membuat Sherena cengengesan.
"Bener tuh kata Meysa, bisa-bisa kita di jadiin daging giling sama laki Lo, Sher." Ucap April.
"Tapi laki kalian pada nunggu nanti, gimana dong?"
"Gapapa, yang penting Lo selamat dulu tanpa lecet sedikit pun." Jawab Arina sambil tertawa kecil.
"Yang.." Bisik Marvin, membuat Arina menoleh.
"Apa hmm?" Tanya Arina, Marvin tersenyum kecil sambil menatap wajah cantik sang gadis dengan tatapan sendu.
"Iya, nanti ya?"
"Bener ya?"
"Iya bener, tapi harus mandi, gosok gigi dulu yang bersih. Baru aku ngasih jatah, oke?"
"Oke, sayang." Jawab Marvin dengan bersemangat, mendengar kata jatah membuat nya sangat bersemangat karena dia suka saat dia mendapatkan jatah nya. Entah jatah malam atau jatah siang, yang jelas dia suka kedua nya. Mau siang atau pun malam semua nya enak, sama-sama enak dan nikmat. Tubuh Arina tidak pernah membuat nya bosan, dia bisa bermain setiap hari kalau saja Arina mau. Tapi sering nya, Arina menolak memberikan nya jatah.
"Udah, gak usah bicarain soal jatah disini. Nanti kedengeran orang tuh, bahaya." Goda April sambil terkekeh, membuat Marvin berdecak kesal.
"Ngiri aja Lo, Bulan!"
"Sialan Lo, gue April ya bukan bulan." Sewot April.
"April itu bulan ke empat di kalender, iya kan? Jadi gak salah tuh kalo gue manggil Lo itu Bulan!"
"Nyebelin banget anjir si Marvin, gue salut sama Arin kok bisa tahan sama laki setengil dia sih?" Tanya April membuat Arina tertawa. Jujur saja, jangan kan orang lain dia juga sering kali merasa kewalahan menghadapi sikap tengil sang kekasih. Kalau saja Marvin tidak tampan dan dia tidak mencintai nya, sudah pasti dia akan meninggalkan nya karena tidak kuat menahan sikap tengil dan jahil pemuda itu.
"Kalo udah cinta emang susah, Prill." Ucap Meysa sambil cengengesan.
"Ya, sebelas dua belas sama Lo, Mey. Sok-sokan nolak Om Andy, tahu nya udah jadian ternyata bucin juga." Celetuk Sherena, dia juga ikut menggoda teman-teman nya.
"Aaahhh, mendingan gue diem. Takut kena ulti." Jawab Meysa sambil tertawa pelan. Ya, sama saja. Andy adalah tipe pria yang protektif menjaga nya, terkadang dia suka saat Andy memperlakukan nya seperti itu, tapi kadang dia juga muak sendiri pada pria yang dia cintai itu, karena dia tidak bisa bergerak dengan bebas, dia selalu di awasi kapan pun dan dimana pun.
"Jangan diem, Lo gak ikutan gak asik oyy." Ucap Sherena sambil terkekeh pelan.
"Males, yang ada di pojokin aja terus."
Ke empat perempuan yang saling berteman itu tertawa bersama, mereka sangat suka saat berkumpul seperti ini. Semenjak keluar sekolah dan lulus, mereka jadi jarang berkumpul. Jangankan berkumpul, bertemu saja sudah jarang karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Apalagi beberapa hari lagi, April akan melangsungkan pernikahan.
Jadi tidak akan mungkin untuk bisa berkumpul bersama-sama seperti ini, sudah seperti moment yang langka dan jarang terjadi, padahal mereka ingin sekali menikmati waktu bersama. Setelah menikah nanti pun, April akan ikut bersama suami nya bekerja ke luar kota.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻