
Suasana di rumah sakit terasa lebih ramai pagi ini. Dimana, di dalam ruangan tempat Sherena di rawat ada tiga aunty rempong yang datang untuk menjenguk sahabat mereka. Tentu saja, jika ke empat nya sudah berkumpul sudah bisa di tebak seperti apa yang akan terjadi.
Ramai sekali, hingga membuat Arumi dan Arya terpaksa harus membawa Baby Harsya keluar dari ruangan dengan berkata ingin menjemur bayi mungil berwajah tampan itu. Pasalnya, sedari tadi bayi kecil itu menjadi incaran ketiga teman Sherena.
Mereka gemas dengan Harsya, takut nya mereka akan mencubit bayi merah itu, meskipun Arumi tau kalau mereka tidak mungkin melakukan hal segegabah itu, tapi tetap saja ke khawatiran itu akan tetap ada bukan? Itulah yang di rasakan oleh Arumi dan Arya. Mereka pun membawa Harsya keluar dari ruangan.
Selain ingin menjemur baby Harsya mumpung masih sangat pagi, mereka juga ingin membiarkan Harsya beristirahat. Bayi kecil itu menangis semalaman dan hanya tenang ketika Darren yang menggendong nya, jadi pria itu kurang tidur sekarang. Niat hati ingin beristirahat hari ini dengan sengaja cuti dari perusahaan, tapi kedatangan trio ubur-ubur merusak rencana nya.
"Jadi, apa melahirkan itu sakit, Sher?" Tanya April sambil mengusap-usap perut nya yang juga sudah membuncit di usia kandungan nya yang ke lima.
"Yang sakit tuh pas kontraksi sama di jahit, selebihnya endul." Jawab Sherena sambil mengacungkan kedua jempol nya. Dia tertawa pelan, karena jika dia tertawa lepas maka jahitan di bagian bawah nya bisa saja putus dan itu harus di jahit ulang. Tentu saja, Sherena tidak ingin mengulangi kembali rasa sakit nya. Di jahit, rasa nya jauh lebih sakit dari kontraksi.
Bayangkan saja, di jahit hidup-hidup di bagian sensitif. Tentu saja sangat sakit, saking sakit nya Darren mendapatkan beberapa luka bekas gigitan di lengan. Pakaian nya robek, rambut nya juga berantakan parah karena di jambak oleh sang istri saat dia sedang di jahit oleh dokter.
"Terus, setelah di jahit di apain lagi, Sher?" Tanya Arina. Perut nya juga sudah membuncit di usia kandungan ke tujuh bulan.
"Yaudah, gak di apa-apain lagi. Cuma ya, beberapa jam setelah nya baru kerasa sakit, ngilu gitu." Jelas Sherena. Membuat ketiga bumil itu kompak meringis.
__ADS_1
Disini, yang baru hamil itu Meysa. Dia tengah mengandung dua bulan sekarang ini. Maklum lah, dia menikah juga paling terakhir meskipun sudah di unboxing duluan tapi dia hamil setelah menikah.
"Aduh, mana aku yang paling bontot lagi. Gimana ya nasib ku?" Gumam Meysa sambil mengusap perut nya yang masih rata.
"Hahaha, gapapa Mey. Santai aja, nanti kamu kebagian juga kok. Yang paling deket sih si Arin ya, dua bulanan lagi udah launching itu." Cetus Sherena sambil tersenyum. Membuat wajah wanita hamil itu memucat.
"Jangan nakutin, jujur takut banget." Jawab Arina.
"Ngapain takut? Kamu punya Marvin, kalau sakit Jambak aja." Celetuk Sherena sambil tersenyum licik.
"Punya dendam apa Lo sama gue, Sher? Jahat bener dah."
"Iye, bang?" Tanya Marvin pada Darren yang terlihat kusut karena kekurangan tidur semalam.
"Hooh, berantakan banget gue pas keluar dari ruang persalinan. Kayak habis perang, tapi gapapa. Rasa sakit yang gue rasain, gak sebanding dengan rasa sakit yang di alamin sama bini gue. Dia berkali-kali lipat jauh lebih sakit, bro. Luka gini doang mah gak seberapa." Jelas Darren panjang lebar sambil menunjukkan bekas gigitan di lengan nya.
Padahal, kemarin siang Sherena menggigit nya tapi sampai sekarang masih membekas. Mungkin karena saking kuat nya Sherena menggigit tangan suami nya, bahkan bekas gigitan itu membiru sekarang.
__ADS_1
"Buseett, bang ini di gigit apa di gimanain? Sampe lebam begini, sejak kapan Sherena jadi vampir?" Tanya Marvin yang membuat Sherena mendelik.
"Awas aja kalo gue dah sembuh, gue bakal nendang Lo sampe ke planet Saturnus!"
"Ampun, ibu baru." Ucap Marvin sambil meletakan tangan nya di dada, meminta maaf pada Sherena sambil berjalan lalu bersembunyi di balik punggung Arina.
"Kebiasaan sih kamu tuh, Mas. Godain Sheren Mulu."
"Seru soalnya, apalagi dia kalo ngambek muka nya merah kayak itu lho yang di wayang. Siapa ya nama nya? Lupa aku."
"Heh, beneran minta di gampar Lo ya!"
"Husstt, sayang. Jangan begitu, ingat kamu baru saja melahirkan lho. Kamu harus jaga emosi kamu, biarin aja Marvin mau ngomong apapun, biarin aja. Jangan di gubris, nanti juga diem sendiri. Meskipun aku gak yakin sih dia bakalan diem, soalnya mulut nya habis makan radio jadi gak bisa diem." Ucap Darren dengan lembut sambil mengusap kepala sang istri.
"Hahaha, nelen radio." Ucap Tomi sambil tergelak. Dia jadi ikutan receh setelah masuk genk ini, padahal dulu dia terkenal datar dan dingin. Tak banyak bicara dan lebih banyak diam, tapi sekarang dia berubah jadi sereceh ini. Bahkan hanya karena mendengar ucapan Darren saja, bisa membuat nya tertawa seperti ini.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻