Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 128 - Masalah Arina & Marvin


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan bagi April, sejak pagi buta dia sudah bersiap. Di samping nya, ada ketiga teman nya. Salah satu nya Sherena, dia sudah datang sedari tadi pagi bersama sang suami. Perempuan hamil itu akan menjadi pengiring pengantin atau yang lebih keren nya di sebut bridesmaid. 


Aura kecantikan Sherena terlihat sangat terpancar, dengan rambut di sanggul rapih. Perempuan itu terlihat sangat cantik, gaun yang dia kenakan bernuansa pink pastel itu terlihat sangat pas di tubuh Sherena. Begitu juga dengan teman-teman yang lain nya, mereka memiliki aura yang berbeda. Namun, untuk Sherena dia memiliki aura keibuan yang kuat, padahal usia kehamilan nya saat ini masih berada di trimester pertama. Bahkan perut nya saja belum terlihat terlalu membuncit. 


"Si April cakep banget gilaa." Ucap Meysa sambil tersenyum. 


"Iya, dia cantik sekali." Ucap Sherena yang juga setuju dengan ucapan Meysa. Sedangkan Arin, dia terlihat diam saja. 


"Arin, Lo kenapa? Diem mulu, sariawan lu?" Tanya April, biasa nya Arin yang paling berisik di antara ke empat nya, tapi sekarang dia malah jadi pendiam. 


"Bibir gue sakit, nih liat." Arina menunjuk sudut bibir nya yang memang terdapat luka disana. 


"Bibir Lo kenapa, Rin?" Tanya Meysa yang langsung mendekat ke arah nya dan melihat sudut bibir sahabat nya juga meneliti luka yang ada di bibir Arina.


"Ini kayak kena tamparan gak sih?" Tanya Sherena. Dia tahu benar, karena dia pernah mendapatkan luka semacam ini. Ya, saat Agnes menampar nya di kantin hari itu dan di balas oleh Meysa. 


"Bukan, ini di gigit sama Marvin."


"Bohong Lo sama kita? Mana ada di gigit tapi di sudut nya gini, paling enggak kalo di gigit ya di tengah bibir, Rin." Ucap April membuat Arina tersenyum kecil. Benar, dia berbohong karena ini bukanlah perbuatan Marvin. Tapi orang tua pemuda itu, hari ini juga dia tidak datang ke pernikahan April karena tadi malam kedua orang tua nya menyeret Marvin dari kost an nya.


Selama ini, Arina memang tinggal di kost an sendiri. Meskipun orang tua nya masih ada, tapi mereka berada di luar kota. Awalnya, dia datang ke kota ini bersama sepupu nya untuk sekolah. Tapi sekarang sepupu nya sudah berkuliah di luar negeri, jadi tinggal Arina yang masih bertahan sampai lulus. 


"Lo ada masalah, Rin?" Tanya Sherena sambil membingkai wajah Arina. Gadis itu langsung memalingkan wajah nya, dia tahu kalau dia tidak bisa berbohong kalau menatap wajah sahabat nya karena dia bisa membaca hanya dari sorot mata saja. 


"Gak ada kok, Sher. Gak usah khawatir, gue baik-baik aja." Jawab Arina membuat Sherena langsung menarik wajah sahabat nya agar mau menatap nya.


"Lo bohong sama gue, Arin. Lo gak nganggap gue sebagai temen apa gimana, Rin? Gak nyangka gue Lo gini sama gue. Padahal, gue nganggep Lo tuh udah kayak sodara sendiri. Gue selalu cerita sama kalian semua kalau gue punya masalah, tapi kenapa kalian selalu nyembunyiin masalah dari gue?" Tanya Sherena emosional. Entahlah, perasaan nya sekarang jauh lebih sensitif, mungkin karena pengaruh kehamilan nya. 


"Bukan gitu, Sher. Sorry, sumpah demi apapun gue gak ada niatan buat nyembunyiin ini semua dari kalian." Jawab Arina, akhirnya air mata nya jatuh tak terbendung lagi. Gadis itu terisak sambil memeluk perut Sherena.


"Terus, kenapa Lo gak cerita sama kita hah? Masalah sebesar apa yang Lo sembunyiin dari kita, Rin?" Tanya Meysa, dia juga ikut emosional, dia tidak suka saat ada salah satu dari mereka yang tidak berterus terang.


"Gue takut, Sher, Mey."


"Takut apa? Kita ada disini sama Lo, Rin. Kita temenan, Lo lupa?" Kali ini, sang pengantin perempuan yang juga ikut mengeluarkan unek-unek nya. April mengusap air mata di sudut mata nya. Arina mendongak, dia beranjak dari duduk nya lalu membingkai wajah cantik April dan mengusap air mata nya yang menetes disana.


"Gue mohon, ini hari bahagia buat Lo. Gue gak mau ngerusak moment bersejarah dalam hidup Lo hanya karena masalah gue. Gapapa, gue masih bisa kok." Jawab Arina sambil menatap satu persatu wajah sahabat nya dengan tatapan sendu namun bibir nya menyunggingkan senyuman manis yang bagi Sherena, itu terlihat seperti senyuman penuh rasa sakit. 


"It's okay, kita tahu Lo belum siap buat cerita sama kita. Okay, tapi kalo Lo ngerasa udah siap buat cerita, datang aja kita pasti bakalan datang. Seperti kata April, kita bakalan selalu ada buat Lo, Rin." Ucap Sherena. Akhirnya dia bisa mengalahkan ego nya sendiri, mau bagaimana pun dia tidak bisa memaksa Arina untuk cerita tentang permasalahan nya. Jadi, biarkan dia memikirkan semua nya dengan benar hingga akhirnya nanti dia tetap akan bercerita. 

__ADS_1


"Gue pasti bakalan cerita sama kalian, di waktu yang tepat nanti." Jawab Arina. Ke tiga gadis itu mengangguk dan mereka pun berpelukan seperti Teletubbies.


"Kita bakalan dengerin semua masalah Lo, Rin. Kapan pun itu, kalo Lo udah siap tinggal cerita sama kita." 


"Iya, makasih banget. Gue bahagia punya kalian semua, makasih." Ucap Arina. Dia merasa benar-benar bahagia karena bisa di pertemukan dengan ke tiga teman nya. Mereka benar-benar saling mendukung satu sama lain, tak peduli meskipun orang-orang memandang sebelah mata, tapi mereka tetap mendukung apapun setiap keputusan yang di ambil oleh salah satu dari mereka. Termasuk saat Sherena mengejar Darren, mereka mendukung usaha Sherena dan memberikan semangat pada gadis itu. 


Saat Sherena mengatakan kalau Darren berhasil dia taklukan, mereka ikut senang dan ikut berbahagia. Saat Meysa masih sendiri pun, mereka berusaha untuk mendekatkan teman mereka dengan Andy. Meskipun tak perlu di dekatkan, Andy akan tetap mengejar Meysa karena dari awal dia sudah merasa tertarik dengan gadis bernama Meysa itu. 


Ya, begitulah persahabatan ke empat gadis itu. Sama-sama mendukung satu sama lain dan saling melengkapi, benar-benar pertemanan yang di impikan oleh banyak orang. Tak semua orang bisa memiliki teman seperti ke empat gadis itu, apalagi di jaman sekarang. Sangat sulit, bahkan hampir mustahil memiliki teman yang benar-benar tulus berteman tanpa melihat apapun, dari sisi mana pun.


"Udah, ayo perbaiki make up kalian. Sebentar lagi acara nya di mulai." Ucap Meysa. Ke empat nya pun tertawa, saat melihat mascara mereka luntur hingga membuat bagian bawah mata mereka menghitam karena lunturan mascara itu. 


"Kayak panda.." 


"Iya, hahaha.." 


Hingga tak lama kemudian, acara pun di mulai. April di gandeng oleh sang ayah, di belakang nya ada Sherena dan Arina juga Meysa yang bertugas memegangi ekor gaun yang di kenakan oleh sang mempelai pengantin. Wajah cantik April yang sudah di hias secantik mungkin itu di halangi sebuah kain tipis transparan, di ujung karpet merah itu ada Tomi yang berdiri gagah dengan setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu di leher nya. 


Dia tersenyum saat melihat calon istri nya mulai mendekat ke arah nya, di dampingi dayang-dayang yang terlihat tak kalah cantik dari sang pengantin nya. Di sana, ada Darren dan juga Andy yang terlihat kagum saat melihat kedua perempuan nya. Darren bahkan hampir tanpa berkedip saat melihat istrinya keluar dari pintu besar itu dan berjalan dengan anggun. Senyuman manis nya terlihat sangat cantik, membuat Darren semakin merasa jatuh cinta pada wanita itu. 


Di depan Tomi, ayah April menyerahkan semua tanggung jawab nya sebagai seorang ayah pada pria yang menjadi pilihan putri nya. Tomi Andrareksa, pria yang sudah menjalin hubungan dengan April selama empat tahun lama nya dan kini terbayar sudah. Mereka mengikat janji suci hari ini, di gedung besar ini yang akan menjadi saksi saat mereka mengucap janji di hadapan Tuhan dengan khalayak ramai yang menjadi saksi penyatuan cinta sepasang anak manusia yang saling mencintai. 


Ketiga teman April bahkan sampai menitikkan air mata mereka, sungguh moment ini terasa sangat mengharukan. Entahlah, tapi rasa haru bercampur menjadi satu dengan perasaan sedih bayi Arina. Apakah dia juga akan bisa mengikat janji suci nya bersama Marvin juga? Melihat respon kedua orang tua Marvin hari itu, membuat Arina ragu. Mau di bawa kemana hubungan mereka?


'Apakah kita akan bisa seperti ini, Vin? Entahlah, aku merasa ragu dengan kita. Bukan aku meragukan cinta mu padaku, tapi ragu dengan kedua orang tua mu.' Batin Arina. Tak terasa, air mata nya jatuh membasahi pipi nya. Ini benar-benar berat bagi Arin. 


Di satu sisi, dia sangat mencintai Marvin dan tak ingin melepaskan nya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa memaksakan sebuah restu. Bagaimana pun juga, orang tua Marvin lebih penting dari pada dirinya. Namun, dia juga berhak untuk menuntut Marvin agar mau menikahi nya. Karena apa? Dia sudah memberikan kesucian yang selama ini dia jaga pada pemuda tampan itu. 


Entahlah, di awal respon kedua orang tua Marvin sangat baik bahkan saat Marvin datang melamar nya pun orang tua nya masih memberikan respon terbaik. Tapi seminggu belakangan ini, respon mereka berbeda bahkan dengan tega nya memaki-maki Arina dan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kanan nya hingga membuat sudut bibir perempuan itu terluka saking keras nya tamparan itu. 


Bagaimana dengan Marvin? Pemuda itu tentu saja membela Arina, tapi ibu nya tidak peduli dan malah menyeret Marvin untuk pulang dan membanting pintu rumah kontrakan yang di tinggali oleh Arina. Hari itu menjadi hark yang paling buruk bagi Arina, hingga saat ini dia belum bertemu lagi dengan Marvin. Mungkin takkan pernah bertemu lagi, entah kapan dia tidak tahu.


Sherena menyadari hal itu, dia pun merangkul pundak sahabat nya dari samping. Mengusap-usap nya agar perempuan itu sedikit tenang, tapi tanpa di duga-duga Arina malah langsung memeluk Sherena dengan erat dan menangis sejadi nya di pelukan sahabat nya. 


Perempuan hamil itu terus mengusap-usap punggung Arina, tapi tidak berguna sama sekali karena perempuan itu terus saja menangis. 


'Gue gak tahu apa masalah Lo, Rin. Tapi melihat dan mendengar tangisan Lo ini, bikin gue yakin kalau ini bukan masalah yang kecil.' Batin Sherena. Dia benar-benar merasa iba dengan permasalahan yang di alami oleh sahabat nya meskipun dia belum tahu benar apa permasalahan yang menimpa sahabat nya, tapi bagaimana pun juga masalah ini pasti besar karena Sherena pribadi jarang sekali melihat Arina menangis pilu seperti ini. 


Sedangkan di luar gedung pernikahan, seorang pemuda berdiri dengan tatapan sendu nya. Tanpa ragu, dia berjalan memasuki gedung itu. Dengan langkah tegap nya, dia terlihat mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru bangunan sakral ini. Dia melihat ke depan, acara pernikahan nya telah selesai dan kedua mempelai sedang berdiri untuk menerima banyak ucapan terimakasih dari para tamu. 

__ADS_1


Dia meraba-rabaa tubuh nya, namun sial nya dia melupakan kalau dia kesini kabur. Ponsel nya juga di sita oleh kedua orang tua nya, jadi jangankan ponsel datang kesini saja dia bermodalkan nekat. Dia memakai pakaian biasa saja, membuat para tamu undangan menatap nya dengan tatapan sinis. 


Bagaimana tidak? Disaat para tamu lain memakai dress dan jas rapi, sedangkan dirinya hanya mengenakan celana jeans dan Hoodie saja. Wajah nya juga terlihat lebam, mungkin karena pukulan atau apalah itu. Tapi dia tidak menghiraukan hal itu, dia kesini hanya ingin bertemu dengan sang kekasih. Itu saja, pendapat orang lain tidak jadi masalah bagi nya. 


Hingga akhirnya, tatapan pria itu tertuju pada seorang gadis yang tengah berjalan pelan bersama kedua teman nya, dengan tangan yang di gandeng oleh kedua teman nya. Di belakang nya, ada Darren dan Andy yang mengawal perempuan mereka masing-masing. 


Arina merasa sedikit kecewa, karena di saat seperti ini Marvin tidak ada di samping nya. Berbeda dengan kedua teman nya yang di dampingi oleh suami dan tunangan nya. Seketika, Arina merasa ragu dengan status nya sekarang ini. Dia menatap cincin yang melingkar di jari manis nya, cincin yang di berikan Marvin saat dia meminang nya. 


"Udah, gak usah terus di liatin gitu cincin nya. Marvin pasti datang kok, sabar ya?" Ucap Sherena sambil tersenyum kecil.


"Hmm, tentu saja dia pasti akan datang." Jawab Arina sambil membalas senyuman yang di paksakan. Padahal, Arina saja merasa ragu. Apakah Marvin akan datang ke tempat ini atau tidak, mengingat terakhir kali saat pemuda itu pergi meninggalkan dirinya dengan kesan yang sangat buruk. Selama itu juga, Arina dan Marvin lost contact. Tak ada kabar sama sekali dari pemuda itu. 


"Sayang.." Panggil seseorang yang membuat Arina langsung mendongak, dia tahu benar itu suara siapa. 


"Marvin.." Gumam Arina, kedua mata nya langsung berkaca-kaca saat melihat sang kekasih berdiri di depan nya. Dia tersenyum ke arah nya, membuat Arina langsung menghambur memeluk Marvin. Rindu? Tentu saja, dia sangat merindukan Marvin. 


Dia merindukan semua yang ada pada Marvin, kehangatan yang selalu di berikan oleh pemuda itu membuat nya tidak bisa melupakan pria itu sama sekali. Bahkan sejak kejadian hari itu, Arina tidak bisa tidur sama sekali. Dia selalu tidur di atas jam satu malam, padahal biasa nya dia tidak pernah tidur selarut itu.


"Sayang, maafkan aku.."


"Tidak, kenapa kamu meminta maaf? Aku tidak apa-apa. Kamu apa kabar?"


"Aku baik-baik saja, sayang. Kamu bagaimana?" Tanya Marvin, dia membingkai wajah cantik Arina yang berurai air mata. Marvin mengecup kedua mata Arina dengan mesra, hati nya terasa sakit saat melihat luka di sudut bibir Arina.


"Ini pasti bekas tamparan Mami hari itu kan? Maaf, sayang.."


"Tidak, tidak apa-apa. Wajah kamu lebam, kamu di apain sama orang tua kamu, sayang?" Tanya Arina sambil mengusap luka di wajah Marvin dengan lembut. Dia kembali meneteskan air mata nya begitu melihat luka itu. 


"Aku baik-baik saja, sayang. Tidak apa-apa, jangan mengkhawatirkan aku. Sungguh, aku baik-baik saja. Jangan menangis, aku tak suka melihat nya." Ucap Marvin, sambil mengusap air mata yang menetes di wajah cantik sang kekasih dengan jemari nya.


"Syukurlah kalau begitu, aku merindukan mu.." Ucap Arina lalu kembali memeluk tubuh Marvin dengan erat, begitu juga Marvin, dia membalas pelukan Arina tak kalah erat nya. 


Sedangkan Darren dan Andy yang menyaksikan adegan itu saling menatap satu sama lain, mereka yakin ada yang tidak beres dengan pasangan itu. Terlihat jelas kalau kedua nya sama-sama menyimpan rasa sakit, apalagi Arina. Dari tatapan nya saja, dia tahu kalau perempuan itu menyimpan rasa sakit dan rindu yang mendalam pada Marvin. Begitu juga dengan Marvin. 


'Ada apa dengan kalian? Seminggu yang lalu, hubungan kalian masih berjalan dengan baik. Tapi kenapa hari ini terlihat tidak baik-baik saja? Ada apa sebenarnya?' 


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2